BIARKAN AKU DI SISIMU

Yuk kirimkan karyamu!


 Karya: Aulia Novita (Penulis Lepas)

Pena yang semula kau jadikan teman, tak lagi istimewa. Bahkan, buku-buku yang menjadi tumpuan berahimu telah dimakan usia semenjak logika tak sejalan dengan naluri. 

"Enyahlah!" umpatmu kasar pada benda keramat yang tergeletak bisu di meja.
Bola matamu bergerak liar ke segala arah. Ruang berukuran 3x4 m yang menemani imajinasi, kini hanya berisi kekacauan serta hampa oksigen. Bahkan tak ada aroma parfum di sana. Kau terduduk lemah meremas rambut cepak yang belum tersentuh sisir seharian. Kusut, itulah gambaranmu saat ini.
“Tuhan ... selesai sudah semuanya ...,” desahmu.
Sekilas kaulihat langit-langit kamar. Ternyata ada yang mulai menarik perhatian. Sepasang makhluk merayap tengah bercumbu indah di atas sana mengusik hati.
“Sial!”
Emosimu mulai kembali, menggelegak meski sempat dirimu redam. Kedua makhluk merayap kian menggoda. Hingga kau tak ingin berlama-lama jauh terseret. Detik berikutnya, ada sesuatu yang menyergap. Terbayang sosok lincah bersandar di pundakmu. Oh, entah perasaan apa yang mulai menyita otak. Tak terasa senyum manis itu berkelebatan. 
perlahan buliran hangat menetes dari kornea. Tangis yang sejak lama ingin berderai, tertahan oleh luka. Mencipta sayatan kasar itu kini begitu saja kau biarkan ia jatuh. Ah, kisah pahit terekam jelas menyusuri relung hati. Nama yang kerap terngiang ‘Bidadari’. Ia alasan jemari kurus tersebut menghasilkan jejak karya. Di sanalah luapan asmara tercurah begitu syahdu.
                                                                   ***
Bidadari itu melangkah malu-malu diiringi rambut hitam legam yang tergerai indah melewatimu. Seakan kau tertarik erat menuju pusaran medan magnet. Masa remaja sungguh menjadi babak baru mencipta cerita. Hatimu seakan menjerit, “Madu dunia! Cepat ... jadilah sebagai penawar dahaga. Tuhan, aku menjadi pendosa hanya karena menginginkannya? Benarkah ini yang disebut cinta?”
Pikiran idealisme dirimu mulai kambuh. Hati-hati tubuh ramping bidadarimu menggamit buku bertuliskan “Sayap-sayap Patah”, karya legendaris cinta Kahlil Gibran, yang mendapat julukan: The Immortal Prophet of Lebanon. “Cinta adalah keindahan sejati yang terletak pada keserasian spiritual. Cinta adalah satu-satunya kebebasan di dunia ini karena ia begitu tinggi mengangkat jiwa, di mana hukum-hukum kemanusiaan dan kenyataan tidak mampu menemukan jejaknya.”
 Kutipan favorit yang melekat dalam memori. Dari hari ke hari kian membuatmu tersiksa. Hingga kau memberanikan diri menulis coretan pertama dalam kertas putih.
Merindu setangkai mawar
Gelora pun membakar
Logika kian liar
Hati turut tak sabar
Bibir berceracau cinta
Duhai Pemilik jiwa
Jaga mataku dan matanya
Bersama seirama dalam surga
Kau tertawa geli dan menyelipkannya di buku sang pujaan, sambil berkata, “Tuhan ... lancarkanlah ...,” bisikmu dengan menciumi kertas itu.
Tubuh ramping bidadarimu duduk manis meletakkan buku di meja. Kau tergugu menanti apa yang akan terjadi dan  terus menghitung, “Satu, dua, tiga!”
Bibir bidadari tersenyum manis. Meski tak mengerti apa artinya, hatimu merasa bahagia.
***
Hampir sepekan kau menunggu reaksi bidadari. Mencari-cari kepastian. Namun tak juga menampakkan hasil. Ketika dirimu nyaris hilang arah, hati kembali berdesir.  Orang yang sudah lama dinanti akhirnya ada di depanmu. Yah, tapi tak sesuai dengan keinginanmu. Dia menangis. Oh, ada yang terjadi? Matanya sembap.
Untuk kesekian kalinya, kini aliran voltase menyengat kulit menuju jantung. Dia mendekat dan duduk di sampingmu. Bersandar manis pada bahu kurus yang tak sepenuhnya terisi daging.
“Sama seperti pena yang memberi warna dalam lembaran kertas, aku minta padamu, buatlah hari-hariku penuh hiasan cerita kaya makna. Tulis, dan tulis, sampai jemari tak lagi menari anggun,” ucapnya.
Kalimat indah itu menjadi suntikan energi sekaligus bumerang bagi dirimu sendiri. Hanya dalam dua jam kata-kata itu berubah kepedihan. Pertemuan itu sungguh tak ingin kau lihat.
“Tidak mungkin!”
Tubuh langsing bidadari bergerak indah sembari menggenggam tangan seorang lelaki penuh mesra. Sudah berakhir. Penawar telah menjadi racun. Entah berapa banyak hidupmu hanya berkutat di kamar redup. Membiarkan debu leluasa berada di sana. Sepertinya kerusuhan yang dilakukan cicak saat itu membuatmu sedikit menyentuh logika. Memberanikan diri menghadap mentari.
Ternyata benar, lagi-lagi kau mendapat kejutan. Sepucuk amplop menggugah keingintahuanmu.
Mawar tak layak dipuja, bahkan dijadikan penawar
Ingat! Sayap seekor  burung juga bisa patah
Apalagi hati yang  sekadar menampung rasa
Mawar tetap tak bisa dipuja
Kali ini kau tak ingin terlambat. Membuang-buang waktu sama saja membiarkan untuk kehilangan segala-galanya. Kau berjalan dengan gagah walau tak sebanding dengan penampilanmu yang biasa. Ah, jantung berdetak tak karuan. Tapi kini kamu tahu jawabannya. Putih menenggelamkan hitam. Sunyi itu telah berbicara. Menguak tabir yang sempat melanda.
Sungguh malang pujaanmu. Air mata yang dilihatnya ternyata sebuah luka yang dipendamnya sendiri. Mengapa saat itu dia tak mau bicara? Sudah cukup semua ini.  Hanya lelaki bodoh yang berani mengkhianti gadis sepertinya, keluhmu dalam hati.
Ucapan pamungkas pujanggamu siap kau keluarkan. Tanpa ragu meluncur dengan tegas, “Bidadari, maukah kamu menjadi yang halal untukku?”
Bidadari kian menatap haru pada bola matamu. Titik labil berbalik arah menjadi stabil. Menggoreskan kembali pena dalam lembaran putih. Membuka jalinan asmara dan menautkannya dalam mahligai pernikahan.
***

Ingin mengirimkan karya ke Kafe Kopi sebagai penulis lepas? Simak caranya, klik di sini

Komentar

share!