Kado ke 19 (Part 1)


Karya: Tyataya

"T api Ma—“
“Enggak ada kata ta-pi. Segera pulang! Mama butuh bantuanmu.”
Klik.
Percakapan itu terputus begitu saja. Kiran hampir membanting HP nya sebelum ia teringat bagaimana dulu ia merengek-rengek pada kedua orang tuanya untuk dibelikan HP baru. Suara Mama dari ujung telephone  seperti monster yang akan menghancurkan kebahagiaan Kiran. Ia mendengus panjang. “Mama itu nyebelin banget, sih.” Gerutunya. Seharusnya, hari ini Kiran bisa bersenang-senang. Hari ini kan hari Minggu, udara yang segar dan cuaca yang cerah sangat mendukung untuk berjalan-jalan ke mall atau sekedar pergi ke toko buku membaca beberapa novel favorite Kiran. Bukan malah disuruh pulang.

 
“Mungkin ada sesuatu yang mendesak, Ra.” Suara Ayi yang sedikit cempreng menyadarkan Kiran dari rasa kesalnya. Ia melirik sahabatnya itu dengan mata dinanar-nanarkan berharap mendapat pembelaan. Namun, nyatanya Ayi memberi isyarat untuk Kiran segera pulang ke rumah.
“Sesuatu yang mendesak, ya? Paling cuma Kakak yang penyakit anehnya kumat lagi! Huh.”
Kiran bukan anak tunggal. Walaupun terkadang ia ingin sekali merasakan bagaimana menjadi anak tunggal yang dimanjakan oleh Mama Papanya. Kiran mempunyai seorang Kakak. Namanya Kak Mia. Usianya terpaut satu tahun dan mereka satu sekolah.
Kak Mia adalah orang yang energik. Ceria, tapi sensitif—setidaknya sebelum kecelakaan itu merenggut senyuman Kak Mia.  Kecelakaan dua tahun yang lalu saat lebaran tiba.
Saat itu Papa dan Kak Mia pergi ke Purwakarta untuk menjemput Nenek. Entah mengapa Papa dan Mama memutuskan untuk membawa Nenek agar menghabiskan sisa lebaran Idul Fitri di Bandung saja—Di rumah mereka. Biasanya, mereka sekeluarga pergi ke rumah Nenek. Mungkin Papa dan Mama ingin sesuatu yang berbeda.  Di perjalanan mobil Papa ditabrak begitu keras dari arah belakang. Kak Mia terpental dan Nenek tewas ketika sedang dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Papa tidak terlalu mengalami luka yang serius, sementara Kak Mia koma selama satu Minggu di RS karena ada benturan yang cukup keras di kepala bagian sampingnya. Tapi Dokter memastikan bahwa Kak Mia akan segera sembuh.
Kak Mia memang sembuh, tapi ia menjadi lebih sering murung dan sering berteriak-teriak. Kadang menangis, kadang tertawa. Kiran menduga urat kewarasan Kak Mia pasti sudah terputus. Tapi ternyata perkiraan Kiran salah. Dokter mendiagnosa bahwa Kak Mia hanya trauma dengan kecelakaan yang merenggut nyawa Nenek itu.
Kiran segera mempercepat langkah ketika memasuki gang rumahnya. Dari jauh Kiran bisa melihat Mama tengah mondar-mandir di teras rumah. Menggigit-gigit tangannya dengan wajah yang gelisah. Kiran menghampiri Mama dengan nafas terengah-engah.
“Ma.” Suara Kiran pelan sekali bahkan Kiran yakin semut di rumahnya pun tak bisa mendengar suaranya dengan jelas.
Mama menoleh cepat saat menyadari kehadiran Kiran. Mama memeluk Kiran sesaat lalu mengambil tas yang tergelak di atas meja.
“Mama pergi dulu, ya. Obat Kak Mia abis, tolong jagain dulu Kak Mia. Sayang.” Perintah Mama lembut namun dengan nada yang sedikit gemetar.
Kiran hanya bisa mengangguk. Lalu matanya mengikuti langkah Mama yang tergesa-gesa.
Kiran langsung naik ke lantai dua, tempat kamarnya dan kamar Kak Mia berada. Pintu kamar Kak Mia tertutup rapat. Di bagian depan pintu ada angka 19 terpampang jelas bersama foto Kak Mia yang sedang selfie. Kak Mia memang menggilai angka 19. Di semua Bio akun sosialnya selalu menulis angka 19.  Lihat saja koleksi sepatunya ada 19, nomor absen di sekolah ke 19 dan sebentar lagi Kak Mia berulang tahun ke-19! Benar-benar menyebalkan. Kiran tahu pasti Kak Mia akan meminta kado terbaiknya di angka 19! Sementara ia, untuk dibelikan HP baru saja butuh kesabaran satu bulan... Terkadang Kiran berharap kenapa tidak dia saja yang sakit agar bisa dimanja oleh Mama dan Papa.
 Kiran memegang gagang pintu ragu-ragu, lalu memutarnya perlahan.

Bersambung ....

Komentar

share!