KSATRIA DI BALIK LAYAR : AYAH | Part 2

Ilustrasi karya Waskito Widya. Hak cipta sepenuhnya milik ilustrator.


 Karya: Yui

T
ik.. tik.. tik.. lagi-lagi hanya denting jarum merah yang menemaniku, menanti kepulangan Ayah. Mengapa aku hanya mengharapkan kepulangan Ayah? Karena setiap ku terbangun, Ayah pasti sudah berangkat ke kantor tanpa menungguku bangun. Terkadang aku merasa Ayah egois. Mengapa aku yang harus menunggu Ayah? Kenapa tidak Ayah saja yang menungguku bangun? Tapi aku tetap menantinya. Aku tak putus harapan untuk menunggunya pulang, aku hanya merindukannya. Hanya ialah yang paling sulit ku temui. Seharian penuh kuhabiskan dengan Bunda dan teman-temanku, meski aku sudah meluangkan waktuku untuk sedikit berbincang dengan Ayah, merelakan waktu tidurku untuk menunggu kepulangannya. Ia masih saja sulit aku temui.


Malam ini sudah melewati jam biasanya ayahku pulang.

“Bunda, mengapa Ayah belum pulang?” tanyaku pada Bunda yang sedang merapikan baju.

“Mungkin di jalan macet, Sayang, kamu tidur saja duluan. Besok, kan, harus sekolah” jawabnya.

Aku hanya menggelengkan kepala dan menyandarkannya pada sandaran sofa sambil menatap pintu di hadapanku. Sang jarum merah berputar ratusan kali hingga tak terhitung lagi, hingga semua jadi gelap.

Gelap berubah menjadi sebuah cahaya kemerahan, lumayan terang. Cukup untuk memaksaku mebuka mata. Ternyata cahaya merah itu merupakan biasan cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah jendela kamarku. Sesaat aku membuka mata, aku mendapati diriku berada di kamar lalu aku sadar. Aku sedang dalam penantian kepulangan Ayah, berlari keluar kamar dan mencari sosok ayahku. Namun yang kutemukan hanya Bunda yang sibuk merapikan rumah.

“Bunda, mana Ayah?” tanyaku.

“Hehe, tentu saja sudah berangkat ke kantor.” jawabnya.

Lemas, semangatku langsung pudar. Gagal lagi aku bertemu dengan ayahku. Kenapa aku harus tertidur. Ah, jika saja Ayah pulang tak terlambat pasti aku belum tertidur. Atau Ayah memang tak mau bertemu denganku, Ayah tak mau mendengar ceritaku.

Sudah kesekian kalinya rangkaian hal itu terjadi, harapan yang pupus setiap malam membuatku lelah menanti. Kuhentikan kegiatan menantiku, dan sudah tak kucari lagi kehadirannya. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaanya. Itulah yang sudah tertanam dalam benakku. Yang menyangiku, yang selalu meluangakan waktu, jiwa, dan raganya untukku hanyalah Bunda. Sudah tak usah ditanyakan lagi sebesar apa cintaku pada Bunda. Aku bukannya tidak mencintai Ayah, aku juga yakin Ayah pun mencintaiku. Namun akan aku balas perwujudan cinta itu dengan cara yang sama seperti cara ayahku mewujudkan cintanya padaku.

Jarum merah itu selalu berputar, bukan ratusan lagi mungkin sudah jutaan ribu. Mengiringi waktu yang terus berjalan untuk menambah usiaku. Aku semakin besar. Jam tidurku pun sudah jauh lebih larut, bukan karena menanti kehadiran Ayah pulang lagi, bukan untuk memupuskan harapanku lagi, tapi untuk sibuk mengerjakan tugas sekolahku.

Tak jarang Ayah tiba saat aku masih terjaga dengan tugasku, namun aku tak akan menghampirinya seperti dulu. Bukan karena aku terlalu sibuk dengan tugasku, aku hanya malas berbasa-basi singkat sebelum ia sibuk dengan kegiatannya lagi. Entah ia akan mengeluh lelah dan tertidur, atau meminta Bunda untuk menyediakan ini-itu, atau kembali sibuk dengan kerjaan yang ia bawa pulang.

Suatu malam, Ayah mengetuk pintu kamarku dan membukanya perlahan.

“Dek, belum tidur?” tanyanya lembut sambil menatapku di ambang pintu.

“Belum, aku masih banyak tugas untuk besok, Yah” jawabku tanpa mengalihkan pandanganku dari tumpukan tugas di hadapanku. Aku cukup mengetahui seberapa lama Ayah memperhatikanku di ambang pintu itu sebelum ia melanjutkan ucapannya,

“Ya sudah, jangan tidur terlalu malam.” sambil perlahan sekali menutup pintu kamarku.

