Perjuangan Rio | Part 2 (end)


Karya: Tyataya

P
agi-pagi sekali, Rio berniat mengikuti saran Raka. Mengungkapkan perasanya pada Rianti. Bila perlu dengan melibatkan kedua Orang Tua Rianti, semoga cara ini lebih manjur dari sekedar bunga dan cokelat. Setelah hampir setengah jam mencari rumah Rianti, akhirnya motor Rio berhenti di salah satu rumah bercat biru. Rio kembali melihat kertas berisi alamat rumah Rianti. Ia mencocokkan nomor yang tertulis di kertas yang diberikan oleh teman dekatnya Rianti. No 13B. Tepat! Segera ia memencet bel. Berulang kali Rio merapikan bajunya yang sebenarnya sudah rapi itu. Irama jantungnya terus berdetak tak karuan, aliran darahnya berdesir-desir. Ia bisa merasakan keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya saat ibu Rianti mempersilakannya masuk. Ibu Rianti terlihat senang atas kedatangan Rio, hal itu terbukti dengan hidangan ringan dan minuman yang disajikan oleh Ibu Rianti. Sambil mengobrol menemani Rio yang saat itu tengah gelisah menunggu Rianti. Apalagi ditambah pertanyaan terakhir yang menciutkan keberanian Rio. 


“Nak Rio ini pacarnya Rianti, yah?” Tanya Ibunya Rianti dengan lembut tak henti-hentinya Ibu Rianti tersenyum saat memandang Rio yang malu-malu.

“Bukan, Rio bukan pacar Rianti, kita cuma temenan, Tante.” Jawab Rio gelisah, ia takut jawabannya salah atau berlebihan.

“ Oh,” Ibu Rianti membulatkan bibirnya, terlihat matanya yang bersinar-sinar tadi, malah meredup saat mendengar jawaban Rio. “Tante pikir kamu pacarnya, soalnya belum pernah ada cowok yang main ke rumahnya Rianti. Hehehe. Tunggu sebentar, ya. Tante panggil Rianti nya dulu. Kok lama sekali, ya, anak itu.”

Selang beberapa menit Rianti turun dari kamarnya, raut wajahnya kontras dengan yang selama ini dilihat Rio di sekolah. Terlihat sedikit judes. Ia masih memakai baju tidur dan rambutnya diikat dengan asal. Tapi, ia masih tetap terlihat cantik dengan wajah naturalnya. Rianti berjalan dengan enggan lalu memilih duduk di kursi yang berbeda dan agak jauh dari Rio. Namun tetap berhadap-hadapan dengan Rio. Karena sudah ada Rianti, Ibunya pergi meninggalkan mereka mengobrol berdua. Untuk sesaat keheningan menyelimuti keduanya. Atmosfer di ruangan itu mendadak dingin. Hampir saja Rio kehilangan oksigen untuk bernafas.

“Kalau mau bertamu liat-liat jam dulu.”

Rio tertohok mendengar kalimat pembuka yang diucapkan Rianti. Ia mengumpat dirinya sendiri mengapa ia bertamu terlalu pagi. Ini hari Minggu, jelas Rianti ingin sejenak bermalas-malasan mengingat jadwalnya di sekolah sangat padat.

“Maaf, aku enggak bermaksud ganggu kamu.”

Rianti menghela nafas sejenak.

Oke, sekarang kamu mau apa ke sini?” Tanyanya tanpa basa-basi. Raut wajahnya benar-benar tidak menunjukkan keramahan.

Rio menguatkan hati. Mood Rianti sepertinya kurang baik hari ini, ah. Rio salah memilih hari. Mau apa? Berbalik pun rasanya tak mungkin lagi. Dengan mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang berserakan Rio memberanikan berbicara apa tujuannya kemari.

“Baiklah sebelumnya, maaf kalau kedatangan aku kemari mengganggu segala—”

“Enggak usah seformal itu, intinya aja, Yo.” Sela Rianti pedas.

Rio menarik nafas dalam-dalam. Ya Tuhan, Kenapa Rianti berubah menjadi monster?

“Iya, Maaf,” Rio mengusap wajahnya dengan kedua tangan yang tadi penuh dengan keringat, ia ingin membuat hatinya mencair. “Aku..., aku ke sini, gini, aku tuh. Aku.” Rio benar-benar kehilangan kosakata untuk mengungkapkan apa yang ada di hatinya.

“Yo, kamu mau apa sih sebenarnya? Dari tadi bicara kamu muter-muter, kamu mau nanyain tugas, ya?”

“Bukan.”

“Atau mau nyuruh aku ngerjain tugas kamu?”

Rio menggeleng.

“Terus?” Alis Rianti bertautan, ia semakin tidak memahami kedatangan Rio yang tiba-tiba. Apalagi dengan cara bicaranya yang tidak biasanya seperti ini.

