S e n b a z u r u | Part 2


 Karya: Ismaa

U
ntung saja saat sampai tadi tim basket sekolah kami belum bertanding. Kalau tidak, mungkin aku sudah menangis histeris karna tidak bisa melihat dirinya bertanding. Duh, ini semua gara-gara Anti yang lupa memberi tahuku. Lalu, kenapa juga aku tidak tau berita penting seperti ini. Padahal harusnya aku selalu terupdate tentang berita yang menyangkut dirinya. Tapi tak apalah, yang penting aku bisa melihat dirinya bertanding.

Tim basket sekolah kami sudah bertanding tadi. Mataku tak lepas dari dirinya yang sedang bertanding di lapangan. Banyak sorak-sorai penonton—yang merupakan siswa-siswi sekolah kami yang ikut menonton—saat dirinya berhasil memasukkan bola ke dalam ring. Oh, dia terlihat sangat keren. Keringat yang mengucur dari pelipisnya tak mengurangi pesonanya sedikitpun. Dia tetap terlihat memukau.
Sekarang ini sedang waktu istirahat sejenak sebelum pertandingan kembali dilaksanakan. Aku memanfaatkan kesempatan ini untuk pergi ke toilet, sedangkan Anti kuperintah pergi untuk membeli minuman serta cemilan untuk makanan kami saat menonton nanti. Karna kami terburu-buru, kami tak sempat membeli makanan terlebih dahulu saat datang ke sini. Tapi tak apalah, yang penting saat pertandingan selanjutnya akan ada makanan yang menemani kami untuk menonton.
Saat akan berbelok, aku mendengar ada yang memanggil namaku dengan ragu-ragu. “Anggi?”
Aku menoleh dan segera membalikkan badan saat tahu siapa orang yang memanggil namaku. Dia ada di sini, tepat di depanku. Aku tak tau darimana munculnya dia.
“Anggi, ya?”
“Eh, i-iya.” Aku tergagap.
“Gue kira salah orang. Dari tadi gue panggilin gak nyahut, sih.” Dia terkekeh sebentar. “Mau kemana, Gi?”
Aku tersenyum kikuk. “Eum ... mau ... mau ke toilet.”
“Oh, toilet ya? Lo kelewat deh, Gi. Toiletnya ada di sebelah sana.” Aku mengikuti arah tunjukannya. Oh, iyakah? Sepertinya aku terlalu banyak melamun sehingga tak menyadari telah melewati toilet. “Ayo deh, gue anter. Dari pada elo nyasar lagi entar.” Dia tertawa kecil. Sepertinya menertawai kebodohanku yang melewati tempat tujuanku. Masa iya aku melakukan hal bodoh di depannya seperti ini? Duh, malunya.
Sesampainya di  depan toilet, aku mengucapkan terima kasih dan segera masuk ke dalam. Aku bersandar pada salah satu pintu di bilik toilet, menenangkan jantungku yang masih berdetak tak karuan antara bertemu dia dan merutuki kebodohanku tadi. Setelah sedikit bisa menenangkan detak jantungku, aku membasuh wajahku di wastafel. Kemudian aku memandangi wajahku di cermin. Wajahku memanas, pipiku memerah. Aku mencak-mencak tak jelas di dalam toilet. Beruntung tak ada orang lain di dalam toilet ini. Jika tidak, mungkin orang itu akan menganggap aku orang gila yang melarikan diri dari Rumah Sakit Jiwa.
Saat keluar dari toilet, aku mendapati dia yang sedang bersandar pada dinding yang tak jauh dari pintu toilet. Dia.. menungguku? Oh, romantisnya. Eh, kenapa pikiranku melantur kemana-mana seperti ini, sih? Aku segera menepuk keningku sendiri karna pikiran anehku. Mungkin entah karena terlalu keras menepuk keningku, membuatku mengaduh kesakitan. Hal itu sontak membuatnya mengalihkan perhatiannya yang sedang memandang lurus ke depan. Dia berjalan menghampiriku.
“Elo kenapa, Gi? Nggak apa-apa, kan?” tanyanya. Terdengar nada khawatir dari suaranya. Dia kemudian mengambil tanganku yang sibuk mengusap-usap keningku. Diperhatikannya keningku dengan seksama. Kemudian tangannya terangkat untuk mengusap-usap keningku, menggantikan tanganku yang masih ada dalam genggamannya. Mungkin dia tak sadar akan hal itu. “Kening lo merah.” Selepas mengatakan itu, dia sedikit meniup-niup kecil keningku. Ah, mungkin dia tak sadar juga telah melakukan hal itu.
Setelah beberapa saat dengan keadaan itu, dia kemudian mengajakku untuk duduk di salah satu bangku yang berada tak jauh dari toilet. Dia kemudia izin untuk pergi sebentar meninggalkanku. Dia juga mewanti-wantiku agar aku tak pergi terlebih dahulu sebelum dia datang kembali. Dan ya, tentu saja aku akan menunggunya untuk datang kembali. Siapa sih, yang tidak mau memanfaatkan keadaan langka seperti ini?
Saat kembali, di tangannya terdapat air mineral dingin yang kemudian digunakan untuk mengompres keningku, begitu katanya. Duh, padahal kan keningku hanya memerah saja. Bukannya terluka parah atau apa. Mungkin aku akan mengatakan orang lain terlalu lebay jika melakukan ini, tetapi pengecualian untuk dirinya. Dia terlihat sangat perhatian saat melakukannya. Uh, ini sangat romantis. Yah, mungkin kalian akan iri jika melihatku dengannya.
