SongFiction: Love Story




Karya: Ismaa

A
ku melihatnya. Dia duduk sendiri di bawah pohon rindang yang ada di taman kampus ini. Fokusnya berada pada buku yang ada di tangannya. Buku lainnya berada tepat di sampingnya. Tasnya juga tergeletak di sisi tubuhnya. Kaos hitam yang dikenakannya semakin menambah pesonanya. Dia terlihat.. tampan. Sangat tampan. Yah, memang pesonaya tak dapat ditolak oleh siapapun, terlebih kaum hawa. Hal itu dapat dilihat dari bebarapa mahasiswi yang mencuri pandang ke arahnya.

Suasana berisik seperti tak mengganggu konsentrasinya. Hiruk-pikuk mahasiswa lain yang berada disekitarnya—yang juga sedang menikmati waktu senggang yang dimiliki—seperti lantunan lagu tersendiri yang membuat dirinya nyaman untuk tetap duduk diam di tempatnya. Dia seolah tak memperdulikan mahasiswi lain yang mencuri pandang ke arahnya. Para mahasiswi yang mencuri pandang ke arahnya pun seolah lebih leluasa karna dia tak menunjukkan reaksi apapun.

Kalau kalian bertanya siapa dia, jawabannya tentu sangat simpel. Dia teman kampusku, meskipun kami beda fakultas dan jurusan. Dan yah, mungkin kami memang tidak mengenal satu sama lain secara personal. Dan mungkin saja hanya aku yang mengetahui sosoknya, tidak dengan dirinya. Karna mungkin memang aku tak begitu kentara di antara banyaknya mahasiswi di kampus ini. Tidak seperti dirinya yang terlihat menonjol di antara banyaknya mahasiswa. Dia semacam punya ciri khas serta pesonanya tersendi.

Saat sedang memperhatikan dirinya, aku mendapatinya mendongak. Dia menatap ke arahku. Mungkin memang dia merasa di perhatikan. Sesaat pandangan kami bertemu. Aku melihat ke kedalaman matanya. Mata hitam pekatnya membuat jantungku berdetak tak karuan. Dia seolah akan melompat saja dari tempatnya berada. Oh, jantung, tenangkan dirimu. Entah kenapa, sesaat kemudian, otakku memutar suatu kenangan yang tak bisa kulupakan. Kenangan beberapa bulan yang lalu.

♫ ♫ ♫

Suasana pesta kali ini sungguh meriah. Ini bukan pesta kelas atas yang diadakan para eksekutif. Ini hanya sebuah pesta topeng yang diadakan oleh senat kampusku. Hiruk-pikuk kehebohan para mahasiswa serta mahasiswi tak dapat dibendung lagi. Mereka seakan bebas untuk berteriak meskipun seharusnya tak pantas jika dilakukan pada pesta semacam ini. Ini pesta topeng, bukannya pesta di diskotik ataupun pesta kelulusan.

Gemeriah suara musik tak dapat ditolak. Meski musiknya bukan musik slow atau yang menghentak-hentakkan rasa, tapi musik ini cukup enak dilantunkan untuk pesta semacam ini. Tapi meski demikian, aku masih tak terlalu menyukai ide untuk menghadiri pesta ini. Kedatanganku kesini hanya karna ajakan dari teman satu fakultasku, atau lebih tepatnya paksaan mereka. Dan sekarang, aku hanya berdiri di sudut ruangan tanpa ada salah seorang teman yang menemaniku. Mereka sudah pergi entah kemana. Mungkin saja menghampiri pasangan mereka masing-masing. Oh, aku hampir lupa. Sebenarnya pesta ini mewajibkan untuk membawa pasangan karna nantinya akan diadakan pesta dansa serta semacam games untuk para pasangan. Dan yang terakhir, akan ada penobatan Prince and Princces of The Year. Yah, tentu saja tak heran bila ada hal semacam tersebut, karna memang ini adalah pesta bagi para kaum muda.

Suasana yang sebelumnya riuh mendadak menjadi sedikit terkendali. Aku melihat pada para mahasiswa serta mahasiswi yang hadir. Beberapa dari mereka terlihat masih sibuk sendiri berceloteh ria bersama teman-temannya. Sedangkan beberapa yang lain—terlebih yang berada tak jauh dari pintu masuk—terlihat mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk. Di sana, terlihat seorang pria yang baru saja datang. Dia memang tidak menggunakan pakaian mewah layaknya eksekutif muda jaman sekarang ataupun bangsawan jaman dulu. Dia juga tidak memakai pakaian aneh yang tidak sesuai dengan dresscode pesta kali ini. Tetapi entah kenapa kehadirannya dapat menghipnotis orang-orang.

