Juragan Tanah

Yuk kirimkan karyamu!


 Karya: Re Lee (Penulis Lepas)

Berdasarkan cerita rakyat Bengkulu :

Asal muasal terbentuknya
Danau Dendam Tak Sudah

Matahari tenggelam di langit sore. Ku dengar burung-burung bernyanyi lagi bersama kawannya… dihadapanku kini ada seorang anak kecil. Kelas satu SD.

“Pertanyaan terakhir kang,”

“ Apa?.”

“Lalu bagaimana dengan permadaninya?.”

“Permadaninya ada diranselku sekarang.”

“Benarkah? Boleh aku lihat?.

Aku keluarkan kemudian kubentangkan permadani itu, tampak berwarna emas berkilauan ditembus cahaya sore. Sungguh cantik dan mempesona.

Bocah itu tampak terkagum-kagum dibuatnya.

***


Aku duduk terpaku serayaku jepit pulpen di antara telunjuk dan tengah. Ku resap kata demi kata dari bibir seorang wanita muda, wanita yang memiliki paras yang cantik dengan rambut panjang hingga mendekati pinggangnya. Namun, aku tidak berani menyentuhnya… karena ia bukan milikku.


“Ini belum cukup kuat untuk di bawa ke Pengadilan Dah,“

Indah namanya, akhir-akhir ini tampak tak sehat. Kamu sakit? Jawabanya tidak. Ia mandiri, tidak ingin merepotkan orang lain. Ia selalu menang dalam hal apapun. Diam-diam diriku mencintainya.

“Cinta bukanlah nafsu bang…,” Ucapnya seraya tersenyum.

Benar sekali, nafsu hanya mengikuti kejahatan dan kesenangan sesaat.

“Tapi cinta itu …”

Berbeda, cinta tak kan membuatmu mati. Cinta membuatmu lebih baik, menyadari makna saling kasih-mengasihi, peduli, dan melindungi orang-orang yang disayangi.

Ia memahamiku, benar-benar memahamiku.

Tak peduli apakah Juragan akan mengancamnya, ia tetap teguh mempertahankan tanah ayahnya. Kasusnya tersiar keseluruh Indonesia. Hingga media cetak dan massa tak henti-hentinya mengikuti kasusnya sampai akhirnya yang ditetapkan sebagai pemenang adalah Juragan.

Pulang ketanah asalnya, diperkampungan ibundanya dirinya menjadi bahan omongan disana-sini, menyayat hati dan paling terparahnya walaupun orang yang dibicarakan ada didepan mata, tetap saja perkumpulan penuh kedengkian itu membicarakannya.

***

“Kekasihku, adakah sesuatu yang menganjal hatimu?”

“Permadani  ..., permadani yang kang Joseph janjikan.”

     Sering sekali dia menyebut nama itu. Mungkin tiap-tiap bercerita selalu diselipkan kata Joseph. Sering hati ini bertanya-tanya, siapa dia sebenarnya? Dan apa hubungannya dengan Permadani?.

Tempo dulu, Indah mengaku pernah dilamar juragan kaya dari tanah kelahiran ayahnya, Bengkulu. Tapi ia mengaku tak kenal lelaki itu.

“Itu saat Indah mempersiapkan tuntutan ke pengadilan,”

“Lalu Indah menerimanya?,”

“Tidak …”

Lega hatiku.

“Siapa Joseph sebenarnya?,”

“Lelaki yang berjanji tuk menyelesaikan permadani Indah …”

“Apakah Joseph memiliki hubungan masa lalu denganmu?,”

“Tentu saja ada,”

Aku merasa ditelanjangi, aku merasa hina, Semakin sendirian dirumah ini. Namun, aku pura-pura tidak peduli atas apa yang kudengar.

Aku hanya berusaha mengikuti alur cerita yang telah dibuat oleh Tuhan ini.

 “Dulu pernahku pinta tiga hal sebagai syarat sekaligus ijab kabul kepadanya,”

“Juragan tanah?.”

“Iya… dulu, seorang wanita muda yang masih putih bersih layaknya bunga melati yang baru mekar. Duduk sendirian bersandarkan kursi goyang disore hari seraya mencengkram surat yang ia terima dari via pos satu jam yang lalu…, Ia tidak percaya akan surat yang diterimanya, bukan dikarenakan tulisannya yang seperti coret-coretan yang dituliskan diatas air, melainkan materi di dalamnya.…”

Hening.

“Kau menolaknya kan?”

“Tentu saja,…”

“Namun sesudah pengadilan, Indah entah bagaimana bisa terlilit hutang olehnya, hingga mengakibatkan aku haruslah menerima lamarannya.”

“Lalu mengapa kamu bisa seperti ini,?.”

“Indah malu sekali, kemudian menenggelamkan diri ke danau.”

“Bagaimana bisa?”

“Tamu sudah berdatangan, hajatan telah dilakukan. Namun kang Joseph tidak menepati janjinya, permadani yang Indah pesan tak kunjung sampai…,”

“Permadani merupakan hal yang wajib disini,”

“Benar,dan itu harus mempelai lelaki yang membuatnya. Ia tidak bisa.”

“Lalu danau itu, danau apa yang kau maksud?.”

“Danau dihadapan kita kang,.”

“Apa?!,”

“Beberapa tahun lalu, Joseph hanyalah orang biasa. Pemberi pinjaman dengan bunga yang tinggi. Tapi itu biasa saja. Sampai kemudian ia mengancam akan menggusur rumah warga di pinggiran danau, mengubur danaunya, sampai aku nantinya kehilangan pekerjaanku. Warga protes ketidak-adilan ini termasuk Indah, ia melawan sambil menegakkan tangan kirinya dan berkata : “Ku punya sertifikatnya, kalian mau apa. ha?!.”

“Sertifikat apanya? Itu pasti palsu.” Ketusku.

“Telah aku kirimkan surat agar ia menghadiri pernikahan kami berdua, tapi tak kunjung ia datang dengan alasan permadani Indah yang belum selesai.”

“Pulang membawa malu, pulang membawa luka,” Jawabku.

“Betul,”

***

Matahari tenggelam di langit sore. Ku dengar burung-burung bernyanyi lagi bersama kawannya… dihadapanku kini ada seorang anak kecil. Kelas satu SD.

“Pertanyaan terakhir kang,”

“ Apa?.”

“Lalu bagaimana dengan permadaninya?.”

“Permadaninya ada diranselku sekarang.”

“Benarkah? Boleh aku lihat?.

Aku keluarkan kemudian kubentangkan permadani itu, tampak berwarna emas berkilauan ditembus cahaya sore. Sungguh cantik dan mempesona.

Bocah itu tampak terkagum-kagum dibuatnya.

“Lalu bagaimana akhir dari nasib juragan tanah?”

“Perbuatan buruk sudah mendapatkan balasannya … Ia sudah mendapatkan karmanya dan kini mendekam dipenjara.” Responku seraya menarik pancingan.

****

Ingin mengirimkan karya ke Kafe Kopi sebagai penulis lepas? Simak caranya, klik di sini

Komentar

share!