S e n b a z u r u | Part 3 (end)


 Karya: Ismaa

E
ntah mengapa rasanya hari kian cepat berlalu. Detik berubah menjadi jam. Jam pun berubah menjadi hari. Dan kini, hari dimana aku akan bertemu dengan Antha telah tiba. Empat hari sebelum hari tersebut kugunakan untuk menyelesaikan sisa potongan origami yang belum kubuat. Dan ya, akhirnya origami itu telah selesai kubuat. Genap sudah seribu origami berbentuk burung bangau—papers cranes.

Kupeluk kotak yang berisi seribu origami. Aku berjalan menuju parkiran. Melewati koridor yang mulai sepi karna bel pulang sekolah telah berbunyi dari tadi. Tiba di pelataran parkir, tak kutemukan sosok Antha. Apa mungkin dia lupa dengan ajakannya? Ah, tapi Antha bukanlah orang yang mudah melupakan janjinya, apalagi ini adalah ajakannya sendiri. Aku beranjak untuk duduk menunggu di bangku yang tak jauh dari tempat parkir. Tempatnya teduh, jadi cukup nyaman untuk menunggu kedatangan Antha.
Tak berapa lama kemudian, kudengar suara langkah kaki yang kini berjalan tergesa-gesa. Kudongakkan kepalaku. Antha tengah berlari ke arahku. Rambutnya berkibar karna ayunan badannya yang tengah berlari. Cahaya matahari yang cukup terik membias wajahnya hingga dia terlihat mempesona. Sangat mempesona. Hingga dia tiba di hadapanku, kulihat wajahnya yang tengah bercucuran keringat. Kuraih sapu tangan yang ada di dalam tasku, menyodorkannya kepada Antha.
Mata Antha tampak terkejut, tapi tak lama kemudian dia mengambil sapu tangan yang ada di genggamanku. “Thanks, ya!” napasnya masih terengah-engah. Dia kemudian duduk di sampingku. Tangannya kini sibuk mengusap keringat dengan sapu tanganku. Setelah itu, dia mengibaskan tanganya, mungkin mencari kesejukan. Tak lama, dia menoleh ke arahku.
“Elo udah nunggu lama?” aku menggelengkan kepala sebagai jawaban. Dia terlihat menghembuskan napas. “Sorry. Gue pikir lo nunggu di kelas lo. Makanya gue nyamperin lo ke kelas lo.” Dia berjeda, “Sekali lagi, maaf ya, Gi. Gue nggak maksud bikin lo nunggu lama. Yayaya?”
Aku menghela napas. “Udahlah, Tha. Nggak apa-apa kok. Woles aja keleus.” Aku dan dirinya tertawa kecil mendengar ucapanku yang lebay pada akhir kalimat. Sungguh, sangat jarang sekali aku berbica lebay seperti itu. Eum, sebenarnya bukan lebay sih, mungkin kelewat gaul. Kata paling gaul yang aku gunakan hanyalah elo-gue saja, tak lebih.
“Kita mau berangkat sekarang?” tanya Antha.
Aku berpikir sejenak. “Terserah lo, deh.”
“Ya udah, kita berangkat sekarang aja. Yuk!” Dia meraih tanganku, namun segera kutarik. Dia mengernyit bingun dengan tindakanku. “Kenapa, Gi?” aku menunjuk arah pandanganku ke arah kotak yang sedari tadi ada di sampingku. “Ini?” Aku mengangguk. “Punya lo?” lagi, aku mengangguk. “Buat siapa?” dia bertanya lagi.
Aku menjawab lirih, “buat lo.”
Dia mengernyit bingung. Tapi kemudian dia mengangguk. “Oh, ya udah, kita bawa aja.” Aku melihat Antha yang meraih kotak itu. Kemudian dia membawanya hanya di satu tangannya. Tangannya yang lain menggandeng tanganku. Kami berjalan menuju parkiran.
● ● ●
Di sampingku, Antha duduk dengan tenang. Kami menatap keindahan alam yang terhampar di hadapan kami. Sekarag kami sedang berada di tempat yang sangat indah. Tempat ini juga sering Antha sebut sebagai tempat rahasianya. Aku juga tidak tahu mengapa dia menyebutnya seperti itu. Mungkin karna tempat ini sepi dan tidak terlihat keberadaan manusia selain kami berdua.
