Gelap


Karya: Just-Anny

M
alam ini sepi. Aku sendirian di kamar karena teman kosanku yang lain belum juga pulang. Rasa malasku sedang rajin menyerang. Jangankan mengisi perutku yang lapar dengan makanan yang ada di dapur, untuk beranjak dari tempat tidur dan menyalakan lampu ruang lain selain kamar ini saja aku enggan.
Tok ... tok ... tok ...

Aku mendengar suara kecil dari arah luar kamar. Kulirik jam dinding.  Pukul sebelas malam. Seketika kurasakkan suatu hawa yang berbeda. Aku menguatkan fokusku. Refleks melirik kanan-kiri dengan waspada, padahal tahu kalau di rumah ini jelas tidak ada siapa-siapa.
Hawa ini ... rasanya aku kenal. Iya, ini hawa ... dia.
Tok ... tok ... tok ....
Suaranya semakin terdengar jelas. Geraman mencuat pada raut mukaku yang semakin berdebar mendengar suara itu. Aku berusaha tenang, tapi kurasakan keringat mengucur perlahan dari pelipis dan telapak tangan. Jantungku sudah berdetak tak karuan sejak bunyi awal tadi, lalu sekarang semakin menjadi-jadi.
Tok ... tok ... tok ....
Bunyi itu semakin besar saja, berbanding lurus dengan keringatku yang semakin deras. Aku menarik napas dalam, lalu menghembuskannya dengan cepat. Rasanya tidak tahan lagi. Aku harus segera menghentikan ini.
Aku berjalan membuka pintu kamar dan menuju ruang tengah dalam keadaan gemetar, mengambil ponselku yang tergeletak di sana cepat-cepat lalu menekan layarnya.
“I-iya ... ha-halo,” ucapku terbata-bata.
“Kenapa kamu belum juga kirim draft sidangmu?!” teriak seseorang dari sebrang sana. “Kenapa telponnya baru diangkat sekarang?!”
Nah kan benar saja. Sejak tadi aku sudah curiga. Dering ponselku yang berbunyi sejak tadi itu dari dosen pembimbingku. Oh ibu Deadine, instingku untuk kehadiranmu selalu kuat meski hanya lewat saluran telepon.
End

copyright © 2015 by just-anny

Komentar

share!