Magivilian | Part 1 : Kelahiran Sinar Bulan



Ilustrasi karya Silvia Ridiana. Hak cipta sepenuhnya milik ilustrator.

 Karya: Nurfaqih Ilham

S
emua hancur, saat angin mengamuk meremas satu per satu rumah warga Meridian.  Air turun dari langit dengan kasarnya, bagai pisau belati menusuk bumi. Semua petir menyambar, gemuruhnya seperti genderang perang. Semua orang berlari, mencari tempat sembunyi yang berarti. Goa, ruang bawah tanah, semua dipenuhi warga. Semua bagai kumpulan serangga yang dipecah, berhamburan tak tentu arah.


Terkecuali Furion, penyihir hutan dengan tentara pohon dan tongkat saktinya itu bertahan di gubuk kecil miliknya. Ia setia menemani istrinya Mirana yang sedang berteriak-teriak kesakitan, mencoba mengeluarkan kandungannya dengan payah. Furion mulai panik, apa yang terjadi jika ia sudah tidak mampu menahan badai yang datang, apa yang akan terjadi dengan keluarganya? Bahkan ia sangat mendamba-dambakan kelahiran anak pertamanya ini.

“Masa depan seseorang, dapat dilihat dari keadaan seperti apa saat ia lahir.”

Ucap Furion dalam hati mengingat goresan tinta yang tertulis di kitab Dewa, sangat khawatir anaknya tidak lahir dengan normalnya manusia biasa. Terlebih ia adalah seorang penyihir unggul yang ditakuti warga desa, istrinya adalah seorang pemimpin perang, penjaga bulan, Peri Penjaga Bulan, Mirana. Mereka takut keturunannya mereka dikutuk oleh Dewa, mereka takut Dewa tidak menyetujui hubungan kedua mahluk yang berbeda seperti mereka.

“Mahluk yang berbeda, memiliki kehidupan yang berbeda. Tidak pernah bisa bersatu. Terkutuklah mereka yang berani membunuh hukum para Dewa.”

Tak lama dari itu, Mirana memanggil suaminya. “Furion... kemari... lihat lah ini...” tak disangka tanpa sepengetahuan Furion, Mirana sudah melahirkan anaknya.
“Dua anak? Kembar? Wahai Dewa terima kasih! Mereka terlihat normal, mereka tidak seperti kutukan bagiku, terima kasih!” Furion benar-benar kaget dan menitikan air mata kegembiraan. “Mungkin Dewa masih menyayangi kita, sayangku.” Lanjutnya. Mirana hanya mengangguk lemas dan terlelap untuk istirahat sambil menyusui kedua anak kembarnya. “Kalian akan jadi anak yang hebat, kalian akan jadi anak yang berguna, bukan penyihir yang ditakuti warga. Kalian akan ditakdirkan untuk menjaga desa dari segala ancaman. Aku akan latih kalian menjadi petarung yang hebat! Aku beri nama kalian, Metana dan Magina!”

Namun Furion mulai curiga, kedua anaknya sama sekali tidak ada yang menangis. Itu juga hal yang membuat Furion tadi tidak sadar kedua anaknya sudah lahir dari rahim Mirana. Kedua anaknya langsung menyusui pada ibunya tanpa isak tangis sedikitpun. Seketika itu, badai tiba-tiba mereda tanpa sebab. Cahaya mentari mulai kembali menyinari desa, angin berhembus lembut, para penduduk kembali ke desa Meridian dengan gelisah, karena tempat tinggalnya yang hancur tak tersisa.

“Tenang lah wahai para penduduk desa, aku akan buatkan kalian rumah. Aku akan menyihir pepohonan menjadi rumah kayu yang kokoh untuk kalian!” Dengan ilmu teleportasi milik Furion, seketika ia sudah tiba di desa dan mengumumkan niat baik tersebut. Para penduduk desa yang awalnya takut dengannya, kini mulai sadar dan menjadikan Furion pelindung bagi mereka. Karena pada dasarnya mereka takut karena omongan dari mulut ke mulut, mereka tidak pernah melihat sosok dan sifat Furion secara langsung. Sekarang mereka bangga, memiliki penyihir baik hati yang selalu membantu desa mereka menjadi sejahtera.

