Magivilian | Part 2 : Sejarah


Ilustrasi karya Silvia Ridiana. Hak cipta sepenuhnya milik ilustrator.


Karya: Nurfaqih Ilham

"D
ulu Zeus, Dewa Petir pernah bercerita padaku. Pengkhianat dari kami telah berubah dari Dewa, menjadi Iblis dan mencoba menghancurkan kami.” Furion berkata pada Mirana sambil bergetar tubuhnya, sorot mata kosong dan hampa. Mirana sambil memberikan air hangat, mendengarkan dengan hati-hati secara khawatir dengan keadaan keluarganya saat ini.
“Tunggu Furion, bagaimana kau bisa berbicara dengan Zeus? Kita tahu Dewa hanya bisa berkata pada kita melalui perkara lain, seperti kitab yang jatuh tadi malam.” Furion menatap Mirana saat pertanyaan itu terlontarkan dari mulut istrinya.

“Kau tahu, aku bertemu denganmu saat aku mencoba batas ilmu sihir teleportasi milikku. Aku menemukanmu di atas sana, di bulan.” Sambil menunjuk kearah bulan yang sedang bercahaya itu, Mirana juga mengikuti arah jari telunjuk Furion.

“Jadi kau pernah mencoba teleportasi ke tempat para Dewa? Dan bertemu dengan Zeus disana?”

“Bukan hanya Zeus, Dewa lain juga mengetahui aku datang. Tapi mereka mengasingkan keberadaanku, bahkan mereka tak suka aku datang. Tiba-tiba Zeus bertanya ada apa aku datang kesini, aku hanya berkata jujur untuk menguji kekuatan sihirku. Zeus pun memberikanku kitab Dewa, dan menyuruhku pulang. Sebelumnya, dia bercerita mengenai Iblis itu.”

***

“Kau Zeus, kau Dewa Petir, yang bisa mengendalikan semua kekuatanmu, semua petir dalam gengamanmu, kau bebas menggunakannya. Dewa Lautan bebas menggunakan air, Dewa Angin, Dewa Hutan, semua bebas. Kecuali aku! Kenapa Raja Para Dewa, Lich King yang Agung melarangku menggunakan kekuatanku? Ini tidak adil! Bahkan Lich King menyuruh pengawalnya Razor untuk mengawasiku!”

“Tenang lah Dewa Api Hades, kekuatanmu begitu hebat. Bahkan Raja para Dewa tidak bisa mengakui kehebatanmu. Lich King hanya khawatir, perbuatanmu akan mengganggu keseimbangan dunia. Terlebih lagi, api hanya melakukan destruksi, tidak pernah menciptakan kedamaian!”

“Lalu untuk apa aku diciptakan? Untuk apa Lich King menciptakanku?”

“Tentu, untuk melindungi negeri para Dewa.”

“Omong kosong. Negeri kita akan damai selamanya, itu hanya bualan yang kau buat.”

Dengan kekesalannya Hades membakar kerajaan para Dewa. Dewa tidak dapat dibunuh, hal yang bisa ia lakukan adalah hal lain yang dapat membalaskan dendam atas rasa iri dalam dirinya. Hades dengan cekatan mengambil semua senjata para Dewa, bahkan mahkota Lich King. Saat mengetahui semuanya, Lich King benar-benar murka, tapi apa daya yang bisa ia lakukan saat semuanya sudah terlanjur. Hades sudah melarikan diri ke dunia manusia. Karena pengkhianatan yang dilakukan Hades, akhirnya Lich King memutuskan untuk menutup dan menyegel pintu negeri para Dewa dari Hades.

Karena tidak bisa kembali, Hades mencoba membuat tempat tinggalnya sendiri. Dia mencari pengikutnya dari bangsa manusia sehingga para manusia berubah menjadi Iblis, sama sepertinya. Karena Dewa yang telah menginjakkan kaki di bumi akan menjadi Iblis. Begitu juga mahluk yang mengikuti Iblis tersebut. Para Iblis tersebut memegang senjata para Dewa. Sehingga mereka benar-benar kuat. Dan hal buruk bagi Hades pun terjadi. Hades mati mengenaskan di bawah pengikutnya yang berlomba-lomba memperebutkan tahta.
Karena mereka tahu, kekuatan mereka sangat besar untuk menguasai dunia. Ya, dulu saat menjadi Dewa, Hades tidak bisa mati. Namun saat menjadi Iblis, dia bisa mati kapan saja.

***

“Aku baru ingat!” Furion terkejut dan bangkit dari kursinya.

“Ada apa Furion?”

“Aku baru ingat nama desa itu!”

“Desa?”

“Desa tempat Hades menciptakan tempatnya sendiri. Tempat sekarang para iblis berkumpul! Desa Ilidan! Aku yakin jiwa yang telah gelap seperti Metana akan masuk ke sana tanpa harus mengetahui letak desa tersebut!”

“Namun kita tidak tahu dimana tempat itu walau kita tahu nama desanya! Dan jika para iblis memegang senjata para Dewa, apa daya kita?!” Mirana kembali meneteskan air mata.

“Ya, satu-satunya cara adalah, menunggu Iblis Metana, membalaskan dendamnya.”

Bersambung...

Komentar

share!