Dulu, semasa kami SMP, Antha pernah beberapa kali mengajakku untuk mengunjungi tempat ini. Dan aku sangat senang ketika dia mengajakku. Rumah pohon yang dikelilingi oleh pohon-pohon tinggi nan besar. Suasana asri serta udaranya yang masih jernih kian membuat tempat ini semakin nyaman. Sungguh amat nyaman.
“Udah lama juga ya, kita nggak ke sini?” Antha memulai pembicaraan setelah keheningan yang menyelimuti kami. Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaannya. “Lo pendiem banget sih, Gi.” Aku terhenyak mendengar perkataannya. Iya kah? “Elo jarang banget jawab pertanyaan gue. Paling juga cuman anggukin kepala doang. Beda banget sama Anggi yang dulu.”
“Masa sih, gue berubah? Mungkin karna kita jarang ngobrol lagi, makanya gue jadi canggung deh. Aneh banget gitu rasanya.”
Antha mengangguk, seperti mengiyakan. “Bener juga sih. Sebenernya gue juga agak canggung ngomong sama lo. Tapi ya, sok kenal sok deket nggak apalah.” Dia terkekeh geli di akhir kalimatnya. “Tapi jangan jadi pendiem juga dong, Gi. Gue ngerasa kayak mau jahatin lo aja.” Kembali, dia terkekeh geli. Aku mengangguk menanggapinya.
 “Gue mau ngomong sesuatu, Gi.” Antha kembali berbicara.
Aku mengernyit bingung. “Barusan lo kan udah ngomong.”
“Bukan gitu maksud gue.” Dia kemudian mengalihkan pandangannya dariku. Menghela napas berat, dia kemudian kembali menatapku. “Gue.. suka sama lo, Gi.”
“Hah?” Aku hanya dapat mengerjapkan mata, terpaku menatap Antha. Ada berkas rona kemerahna di pipinya. Dia.. merona? Karena menyatakan perasaannya kepadaku? Wow, sulit dipercaya. Seorang Antha merona, guys!
“Duh.” Dia kembali mengembuskan napas. “Jangan gitu doang dong, Gi, tanggapannya. Gue kan lagi nembak lo.”
“Terus?” aku berencana sedikit mengerjainya. Entahlah. Jika harusnya seorang gadis yang sedang mendapatkan pernyataan suka bersikap canggung atau terjadi awkward momen di sekitarnya, tapi tidak denganku. Kecanggungan yang tadinya berlangsung kini entah meguap kemana. Aku seperti kembali ke masa-masa dimana aku dan Antha masih salaing bercanda-tawa bersama, masa sebelum aku tau bagaimana perasaanku sebenarnya.
“Anggi, please. Jangan buat gue tambah malu dong.” Dia mendengus sebal
“Ya terus, Tha...? Gue harus bilang apa coba?” tanyaku sok polos, menampakkan raut wajah se-innocent mungkin yang aku punya.
“Anggi, please!” ketusnya, “Jawab aja apa susahnya, sih? Nggak pake ngegoda gue bisa, kan?”
Akhirnya, tawaku pun pecah. “Aduh, Tha. Sorry, sorry. Gue nggak maksud, kok.” Masih dengan tertawa, aku melanjutkan. “Bentar, ya! Gue punya sesuatu buat lo.” Aku mengambil satu origami yang ada di kotak lalu memberkannya kepada Antha. “Nih.”
Meraihnya, Antha kemudian menatapku heran. “Maksudnya?”
Aku tersenyum-senyum sendiri. Duh, antara malu dan ingin tertawa. “Buka aja lah, Tha.”
Dia kemudian membuka lipatan origami yang aku berikan. Setelah sepertinya menenukan sesuatu yang ia harapkan, ia kemudian menatapku. Raut wajahnya menampakkan ketidakpercayaan, tapi sejurus kemudian, senyum manisnya mengembang dengan sempurna, menambah ketampanannya.
“Jadi ... ?” kalimatnya menggantung.
Untuk menambah keyakinannya, aku memberikan kotak seribu origami itu ke hadapan Antha. “Jadi, apa?” tanyaku geli.
Dia mendengus. “Geezz. Dasar, cewek usil!” Dia kemudian mengacak-acak rambutku, membuatku tertawa lepas.
Gue mau jadi pacar Antha..


|| THE END ||

Komentar

share!