Waktu Hampir Maghrib




Karya:  Dyasti Wulandari

Aku datang padamu saat waktu hampir maghrib. Kala itu matahari kemerah-merahan. Entah marah, entah merasakan hatiku yang berdarah. Seharusnya di bulan suci dalam agamamu ini dapat membuat hatimu mengingat kembali hatiku walau kita terpisah 80km. Namun, ternyata bulan suci ini membuat jarak di antara kita kian hari kian lebih lebar dari 80km. Aku pulang, bukan karena aku menyerah padamu. Namun aku menunggu bulan ini berakhir. Tuhanmu tidak akan membiarkanmu kali ini lengah pada doa-doamu.


Di perjalanan pulang dari hadapanmu waktu itu, aku mencoba melapangkan dada dan berpikir bahwa ini hanya masalah jarak dan waktu. Sesampainya bulan ini berakhir, kamu akan kembali pada hatiku seperti sedia kala. Masih terdengar jelas di telingaku betapa tegarnya kamu mengatakan hal yang bukan dirimu dulu “Aku begitu membencimu, Mas. Sadarkah, cinta-cintaku padamu yang terlalu, begitu banyak menimbulkan kebencian yang juga terlalu? Dan semua yang terlalu dan teramat sangat itu rasanya bukan sekejap bisa hilang begitu saja. Tapi, beginilah mungkin jadinya: bisakah kamu melupakan perasaan-perasaan yang menyiksa kebebasan kita sejak dulu? Bisakah kamu menganggap semuanya akan baik-baik saja dimakan waktu? Waktu lewat maghrib dengan semua yang sudah kamu dan tuhanmu sepakati. Ambilah jalan masing-masing hati. Kumohon, pulanglah”. Penjelasan semacam itu tidak akan mungkin pernah bisa aku maklumi seumur hidupku, Yasmin.
Tidak akan pernah ada hati yang bisa memutuskan rasa bencinya yang disebabkan cinta-cintanya yang dalam pada seseorang, kecuali hanya alasan yang kamu buat-buat untuk menghindar. Waktu lewat maghrib, sebenarnya aku masih tidak ingin pulang sebelum aku membawa hatimu kembali. Aku masih termenung dengan seribu tanya dikepalaku, “Tuhan, bisakah kita berdiskusi ulang?”. Setidaknya beginilah caraku menghabiskan waktu untuk berdamai denganmu, berdamai dengan masa lalu. Walau habis sudah rasanya tenaga ini untuk bertanya pada Dia yang kamu sebut-sebut pembolak-balik hati itu. Aku mencoba tetap berdamai, setidaknya aku sudah mencoba. Menciptakan jarak abu-abu yang kurasa tak akan pernah berubah biru, padamu. Namun aku akan tetap seperti itu.
Aku akan berada terus di bangku ini setiap waktu, menunggu perdamaian datang bersama lorong waktu. Hingga pada jam empat tepat, seseorang akan mengagetkanku dari belakang punggungku dan berkata, “Hai sayang, coba tebak aku siapa?”. Dialah Andini, wanita yang selalu membawaku kedunia nyata bila aku lagi-lagi terperosok jauh kesana. Wanita yang membuatku merasa tak perlu mati hari ini, setidaknya tak boleh sekarang. “Kita pulang yuk sekarang, aku sudah selesai kuliah ”. Wanita ini akan menawarkan genggaman tangannya padaku, lalu apa dayaku pada wanita yang demikian ini? aku tersenyum dan kuraih genggamannya. Untuk sementara, hatiku terasa baik-baik saja. Walaupun belum sanggup aku menelan nasi ditenggorokan yang penuh jutaan panah ini.
Aku mencoba memahami Andini. Namun ini hati, bukan birahi, Andini. Bisakah kamu memaklumi hati yang sudah begini? Yang manakala kau menangis atau bahagia nanti aku akan iri hati. Tentu saja tidak, wanita mana yang berbesar hati menerima cinta yang sudah tak utuh lagi. Karena itu, aku memilih merancang mimpiku sendiri meskipun waktu meninggalkanku setiap hari. Karena kaumku lemah pada kebesaran hati. Kaumku menyerah pada hati yang tak pernah dendam pada luka yang dipendam, Andini. Kebesaran hati yang tak satupun wanita dapat menggantikan namanya disini, di urat nadi. Bahkan lebih dekat lagi.
Waktu lewat maghrib kala aku melihat senyumnya sekelebat tadi. Bisakah kau lihat itu Andini, dia berhamburan keluar dari dadaku hingga bayangannya sekali-kali tampak berjalan di hadapanku dengan begitu nakalnya menggoda hatiku lagi. Jangan biarkan aku kali ini sadar, Andini. “Waktunya sudah habis, Mas. Aku sudah memberimu waktu lebih dari 10 menit dibanding hari kemarin”. Suaramu begitu kuat ditelinga hingga merambah kesadaranku. Karena aku bukan kekasih yang baik hati bagimu, Andini. Nyatanya, masih belum aku bisa berdamai dengan masa lalu, apalagi dia. Cideranya terlalu dalam padaku hingga senyumku pun ikut terluka.
