Kado ke 19 (Part 2)


 Karya: Tyataya

K iran bisa melihat Kak Mia tengah duduk sambil menundukkan kepalanya. Rambutnya yang panjang menutupi sebagian wajahnya. Kak Mia memakai baju kemeja putih yang kebesaran dengan celana tidur berwarna merah marun. Kedua tangannya diikat masing-masing di samping kanan kiri ranjangnya. Akhir-akhir ini Kak Mia sering mengamuk dan melemparkan barang-barang yang ada di dekatnya. Dengan terpaksa Mama mengikat Kak Mia. 

Kiran menaruh tas sekolahnya. Ia meraih salah satu kursi yang ada di meja rias Kak Mia. Kiran mengambil posisi duduk di samping kiri Kak Mia.
Kira-kira Kiran terdiam selama hampir lima menit, ia memperhatikan raut wajah Kak Mia yang sebagian tertutupi rambut panjangnya. Kak Mia jadi lebih kurus. Wajahnya tirus, pucat, gigi-giginya selalu gemelutuk. Dan aroma tubuhnya.... Anyir.    
Kiran memang tidak mirip dengan Kak Mia. Bahkan di sekolah tidak ada yang tahu bahwa Kak Mia adalah Kakaknya Kiran. Kiran lebih mirip Ayahnya. Sifat Kiran cuek. Sementara Kak Mia sensitif.
“Kak, Nenek meninggal bukan karena Kakak, kok.”
Hening... Tidak ada jawaban, Kiran menghembuskan nafas.
“Kakak enggak bosen, ya, minum obat terus?”
Hening.. Kak Mia tetap menunduk dengan wajah yang menyedihkan.
 “Kak Mia. Aku capek tahu ngurusin Kak Mia terus, kalau salah diomelin Mama! Bisa enggak sembuh aja! Kak Mia itu ngerebut kebahagiaanku!” Kiran mengatakannya dalam satu tarikan nafas, lalu Kiran merasakan ada sesuatu yang berkelebat di sampingnya. Ia mengerjap-ngerjapkan mata. Menoleh ke berbagai sudut kamar. Lalu perhatiannya tertuju pada Kak Mia. Kak Mia menitikan air mata. Lalu mulai berkata lirih, “di belakangmu.”
Sontak Kiran melihat ke belakang. Tidak ada apa-apa. Tapi, jantung Kiran berdebar lebih cepat. Tengkuknya bergidik.
***
“SELAMAT ULANG TAHUN KAK MIA.” Suara Kiran parau sekali. Berapa kali ia menahan air matanya agar tak keluar lagi. Ia tersungkur di atas tanah merah yang masih belum kering.
Beberapa pelayat sudah berjalan pergi meninggalkan Kiran dan kedua orang tuanya. Ayi yang ikut mengantarkan Kak Mia ke peristirahatannya yang terakhir terlihat begitu sedih, Ayi kenal Kak Mia yang selalu baik padanya.
Hari ini tepat Kak Mia berulang tahun yang ke 19. Mama membawa satu ikat bunga mawar merah kesukaan Kak Mia. Lalu meletakkan di atas batu nisan Kak Mia dengan isakan yang tak kunjung berhenti. Papa berusaha memegangi bahu Mama. Menguatkan. 
Kiran bisa mendengar meskipun samar-samar Mama berkata lirih, “Kado ke-19 mu dikabulkan, Sayang.”
Kiran tahu, ada sesuatu yang tidak beres dari kematian Kak Mia. Kiran tahu........ Tapi, Mama dan Papa merahasiakannya.
Sesuatu yang Mama Papa Kiran sembunyikan mungkin ada sangkut pautnya dengan kematian Kak Mia. Karena itu sepanjang perjalanan pulang, di mobil Kiran berusaha memikirkan kalimat pembukaan apa yang cocok untuk memulai menanyakan tentang Kak Mia.
Melihat Kiran yang gelisah di bangku belakang mobil..... Mama menitikan air mata, dan mulai bercerita.
“Kiran. Keluarga kita punya kemampuan khusus yang harus diturunkan pada setiap keluarga. Nenek memilihmu, karena kamu orang yang berani. Tapi, Kak Mia yang mengetahui itu menolaknya. Katanya, biar ia saja yang memiliki kemampuan itu. Kak Mia takut hidupmu berantakan. Harusnya ketika itu Nenek mengajari dulu Kak Mia bagaimana cara mengendalikan kemampuan itu. itu sebabnya Mama dan Papa memutuskan untuk Nenek dibawa ke rumah kita, tapi kecelakaan itu.... merenggut Nenek. Dan Kak Mia enggak sempat diajari Nenek.” 
Kiran terkesiap, “kemampuan khusus apa, Ma?” Tanya Kiran setengah tidak percaya.
“Bisa melihat makhluk astral, seperti.. Hantu.”
Tengkuk Kiran bergidik. Ia mulai merasakan sekujur tubuhnya mendingin saat mendengar hantu. Membayangkan Kak Mia setiap hari bisa berinteraksi dengan makhluk seperti itu. YA TUHAN! Pekik Kiran dalam hati.
“Dan karena Kak Mia enggak kuat, akhirnya ia meminta kado ke-19 pada Mama dan Papa untuk......” Lanjut Mama sambil terisak. Air matanya kembali berlinangan.
“Sudahlah, Ma. Ikhlaskan Mia.” Papa mengusap-ngusap bahu Mama.
Kiran tahu bagian yang membuat Mama menitikan air mata, Kado ke-19 itu....... Mengakhiri hidupnya sendiri? Kiran ikut menitikan air mata. Apa yang telah Kiran lakukan selama ini? Kak Mia yang Kiran benci telah mengorbankan hidupnya sendiri..
END

Komentar

share!