Begitu pintu itu tertutup, aku baru mengalihkan pandanganku dan menoleh ke arah pintu yang tertutup. Perasaanku campur aduk saat itu. Senang rasanya bisa bertemu Ayah, disapa dan ditanya olehnya meski sekejap. Hal yang aku idamkan dulu. Perasaan bersalah karena telah membalas semua itu dengan dingin, sebagai balasan karena dulu aku diperlakukan seperti itu. Seperti dendam kecil yang terbayar namun tak menyenangkan sama sekali. Perasaan ingin segera keluar untuk sedikit bercakap dengannya, namun rasa gengsi yang menyelimuti kenyataan dimana akupun punya kesibukan yang harus aku kerjakan. Akhirnya aku putuskan untuk rehat sejenak dari tugasku dan beranjak keluar. Bukan untuk bercakap dengan Ayah, tapi hanya untuk melihat situasi. Sebenarnya aku sedikit berharap Ayah punya waktu untukku, tapi pada kenyataannya lagi-lagi Ayah sedang sibuk dengan kerjaanya. Aku kembali ke kamar dan melanjutkan tugasku, hingga terlelap di atasnya.

Di sekolah, guruku memberi tugas.

“Ya, anak-anak, tugas kalian adalah buat sebuah essay mengenai seseorang yang akan diundi di depan.” ujar guruku sambil mengaduk-ngaduk kotak yang berisi banyak kertas. “Dalam kotak ini terdapat beberapa profesi dan tokoh yang harus kalian buat essaynya. Jadi semuanya berbeda dan kalian tidak boleh mencontek” lanjutnya.

Satu per satu siswa ke depan untuk mengambil undian, ada yang mendapat polisi, pemadam kebakaran, tukang gali kubur, Bapak Ir. Soekarno, Syahrini dan berbagai macam lainnya. Semua mulai mempergunjingkan tentang apa yang harus mereka tulis. Tiba saatnya giliranku, aku sudah mempersiapkan mental untuk apapun yang akan tertulis di kertasku, sebelum membukanya aku membayangkan dan mengira-ngira siapa gerangan yang akan jadi tokoh essay ku, bagaimana konsep atau skema dalam penulisannya dan sebagainya. Kemudian ku buka kertas undian itu, aku cukup tercengang. Yang di tulis di sana di luar dari perkiraanku, semua konsep yang aku bayangkan langsung buyar.

“Kamu dapet apa?” ujar salah satu teman ku yang menyadari ketercenganganku.

Aku hanya menjawabnya dengan menunjukan kertasku padanya. ‘AYAH’.

“Oke tidak boleh saling tukar, ya. Itu semua sudah takdir kalian menulis essay tentang orang-orang tersebut. Ada yang sulit?” ujar guruku memecahkan keramaian yang kemudian disambut lagi dengan keramaian yang lain. Siswa-siswa silih berganti menanyakan banyak hal, hanya aku saja yang terpaku menatap kertasku.

“Kamu, sih, enak, gampang” ujar temanku sambil menyenggol sikuku dan tertawa.

Dalam hati aku menjawab “Apanya yang gampang? Mungkin aku tak bisa menulis apa-apa karenanya”

Malamnya, aku hanya terpaku menatap tumpukan kertas putih bergaris yang terhampar di hadapanku. Sambil menjentik-jentikan pena yang kugenggam di tangan kananku, mengeluarkan dan memasukan kembali ujung pena menggambarkan kebimbanganku dalam menulis. Sesekali aku alihkan pandanganku pada secarik kertas kecil di sampingnya yang bertuliskan ‘AYAH’ dan mengembalikan pandanganku.

Malam ini tidak hanya detikan jarum merah yang menemaniku. Jentikan pena, secangkir kopi cappucino instan, biskuit Saltines dan alunan musik dari handphone pun ikut serta menemaniku. Angin semakin dingin menusuk tulangku setelah menyelinap masuk lewat ventilasi jendela kamarku. Namun inspirasiku tak kunjung keluar. Ini tak semudah mengarang cerita, menulis diary atau membuat puisi. Meski temanku mengatakan aku beruntung mendapatkan ‘AYAH’ sebagai tokoh dalam essayku, namun sepertinya aku lebih memilih mendapatkan tokoh alien agar aku dapat mengarangnya bebas. Tapi ini ‘AYAH’, apa yang harus kutulis? Aku tidak terlalu mengenalnya, yang aku tahu tentangnya adalah ia selalu sibuk dengan pekerjaannya. Selalu lelah karenanya. Tapi tak pernah meninggalkannya. Mungkin ayahku itu workaholic. Jika aku diminta menulis soal ‘BUNDA’ mungkin satu rim kertas HVS berukuran A4 pun masih bisa ku habiskan untuk menceritakannya. Tapi ‘AYAH’ satu paragraf pun membuatku bingung.

