Itu Kamu



Yuk kirimkan karyamu!

Karya: Zoe Hinata (Penulis Lepas)

"S
o, what do you want to talk now?”
Aku mengulas senyum, bersiap mendengarkanmu. Kau tampak resah.
Malam ini tak biasa. Seharusnya aku duduk manis di depan laptopku untuk mengedit tulisan yang dikirim penulis-penulis muda yang tengah bersemangat itu. Seharusnya aku masih ngemil snack coklat yang disediakan Mama tiap aku lembur. Seharusnya lagu lagu Three Doors Down masih menemaniku. Ah, gara-gara kamu…

“Aku…aku mau jujur sama kamu, Kay,”
Aku mengernyit. Potongan stick coklat yang kumakan terhenti di tengah.
“What’s wrong? Memang kamu nggak jujur sama aku dalam hal apa, Kak?”
Kemudian hening. Aku mencari cari keberanian di matamu. Nyaris, hanya sebentar. Lalu menghilang bersama uap secangkir Cappucino di hadapanku. Tak biasanya kau seperti ini. kemana wajah jahil itu? siapa yang sudah membuatmu kehilangan senyum,Kak?
“Kalau Kakak mau bilang udah putus sama Kak Nishi, aku udah tau kok.” Kataku nyaris tanpa ekspresi.
Kau sedikit terkejut. Kau memainkan pensil yang entah kapan sudah ada di atas meja. Sedikit menghela nafas,lalu membuangnya dengan keras. Aku tersenyum aneh. Lucu melihatmu bingung seperti ini.
“Iya, Kay. Aku udah putus sama Nishi. Aku rasa aku terlalu memaksakan perasaanku. Kamu tau kenapa, Kay?”
“Yah entahlah… Bukannya Kakak dulu niat banget buat dapetin Kak Nishi? Padahal Kakak harusnya besyukur banget dapetin Kak Nishi yang cerdas itu. susah loh Kak, dapet cewek sekeren dia,” ujarku sambil tersenyum, mencoba mencairkan suasana.
“Tapi kenapa sudah selama ini Kakak baru bilang kalau selama ini Kakak memaksakan perasaan, atau apalah itu?”
“Aku bingung, Kay… Rasanya ada seseorang yang sedang memainkan perasaanku…Seseorang yang lain, Kay. Dan bukan Nishi.  Aku sadar aku ngga bisa dapetin dia, Kay. She is an untouchable woman, Kay. Entah sudah berapa lelaki yang ditolaknya.  Dan Nishi…dia mungkin cuma jadi pelarianku…”
Seperti ada yang aneh dengan kalimatmu. Aku seperti mengenal siapa yang kau sebut itu.
“Ya udah, gampang aja lagi, Kak. Kakak bilang aja jujur ke sang untouchable woman itu. Kakak kan keren, masa ditolak juga? Hee…” Kataku sembari nyengir.
“Itu dia masalahnya, Kay. Aku takut ditolak.”
“Sejak kapan kamu jadi orang pesimis kayak gini, Kak? Kamu bukan Kak Defa yang aku kenal. Kamu selalu ambisius, Kak. Sepesimis inikah kamu sekarang? Hanya karena satu wanita? Kamu bilang kamu cinta dia. Trus apa masalahnya?” tanyaku sambil mencondongkan tubuh ke arahmu.
“Hey, Kay. Kamu pernah jatuh cinta?” aku terkejut.  Tak kusangka kau justru menanyaiku.
“Jatuh cinta itu nggak semudah yang kamu bilang, Kay. Akan ada banyak kemungkinan kalau kamu terang-terangan menyatakannya. Bisa jadi dia menerima. Bisa jadi dia menolak. Bisa jadi dia justru marah. Bisa jadi dia justru menghindarimu. Bagaimana, Kay?”
Sekarang aku yang terdiam. Apa kamu bilang? Jatuh cinta? Otakku yang super lemot ini rasanya sudah gila memikirkan deadline editing naskah. Apalagi jatuh cinta serumit yang kamu bayangkan itu.
“Kay..?”
“Eh, ya? Jadi gimana tadi, Kak?”
“Kamu mau jadi pacarku, Kay?”
“Ap..apa?” aku tergagap.
Aku tak menyangka kau akan mengatakan ini.  Beruntung aku cepat mengendalikan ekspresiku.
Aku tersenyum,”Kakak ini bercanda nya macem-macem ya. Huu…”
“Aku serius, Kay. That untouchable woman is you, Kay.”
“Kakak bohong,” jawabku sambil tetap tersenyum tenang.Yah, kalau bicara hati, hatiku sudah nyaris kehilangan dayanya tadi.
“Mana mungkin? Aku serius, Kay. Aku suka kamu, Kayandra… aku sudah sekeren ini masih kamu tolak juga?” senyummu jail.
“Kalau Kakak serius kenapa nggak langsung bilang ke Mama dan Ayah ku? Kenapa bilangnya ke aku?” duh rasanya hatiku sudah lebur ketika aku mengatakan ini. Aku lebih dari tahu seberapa siapmu. Aku tau kamu, Kak. Sayang sekali.
“eh? Maksudmu?” kamu sedikit terperanjat.
“Kita sudah sama-sama dewasa, Kak.. Kakak 25, aku 23. Kakak udah kerja di pertambangan. Aku udah kerja di penerbitan. Bicara cinta bukan hal main-main lagi Kak sekarang. Begitupun aku. Cinta itu bukan cuma kata-kata, Kak. Kalau mau main main, aku capek. Nggak ada waktu buat itu lagi, Kak.”
“Tapi..bukankah kita butuh intro, Kay? Aku belum siap kalau secepat itu.”
“Kita udah kenal lama, buat apa intro lagi? Jadi, jangan bilang cinta kalau Kakak sendiri belum siap terima konsekuensi itu,” ujarku sambil tersenyum. Ah sudahlah Kak, aku harus segera pergi. Bisa bisa aku mengubah keyakinanku kalau berhadapan denganmu lebih lama.
Setelah menyeruput cappuccino terakhirku, aku beranjak.
“Kamu mau kemana?” tanyamu bingung.
“Masih banyak naskah yang belum aku edit, Kak. Maaf,” kataku sembari tersenyum.
“Lalu bagaimana denganku, Kay? Kamu akan menjauh dariku?” Aku menggeleng.
“Tidak, datanglah padaku seperti biasa kalau Kakak ingin datang. Aku masih mau dengar cerita Kakak kok. Untuk pernyataan tadi, simpan saja Kak. Simpan saja sampai Kakak siap. Yah itupun kalau belum keduluan yang lain, sih. Hehhee …”
Aku memeletkan lidah. Kamu sudah tak sanggup berkata kata.
“Daah Kakak! Aku duluan! Hati-hati yaa!”
Hancur sudah. Seandainya kau lebih siap dari ini. Seandainya kau tak terburu buru seperti ini. Seandainya ada jawaban lain yang bisa aku katakan padamu. Seandainya…..
Ah, jangan biarkan setan memberi waktu untuk berandai andai.
Aku, sekecil apapun itu, masih berharap padamu. Masih merasa perlu untuk terus mengagumimu. Aku masih merasa belum perlu untuk menjauh darimu. Masih banyak pelajaran yang bisa aku ambil darimu selain perasaanmu yang masih labil itu. Masih ada waktu…untukmu….

Sudut perenungan.

****

Ingin mengirimkan karya ke Kafe Kopi sebagai penulis lepas? Simak caranya, klik di sini

Komentar

share!