RESET | Part 3 (end)


Ilustrasi karya Waskito Widya. Hak cipta sepenuhnya milik ilustrator.


Karya: AprilCahaya

S
udah satu semester aku menjalani sekolahku disini, dan selama itu juga aku sudah berubah mungkin 180 dearajat dari sikapku dulu.
Aku sudah mulai dikenal dengan sikapku yang dingin dan cuek, itu lebih baik dibanding sikapku yang dulu dikenal sebagai Agni yang ceria dan ramah.
Teman? 

Sudah kubilang aku tak butuh teman. Satu-satunya orang yang aku terpaksa bicara sedikit panjang adalah... ya cowok disebelahku ini. Ternyata namanya Arga, bukan gagak ataupun gagang pintu seperti dugaan awalku. Ck.
Seandainya saja aku bisa protes dan bertukar tempat duduk mungkin aku bisa minta cewek culun yang bernama Dewi sebagai teman bangkuku. Sayang sekali tempat duduk di kelas tetap dan tidak bisa berganti hingga akhir tahun ajaran.
Menyebalkan bukan.?
Aku menselonjorkan kakiku dan menghirup nafas dalam-dalam. Kini aku duduk dibangku taman dekat dengan pohon mangga yang rimbun, cocok sekali jika harus istirahat di siang hari yang panas.
Bosan juga jika aku selalu menghabiskan waktu istirahatku di kelas maupun di perpustakaan. Aku membuka novel yang tadi aku pinjam diperpustakaan dan memasang headseat di kedua telingaku.
Kriet, bug.
Heh? Bunyi apa itu?
Aku menoleh ke sekeliling dan tak menemukan sesuatu atau apapun,tapi aku yakin tadi seperti suara benda jatuh. Sret.
Tiba-tiba headsetku terlepas dari telingaku dan kudapati makhluk yang tidak ingin aku lihat sudah duduk manis disampingku dengan menggunakan sebelah headsetku.
“Ngapain lo?,”kataku sinis.
“Menurut lo?” Arga menoleh sebentar menatapku dan kembali memejamkan matanya seolah menikmati lagu yang aku putar melalui handphoneku.
“Ck.” Aku mengambil paksa lagi headsetku. Dia melirik dengan ujung matanya aku berlagak tidak mempedulikannya sama sekali.
“Immortal Love?? Gue suka tuh lagu.” Hah? Arga senyum baru kali ini aku melihatnya tersenyum.
Hemm,, aku juga jarang senyum kenapa juga judge orang lain. “Nggak ada yang nanya lo suka atau gak.” Aku berdiri berniat pergi dari tempat itu.
”Tunggu, duduklah sebentar disini.” Arga mencekal tanganku.
“Tak perlu lari dari kenyataan, yang perlu lo lakuin hanya memperbaikinya bukan menjadikan diri lo buruk. Dan itu bukan lo, jadilah diri lo sendiri. Tak semuanya itu sama, dan gak semua keadaan itu sama. So, mulailah semuanya dengan hal positif bukan hal negatif seperti itu.” Arga menatapku dengan serius.
Ada apa dengan cowok ini kenapa dia tiba-tiba ceramah kayak Mario Teguh.
“Lo kesambet?,”tanyaku dengan kening berkerut.
”Agni Arsela, gue tahu lo. Anak kelas 10-C SMA BHAKTI.” Aku membelalakkan mataku darimana Arga bisa tahu asal sekolahku?
“Lo cenayang?? Atau paranormal?” aku masih bingung dengan semua yang Arga katakan.
“Buahahahhahaha,” Arga malah tertawa sambil memegangi perutnya.
“Gila.” Aku melangkah pergi dan lagi-lagi tanganku ditarik kali ini lumayan keras hingga aku menubruk dada Arga.
“Gue bukan cenayang atau paranormal, gue udah memperhatikan lo dari awal lo menginjakkan kaki lo di sekolah ini.”
“Lo stalkerin gue?,”kataku sedikit keras.
