Perjuangan Rio | Part 1


 Karya: Tyataya

M alam kian merayu sepi, menghadirkan kesunyian pada dinding-dinding kamar Rio. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 23:30 WIB, semua orang di rumah itu sudah tertidur lelap dan mulai terbang ke alam mimpi mereka masing-masing. 


Sementara kamar Rio masih terang-benderang, rasa kantuk tak kunjung hinggap meskipun matanya sudah berapa kali ia coba pejamkan, ada rasa bimbang yang menjalar lebih dari senyap malam ini, hatinya terus bertanya-tanya, semua yang terjadi di sekolah hari ini sudah cukup membuat Rio tidak bisa berpetualang ke alam mimpi. Pikirannya terus tertuju pada Rianti—Gadis yang memiliki lesung pipi, dengan mata cokelat yang bulat—yang menjadi pusat perhatian seluruh siswa cowok di kelas Rio—termasuk Rio. Bagi Rio, Rianti adalah satu-satunya cewek yang bisa membuat jantung Rio berdetak tidak seperti biasanya, Rianti telah membawa Rio pada perasaan yang di namakan cinta,

Ah, cinta. Cinta seperti apa yang tidak pernah berani diungkapkan itu? Sebenarnya Rio nyaman-nyaman saja selama ini memendam perasaan pada teman sekelasnya itu, tapi melihat kejadian tadi siang di sekolah, Boy—cowok terkenal paling keren di sekolah, telah mengungkapkan perasannya pada Rianti.

Kejadiannya berlangsung pada saat bel istirahat pertama, saat itu Rianti masih berada di dalam kelas sehingga memberikan kesempatan bagi Boy untuk berbicara. Boy begitu optimis aksinya akan menuai reaksi romantis di benak Rianti apalagi ia membawa setangkai bunga mawar merah, dan cokelat—yang menurut kaum hawa itu adalah pemberian romantis. Rio yang kebetulan hari itu sedang tidak ingin keluar kelas menyaksikan drama romantis yang dilakukan Boy.

“Rianti,” katanya dengan nada dilembut-lembutkan, padahal menurut Rio suara Boy lebih mirip seekor katak yang terinjak traktor. “Aku suka sama kamu, mau enggak jadi pacarku?” Mata Boy bersinar-sinar di bawah sinar matahari yang masuk ke celah-celah jendela kelas.

Rio sempat mencuri-curi pandang pada Rianti, ia melihat Rianti tersenyum, tapi lesung pipinya tidak tampak menghiasi pipinya yang bersih. Akhirnya, di batas terakhir harapannya, Rio pasrah cintanya akan kandas terdahului oleh lelaki tampan bernama Boy. Dan ia sadar ia tak setampan dan sepopuler Boy, tidak ada alasan bagi Rianti untuk menolak Boy.

“Maaf, Boy, aku enggak bisa terima cinta kamu.”

Boy terperangah.

“Kenapa? Aku kurang baik? Aku kurang ganteng? Atau aku kurang kaya?”

“Enggak, justru kamu lebih dari itu.”

Lho, terus kenapa? Kamu cewek aneh!”

“Maaf Boy, kita temenan aja, ya. Sekali lagi, maaf.” Begitu kira-kira kalimat penolakan yang diucapkan Rianti pada Boy. Cukup halus. Bayangkan!!. Betapa terkejutnya Rio yang mendengar langsung saat itu di kelas.

 Rianti, cowok seperti apa yang sebenarnya kamu inginkan? Rianti sudah menolak hampir separuh cowok anak kelas Tiga di sekolah mereka. Dan sekarang, Boy yang hampir setara dengannya juga ia tolak?

Beberapa anak di kelas yang menyaksikan kejadian itu terlihat kecewa mendengar jawaban Rianti, padahal jika Rianti menerima cinta Boy. Mungkin mereka bisa menjadi pasangan yang populer dan paling romantis di sekolah. Mereka menyayangkan keputusan Rianti, kecuali Rio. Hatinya bersorak-sorai.