Aku merasa buntu. Aku beranjak keluar kamar dan menghampiri ruang depan. Menatap papan kayu dimana Ayah akan datang. Setelah sekian lama, malam ini aku menantikan lagi kepulangan Ayah. Bukan dengan semangat seperti dulu, hanya ingin melihatnya saja. Mungkin aku akan mendapatkan inspirasi setelah melihatnya.

Mengalihkan pandanganku ke jarum jam yang tak pernah bosan berputar, seperti ayahku yang tak pernah bosan bekerja. Malam ini Ayah terlambat pulang lagi.

“Dek, sedang apa? Menunggu Ayah?” ujar Bunda tiba-tiba membuyarkan lamunanku.

Aku menggelengkan kepala seraya mengatakan tidak dan mengalihkan topik pembicaraan “Bunda, malam ini aku akan begadang. Ada tugas yang harus kuselesaikan. Maukah Bunda yang baik hati ini membuatkanku kopi? Hehe..” pintaku sambil mendekap manja padanya, wanita yang paling aku cinta.

“Duh, kamu mulai seperti ayahmu saja. Baiklah!” jawabnya sambil menepuk-nepuk tanganku.

Perkataanya terngiang di benakku ‘Seperti ayah? Ya, sekarang aku pun sering terjaga untuk membuat tugas. Ya, aku memang anaknya.’ Dan melepaskan dekapanku. Ku cium jahil pipi bunda sebelum beranjak ke kamar lagi sambil tertawa.

Kembali terduduk di hadapan hamparan kertas kosong itu. pengaruh kopi sebelumnya, membuatku jadi tidak mengantuk. Namun otakku sudah lelah berpikir. Mungkin jika kupejamkan sebentar mataku akan me-refresh otakku layaknya F5 pada komputer. Kusandarkan kepalaku di atas liapatan kedua tanganku di atas meja, dan memejamkan mataku.

Saat mataku terpejam, indra pendengarannku jadi jauh lebih sensitif. Aku mendengar ketukan di pintu depan, yang berlanjut dengan salam “Assalamualaikum,” dari seseorang yang baru saja melangkahkan kakinya masuk ke rumahku. Siapa lagi kalau bukan ayahku? Salam itu di sambut oleh Bunda, dan mereka bercakap-cakap singkat

“Waalaikumsalam. Eh, Ayah sudah pulang. Macet?” tanya Bunda.

“Iya, Bun. Mana adek?” Tanya Ayah. Pertanyaan itu menciptakan pertanyaan dalam benakku, masih dalam kondisi menutup mata. Wah, Ayah langsung menanyakanku. Tumben. Eh, atau aku yang tak pernah tahu, ya?

“Ada di kamar, katanya ia akan begadang mengerjakan tugasnya.” jawab Bunda.

Terdengar langkah kaki samar-samar menghampiri kamarku bersamaan dengan percakapan diantaranya yang sudah tak terlalu ku hiraukan. Aku terfokus pada suara langkah kaki itu yang kemudian berhenti berganti dengan decitan pintu kamarku yang dibuka.

Tak ada suara lagi, biasanya Ayah akan bertanya. ‘Dek, belum tidur?’ saat mendapatiku sedang sibuk dengan tugasku. Namun kali ini ia tidak bertanya. Mungkin karena ia mendapatiku seperti yang sedang tertidur. Langkah kaki itu terdengar lagi, mungkin Ayah menjauh dari kamar pikirku. Namun langkah itu terdengar semakin ringan namun jelas kemudian berhenti. Instingku menafsirkan seseorang berdiri di belakangku. Kemudian hangat, dan lembut selembar kain menyelimuti punggungku. Belaian hangat di kepalaku mengiringi sebuah bisikan doa, “Tumbuhlah dewasa dan segera jadi wanita yang cantik, baik dan shalehah. Raihlah cita-citamu setinggi langit, Ayah akan selalu mendukungmu.” Kemudian langkah itu menjauh keluar kamar dan suara pintu tertutup menyadarkanku dan membuka mataku.

Aku mengangkat kepalaku dan mengalihkan pandanganku ke pintu yang telah tertutup. Masih terdengar samar-samar pembicaraan antara Ayah dan Bunda di balik pintu. Menarik selimut yang menyelimuti tubuhku tadi untuk menempatkannya secara sempura mengelilingi sekujur tubuhku. Rasanya jadi jauh lebih hangat, begitu aku sadar ternyata selama ini bukan Bunda yang menyelimutiku dikala aku tertidur, Tapi Ayah. Aku hanya selalu mendapati tubuhku sudah terselimuti dikala aku terbangun. “Apa Ayah selalu melakukan ini?”


Bersambung ....

Komentar

share!