Elegi | Part 2 (end)


Karya: Trisella

Ungkapan perasaanku itu terjadi beberapa bulan lalu, saat semuanya masih baik-baik saja. Saat kami masih bisa merasakan adanya satu sama lain. 
Mengingat semuanya, aku hanya mampu tersenyum miris. Mengapa sangat sulit untuk mengingatnya dengan satu senyum bahagia?

Dia bilang, hidup terus berputar. Akan ada bahagia yang berganti kesedihan. Akan ada tawa yang berganti tangisan. Tapi siapa sangka aku akan merasakannya secepat aku mengedipkan mata? Dan yang ada di hadapanku saat ini adalah dia yang terbaring lemah dengan keadaan yang membuatku tak mampu menahan tangis. 
Aku perlahan mendekat, sesekali mengusap airmataku yang menderas. Menahan sesak yang berusaha keluar. Aku terus menghela napas panjang untuk menghilangkan sakit yang mencekat di kerongkongan.
Dan di hadapanku, lagi-lagi ada dia yang tersenyum tipis, merentangkan kedua lebar lengannya, bahkan tak peduli dengan selang infus yang menusuk di sebelah punggung tangan. 
Saat itu, dunia berputar. Aku berganti menjadi yang pertama untuk berusaha membuatnya bahagia. Membuatnya tertawa. Berusaha membuatnya lupa akan sakit yang mendera.
Di dalam pelukannya, aku menangis. Menyesali kepekaanku yang payah. Bagaimana bisa ia menyembunyikan sirosis yang ia derita? 
"Jangan menangis. Aku mohon, berhentilah menangis." Dafian memohon dengan terus mengelus punggungku yang terkulai lemah dalam hangat pelukannya
Aku hanya mampu mengangguk pelan. Waktu kita akan semakin tipis, dan dia memintaku untuk jangan menangis? Oh Dafian, kenapa kau masih saja sempat untuk memintaku tidak menangis dalam keadaan seperti ini? 
Aku menghela napas panjang. Melepaskan pelukan Dafian secara perlahan. Menangkup kedua pipinya yang terasa dingin. Aku sedih melihatnya saat ini. Bibirnya yang selalu tersenyum, terlihat sangat pucat.
Dafian hanya tersenyum tipis sembari mengusap lembut jejak air mata yang membekas di kedua pipiku. Aku tahu, dibalik kesakitannya, dia sedang berusaha menenangkanku. 
Padahal biasanya Dafian akan tertawa setelah melihat wajahku yang kacau karena tangisan yang terlalu heboh.
"Aku tak akan membiarkanmu pergi," lirihku. Aku menggeleng pelan. "Tak akan. Aku akan menahanmu di sini. Di sampingku dan terus bersamaku." 
Dan untuk pertama kalinya, aku melihatnya menangis. Dafian, apa ini semua sangat sakit?
Dafian hanya mampu mengangguk pelan dengan isakan kecil yang lolos perlahan dari bibir pucatnya. "Jangan tinggalkan aku sendiri di sini. Aku kesakitan. Aku membutuhkanmu." 
*****
Nyatanya, sekuat apapun kita berjanji untuk tak meninggalkan, di antara kita berdua akan tetap ada yang pergi. 
Sampai saat ini, perasaanku masih sama. Aku tetap mencintai Dafian. Sangat-sangat mencintainya. Aku yakin Dafian tahu tentang itu.
Dan aku yakin saat ini Dafian pasti sedang tertawa geli melihatku yang kini menangis karena merindunya. 
Dafian, kenapa kau meninggalkanku? Kenapa kau pergi secepat itu? Lalu siapa yang akan memelukku jika aku menangis seperti ini? Siapa yang akan tertawa keras saat melihat wajahku setelah menangis heboh seperti ini?
Lama aku mendekap potret kita berdua. Disana, ada kita yang saling berangkulan. Kau dan tawa lebarmu. Dan aku dengan senyum yang lebarnya hampir sama denganmu. 
Tangisku semakin menderas saat lagi-lagi aku membaca surat terakhir yang kau tujukan untukku. Berulang kali aku mengusap jejak airmata yang membasahi kedua pipiku. Aku tersenyum membaca baris kalimat yang terukir di surat terakhirmu.
Di akhir hidupku, satu yang sangat aku pahami. Bertemu denganmu adalah anugerah terindah yang kualami. Kau tahu, Killa? Aku, kau, dan cinta kita adalah kisah yang paling indah. Meski aku tahu, kisah kita tak berakhir bahagia. Tak ada tawa pada akhirnya. 
Tetaplah datangi konser favorit kita. Dan jangan lupa untuk sampaikan salamku pada vokalis kesayanganmu itu, yang notabene adalah saudara kembarku hahaha. Kau tahu kan, aku begitu mirip dengannya? Meski hanya pada bagian rambut saja?
Killa, sungguh aku juga mencintaimu. 
Kumohon, berbahagialah. Jangan menangis. Karena tak akan ada aku lagi yang memelukmu saat kau menangis. Dan aku benci melihatmu menangis sendirian.
Berjanjilah untuk selalu bahagia. Aku akan selalu ada dalam kenangan terindah dalam hidup kita. 
Ya, Dafian. Kau benar. Aku, kau, dan cinta kita adalah cerita yang paling indah.
***** 
Dafian, apa kau bahagia? Aku tahu kau pasti bahagia. Kau tak merasakan sakit lagi, bukan? Tapi aku yakin, kau pasti kesepian karena tak ada aku di sampingmu.
Aku tak tahu kalau ternyata rasanya begitu sesak saat tak lagi bisa melihat wajahmu yang kurindukan. Tak bisa menyentuh halus kulitmu lagi. 
Rasanya masih seperti hanyut dalam mimpi buruk saat kau benar-benar meninggalkanku. Mimpi buruk yang menjadi nyata. Padahal, aku sudah menyiapkan ini semua. Bersiap-siap dengan rasa sakit yang menerjang saat nantinya kau benar-benar pergi.
Tapi sakit yang menerjang justru membuatku semakin rapuh. 
Kau tahu? Kepergianmu meninggalkan elegi yang menyayat hati. Elegi yang terus berputar di dalam kepalaku. Sesak.
Terkadang aku memohon pada waktu. Tak bisakah ini semua dipercepat? Agar aku bisa lupa dengan segala sedih yang ada. Agar aku bisa lupa dengan sesak yang menghimpit saat kau benar-benar pergi. 
Atau setidaknya, bisakah waktu berputar kembali ke belakang? Kembali pada masa dimana aku bisa mendengar denting tawamu yang bergesekan dengan udara di sekitar. Sebentar saja, kembalikan semuanya pada masa dimana aku masih bisa merasakan hangatnya dekapanmu. Berlari menuju pelukanmu kapanpun aku mau.
Kepada siapapun yang bisa mengembalikan waktu, kumohon, kembalikan aku pada saat dimana aku bisa merasakan bahagia di sampingnya. 
Sebentar saja. Biarkan aku kembali. Biarkan aku menyentuhnya meski hanya sebentar. Memandang wajahnya meski hanya satu kedipan mata. Kumohon...
Aku... 
Aku merindunya...
END
*****

Komentar

share!