“Rianti, sayang, apa mungkin kamu menyukaiku? Apa mungkin kamu menungguku untuk menyatakan perasaan ini? Batin Rio terus menggeliat, hati kecilnya ingin segera mengungkapkan  perasaan yang dimilikinya, sebelum orang lain mendahuluinya lagi karena toh  Rianti cukup mengenal Rio dengan baik. Mereka sering terlibat dalam satu kelompok, satu organisasi, satu kesukaan, satu kebiasaan—Dan satu...., satu apalagi? Itu semua belum cukup untuk meyakinkan hati Rio bahwa Rianti juga menyimpan perasaan yang sama. Apalah daya, satu sisi Rio merasa minder dengan segala apa yang menempel di dirinya, Boy saja yang menurutnya sudah hampir mendekati kata sempurna ditolak oleh Rianti. Apalagi Rio.

     “Tok..Tok..Tok...” Terdengar suara pintu diketuk dari luar, Rio mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba mengembalikan pikirannya ke dunia nyata. “Rio, kamu udah tidur?

 Rio bangkit dari kasurnya dengan enggan untuk membuka pintu kamarnya.

“Kenapa, sih, Bang. Jam segini waktunya tidur. Masih aja ngetuk-ngetuk pintu kamar orang, ganggu tahu!!” Gerutu Rio kesal, Raka—Abangnya Rio memang sering mengganggu Rio.

“Kamu sendiri juga belum tidur.” Balas Raka sambil berjalan melewati Rio tak peduli.

“Insom, Bang.”

“Oh,”” jawab Raka cuek, kemudian ia mulai membuka laptop milik Rio yang tergelatak begitu saja di atas kasur, “Abang emang tadi udah tidur, cuma keinget belum ganggu kamu jadi ke sini. Hahaha.”

Rio mendengus sebal, Abang satu-satunya itu memang selalu mengganggunya setiap malam, atau lebih tepatnya setiap ia tidak ada pekerjaan. untuk sesaat Rio berpikir mungkin Abangnya bisa membantu memberikan solusi bagi kemelut hatinya. Menurutnya tidak ada salahnya bercerita sedikit.

“Bang..”

“ Hmmm..” Gumam Raka mulai sibuk dengan games di laptop Rio.

“Abang pernah jatuh cinta enggak, sih, bang?” Tanya Rio ringan namun berhasil mencuri perhatian Raka. Raka menoleh dengan cepat, tersenyum misterius.

“Pernah, bahkan sering.”

“Kok sering Bang? Emangnya ceweknya ada banyak?“

“Selera Abang berubah-ubah. Tapi kali ini Abang lagi pacaran sama si Silvia. Yang kemarin Abang tunjukin fotonya. dia itu beda. Manja-manja gimana gitu, Kamu lagi naksir cewek, ya?”

Rio mengangguk malu-malu.

     “Terus kenapa kok kayanya gelisah gitu? Ditolak? Yaelah Yo, namanya ditolak mah udah biasa.”

“Gini, Bang—“

“Jangan khawatir. Masih banyak cewek lain!” Belum sempat Rio menjelaskan kalimatnya. Raka menyambar.

     “Tapi aku maunya Rianti, Bang, Rianti Darmawan.” batin Rio menegaskan kembali.

“Bang, dengerin dulu, belum selesai bicaranya!” Rio mendengus kesal karena dari tadi bicaranya selalu dipotong Raka. “Aku belum ngungkapin perasaanku ke dia, Bang. Namanya Rianti, dia teman sekelas, aku enggak punya keberanian untuk itu. takut ditolak, soalnya tadi siang aja Rianti udah ditembak cowok lain, tapi untunglah Rianti nolak.”Papar Rio.

“Ya, berarti dia suka ke kamu.”

Seandainya perkataan Abangnya itu benar.

“Belum tentu, Bang.” Sanggah Rio lemas.

“Gini ya, Yo, setiap cinta itu ada kadar perjuangannya masing-masing, kamu enggak usah takut ditolak sama cewek yang kamu suka. Yang penting kamu udah berjuang buat ngungkapin perasaan yang kamu punya. Urusan diterima atau ditolak mah belakangan.”

Sesuatu yang tadinya gelap kini menjadi terang, ah, Abang Rio memang selalu punya seribu kata-kata untuk merayu wanita, tapi, dia tidak pernah kehilangan kata-kata untuk menyemangati dirinya sendiri—juga adiknya ketika ditolak seorang cewek.

***

Bersambung ....

Komentar

share!