“Lo tau cowok culun yang duduk dibangku paling depan? Kelas 10-C SMA Bhakti. Hem?,”Arga menatap tepat dimataku.
“Dirga?” aku mengucapkan nama itu ragu. Aku ingat cowok yang tak pernah dipedulikan sama sekali, dia seperti tak terlihat.
“Hemm, itu gue.” Arga mengangguk dan melepaskan cengkramannya.
“Lo gak begitu pandai merubah hidup lo Agni. Terkesan lo memaksakan diri.”Arga kembali duduk.
“Kok bisa? Nama lo berubah?” Arga tersenyum miring yang semakin membuatku penasaran.
“Aku sempat dibawa ke psikiater karena depresi yang gue alami, lo gak tau gimana rasanya dikucilkan. Sampai akhirnya gue dibawa pindah dan gue resmi menyandang nama baru dan memulai kehidupan baruku disini.” Aku hanya diam tanpa berkata sepatahpun.
“Lo tau gak? Apa yang buat gue masih bisa bertahan dan ingin pergi ke sekolah? Senyuman lo.”Arga membalikkan badannya dan memegang kedua bahuku.
“Senyuman lo yang bikin gue diam-diam suka ama lo. Dan gue benar-benar frustasi saat senyum itu udah pudar dan tak terlihat lagi. Tapi gue gak bisa, benar-benar gak bisa berbuat apa-apa saat itu.”
“Gue gak tahu apa yang terjadi sama lo waktu itu. Gue pengen banget tanya sama lo, apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang membuat senyuman lo hilang begitu saja? Tapi gue terlambat, belum juga gue berani bertanya sama lo, gue udah pergi dari kota itu.”tutur Arga.
Aku hanya mengerjapkan mataku berkali-kali.Aku masih bingung dengan semua yang dikatakan Arga.
“Arga maaf.”hanya itu yang bisa aku katakan.
”Kenapa minta maaf ke gue? Minta maaf pada diri lo sendiri. Mulai sekarang jadilah diri lo sendiri oke?,” aku mengangguk membenarkan semua perkataan Arga.
“Oh ya Agni, would you be my girlfriend?”
“HAH?,”sukses aku melongo dengan muka super bego. Apa telingaku sudah rusak? Gila, kenapa cowok ini gampang banget mengalihkan pembicaraan.
“Ahhh, gue anggap diam lo artinya setuju iya kan? Hehehe sampai jumpa dikelas honey, bye.” Arga melangkah pergi dengan memasukkan tangannya di saku celana.
Sedangkan aku? Aku masih belum sadar.
“Ciehh yang baru jadian.”tiba-tiba ada yang menyenggol kedua lenganku. Shela dan Celia nyengir gak jelas didepanku.
“Hah? Siapa yang jadian?” aku masih pasang tampang bego.
“Halah ngeles,”cibir Shela.
1 detik

2 detik

3 detik

“WOOOIII ARGA SIALANNNNN.”aku baru sadar apa yang barusan terjadi aku segera berlari menyusul Arga tanpa mempedulikan Shela dan Celia yang masih asyik menggodaku.
Aku tahu, aku memulainya dengan awal yang buruk tapi tak ada kata terlambat kan untuk memperbaikinya?
Arga benar, tak semua keadaan sama dan tak semuanya dalam keadaan yang sama. Aku masih hidup di dunia ini jadi selama itu aku akan tetap membutuhkan orang lain. Manusia tidak akan bisa hidup sendiri.
Semoga memang ini yang terbaik untuk hidupku. Masa lalu bukanlah untuk dilupakan tapi dijadikan untuk media memperbaiki kehidupan yang lebih baik.
Memory seseorang bukanlah seperti memory pc dan komputer tapi otak seseorang akan menyimpan semuanya dengan apik tanpa terkecuali. Jadi berpikirlah ulang jika kalian ingin melupakan semua kenangan yang ada di memori kalian. Karena kenangan bukanlah hal yang mudah untuk di reset...
----00---

END

Komentar

share!