Senyum Indonesia | Part 2 (end)


Karya: Wheza 

“Pak Li-Lian siapa, ya?” Seseorang yang menempati rumah ayah bertanya balik saat aku menyebutkan nama ayah. “Sejak saya mengontrak di sini saya belum pernah mendengar nama pak Li-Lian.”

Ah! Iya. Ini rumah kontrakan ayah. Ayah bisa pindah kapan saja. Tapi kenapa ayah tidak memberitahu aku dan ibu kalau dia mau pindah?


“Terimakasih.” Aku berpamitan pada penghuni rumah kontrakan itu.

“Hei kamu yang di sana!” Seseorang memanggilku ketika aku mondar-mandir di depan rumah ayah. Aku menghampirinya. Dia laki-laki separuh baya dengan seragam bertuliskan “Security”.

“Ada yang bisa saya bantu, pak?”

“Bapak-bapak-bapak! Ini Rian.” Satpam itu tersenyum hangat.

“Rian?” Aku berpikir sejenak. Apakah aku punya kenalan di Indonesia sebelumnya? Rian, ya? Rian. “Kak Rian!”

“Apa kabar, Mao? Lama tidak berjumpa. Sedang apa tiba-tiba kamu datang ke Indonesia?” tanya Rian.

Aku tersenyum, menjawab, “Baik. Iya nih, lama ngga jumpa. Aku mau ketemu ayah. Aku baru saja dari rumahnya tapi sepertinya dia sudah tidak tinggal di sana, ya?”

“Ayah? Maksudmu pak Li-lian? Memangnya kau tidak tahu kabarnya? Tidak ada yang memberitahumu?”

“Kabar apa?” tanyaku masih tersenyum.

“Pak Li-lian meninggal sembilan tahun lalu. Satu tahun setelah kamu meninggalkannya. Sudah lama sekali.”

Senyum di bibirku berubah getir. Tidak ada yang memberi kabar itu.

“Dia meninggal karena kanker. Dia tidak memberitahumu?”

Aku menggeleng.

“Ah... Mungkin terlalu berat baginya untuk memberikan kabar buruk itu padamu. Kau anak satu-satunya yang dia miliki. Dia bahkan divonis mati tiga tahun sebelumnya. Bertahan hanya karena ingin bertemu denganmu, anak kesayangannya.”

Aku menggigit bibir. Itu sebabnya matanya redup, bibirnya pucat. Dia memang sudah tidak sehat dari awal.

Aku mengangkat kepala. Fly over dekat apartement tempat Rian bekerja terlihat indah dengan sinar mentari sore sebagai back groundnya. Teringat kenangan indah saat berada di trotoar di atas sana bersama ayah.

“Hidup itu singkat. Bagi ayah, hidup hanya untuk mengukir kenangan indah, bukan menumpuk harta.”

Aku menangis tepat di tempat aku berdiri.

Sepertinya aku telah salah menilai Indonesia. Indonesia memang negara berkembang. Indonesia memang jauh lebih miskin daripada negara tetangga.

Tapi Indonesia lebih bahagia. Tidak seperti negara tetangga yang lebih sibuk pada diri sendiri, rakyat Indonesia peduli pada orang-orang di sekitarnya. Apalah arti hidup dengan kekayaan tanpa kenangan? Terkadang, senyum yang ramah jauh lebih berarti daripada harta yang melimpah. Ya! Senyum Indonesia jauh lebih berarti.

***

END

Komentar

share!