KSATRIA DI BALIK LAYAR : AYAH | Part 1



Ilustrasi karya Waskito Widya. Hak cipta sepenuhnya milik ilustrator.

 Karya: Yui

T
ik.. tik.. tik.. hanya suara jarum merah yang terdengar di telingaku. Meski ia telah berputar ratusan kali aku hanya terdiam diatas bantalan empuk yang dinamakan sofa. Sambil memeluk sebuah boneka beruang kecil yang setia menemaniku menanti seseorang mengetuk dari balik papan kayu berwarna cokelat yang dihiasi ukiran pada kedua sisinya. Menanti gagang besi di tengahnya bergerak seiring dengan bergesernya papan kayu tersebut. Serta menanti angin dingin yang menyelinap masuk menemani seseorang melangkahkan kaki ke dalam istanaku. Rumahku. 

Dalam penantian, aku membayangkan hal-hal menyenangkan yang akan aku lakukan bersama seseorang itu, bagaimana aku akan menyambutnya, apa yang akan ia bawa, apa yang akan kami lakukan kemudian, akankah ia tersenyum mendengar semua ceritaku, akankah ia mengecup keningku dan mengantarku tidur, akankah.. akankah.. akankah.. hingga sebuah belaian lembut di kepalaku membuyarkan bayangan itu.

“Dek, sedang apa?” Ujar seorang wanita paruh baya nan cantik sambil membelai kepalaku dengan lembut.

“Nunggu Ayah, Bunda” jawabku penuh manja sebagai upaya merespon stimulus yang ia berikan dengan belaiannya.

“Tapi ini sudah malam, Sayang, lebih baik kamu tidur.” Bujuknya

“Tidak, Bunda. Aku mau menunjukan Tuan Beruang pada ayah” balasku memelas namun dengan senyum, kembali membujuk bundaku untuk membiarkanku menanti ayahku pulang.

Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu yang telah lama kunantikan, diteruskan dengan ayunan gagang pintu dan angin malam yang memaksa menyelinap masuk seiringan dengan terbukanya papan kayu itu. Sebelum seseorang yang mengetuk pintu tersebut masuk aku sudah menghampirinya secepat kilat, memeluk kedua kakinya karena tubuhku yang belum cukup tinggi sambil menyapanya hangat.

“Ayaah!” teriakku.

“Eh, assalamualaikum, cantik” ujar lelaki bertubuh tinggi dengan perut sedikit buncit dan kepala botak yang aku panggil ayah.

“Waalaikumsalam” sahut Bunda sambil menyusul menghampiri Ayah yang terhenti langkahnya olehku. Bunda mengambil tas dan jaket yang Ayah kenakan, lalu mencium tangan kanan Ayah.

“Ayah mau..” ujar ibu yang kemudian aku potong dengan penuh semangat “Ayah! Ayah! Ayah! Lihat!” sambil menunjukan boneka beruangku padanya.

Namun Ayah hanya menghiraukanku dengan senyumannya, dan kembali menatap Bunda sambil berkata “Bunda, tolong bikinkan Ayah kopi.”

“Loh, nanti ayah tak bisa tidur,” ujar bunda cemas.

“Ada tugas yang perlu Ayah bereskan malam ini untuk presentasi besok, Ayah lelah jadi butuh sedikit kopi untuk membuat Ayah terjaga.”

“Baiklah, duduk dulu dan beristirahatlah sebentar selagi Bunda buatkan kopi.”

Ayah melewatiku dan duduk di sofa, sementara Bunda pergi ke dapur. Aku merasa belum puas dengan respon Ayah tadi maka aku menghampiri Ayah sekali lagi dengan penuh harapan Ayah akan mendengarkan ceritaku atau setidaknya bertanya asal-muasal bonekaku.

“Ayah! Ayah! Lihat ini,” sekali lagi aku menunjukan bonekaku.

“Iya bagus, Sayang.” jawabnya singkat sambil tersenyum tipis dan kemudian memejamkan matanya sambil bersandar di sofa. Aku merasa sangat tidak puas dengan responnya tersebut. Sekali lagi aku menujukan boneka itu tepat di wajahnya.

“Ayah lihat ini, aku punya boneka.” ujarku dengan nada agak kesal, namun kali ini justru ia tidak merespon. Ia tetap menutup matanya hingga bundaku datang dengan secangkir kopi.

“Dek, ayo tidur. Ayahnya capek, besok lagi ceritanya, ya.”

“Tapi..” keluhku. Namun aku segera digendong oleh bunda menuju kamar. Semua bayanganku tadi tak ada yang terwujud. Sebagai anak kecil aku tak mengerti keadaan ayahku. Yang jelas aku kesal karena ayahku tak mau mendengarkan ceritaku.


Bersambung ....

Komentar

share!