What?!!! Aku seorang istri?!




Karya:  mudriQ

Der!!!!
Suara guntur itu mengganggu tidur nyenyakku. Aku baru terlelap sekitar satu jam yang lalu setelah lelah memutar otak untuk bisa mendapatkan uang satu juta dalam waktu satu bulan. Mungkinkah? Ah! Aku gila dibuatnya. Ini gara-gara hasil pengumuman dua hari lalu.
Ditambah lagi guntur itu yang seakan-akan tak rela aku tidur barang sebentar saja. Berkail-kali aku pejamkan mata, berkail-kali itu pula aku membuka mata. Menatap sekeliling. Menatap teman-teman kamarku yang tampaknya sama sekali tak terganggu guntur yang bersahut-sahutan. 


‘Hoaaaammm’
Ok. Aku menyerah. Akupun bangkit. Mencari handphone. Mengirim satu pesan pada seseorang yang selalu setia untukku. Hmm. Baru jam 1, masih 2 jam sebelum jam sahur. Kulangkahkan kak berjinjit karena dingin yang membekukan kakiku. Aku berjalan berjingkat kearah pintu. MEraih jaket yang tergantung di dinding triplek kamar. Kubuka pintu dan…
Wusssss
Angin malam suci ini menyambutku. Memeluk setiap senti tubuhku. Sampai-sampai gigiku gemeletukan menahan pelukannya. Aku segera rapatkan jaket, merapikan kerudung tipis yang kupakai asal-asalan. Dan satu lagi,,,, sandal jelekku terserak entah dimana.
Huft! Aku setengah mengantuk dan harus berusaha keras mencair sandal jelekku. Ups! Sandalku adalah rizki yang Allah berikan, tak boleh dicaci jelek atau apa. Akhirnya sandalku pun ketemu. Aku segera berlari-lari kecil ke kamar mandi. Tapi, mataku tertahan. Aku terpesona pada satu pemandangan indah yang memaku mata bulatku untuk menatapnya.
Langit. Ya, aku suka langit. Dia adalah lukisan Allah yang setiap hari berganti warna-warna yang selalu bisa memesonaku. Tapi tak hanya langit yang memenjara mataku. Ada satu lagi yaitu bulan. Aku terpana menatap bulan purnama ini. Sungguh berbeda. Bulan yang bersinar, bulat penuh, kuning keemasan. Yang membuatnya beda, langit malam ini sungguh bersih. Tanpa awan yang berserak seperti biasanya. Malam ini sungguh berbeda. Apakah ini malam Lailatul Qodar? Ada yang mengatakan kalau malam Lailatul Qodar itu malam yang begitu terang. Sampai-sampai bisa dikatakan seperti siang hari. Inikah malam mulia itu?
Aku benar-benar terpaku dibuatnya. Tertegun beberapa lama. Tak peduli angin dan dingin yang semakin masuk ke pori-pori kulitku. Aku suka langit dan rembulan. Aku menyukai ciptaanMu. Dan berharap suatu saat hatiku akan benar-benar mencintaiMu tanpa cinta-cinta yang lain.
Mataku mash terpana, tapi dingin ini sungguh tak bisa diajak kompromi. Akupun segera ke kamar mandi. Berwudlu dan aku ingin curhat padaNya. Teman curhat paling aman hanya Dia. Dan jika malam ini benar malam yang diriwayatkan lebih baik dari seribu bulan, aku sungguh bahagia dengan keberuntunganku ini. Termakasih ya Allah… .
♫♫♫
“Kia…. Kamu lolos… “ Seru Rita temanku dengan senyum nakalnya.
Ha? Benarkah?
Dan selanjutnya aku menjadi objek boneka kayu yang terpahat penuh senyum dan bagaikan robot yang hanya bisa mengangguk da mengangguk.
“Selamat ya…”
“Selamat ya…”
“Selamat ya…”
Kata-kata itu berdengung di telingaku. Begitu halnya kepala dan bibirku. Mengangguk, tersenyum. Mengangguk, tersenyum. Ah! Aku gila. Tapi, ada satu suara yang membuatku berhenti mengangguk. Aku mengikuti arah pemilik suara itu. Menatap lekat matanya dan…, Oh my God. Hatiku terlonjak. Ucapan sinis itu milik Nadia.
“Kita akan bersaing lagi. Tapi, kali ini aku tidak akan membiarkanmu menang dengan mudah. Tidak untuk kesekian kalinya. Fighting Azkia!” Ucapnya dengan nada sombong yang sungguh membuat telinga geli.
Dia berlalu begitu saja dari hadapanku. Entahlah. Apa yang sebenarnya terjadi. Akupun segera menuju papan pengumuman. Terpampang nama-nama santri yang berhasil lolos seleksi tahap 1 untuk program pertukaran pelajar ke Maroko. Pesantren tempat aku tinggal memang mempunyai hubungan baik dengan Maroko. Dan setiap tahun pasti mengirimkan 2 orang santrinya untuk program ini. Dan diantara lima nama anak yang lolos, ada namaku dan Nadia disana.
Ya Robb… pantas dia berkata seperti itu tadi.
Sebenarnya aku tidak ingin memusuhi Nadia. Dia anak yang cerdas, baik, bahkan ramah. Tapi, sejak aku dan Bassam dekat, dia entah kenapa menjauh bahkan cenderung memusuhiku. Bassam adalah kakak angkatan kami di kampus dan juga ustadz muda di pesantren kami tinggal. Dia terkenal fair dengan setiap orang, ramah dan juga cerdas. Meski aku sebenarnya tak pernah tau seperti apa orangnya. Tapi, entah sejak kapan, aku tak tahu pasti. Kami saling menyapa, bergurau bahkan belajar bersama dalam club bahasa kami.
Sedang Nadia sering kali bercerita tentang seseorang yang bernama Hariri. Dan baru ketika aku menjalin komitmen dengan orang yang dikenal dengan nama Bassam. Aku tahu, kenapa Nadia menjauh. Karena Hariri adalah Bassam. Bassam Hariri. Orang yang disukai Nadia. Dan aku, dengan tingkah bodoh menjalin hubungan dengannya.
Ah! Sudahlah. Lagian itu bukan salahku. Aku tak pernah menyuruh Bassam suka sama aku. Dan itupun sudah hampir setahun lalu. Tak bisakah Nadia menerima maaf yang kuucapkan puluhan kali ketika aku tahu bahwa Bassam dan Hariri adalah satu orang yang kami cintai.
♫♫♫
Aku masih menikmati lamunanku tentang Nadia ketika tanpa aku sadari pengajian Bulughul Marom malam ini sudah selesai. Bahkan ketika Abah Yai menutup pengajian dan salam akupun tak mendengarnya. Keterlaluan.
“Kia, ayo balik…”Seru Zulfa di sebelahku.
“Ba… Balik kemana?” Jawabku gelagapan karena terkejut.