Dia berjalan ke arahku. Oh, sepertinya bukan. Dia berjalan ke arah meja minuman yang tak jauh dari tempatku berada. Awalnya saat aku pikir dia berjalan ke arahku, aku kira dia adalah orang yang mengenaliku meski aku memakai topeng, tetapi tidak denganku, karna aku tidak mengenalinya sedikitpun—itu karna dia juga memakai topeng, sama sepertiku. Wow, mungkin hebat sekali kalau ada seseorang yang mengenali orang lain disaat orang itu memakai topeng, kecuali pasangannya, tentu saja.

Di saat aku masih memandanginya yang akan mengambil minuman, suara MC terdengar. Pengumuman akan dimulainya pesta dansa terdengar. MC meminta agar semua orang beserta pasangannya menuju ke tengah ruangan. Saat aku akan beranjak pergi, lenganku ditahan oleh seseorang. Pandangan mataku kini tertuju pada dia, pria yang mempesona tadi. Aku memberikan tatapan bertanya kepadanya.

“Mau berdansa denganku?” tanyanya. “Aku tak mempuyai pasangan.”

Belum sempat aku menjawab, tangannya telah terlebih dulu menarikku ke tengah ruangan. Aku tergugu, bingung harus berbuat apa. Tangannya kini menuntun tanganku untuk melingkar di lehernya. Kini tangannya telah meingkari pinggangku. Sungguh, aku tak pernah berdansa dengan siapapun sebelumnya. Meski aku pernah belajar menari saat di sekolah menengah atas, tapi aku tak pernah mempraktekkannya dengan siapapun. Cukup aku sendiri saja, tidak lebih.

Alunan musik yang berubah menjadi slow seakan mendukung gerakan kami. Tubuh kami kini telah bergoyang ke kanan dan ke kiri, mengikuti irama msik yang ada. Sesaat, aku dapat melihat ke dalam matanya. Hitam matanya memncarkan sinar tajam, Eagle Eyes. Meski sorot matanya tajam, tetapi tetap saja dia tak terlihat seakan menakutkan. Yang ada, sorot mataya membuatku nyaman untuk berada di dekatnya.
“Romeo.” Aku menatapnya dengan bingung. “Namaku Romeo.” Oh, kini aku mengerti maksudnya. Dia memperkenalkan dirinya kepadaku. “Namamu?”

Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, irama musik kini berganti dengan musik tango. Oh, siapa yang mempunyai ide dengan musik tango ini? Aku memang sedikit menyukai tango dance, tetapi untuk menari tango, aku tak yakin bisa melakukannya. Aku memang bisa berdansa tango, tapi hanya sedikit. Aku takut mengecewakannya. Apalagi jika seandainya aku sampai mempermalukan diriku dan dirinya.

“Bisa menari tango?” tanyanya.

I’m not sure.” Jawabku tak yakin. “Aku hanya bisa sedikit saja.” Aku memalingkan wajahku yang merona.

Oh, untung saja aku tak mengenalnya. Jika seandainya kami saling mengenal, aku yakin aku akan menjadi bahan ejekannya.

“Baiklah,” putusnya. “Mari kita melakukannya secara perlahan.”

Dia mulai menuntunku untuk menari. Awalnya aku sedikit kaku dalam melakukannya, tapi setelah dia membisikkan kata-kata menenangkannya padaku, perlahan tubuhku rileks kembali, tidak setegang tadi. Dan kalian tahu, kini aku seakan sedang berada di atas awan. Aku tak percaya bahwa aku bisa melakukannya dengan cukup baik.

“Wow.” Katanya takjub. “Kau cukup baik dalam melakukannya.” Oh, dia memujiku? I can’t believe it.

“Terima kasih.”

Acara kemudian dilanjutkan dengan berbagai games yang seru. Semua pasangan—termasuk aku dan Romeo—kini sudah bersiap untuk menyelesaikan games atau lebih tepatnya tantangan ini. Menurut yang kutahu, pasangan yang  bisa menyelesaikan tantangan yang diberikan oleh panitia nantinya akan dinobatkan sebagai Prince and Princess of The Year. Hmm.. apa kami akan menjadi pemenagnya?

“Oke, para pasangan, cepatlah bersiap-siap!” teriak MC dengan lantangnya.

Aku dan Romeo segera bersiap-siap.

“Oke, guys! Di atas kalian udah pada ada balon yang kegantungkan?” kami semua menjawab serempak.

“Nah, tugas kalian gampang kok. Kalian tinggal ngambil tuh balon, terus pecahin tuh balon bersama pasangan kalian. Tapi... masih ada tapinya nih. Tapi kalian nggak boleh pake benda tajam apapung. Jarumlah, peniti, anting, atau kuku kalian pun nggak boleh, ngerti?” semuanya menganggk mengerti.

“Oke. Dalam hitungan ketiga, gamesnya bisa dimulai.” MC mulai menghitung. “Satu ... Dua ... TIGA!!!” Tepat dalam hitungan ketiga, aku dan Romeo langsung meloncat bersamaan untuk meraih balon yang digatung di atas kami.

