The White Rose and the White Pigeon


Ilustrasi karya Waskito Widya. Hak cipta sepenuhnya milik ilustrator


 Karya: Yui

D
i sebuah padang bunya yang sangat luas, tumbuhlah berbagai bunga nan cantik dan beraneka ragam, warna dan bentuk menciptakan suasana yang indah dan hangat. Diantara semua bunga yang bermekaran dengan cantiknya dan diantara bunga bunga yang mengeluarkan aroma yang memikat, hanya satu tangkai bunga yang mampu menarik hati si merpati. Setangkai mawar putih


Merpati itu datang menghampiri sang mawar putih. Dan menyatakan perasaanya, “Wahai mawar putih, aku mencintaimu” namun sang mawar putih tidak menjawabnya. Sekali lagi sang merpati mengutarakan isi hatinya pada sang mawar.

Tapi kali ini di tolaknya dengan tegas “Maaf, aku tak bisa”. Merpati itu pergi..

Esoknya merpati itu datang lagi, menghampiri sang mawar putih dengan senyum mempesonanya dan sekali lagi mengutarakan isi hatinya “Wahai mawar putih, aku mencintaimu.” Namun dengan tegas sekali lagi sang mawar putih menolaknya “Aku tidak bisa”

Esoknya merpati itu datang lagi, menghampiri sang mawar putih dan mendarat di hadapanya. Dengan penuh percaya diri sekali lagi dia menyatakan perasaanya , “Wahai mawar putih, aku mencintai mu”. Lelah. Kali ini mawar putih itu menolaknya dengan lebih tegas “Wahai merpati, maaf aku tetap tidak bisa!” merpati itu pergi lagi.

Esoknya merpati itu datang lagi, ini adalah kesekian kalinya merpati datang, sebelum merpati mengutarakan lagi isi hatinya, mawar langsung menjawab dengan nada sinis. “Wahai merpati, tidakkah kau malu, menghampiriku setiap hari untuk mengatakan hal yang sama dan selalu aku tolak?” merpati hanya tersenyum dan berkata “Aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan cintamu” dan dengan percaya dirinya sekali lagi sang merpati menyatakan perasaanya , “Wahai mawar putih, aku mencintai mu”. Dengan kesal mawar putih menjawab dingin “Aku tahu, kau sudah mengatakanya berulang kali. Tapi maaf saja aku tidak bisa menerima cintamu”. Merpati tersenyum dan pergi lagi..

Esoknya mawar putih melihat ke langit yang sangat kemerahan terkena sinar matahari sore itu. Tak sengaja ia mendapatai seekor merpati terbang melintasinya, sangatlah elok melihat begitu lihainya ia mengepakkan sayapnya dan terbang bebas menikmati langit itu. Saat merpati itu terbang mendekatinya, sang mawar putih tersadar dari lamunanya yang mengagumi sang merpati. Merpati itu datang menghampirinya dia lagi pastinya dia mau menyatakan cinta lagi ujar mawar dalam hatinya sembari melihat kedatangan sang merpati dari langit kehadapanya. 

“Wahai mawar putih, aku mencintaimu” ujar merpati itu LAGI. Udah kesekian kalinya kata-kata itu terucap dari paruh mungil si merpati. Untuk kali ini mawar putih tak langsung menjawab ia tetap menatap langit sambil memikirkan cara untuk menolak si merpati, dan membuat si merpati jera sehingga tidak akan datang lagi karna ia merasa lelah harus menolak merpati.

Langit sore itu jauh lebih kemerahan dari hari hari sebelumnya. Dan mengilhami sang mawar putih.

“Baiklah merpati, aku akan menerima cintamu asal kamu dapat mengabulkan permintaan ku” setelah beberapa waktu  akhirnya mawar putih angkat suara. Merpati tersenyum penuh harap “Wahai mawar putih apa pun yang kamu minta akan aku lakukan, walau pun kau tetap menolakku. Aku rela melakukan apapun untukmu” sedikit terenyuh hati mawar putih, tapi ia harus tetap dengan tekatnya.

“Baiklah, aku akan menerima cintamu apabila kamu bisa merubah warna kelopakku menjadi sangat merah melebihi merahnya langit sore ini. Aku ingin aku jadi yang termerah. Tapi jika kamu tidak mampu, pergilah dari pandanganku untuk selamanya!” dengan mantap kata kata itu keluar dari mawar putih. Mawar putih sangatlah yakin, merpati tidak bisa mengabulkan permintaanya dan akan pergi untuk selamanya. Hal itu sangat membuatnya yakin, mana mungkin seekor merpati dapat merubah warna setangkai mawar. Bahkan mungkin ilmu apapun tidak bisa melakukanya. Tapi ternyata sang merpati malah tersenyum mantap.

“Baiklah, terimalah cintaku” kemudian sang merpati terbang mengitari langit diatas sang mawar putih. Mawar putih merasa bangga berarti itu pertanda ia telah berhasil mengusir merpati itu. Tapi kemudian, sang merpati kembali dan namun tetap terbang diatas kelopak mawar putih itu sambil menjaga jarak, kemudian berkata.

”Izinkanlah aku mengatakanya sekali lagi, “Wahai mawar putih, aku mencintaimu” .

Kemudian merpati itu mematahkan sayapnya dan membiarkan darah keluar, mengalir deras ke atas kelopak mawar putih. Setelah darahnya habis ia jatuh tepat di hadapan sang mawar putih.

Mawar putih saat itu sangat terkejut dan hanya mampu terpaku menatap ulah sang merpati, sekarang darah yang membasahi kelopaknya telah merubah warna kelopaknya menjadi merah, sangatlah merah semerah darah. Merpati yang sedang terkapar di hadapan sang mawar tersenyum bahagia menyadari ia berhasil memenuhi syarat sang mawar putih dan kemudian ia memejamkan mata sambil tetap tersenyum.

Mawar putih yang sedari tadi terpaku menatap tubuh merpati, penuh luka, sayap yang ia kagumi sekarang sudah tak berdaya lagi. Tak ada lagi ada yang menghampirinya setiap hari, tak ada lagi ada yang mencintainya, tak ada lagi ada yang dengan gigihnya menyatakan cintanya, tak ada lagi sosok yang dapat ia kagumi di langit itu. Dan sekaarang ia sangatlah sadar, bahwa ia mencintai si merpati. Menyesal. Cuma itu, yang ada dalam benaknya sekarang.

Penyesalan selalu datang belakangan..

Komentar

share!