SongFiction: Wish You Were Here




 Karya: Ismaa

"I can be tough, I can be strong... but with you, it's not like that at all... there's a girl that gives a shit... behind this wall you just walk through it..."

I
ngatan akan memori masa lalu kembali berputar dalam ingatanku. Saat itu, entah untuk ke berapa kalinya, aku menangis di hadapan dia. Di hadapan seorang laki-laki yang sudah lama aku kenal. Bisa dikatakan, dia adalah sahabatku. Dia selalu ada untukku. Tapi menurutku dia ajaib, dia selalu ada dimana pun aku berada.


Aku yang merupakan anak broken home, pastilah sudah terbiasa dengan pertengkaran yang terjadi antara kedua orang tuaku. Bisa dikatakan aku sudah cukup tegar dan kuat untuk menjalani kehidupan keluarga broken homeku. Tapi ternyata, kata cukup itu tak sekedar hanya cukup saja. Entah kenapa, saat bersamanya, aku merasa berbeda. Aku merasa bahwa aku berubah. Aku berubah menjadi gadis lemah yang tak berdaya yang hanya bisa menangis di hadapannya.

Andai kalian tahu, setiap kali kami bertemu, tak akan ada waktu bagiku untuk tak menangis. Bersamanya, aku selalu menunjukkan sisi lemahku, suatu sisi yang tak pernah aku tunjukkan kepada orang lain selain dirinya.

Dulu, awalnya aku hanya merasa bahwa dia hanya sekedar sahabat yang setia menemaniku. Di pikiranku, dia adalah sahabat terbaik yang mau menerimaku apa adanya. Dia sahabat yang istimewa bagiku, sangat istimewa. Bahkan sampai saat ini pun, tak ada sahabat-sahabat lain yang bisa menggantikannya. Alasannya sama, karena dia istimewa, teramat sangat istimewa.

Aku masih ingat saat itu, saat dimana kami selalu berjalan beriringan di lorong kampus. Tanpa sengaja, aku selalu mendapati seorang gadis yang selalu memperhatikannya dari balik tembok saat kami lewat. Karena tahu hal itu, aku selalu meledeknya bahwa dia mempunyai secret admirer. Tapi, dia selalu saja menyangkalnya. Dia mengelak dengan berkata, "Mungkin dia cuma mahasiswi iseng," yang selalu disertai dengan tawa kecilnya di akhir kalimat. Namun, meski selalu mendapatkan kalimat yang sama saat meledeknya, aku tak pernah bosan untuk melakukannya.

"..and I remember all those crazy things you said... you left them running through my head... you're always there, you're everywhere... but right now I wish you were here...

"..all those crazy things we did... didn't think about it, just went with it... you're always there, you're everywhere... but right now I wish you were here..."

Aku juga masih ingat saat-saat dimana kami melakukan hal-hal gila bersama-sama. Aku ingat ketika kami membolos jam kuliah dan akan berakhir di tempat favorit kami, gudang belakan kampus yang sudah tak terpakai. Sebelum ke sana, kami akan membeli makanan terlebih dahulu untuk di makan bersama-sama di sana. Lalu, kami akan menghabiskan waktu kami untuk mengobrol apapun yang ada di pikiran kami.

Terkadang, kami sampai tertidur di sana karena suasananya yang tenang. Gemulai angin yang membelai kami, membuai kami dalam kenyamanan di lelapnya tidur siang. Tak jarang, aku mendapati kepalaku sudah ada di pangkuannya saat aku bangun atau mungkin sebaliknya. Saat di posisi itu, terkadang dia akan membelai kepalaku, begitu pun sebaliknya. Apalagi aku yang sangat suka jika ada seseorang yang membelai kepalaku dengan lembut. Itu mengingatkanku akan kasih sayang yang Mama dan Papa berikan sebelum keluarga kami berantakan seperti sekarang. Sungguh, aku rindu masa-masa kecilku.

Tapi, kenangan yang kami lalui tak bertahan lama. Memasuki semester ketiga kami di kampus, aku dikejutkan dengan kabar kepindahannya. Aku mengetahuinya saat dia memberi tahu bahwa dia akan pindah ke kota lain di saat dua hari menjelang kepindahannya. Sungguh, aku tak bisa menanggapi perkataannya saat itu. Aku terlalu terkejut akan berita itu.