“Ke kamar lah Neng… masa ke sawah.”
“Emang udah selesai ngajinya?”
“Ampun deh… udah dari tadi atuh… liat tuh udah pada balik yang lain. Makanya nggak usah nglamunin Bassam mulu. Ntar dia berubah jadi sayur bayam + asam. Hahaha”
“Yeee…. Siapa juga yang nglamunin tuh orang. Kurang kerjaan.”
“Tuh orang tapi cinta juga… Huuu. Udah ah ayo balik.” Zulfa menyeretku keluar dari aula pengajian.
Jam 22.23
Hah! Inilah jadwal padat santri ketika bulan Ramadhan tiba. Ngebut kitab sampai tandas. Mau kitabnya coret moret karena ngantuk, penuh karena lelah meng-absah-I kitab atau bahkan kitabnya terlukis pulau kecil yang mirip pulau-pulau di Jawa. Bagaimana tidak padat? Kalau ngajinya dari selepas tarawih sampai tengah malam. Dari pagi sampai siang dan dari siang sampai sore. Ah! Aku terlalu berlebihan menjadwalkannya.
♫♫♫
Dan malam inipun sama. Aku susah memejamkan mata. Berbicara pada sendiri.
‘Kia, kalau nanti lolos seleksi tahap 2, berarti kamu berhasil dan akan berada di Maroko untuk enam bulan kedepan. Wow… . Berarti kamu harus segera minta cuti kuliah dan surat rekomendasi. Tapi kalau nggak lolos? Ah! Posting! Positive Thinking.
Tapi, kamu juga harus segera membuat passport ketika lolos. Uangnya?Bilang sama orang tua.
Tidak, tidak,  itu bukan Azkia namanya. Aku akan berusaha sendiri. Secepatnya. Semangat kia… . Hah! Aku mengusap wajahku berkali-kali. Mencoba mencari kesadaran penuh dari diriku. Bisakah aku? Bismillah… .’
Kuraih hp diatas bantalku. Mengetik satu pesan dan melesat jauh ke luar kota. Kota cinta.
“J belum tidur?”
“He, belum… J?”
“Belum juga, baru selesai tadarus tadi, aku udah nyampai juz 9 J…”
“Cieee,,, semangat ya… oh iya, aku lolos seleksi pertama ke Maroko J…”
“Benarkah? Wow… selamat ya… semangat, semangat! Tapi, J jangan give in banget ya? Dibuat slow aja, ditenangin pikirannya. Jangan kaya aku,hehe gagal ke Turki di seleksi pertama dan putus semangat akhirnya karena terlalu give in”
“Ok Jq… , Hehe, udah… nggak usah diingat-ingat lagi”
“Yupz, ok… cayooo Jq… udah, met bobo J,,, gud nite”
“Nite too”
Dialah Bassam. Satu orang yang terlalu sering kurindukan. Kenapa J? J adalah satu huruf rahasia bagi kami. Huruf cinta yang berarti hati. Tapi dia terlalu sering mengacuhkanku. Katanya, aku nggak cuma milik J, aku milik Dia, maaf. Hah! Aku juga ingin sepertimu J,,, bisa mencintaiNya lebih dari apapun. Dan kuharap itu terjadi suatu saat nanti. Saat diriku benar-benar mencintaiMu, Ya Rahman… .
♫♫♫
Tanggal 21 Ramadhan.
Pondok pesantren tempatku mengaji sudah mulai sepi karena pengajian pasaran sudah ditutup pas tanggal 17 Ramadhan. Bertepatan dengan malam Nuzulul Quran. Dua malam setelah insiden langit yang memesonaku sejauh malam itu. Para santri sudah banyak yang pulang kampung. Aku? Masih menunggu hasil seleksi yang akan keluar hari ini, jam 10 pagi. Sekarang jam 09.57. tiga menit lagi. Ah! Mengapa terasa lambat? Oh God! Tolong aku ya Robb… .
Disampingku berdiri Nadia, Salma, dan dua orang santri putra Zamil dan Fajar. Santri cerdas yang memenangkan cerdas cermat tiga tahun berturut-turut. Tapi aku tidak boleh pesimis. Azkia bukan orang pesimis. Bismillah… .
Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam, lima, empat ,tiga, dua… .
“Anak-anak… “ Suara Ustadz Hanif lembut menyapa kami.
“Kok belum pada pulkam? Nunggu Bapak ya? Atau nunggu ini?” Kata beliau sambil membawa selembar kertas yang siap di temple di papan informasi. Beliau berjalan cepat namun penuh wibawa. Sedang kami berlima seperti anak itik yang menginduk tanpa perlawanan. Jantungku? Jangan ditanya lagi. Sudah terbanting entah kemana.
Deg, deg, deg. Dua nama yang lolos seleksi kedua dan berarti dia berhak ke Maroko tahun ini yaitu sebagai berikut:
  1. Azkia Qothrun Nabila
  1. Nadia Karima
Benarkah? Mimpikah?. Nadia memandangku dengan senyum yang susah aku artikan.
“Selamat ya… ternyata persaingan kita tak cukup sampai di Indonesia, tapi juga harus dilanjutkan di LN.” Katanya sambil mengulurkan tangan. Dan aku cukup tersenyum dan menjabat tangannya erat.
♫♫♫
Hari ini, entah aku harapkan atau tidak. Tapi aku berdiri seperti patung dan wajahku, Oh God! Tak tergambarkan. Aku tak pernah mengira dia benar-benar serius dengan perkataannya. Satu kalimat yang diucapkannya satu jam setelah pengumuman keberhasilanku
Hari Raya idul Fitri benar-benar membuatku bahagia. Ditambah dengan kabar gembira yang kusampaikan pada orang tuaku. Aku terpana melihat kebahagiaan mereka. Mereka memelukku. Satu hal yang kurindukan dari orang tuaku yang sudah sejak lama agak berselisih. Aku tak ingin hari itu berlalu.
Tapi, entah angin apa yang tiba-tiba membuat mereka berdua mengajakku sowan ke Abah Yai di hari pertama, padahal biasanya hari ketiga. Tak apalah. Tapi kenapa pula sanak saudara juga ikut semuanya? Memang biasanya mereka juga silaturrahim ke Abah, tapi, entahlah rasanya agak sedikit berbeda. Ditambah oleh-oleh yang mereka bawa sedikit lebih banyak dari biasanya.
Cukup Kia! Ini lebaran… mereka ingin bersilaturrahim ke Ndalem Abah Yai dan minta barokah beliau. Jangan berlebihan!
Kamipun berangkat. Keanehan itu tak cukup sampai di rumah ternyata. Bahkan sesampainya di Ndalem Abah, keanehan itu masih saja mengikuti. Begitu ramai rasanya. Dan aku lagi-lagi menatap heran dan berkata pada diri sendiri. Wajarlah ramai. Inikan lebaran Kia… .
Aku dan keluargapun masuk. Tamu putra dan putri dipisah satir. Bu Nyai mendekatiku. Aku gugup. Tak pernah sedekat ini dengan beliau.

