S e n b a z u r u | Part 1


 Karya: Ismaa

A
ku masih saja sibuk dengan lipatan origami di tanganku kala kudengar Anti memanggil namaku. Aku mendongak, melihatnya tengah berjalan ke arahku dari pintu kelas. Suaranya saat memanggil namaku tak hilang di telan bisingnya suasana kelas, karena memang saat ini jam istirahat tengah berlangsung. Saat sampai di tempatku berada, dia segera duduk di bangku kosong tepat di depanku.

“Masih sibuk sama origami?” tanyanya yang kubalas dengan anggukan.
Dia terlihat menghela nafas, mungkin merasa jengah dengan kelakuanku yang tak kian menyerah untuk membuat 1000 lipatan origami berbentuk burung bangau. Sebenarnya, bukan tanpa alasan aku melakukan hal ini. Ada alasan khusus yang melatar belakangiku untuk melakukannya.
Senbazuru, begitu biasanya disebut. Dalam masyarakat Jepang, Senbazuru dipercaya dapat mengabulkan permohonan yang kita inginkan apabila kita berhasil membuatnya. Memang terkesan mengada-ngada, karena mana mungkin 1000 lipatan origami berbentuk burung bangau itu dapat mengabulkan permintaan. Tetapi, tak ada salahnya jika mencoba, bukan? Mungkin saja berhasil.
“Elo nggak ada niatan buat nyatain secara biasa apa?” pertanyaan Anti berhasil mengalihkan perhatianku dari origami ditanganku. Aku menghela napas sebentar, kemudian meletakkan origami itu pada kotak khusus yang aku sediakan sebagai tempatnya. Pandanganku kini beralih sepenuhnya kepada Anti.
“Kenapa emang?” tanyaku.
“Buat apa lo bikin seribu origami kalau seandainya ujung-ujungnya lo bakal di tolak sama dia?”
“An, itu masih seandainya. Oke, gue sadar emang kesempatan itu cuman nol koma satu persen, tapi apa salah kalau gue berusaha meski cuman sekedar bikin 1000 origami ini? Enggak, kan?”
“Gue cuman nggak mau lo kecewa aja, Gi. Gue nggak mau hal itu sampai terjadi.”
Anti, di sahabatku. Aku tahu bagaimana pedulinya dia terhadapku. Aku tahu bagaimana khawatinya dia terhadapku. Dia hanya tidak ingin aku kecewa saat seandainya perasaanku tak terbalaskan nantinya. Tapi meski demikian, aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku kepada dia yang aku suka, setelah sekian lama aku memendam perasaan ini.
Mungkin kerap kali aku melihat dia berjalan, mengobrol ataupun pulang berasama siswi perempuan di sini. Tapi tak ada satupun berita ataupun gosip yang beredar bahwa dia mempunyai pacar selama bersekolah di sini. Gosip yang beredar tentangnya hanya sekedar tentang dia yang dekat dengan salah satu siswi sekolah ini. Tapi perlahan, gosip itu pasti akan musnah dari peredaran dan tak muncul kembali.
● ● ●
Anti muncul dari luar kamarku. Dia meletakkan tasnya lalu duduk tepat di sampingku. “Belum beres juga origaminya?”
Sekarang hari minggu. Sudah menjadi kebiasaan kami untuk saling mengunjungi rumah satu sama lain. Entah itu untuk mengerjakan tugas bersama atau hanya sekedar iseng saja bermain. Dan sekarang memang giliran Anti yang mengunjungi rumahku.
Aku hanya tersenyum lebar ke arahnya. “Belum.”
“Udah dapet berapa, sih?” tanyanya.
“Eum.. sekitar 862 deh kayaknya. Tinggal 138 lagi buat ngasih ini ke dia.”
“Serius mau ngasih ini ke dia?” tanya Anti, lagi.
“Serius, dong. Masa udah sebanyak ini cuman gue jadiin pajangan di kamar.”
“Kalau seandainya lo ditolak sama dia gimana?”
“Anti, kita udah bahasa ini berkali-kali. Dan please, nggak usah bahas ini lagi, oke?”
“Anggi, please, gue cuman nggak mau lo kecewa aja.”
“Oke, Anti sayang. Gue ngerti kok, gimana kekhawatiran lo terhadap gue. Tapi please, biarin sekali ini aja gue ngelakuin apa yang gue mau. Dan gue juga berharap kalo lo mau ngedukung gue seperti biasanya, oke?”
“Oke, Gi.” Seperti teringat sesuatu, Anti kemudian kembali berbicara, “ngomong-ngomong, gue lupa mau ngasih tau lo hal ini.”
Anti terlihat ragu mengatakannya, namun kemudia dia melanjutkan, “Sebenernya hari ini ada pertandingan basket antar-sekolah. Dan.. tim basket kita juga ikut. Otomatis, karna dia salah satu anak basket jadi dia juga ikut,” kata Anti takut-takut.
Pikiranku sibuk mencerna beberapa saat, sampai akhirnya aku berlari kesana-kemari tak tentu arah. “Huaa! Anti! Kenapa elo nggak bilang dari tadi, sih? Duh, gue harus gimana ini? Belum siap-siap juga. Huee..” aku sedikit merengek kepada Anti.
“Aduh, Gi, maaf. Gue lupa. Serius deh.” Anti ikutan panik dan mengikutiku yang berjalan kesana-kemari tak tentu arah. “Aish, Anggi! Gue pusing deh, ngeliat lo jalan kesana-kemari! Mending sekarang lo siap-siap. Cepet! Entar kita keburu telat lagi.”
Aku segera mengambil pakaian seadanya yang bisa dijangkau tanganku setelah mendengar perkataan Anti barusan.
“Gue tunggu dibawah, ya!” Terdengar suara Anti dari luar kamarku. Oh, ternyata dia sudah pergi dari kamarku. Dengan cepat, aku memakai pakaianku dan meraih ponselku kemudian memasukkannya ke dalam tasku setelah memakai pakaianku. Aku segera berlari menyusul Anti. Duuh, mana gak tau jam berapa lagi mulainya. Huhu..
● ● ●

Komentar

share!