“Udah lama ya, kita nggak ketemu? Apalagi duduk bareng kayak gini.” Ujarnya kala keheningan merambat di antara kami. Tatapannya terlihat menerawang. “Jadi kangen deh, sama masa-masa waktu kita masih satu kelas.” Sekilas dia menoleh ke arahku. Bibirnya membentuk senyuman yang jarang lagi kulihat, karena kami tak lagi berada di kelas yang sama dan kami pun jarang berjumpa.
Ya, dulu dia teman sekelasku. Bahkan, dari kelas IX SMP dulu kami juga berada di kelas yang sama. Hanya selepas kelas XI SMA kami tidak lagi satu kelas, tidak lagi duduk di bangku yang sama. Dan sekali lagi ya, dua tahun kami berada di kelas yang sama, dua tahun itu pula kami duduk di bangku yang sama.
Mungkin kalian bertanya bagaimana bisa aku menyukai dirinya, menyukai dia yang menyebalkan. Tapi dibalik sikap menyebalkannya, dia adalah orang yang sangat ramah dan sangat asik diajak ngobrol. Awal aku menyukainya adalah saat menjelang hari kelulusan tiba.
Pada hari-hari itu, sebenarnya aku belum tau bagaimana perasaanku yang sesungguh pada dia. Aku hanya merasa sedih karna akan berpisah darinya. Selain perasaan sedih, juga ada perasaan tak rela serta berbagai perasaan lain yang tak ku ketahui apa namanya. Aku juga merasa.. hampa, sangat teramat hampa. Aku hanya berpikir bahwa mungkin kami tak akan bertemu lagi, karna mungkin saja kami masuk di SMA berbeda.
Saat tiba di hari kelulusan, dia menghampiriku. Dia memberiku hadiah, begitu menurutku. Sebuah gantungan kunci boneka beruang berwarna biru muda yang sangat indah. Dia berkata itu sebagai kenang-kenangan darinya jika seandainya kami tak bertemu lagi. Dia juga mengucapkan terima kasih karena aku sudah mau menjadi temannya selama sisa masa SMP. Saat itu aku tak bisa mengatakan apa-apa. Aku hanya bisa termangu menatap punggungnya yang perlahan menjauh. Menghilang di tengah kerumunan siswa-siswi yang juga merayakan kelulusanya.
Dan saat itu juga.. aku sungguh merasa kehilangan. Merasa kehilangan sekaligus tahu bahwa ternyata aku telah jatuh padanya. Jatuh yang terlalu dalam.
“Anggi?”
Oh? “I-iya?” lagi-agi aku tergagap di hadapannya.
“Waktu istirahatnya udah habis. Panggilan buat para pemain basket juga udah diumumin.” Dia berjeda, “Jadi ... gue balik dulu ya?”
Yah, padahal aku masih ingin lebih lama bersamanya. “Oh, iya. Nggak apa-apa kok, Tha.” Sepertinya kata hatiku tak sama dengan lisanku. Mereka bertolak belakang.
“Eum ... elo sama siapa kesininya, Gi?” tanyanya.
Aku menatap Antha tepak di manik matanya. Rasanya jantungku berdetak semakin tak karuan saat ini. Dengan segera, aku mengalihkan pandanganku ke arah lain. Asalkan jangan ke arah Antha saja. “Gue bareng Anti kesini. Dia lagi beli—“ seketika aku teringat sesuatu. “Duh, dia pasti nyari gue, deh.” Aku menepuk jidatku dengan refleks.
“Ya ampun, Gi. Maaf. Gara-gara gue ngajak lo duduk di sini jadi ngebuat Anti khawatir pastinya. Sekali lagi maaf ya?” dia seperti memelas saja untuk memohon maafku. Ini juga salah satu hal ang aku suka dari Antha. Gengsinya tidak tinggi. Dia rela menurunkan gengsinya hanya untuk meminta maaf dariku. Karna ya, sudah berkali-kali dia meminta maaf padaku dikala dia membuatku kesal karna ulahnya.
“Duh, Tha. Nggak perlu minta maaf gitu kali. Ini juga salah gue.” Aku menenangkannya. “Mending sekarang lo balik deh. Entar keburu dicariin yang lain.”
“Oh, iya.” Dia menyadarinya. “Yaudah deh, gue balik dulu. Tapi.. hari kamis nanti, elo mau nggak jalan bareng gue? Udah lama juga kan, kita nggak jalan bareng.”
Aku tergagap. Ini bagaikan ajakan kencan dari orang yang kita suka. Yah, meski ini hanya ajakan jalan bareng, atau mungkin nongkrong bareng. “Tapi, Tha.. gue.. gue..”
Belum sempat aku menyelesaikan perkataanku, Antha telah terlebih dahulu memotongnya. “Please, Gi. Mau ya? Yayaya?” dia menunjukkan wajah memohonnya. Sungguh, sangat jarang sekali seorang Antha menunjukkan wajah memohonnya yang imut seperti itu.
Aku meghela napas pasrah. “Oke,” bisikku lirih sebagai tanda menyetujui ajakannya. Tetapi meski lirih, tenyata biskanku masih bisa di dengar olehnya. Terbukti saat ia meloncat gembira bagaikan memenangkan undian besar.
“Oke, tunggu gue ya, sepulang sekolah. Jangan lupa ya!” Sebagai persetujuannya, aku hanya mengangguk. Dia kemudian pergi meninggalkanku setelah mengacak rambutku asal—inilah hal yang terkadang membuatku kesal pada seorang Antha. Setelah punggungnya menghilang dan merapikan rambutku, aku segera beranjak. Pergi dari tempat dimana kami mengobrol barusan. Karna aku baru sadar satu hal. Anti pasti sudah mencak-mencak tidak jelas karna tidak menemukanku.


Bersambung ....

Komentar

share!