“Nak Bila sudah siap?”. Itu panggilan khusus beliau untukku karena putrid beliau juga dipanggil Kia. Biar tidak salah panggil katanya.
Ha? Siap apa? Aku menatap bingung ke arah Ibuku, dan Ibu hanya tersenyum simpul sambil mengangguk. Akupun ikut mengangguk. Ibu nyai beranjak ke dekat satir, berbisik kepada Abah. Dan selanjutnya aku tak tahu apa yang terjadi.
♫♫♫
“Selamat ya…” Nadia menemuiku di rumah setelah insiden di Ndalem Abah kemarin. Nadia tersenyum dan memelukku erat. Pelukan sahabat yang sudah lama hilang.
“Selamat ya… aku berharap kau bahagia, sebenarnya aku sungguh merindukanmu Ki, tapi bingung, aku malu mau menyapa atau mungkin gengsi kali ya,hehe… Aku sudah berpindah hati kok, hehe tapi tetap semangat ya… dua minggu lagi kita akan berangkat ke Maroko. Yeee… . senyum dong… .”
Kata-kata Nadia mengiang di telingaku. Aku berharap kau bahagia. Ingatanku segera berputar cepat. Melesat ke awang-awang. Kembali pada detik ketika Bu Nyai berbisik kepada Abah. Tak lama setelah itu, telingaku tersengat petir yang hampir membuatku jantungan. Tapi ketika  ingatanku belum sempurna kembali, tiba-tiba seseorang yang kucinta masuk ke kamarku. Bassam? Ngapain dia disini? Dengan senyum jeleknya dia menyapaku.