Di saat yang sama, dia juga melontarkan kata-kata yang menurutku gila. Dia memberi tahuku tentang perasaannya. Dia berkata bahwa dia telah menyukaiku sejak lama sekali, entah kapan. Padahal, dia tahu bahwa aku selalu menghindari kata-kata cinta yang menurutku hanyalah bualan semata.

"Elo gila!!" adalah kalimat pertama yang aku keluarkan untuk menanggapi pernyataan cintanya.

"Tapi, Sya-"

"Nggak ada tapi, Bara." potongku cepat dengan penuh penekanan di setiap katanya. "Elo tahu sendiri kalau gue selalu beranggapan bahwa cinta itu bullshit. Buktinya aja Mama dan Papa yang tega-teganya selingkuh di depan mata gue sendiri. Elo tahu itu dengan baik, Bara."

"Sya, please, nggak semua cinta kayak gitu. Gue tulus saya sama lo, Sya. Please, believe me."

"Tapi lo itu sahabat gue, Bara!" Dengan bodohnya, aku mengatakan hal itu.

"Sya, nggak akan ada persahabatan antar cewek dan cowok yang pure tanpa rasa suka antar lawan jenis." Terang Bara saat itu.
Saat itu, aku terdiam. Aku memkirkan kata-kata Anggak yang juga ada benarnya.

"Iya, elo bener." Hanya dengan kalimat itu, aku kembali mengangis. Dan yang aku rasakan selanjutnya adalah tangan Angga yang merengkuh pinggangku dan bibir Angga yang sudah berada di bibirku. Ini... first kiss ku.

Mungkin kalian pikir ini memang keterlaluan, tapi yang bisa aku lakukan setelahnya hanyalah menampar dirinya. Jujur saja, aku pun tak percaya bahwa aku bisa menampar dia karena selama ini, aku tak pernah menampar siapa pun. Dan setelah itu, aku berlari sekencang-kencangnya dari hadapannya. Tak ku perdulikan suaranya yang memanggil namaku.

Asal kalian tahu saja, satu hal yang selalu setia berputar di pikiranku sampai saat ini, yaitu perkataannya yang menurutku gila. Saat aku bertanya bagaimanakah tipe wanita yang dia inginkan, dia pasti akan selalu menjawab,
"Gue pingin tipe cewek kayak lo."

"..damn, damn, damn... what I'd do to have you... here, here, here... i wish you were here... damn, damn, damn... what I'd do to have you... near, near, near... i wish you were here..."

Akhirnya, yang bisa kurasakan adalah penyesalan. Aku menyesal karena tak mau mendengarkan penjelasannya. Aku menyesal karena tak mau mengangkat pangilannya ataupun membalas pesannya. Dan aku menyesal, karena aku terlambat menyadari perasaanku padanya. Sekarang, aku berharap dia ada di sini, bersamaku, di dekatku.

"..I love the way you are... it's who I am, don't have to try hard... we always say, say like it is... and the truth is that I really miss..."

Ya, aku mencintai dia apa adanya. Aku mencintai dia tanpa alasan. Hanya dirinya yang kubutuh unuk dicintai. Tak perlu yang lain, karena hanya dia dan akan selalu dia.

Dan ini adalah aku apa adanya yang mencintai dia tanpa alasan. Tak perlu lagi dia bersusah payah untuk mengejar cintaku, karena ini waktuku untuk mengejar cintanya.

Sungguh, aku merindukannya.

"..and I remember all those crazy things you said... you left them running through my head... you're always there, you're everywhere... but right now I wish you were here..."

Ya, sampai kapan pun, tak akan kulupakan kata-kata gilanya padaku.

"..damn, damn, damn... what I'd do to have you... here, here, here... i wish you were here... damn, damn, damn... what I'd do to have you... near, near, near... i wish you were here..."

Aku tahu, meski seberapa kerasa aku merutuki kesalahanku, dia tak akan ada di sini.

"..no, I don't wanna let go... I just wanna let you know... That I never wanna let go... Let go..."

Bila saatnya tiba, aku tak akan lagi melepaskannya. Aku tak akan lagi membiarkannya pergi dariku.

"..damn, damn, damn... what I'd do to have you... here, here, here... i wish you were here... damn, damn, damn... what I'd do to have you... near, near, near... i wish you were here..."

Aku berjanji, segala cara akan aku lakukan agar dia kembali berada di dekatku, apapun itu.


~ THE END ~

Komentar

share!