Waktu


 Karya: De

W
aktu, kadang kita ingin mempercepat waktu. Keinginan itu datang saat kita mulai lelah menjalani rentetan angka-angka yang seolah di patri dalam hidup. Sudah menjadi keharusan berkutat dengan deretan pekerjaan. Euforia malam pasti sangat berat untuk dilewatkan. Fajar mungkin bukan hal yang dinanti, malah cenderung ingin dilewati. Tapi, bagaimana bisa kita hilang beban? Bagaimana bisa angkat kaki dari tugas hidup ini? Lantas cara mengatasi?

 

Tak ada yang dapat menjawab pertanyaan itu, sekalipun ada itu hanya analogi tak terarah. Bagaimana bisa menjawab kalau hidup juga melulu mengeluh. Tidak ada jalan pintas, jalan keluar pun cukup jauh. Tapi jalan keluar bukan tak terjangkau jaraknya. Estetika kehidupan ada di dalam proses kita menjalani hidup ini.

Percaya bahwa waktu dapat di jadikan sahabat itu penting. Belajar realistis dan berhenti memaki waktu bahkan diri sendiri. Semakin banyak hal yang disesali maka itu adalah tanda semakin dangkal pemikiran diri. Maka tarik garis besar bahwa kita perlu berjalan beriringan dengan waktu, ingat soal beriringan. Bukan digiring. Mulailah memandang beberapa langkah lebih jauh, dari pada memikirkan cara untuk lari, lebih baik buka diri untuk menghadapi.

Waktu, kadang kita ingin menghentikan waktu. Keinginan itu datang saat kita berada dalam keadaan tidak ingin kehilangan sesuatu atau seseorang. Keinginan itu juga dapat datang saat kita melihat dengan bola mata sesuatu yang luar biasa menakjubkan yang sayang sekali bila ter lewatkan. Andai mata dapat menjilmah sebagai kamera saat itu, maka semua momen dapat mengabadi dalam gambar.

Keinginan kuat datang dalam diri, ketika melihat wajahnya tersenyum, ketika melihat pameran alam yang menggugah hati, ketika melihat tapakan kaki pertama sang buah hati, waktu seringkali membuat mata iri, waktu sering kali membuat hati kecewa lalu menggunda.

Mata kita sibuk mencari cara menghentikan dentingan waktu, hati kita sibuk menggerutu. Tapi waktu tak terbentur dengan itu. Waktu teguh satu pendirian, tugasnya hanya berputar tak ada yang lain. Percaya bahwa waktu akan membawa kita pada hal yang indah di lain kesempatan itu penting. Semua indah pada waktunya begitulah katanya.

Jika bicara waktu, tak banyak perbendaharaan ku tentangnya. Analogi ku tentang waktu tidak banyak malah cenderung sedikit. Tapi yang aku tau kini aku hanya perlu terus berjalan, terus bersama waktu. Menyusuri tiap jalan agar dapat merasakan estetika hidup, melihat hal indah tanpa henti. Maka bervakansi adalah keputusanku dan waktu.

Komentar

share!