Senyum Indonesia | Part 1


Karya: Wheza

S
emerbak asap kendaraan memenuhi dada begitu pintu otomatis terbuka. Bandara Internasional Soekarno-Hatta Terminal 2, aku baru saja tiba dari penerbanganku dari Singapura. Aku tidak menyangka bahwa bandara ini masih sama seperti saat aku meninggalkannya, sepuluh tahun lalu.

Aku membenarkan posisi ransel di punggung, menarik koper, dan mulai melakukan perjalanan panjang menuju kampung halaman. Para abang-abang taksi yang  mendatangiku kutolak, aku sedang ingin naik bus. Membeli karcis dan duduk di salah satu kursi yang tersedia sampai salah satu bus dengan papan bertuliskan tempat yang aku tuju tiba di bandara.


Indonesia memang berbeda dengan Singapura. Sangat jauh berbeda. Dari bus yang kunaiki pun aku bisa menilai bagaimana perbedaan besar antara negara tempatku dibesarkan dengan Negara tempatku dilahirkan.

Kursi keras yang mengeluarkan bunyi setiap kali bus bergerak. Pendingin ruangan yang hanya mengeluarkan angin panas itu lebih mirip kipas bagiku. Belum lagi pemecah kaca yang lepas dari tempatnya. Sangat berbahaya. Jika sampai terbentur, kaca di sana akan pecah menjadi kepingan kecil yang bertebaran.

Singapura adalah negara maju. Sedangkan Indonesia adalah negara berkembang. Tingkat kemiskinan di Indonesia sangat tinggi. Aku rasa Indonesia harus belajar banyak dari Singapura.

Aku membuka tas ransel yang kupangku sejak bus meninggalkan bandara, memastikan amplop coklat tebal itu masih di sana bersama dengan laptopku.

www.sayogand.blogspot.com


Kedua orangtuaku bercerai saat usiaku masih balita. Hak asuh jatuh pada ibuku yang menikah lagi dengan orang cina asal Singapura. Sejak kecil, aku dibesarkan dengan disiplin dan peraturan. Hingga aku menjadi orang sukses di salah satu perusahaan yang amat disegani di Singapura.

Hari ini, aku kembali ke Indonesia untuk mengunjungi ayah. Aku tidak bertemu dengannya selama sepuluh tahun terakhir. Berbeda dengan ibu yang hidup mewah, ayah tinggal mengontrak di Jakarta.

Aku tidak tega membiarkannya hidup susah. Itu sebabnya aku datang kembali ke negeri ini.

Aku menatap keluar jendela. Puluhan kendaraan membanjiri jalan bebas hambatan tempat bus melaju. Padat merayap. Aku menghela napas pelan, lantas bergumam dalam hati, sepertinya ini akan jadi perjalanan yang panjang.

***

Aku pernah mengunjungi ayah sebelumnya. Saat kelulusan Secondary School. Usiaku masih remaja saat itu.  Berlibur satu bulan di Jakarta.

Aku dijemput ayah saat tiba di bandara. Ayah masih memiliki raut wajah sama seperti saat melepaskanku bersama ibu ke Singapura. Selain rambutnya yang putih uban matanya yang bersinar redup dan bibirnya yang pucat, ayah masih sama seperti yang dulu.

Hari pertama aku dibawa masuk ke rumahnya. Rumah ayah berada di atas tanah. Tidak seperti rumah ibu yang berhimpit dengan rumah-rumah lain dalam satu gedung bertingkat. Di Singapura, pemilik lahan tanah adalah orang paling kaya, walaupun rumah mereka sangat menyedihkan. Tapi sepertinya hal itu adalah sesuatu yang biasa di negeri ini. Semua orang memiliki rumah yang berdiri di atas tanah masing-masing.

Aku pikir semua rumah di sini berada di atas tanah.  Keesokan harinya, ayah mengenalkanku dengan apartement. Rumah-rumah yang ditumpuk menjadi gedung bertingkat itu ternyata jauh lebih mahal dari rumah yang berdiri di atas tanah.

Satu minggu kemudian, aku diajak berkeliling oleh ayah dengan menggunakan bus tiga per empat.

Aku banyak mengeluh tentang banyak hal kepada ayah. Mengapa mereka tidak memasang AC di bus ini, mengapa orang-orang lebih banyak berdesakan, mengapa tempat duduknya keras, mengapa besinya karatan, dan lainnya. Ayah hanya menjawab semua keluh kesahku itu dengan senyum bijaknya.

Ayah adalah sosok menyenangkan. Kami mengobrol banyak. Walaupun tidak banyak tempat kami bermain.

Tempat favoritku dan ayah adalah trotoar di salah satu fly over dekat kontrakannya. Satpam apartement dekat kontrakan ayah, kak Rian sampai kenal kami dan selalu menyapa ringan. Di trotoar itu, kami biasa duduk bersama sambil menyaksikan separuh kesibukan ibu kota saat matahari selesai dengan pekerjaannya, menyinari dunia.

Aku menanyakan banyak hal pada ayah. Terutama tentang hidupnya. Tentang kerasnya hidup di ibukota. Ayah hanya tertawa sambil mengeluarkan kalimat bijaknya.

“Hidup itu singkat. Bagi ayah, hidup hanya untuk mengukir kenangan indah, bukan menumpuk harta.”

Saat itulah aku baru mengerti mengapa orang Indonesia bisa tersenyum walau hidup mereka serba pas-pasan. Umurku masih berbilang belasan, tapi aku sudah mengerti arti hidup sebenarnya.

***

Bersambung ....

Komentar

share!