RESET | Part 2

Ilustrasi karya Waskito Widya. Hak cipta sepenuhnya milik ilustrator.


 Karya:AprilCahaya

J
ujur aku sedikit gugup saat langkah kakiku mendekati kelas yang akan jadi tempat dimana aku setiap harinya bergelut dengan buku-buku dan mata pelajaran. Bertemu dengan orang-orang yang disebut teman sekelas dan guru. 

Tapi bagiku tetap saja tak ada teman di catatan hidupku.
“Fighting!!,” aku mengepalkan tanganku kedepan Bu Susi menoleh kearahku dan tersenyum melihat tingkah konyolku mungkin.
Aihhhh memalukan. Tidak-tidak aku bukan Agni yang dulu. Kenapa sikapku tadi seperti Agni yang dulu???
“Semangat ya!!,”tiba-tiba Bu Susi juga mengepalkan tangannya ke depan persis seperti yang aku lakukan. Aku hanya mengangguk dan mengikuti langkah beliau. Aku harus konsisten, tidak-tidak... aku tidak seramah dulu lagi.
“Selamat pagi semua.” Sapa Bu susi saat sampai di depan papan tulis dan menghadap ke semua murid kelas 11-A yang berjumlah 19 anak dan akulah yang akan jadi yang ke 20.
“Hari ini kita kedatangan teman baru, dia pindahan dari Jakarta. Ayo perkenalkan dirimu.”Bu Susi mempersilahkanku untuk memperkenalkan diri didepan kelas.
”Selamat pagi, nama saya Agni Arsela. Senang bertemu dengan kalian, salam kenal.”aku sedikit membungkuk dan tersenyum ke semua teman sekelas. Bohong. Aku tersenyum kecut. Tak tahu mereka menyadarinya atau tidak, mungkin kesan pertamaku bagi mereka buruk. Ck, itu bukan urusanku.
Semua bertepuk tangan terutama anak laki-laki terdengar seperti aku habis melakukan suatu pertunjukkan didepan kelas. Saat kuedarkan pandanganku ke semua teman-teman sekelas, aku melihat hanya satu anak laki-laki yang tidak bertepuk tangan.
Anak laki-laki itu menatapku seperti melihat tersangka yang sedang diintrogasi. Tatapan curiga, mungkin seperti itu aku mendeskripsikannya.
Terserah, aku juga tidak membutuhkan keramah-tamahan mereka. Aku.... benar-benar tidak peduli.
“Baiklah cukup perkenalannya, nanti kalian bisa berkenalan lebih lanjut lagi dengan Agni. Agni, kamu bisa duduk dibangku paling belakang disebelah sana ya.”Bu Susi menunjuk sebuah bangku paling belakang dan......tunggu... tepatnya bangku disamping anak laki-laki yang aku maksud tadi. Sial.
--00--

Ketahuilah hari ini berlangsung sangat cepat, tak banyak yang bisa aku lakukan disaat istirahatpun aku memilih ke perpustakaan untuk sekedar membaca buku yang bisa jadi referensi.
Di kelas?
Ada beberapa anak yang mengajakku berkenalan dan aku hanya ingat dua nama anak yang duduk tepat didepanku. Yang aku pikirkan kenapa mereka masih mendekatiku sedangkan aku selalu mengacuhkan mereka sejak tadi pagi. Ini  benar-benar merepotkan.
Yang rambutnya dikuncir kuda namanya Shela, dan yang rambutnya digerai panjang dengan poni yang menutup dahinya dengan rapi itu namanya Celia.
Ahh apa peduliku, aku tak percaya lagi dengan namanya pertemanan.Teman?? aku tak membutuhkannya.
Mereka akan hanya merecoki kehidupanmu saja. Bukan-bukan,, aku bukan bergaya sok dingin dan bersikap acuh dengan mereka lebih tepatnya aku tak ingin bersikap lebih kepada mereka.
Sekedar teman sekelas ya itu saja yang aku inginkan. Kalau bisa aku berharap semua temanku bersikap acuh dan tak peduli seperti apa yang dilakukan cowok disampingku ini.
Setelah berjam-jam duduk disampingnya aku bahkan tak tahu siapa namanya. Yang aku dengar tadi beberapa orang menyebutnya “GA,, GA,,” gagak atau gagang pintu tak tahulah apa peduliku.
Seandainya saja dikepalaku ini ada sebuah tombol reset aku sudah menekannya dari kemarin-kemarin. Aku ingin lupa semua kenangan-kenangan itu.
Pertemanan??
Bahkan bisa dibilang persahabatan???
Ahh itu hanya omong kosong.
Aku tak mau mempercayainya lagi, dan gak akan mempercayainya. Semua orang itu selalu berkhianat, berkhianat meski orang yang dikhianati adalah orang yang sangat menyayanginya. Karena seseorang akan mudah sekali mengkhianati sebuah kepercayaan.
Teman baikku yang merebut satu-satunya cowok yang aku suka dari awal masuk semester pertama kelas 10, teman yang menghancurkan kepercayaanku, teman yang membuatku seolah-olah menjadi orang yang paling jahat didunia ini, dan tak terkecuali di dalam keluargaku sendiri.
Bunda.. ah masih pantaskah aku memanggilnya Bunda???
Seorang ibu yang harusnya bisa mempertahankan keutuhan keluarganya, lebih memilih pergi dan memulai kehidupan barunya dengan laki-laki lain.
Sungguh menyakitkan memang, aku mengalami semua itu secara bersamaan. I just want to forget all of my memory.
Aku pernah berpikir lebih baik aku amnesia. Aku tahu itu pemikiran bodoh, aku tak mau melupakan orang yang aku sayangi, yaitu Ayah.
Aku memasukkan semua peralatan tulis dan bukuku ke dalam tas. Aku melirik sekilas  cowok yang ada disampingku, dia melakukan hal sama denganku tapi tetap diam tak berbicara sedikitpun.
Apa peduliku... “Seandainya saja ada tombol reset di kepalaku ini,”kataku bergumam sendiri.”Apa hidungku ini tombol reset?,”aku menekan-nekan hidungku sendiri. Hah,,kenapa disaat aku ingin melupakan semua itu malah sebaliknya aku terus memikirkannya sejak tadi. Sangat menjengkelkan.
“Sedang apa lo,?” ehhhh suara siapa itu? Bukan setan penghuni kelas ini kan?
“Hah?,’’ aku menoleh kesamping kanan dan mendapati cowok itu  menatapku dengan ekspresi yang sulit aku deskripsikan.
Wajah penuh tanya atau mengejek??
“Bukan urusan lo” aku merutuki kebodohanku sendiri.
“Ck. Bodoh.” Cowok itu menelungkupkan wajahnya ke kedua tangannya yang dilipat.
Tanpa kugubris aku melangkah keluar kelas.
“Hai,Agni. Mau pulang ya?”kuanggukkan kepalaku melihat Shela sok manis didepanku.
“Gue lagi nunggu Celia, ada urusan dikelas sebelah. Mau sekalian bareng pulang sekolah?.”
“Nggak, terimakasih.”aku berlalu dari hadapan Shela. Aku sudah tak peduli dengan hal seperti itu.

--00—

Bersambung ....

Komentar

share!