***

Dua puluh tahun kemudian ...

Metana dan Magina tumbuh menjadi pribadi yang dewasa secara mental. Namun kekurangan dari kedua anak mereka itu adalah kebutaan yang mereka miliki sejak lahir. Saat mengetahui kedua anak kembarnya itu tidak bisa melihat, Furion mengingat bahwa saat mereka lahir, mereka sama sekali tidak menangis. Namun Furion tidak putus asa dengan mereka, Furion terus mengajarkan kedua anaknya cara bertarung, beberapa sihir dan melihat dunia tanpa kedua mata. Dengan semangat terus mempertahankan kedamaian desa atas rasa terimakasihnya pada Dewa tidak mengutuk keturunannya.

“Dewa tidak pernah lupa akan janjinya, dan apa yang diucapkannya.”

Tidak sesuai rencana, Metana dan Magina tumbuh menjadi dua sosok yang berbeda. Metana sangat payah dalam hal bertarung, berbeda dengan adiknya Magina. Saat Furion mengajarkan ilmu pukulan, dimana setiap pukulan yang diterima musuh akan menguras tenaganya, sehingga mudah untuk menjatuhkannya, perbedaan Metana dan Magina sangat terlihat.

“Coba kau pukul rusa di sana Magina! Buat rusa itu kehabisan tenaga tanpa mati!” Kemudian Magina mulai mengeluarkan pukulan-pukulan yang telah diajarkan oleh ayahnya. Rusa itu terbujur kaku, lemah tak berdaya, namun masih bernafas. Tidak bisa berlari, tidak bisa melawan, hanya tatapan belas kasih dari rusa itu yang tentu tak bisa dilihat oleh Magina yang buta.

“Coba kau pukul kuda di sana Metana! Buat kuda itu kehabisan tenaga tanpa mati!” Kembali Furion menyuruh Metana melakukan hal yang sama. Metana mulai menggerakkan tubuhnya, ia merasakan tenaga yang luar biasa mengalir begitu deras. Ia yakin bisa melakukan hal yang sama dengan adiknya Magina. Namun kenyataan berkata lain, bukannya kuda tersebut yang melemah, namun Metana yang ditendang oleh kedua kaki kuda hingga patah tulang rusuknya. Furion benar-benar kecewa dengan kelemahan Metana dan terus membanggakan Magina.

Metana begitu kecewa, ia merasa tidak berguna. Ia merasa ia telah di buang oleh ayahnya sendiri. Mirana, Sang Ibu terus menyemangati Metana yang selalu murung, namun Metana selalu bersedih dan tidak bisa bangkit dari keterpurukannya. Terlebih Furion selalu memarahi Metana dan menyuruh tugas membersihkan rumah daripada Magina yang hanya disuruh berlatih oleh Furion.

“Untuk apa kau berlatih nak, kau lemah. Lebih baik kau bersihkan saja halaman rumah!” Teriakan yang sering dilontarkan Furion pada Metana. Tidak ada hal lain yang ia dapat lakukan selain menuruti perintah ayahnya. Metana dengan segala rasa menaruh benci pada adik kembarnya sendiri, Magina. Ia berjanji pada latihan ilmu sihir berikutnya, ia akan unggul.

Tiba suatu hari Furion memanggil kedua anaknya kembali untuk berlatih ilmu sihir.

“Ini, ambil ini. Sebelum kita berlatih, aku ingin kalian menggunakan kedua tutup mata ini. Tutup mata yang aku buat khusus untuk kalian anak-anakku.” Sambil menyodorkan kedua tutup mata pada anaknya, Furion sedikit meneteskan air mata, terharu karena mengingat mereka tidak bisa melihat indahnya dunia dan wajahnya sendiri.