“Aku cuma mau ngomong jujur,” Rio menunduk, seolah ia ingin bersembunyi dibalik tatapan tajam Rianti, “aku—“ Katanya, suara Rio tenggelam, ia bahkan bisa mendengar sendiri deru jantungnya.

“Ya Tuhan, Rio! Please, aku enggak punya banyak waktu buat tebak-tebakan sepagi ini!”

Rio memejamkan matanya sejenak, setiap cinta punya kadar perjuangannya masing-masing, enggak usah takut ditolak, Yo. Kamu sudah berjuang. Kata-kata Abangnya terngiang-ngiang. Rio menarik nafas sekali lagi, kali ini lebih tenang.

“Aku sayang sama kamu Ri, lebih dari sekedar teman. Kamu mau jadi pacarku?”

Rianti tersendat mendengar kalimat Rio yang begitu tiba-tiba. Sepagi ini, ia mendapat satu kejujuran dari teman sekelasnya yang selama ini selalu dengan hati-hati jika berbicara padanya, yang selama ini tidak pernah menyinggung tentang perasaan.

Dan cinta memang bisa datang kapan saja.

“Rio, aku hargain keberanian kamu ke sini. Aku hargain semua perasaan kamu yang kamu punya itu, aku.....”

Rio melihat senyum Rianti seperti saat Boy menyatakan cintanya pada Rianti, tapi, kali ini, ia melihat senyuman yang dibarengi lesung pipinya. Memesona, sungguh! Seperti senyuman yang tidak dibuat-buat, ah, Rianti.

“Aku, Apa?” Tanya Rio.

“Aku enggak bisa jadi pacarmu sekarang.”

Rio menunduk, ia tahu, ia harus sudah siap menerima penolakan. Kini, ia tahu, bagaimana perasaan Boy ketika cintanya ditolak.

“Enggak apa-apa, aku bisa terima keputusan kamu, setidaknya aku udah ungkapin perasaanku yang sebenarnya.”

“Maksudku...., maksudku untuk sekarang aku enggak bisa, aku mau fokus dulu belajar, aku mau bahagiain dulu Mama Papa.”

***

Setelah hampir satu setengah jam Rio bertandang ke rumah Rianti, akhirnya ia permisi untuk pulang, Rianti sudah hilang dibalik pintu kamarnya saat Rio menyalami Ibu Rianti yang mengantarkannya sampai di depan pintu.

“Nak, Rio, apa jawaban Rianti tadi?” Tanya Ibu Rianti sambil sedikit berbisik. Ibu Rianti menengok ke belakang memastikan bahwa Rianti sudah menutup pintunya. “Maaf, ya, tadi Tante sempat denger obrolan kalian.” Lanjutnya.

Rio membulatkan matanya, ia terkejut mendengar pengakuan Tante Anis—Ibu Rianti. Ternyata obrolan mereka diselidiki oleh Tante Anis. Rio menggaruk-garuk kepala bagian belakangnya. Mengulas senyuman semampunya. Menutupi rasa sakit yang menggelayuti hatinya sekarang.

“Rianti cuma bilang, enggak bisa sekarang Tante. Aku ditolak, hehehe.”

“Sini,” Tante Anis membimbing Rio agar sedikit menjauh dari pintu. “Itu berarti, Rianti berharap padamu, ia juga menyukaimu, hanya saja waktunya belum tepat. Kalimat ‘sekarang’ itu untuk saat ini, tapi ke depannya..” Tante Anis mengedipkan satu matanya. Misterius.

“Ah, Tante, enggak mungkin, pantes Rianti nolak Rio. Rio cuma cowok biasa. Boy aja yang kemarin nembak Rianti, ditolak, Tante. Padahal, Boy itu paling ganteng di sekolah.”

“Ada bagian lain yang kamu lupakan, Nak, Rio.”

“Apa, Tante?” Tanya Rio mulai bingung.

“Hatimu, mungkin Rianti jatuh cinta karena hatimu, bukan karena wajahmu.”

Seperti embun yang memberi kesejukan, Tante Anis memberikan satu harapan yang sempat padam, Rio berpikir kembali, kalimat penolakan Rianti sama-sama halus ketika menolak Boy maupun Rio, tapi..... Rianti menambahkan kalimat tambahan pada Rio. Ah, apa itu maksudnya Rianti juga sebenarnya memiliki perasaan yang sama pada Rio?

Rio pulang dengan hati gundah, kenapa tadi ia tidak berpikir sejauh itu, ia terlalu takut ditolak, kenapa ia tidak bertanya, kalau tidak sekarang, kapan? Baiklah, setidaknya untuk sekarang nasibnya tidak seburuk Boy, masih ada sisa harapan. [*]

Tamat

Bandung, ketika mendung
@tyataya

Komentar

share!