“Hai sayank…selamat pagi… istriku.”
“What?!!! Aku seorang istri?!”
Aku menjewer sendiri telingaku. Ingin memastikan apakah masih di tempatnya atau tidak. Sebelum sempat kutemukan telingaku, Nadia dengan tersenyum nakal dia keluar dari kamarku. Dan dia.. myJ. Bassam Hariri. Sekarang dia suamiku. Sejak kemarin pagi di Ndalem Abah Yai. Ternyata inilah kalimat yang menyengat telingaku kemarin.

Qobiltu nikahaha wa tazwijaha, Azkia Qothrun Nabila bint Ahmah Zain bi mahril madzkur haalan
“Kok bingung? Jelek tau kalau kamu lagi masang wajah oon kamu.. hahaha”. Lagi-lagi dia mengejekku.
“Bukannya aku sudah mengajakmu menikah seminggu sebelumnya? Dan kamu jawabnya Ayo… aku siap, lupa ya? Aku nggak mau melepasmu pergi ke luar negeri tanpa ikatan,,, aku khawatir,, makanya, hehe…”
“Uh J,,, jahat banget sih… Bassam Hariri…awas kau”.Aku berteriak sekuat suara kecilku.
Dan dia menjawabnya dengan berbisik, “Iya istriku tercinta,,, Azkia Qothrun Nabila,,,”
Oh God! Aku seorang istri???!!!
♫♫♫

Komentar

share!