“Aku adalah penyihir yang hebat, aku mampu memindahkan diriku sendiri dari tempat sekarang kemanapun aku mau dalam hitungan detik! Tapi hal ini hanya bisa dilakukan oleh penyihir murni. Kalian bukanlah penyihir murni, tapi kalian tetap bisa melakukan teleportasi dalam jarak dekat untuk mengelabui musuh.” Latihan terus berjalan dari pagi hingga petang tiba. Mirana yang khawatir akan keadaan Metana yang berlatih lebih keras dari biasanya. Mirana sama sekali tidak khawatir pada Magina, karena Magina tumbuh menjadi pribadi yang cerdas dan kuat.

Saat bulan tak tertutup awan, sinarnya selalu menenangkan Peri Bulan, Mirana. Saat itu pula tiba Metana dan Magina untuk memperagakan ilmu teleportasi yang telah diajarkan.

“Wahai kedua anakku, lakukan lah! Lakukan perpindahan tempat secara cepat pada keempat arah mata angin secara bersamaan!” Suara Furion menggelegar, pertanda latihan ini harus benar-benar berhasil. Metana dan Magina dengan sergap mengambil kuda-kuda. Mereka mencoba memfokuskan diri, menenangkan pikiran. Furion dan Mirana ikut merasa tegang melihat keseriusan kedua anak mereka.

“Utara! Selatan! Barat! Timur!” dalam hitungan detik Magina dapat melakukan perpindahan tempat keempat arah mata angin, ia berhasil. Metana hanya terdiam, lututnya terbaring ketanah, air matanya deras, ia terus menyesal tidak bisa melakukan ilmu yang selalu diberikan ayahnya. Beberapa kali tangannya memukul-mukul tanah yang padat. Mirana mencoba mendekatinya, merangkul dan mengelus pundak untuk menenangkan Metana. Furion malah asyik membanggakan Magina, ia sama sekali tidak melihat kearah Metana. Karena Furion tahu satu hal, Metana tidak bisa melakukan sihir sama sekali.

Metana berlari, terus berlari menjauhi rumah penduduk. Ia tidak membawa makanan sedikitpun, tidak membawa pakaian lain selain yang ia kenakan dan tutup mata dari ayahnya tadi. Mirana memanggil macan putih peliharaannya dari bulan untuk mengejar Metana. Namun sayang, Metana berlari kearah hutan, gelap dan cahaya bulan tak dapat melihatnya. Furion mencoba mengerahkan ilmu sihir untuk mencarinya sepanjang malam, namun hasilnya nihil. Magina turut merasa bersalah, padahal Magina sendiri orang yang rendah hati, tidak pernah sombong atas keberhasilannya.

Mirana dan Furion terus khawatir, sehingga Furion meminta bantuan para Dewa. Ia mencoba bertanya ada dimana anaknya sekarang.

“Wahai Dewa! Aku sudah berterimakasih untukmu dengan menjaga kedamaian desa. Sekarang aku meminta bantuanmu, untuk mencari anakku yang melarikan diri karena kesalahanku! Aku mohon!” Tentu Dewa tidak pernah berkata langsung pada siapapun. Namun kitab yang dimiliki Furion tiba tiba terjatuh dari lemari, kitab tersebut membuka suatu halaman, halaman tersebut bercahaya, menandakan Dewa mencoba mengucapkan sesuatu. Furion, Mirana dan Magina menangis dengan isi kitab yang terbuka.

“Sesungguhnya Iblis itu tidak dilahirkan, tapi diciptakan. ”
Mirana meneteskan air mata, dan melihat kearah Furion.

“Kau telah menciptakan Iblis! Kau telah membuat anak kandungmu sendiri menjadi Iblis! Dewa benar, Dewa tidak pernah ingkar pada apa yang diucapkannya! Hubungan kita telah dikutuk! Anak kita telah menjadi Iblis karena ayahnya sendiri!” Dibawah sinar bulan, peri bulan menangisi kelahiran kutukan anaknya sendiri. Mereka menangis, menagis dibawah naungan sinar bulan.

***

“Selamat datang di desa Ilidan, wahai kesatria kegelapan, Metana!”

Bersambung..

Komentar

share!