“Aw ...” Aku meringis karena kening kami yang berbenturan. Tetapi, bukannya ikut meringis, Romeo malah terkikik geli. Oh, dia sungguh mempesona.

“Sebaiknya kau hati-hati,” ucapnya.

“Ya,” bisikku lirih.

Games berlangsung dengan seru. Semua pasangan di sini tampak sangat menikmatinya, begitupun denganku dan Romeo—meski kami bukan pasangan. Tapi, apa salah jika satu kali saja bersenang-senang tanpa ada tanggungan bebean? Tidak, kan?

Permainan kembali dilanjutkan. Sekarang, entah ini ide dari siapa dan dari mana, games kali ini adalah ‘Ungkapan Kejujuran Pasangan’. Dan kalian tahu, aku dan Romeo yang bukan merupakan pasangan tentu bingung kejujuran apa yang akan kami ungkapkan. Kalian tahu sendiri jika kami baru saja mengenal, bukan? Lalu, apakah pikiran kalian sama dengan pikiranku sekarang? Aku yakin tidak. Kalian tahu, games kali ini akan dilakukan satu persatu pasangan. Dan mereka, akan mengungkapkannya pada panggung di depan sana. Oh, no! Ini bencana.

“Aku tidak tahu apa yang akan aku ungkapkan kepadamu.” Kataku.

“Begitupun denganku.” Dia menimpali.

“Oh, come on, Romeo. Apakah kita hanya satu-satunya orang yang tidak tahu akan mengungkapkan apa?” tanyaku sebal.

“Well, sekarang giliran kita.”

Belum sempat aku menolak, Romeo telah lebih dulu menarik tanganku menuju atas panggung. Dan di sini, tubuhku langsung kaku.

“Well, kami tidak tahu apa yang akan kami ungkapkan satu sama lain. Itu kenyataannya sekarang. Tapi ...” ucapannya menggantung, “tapi aku hanya ingin berkata bahwa dia cantik malam ini.”

Oh, oke. Sekarang aku tahu apa yang ingin aku ungkapkan. Dengan segera, aku merebut mic yang ada pada tangan Romeo. “Aku juga ingin mengungkapkan bahwa di tampan sekali malam ini. Dia mempesona, sangat,” kataku akhirnya.

Dia kembali mengambil mic yang ada di tanganku. “Dan satu lagi, aku ingin mengungkapkan sesuatu padanya. Sebenarnya kami bukan sepasang kekasih. But, I think, I’m falling in love with her at the first sight.

Dia berlutut di hadapanku. “So, will you be my girl?

Belum sempat aku menjawab perkatannya, tanganku sudah ditarik terlebih dahulu menuruni panggung. Oh, mengapa malam ini tanganku sering ditarik-tarik, sih? Tapi tetap saja, aku mengikuti orang yang menarikku dengan pasrah tanpa ada pelawanan.

“Hei!” Masih bisa kudengar teriakan protes Romeo.

Romeo, aku berharap kita bisa bertemu kembali.

♫ ♫ ♫

Lamunanku buyar ketika kurasakan seseorang mendekat padaku. Dia, Romeo, kini berjalan ke arahku. Mataku terperangkap ke dalam matanya, tak ingin mengalihkan pandangan sedikitpun.

Ketika sampai di depanku, dia langsung berlutut. “Will you be my girl?”

Aku tergagap mendengarnya. Apa yang dia katakan? Aku tidak salah dengar, kan? Dia memintaku untuk menjadi kekasihnya? Seperti malam itu?

Ketika aku akan beranjak meninggalkannya, tangannya telah terlebih dahulu menahanku. “Kau mau membuatku menunggu lagi?”

Aku tetap diam demi mendengar kelanjutan perkatannya.

“Oh, please. Jangan lagi berpura-pura di depanku. Aku sudah tahu siapa dirimu. You’re Juliet.”

Yeah, I’m Juliet. So?” Tanyaku polos.

“Oh, jangan berpura-pura lagi.” Dia menggerutu pelan. “Kau adalah gadis di pesta dansa itu, kan? Pasanganku malam itu.”

W-what?”

“Kau pikir aku tidak akan mengenalimu selamanya, huh?”

Aku mengerucutkan bibir mendengar nada suaranya yang terdengar sinis. “Lalu apa urusanmu?” Tanyaku ketus.

Come on, Juliet. Jangan lagi membuatku menunggu.” Sepertinya dia mulai kesal. “Will you be my girl?”

“Kamu masih membutuhkan jawaban?” tanyaku menggodanya. Dan ketika dia menganggukkan kepalanya, aku langsung berbalik pergi meninggalkannya.

“Juliet!”

Dia menyejajari langkahku. Dan dengan tenangnya, dia merangkul bahuku.

I’m Romeo and you’re Juliet, my Juliet,” bisiknya di telingaku.

Well.. aku tidak menyangka akan mempunyai kekasih seperti dirinya, The Most Wanted Boy.

Komentar

share!