Yasmin, rambutnya bergelombang panjang, bibirnya penuh dengan kata-kata memanja, begitu banyak jawaban di matanya. Sesaat darahku mengalir lagi, ia berjalan angkuh namun tersenyum padaku. Ternyata dia masih senakal dahulu, “Sampai kapan dirimu bercermin luka, Yasmin?”. Waktuku dan waktunya sama, namun mengapa hanya aku sendiri yang menua. Masih adakah tali penghubung diantara kita, yang mengikat tiap-tiap batas prasangka menjadi sedia kala? Sudah kusibukkan diriku dengan mengingat hatimu kala itu, Yasmin. Tak juga kah kau mampu berpaling hati dari lukamu sendiri?. Ini hati, bukan ladang tragedi, mengapa sakitnya tidak menghilang dimakan hari. Tidak sembuhkah kau bila melihatku tergilas. Terbakar senyuman manusia-manusia disekeliling kita bagai api paling panas. Menyerukan aku dan dirimu sudah seharusnya terlepas karena kita berbeda tuhan. Bisakah kau lihat itu, Yasmin? Dunia sekarang berpihak padamu yang selalu tampak bila sedang terluka batin. Sedang aku, sekali lagi menyibukkan diriku dengan mengingat hatimu kala itu, Yasmin.
Hatiku tertanam di bumi yang kejam ini, di bumi yang dapat kau injak-injak kala aku sudah tidak sanggup menerjang lagi. Ini cinta, bukan jutaan luka. Mengapa perihnya menganga, lebam dalam hingga tak sanggup lagi kurasakan manisnya air gula? Karena yang paling menyakitkan adalah membuat jarak denganmu pada setiap pertemuan, sayangku. Memalingkan wajah, memalingkan guratan rindu padamu. Apakah hidup harus sekejam ini, Yasmin? Tidak satupun kata yang ingin dapat kumengerti darimu kala maghrib itu.
Malam semakin larut dan aku masih bertanya-tanya tentang syairmu, Yasmin. Kau buat seolah cinta berdengung dengan nada, namun hampa di kenyataannya. Merdu menggema namun beribu muka pada saatnya. Ini cintaku padamu, Yasmin. Cinta yang tak akan mungkin pernah kau lihat lagi di seluruh jagat raya. Karena cintaku tempaan rindu, lapisan tak tembus peluru. Yang tercipta karena alasannya tidak perlu kau tau.
Waktu  hampir maghrib, yang kusangka besarnya rindu dapat melunakkan kecewa kala itu, sayangku. Ternyata yang begitu cinta, dapat begitu saja lupa hanya karena mengerti luka. Namun aku bisa apa sayang, semuanya terserah Dia yang maha gila, mempertemukan kita di akhir yang tak bisa dipaksakan bahagia. Kali ini malam gelap gulita seperti tak pernah merindukan apa-apa. Tapi tau kah kau sayang, ada yang diam-diam meratap dalam doa? Dialah laki-laki yang tidak pernah berhenti menyembunyikan kegelisahan diri demi hidup yang kian hari kian menggerogoti hati, yang bila kantuk datang ia sadar bahwa yang demikian terasa hampa adalah rasa kehilangan yang terlambat diucapkan. Laki-laki yang harus tertawa terbahak-bahak dalam hingar-bingar kota dan rengkuhan wanita-wanita muda demi berpaling cinta yang kian hari kian kau hina.
Jangan pernah coba-coba mengungkit hatinya yang di dalam sana, karena ada yang tidak bisa disembuhkan oleh berjalannya bayangan waktu pada derita mencinta. Laki-laki itu aku, sayang. Lihatlah, kau kembali menyapa luka. Menyapa tiap-tiap goresan menjadi semakin cinta. Bisakah kau bunuh saja aku, asal itu kau yang melakukannya. Sedemikian rela. Namun apa artinya kau bunuh aku bila itu tidak mengurangi kebecianmu padaku. Apa gunanya kau bunuh aku bila tidak satupun dapat kau hadirkan rindu-rindu yang begitu indah seperti dahulu, di hatimu. Apa gunanya nyawaku ditanganmu?
Hari-hari Andini penuh bersamaku, namun mengapa hati ini masih tersesat bersamamu? Inikah indah dalam jutaan pilu? Beginikah siksa batin dimatamu waktu itu? Andini merengek meminta hatiku. Namun Andini, mati demi seseorang itu bukan hal mudah. Kamu akan mengerti suatu hari nanti, saat hatimu kian hari kian koyak karena batin yang terus bergejolak diterpa badai lain. Kira-kira begini Andini, sanggupkah kau menerima hati yang tak akan tersenyum bila kau bahagia, sanggupkah kau mencintai hati yang nantinya hanya penuh dengan ribuan tanya pada masa lalunya?
Kurasa tidak ada hati yang sedemikan murninya bila dalam situasi sepekat ini, Andini. Cintamu tidak akan semurni cinta nya padaku. Sanggupkah kau patahkan sayap cintamu demi keyakinanmu? Kurasa kau tidak. Karena hanya dia yang bisa sebodoh itu pada cinta.
Yasminku, sayang? Mengapa kau masih saja bersembunyi dari kenyataan masalalu?
Sekali lagi atau bahkan entah sampai aku mati, pekatnya malam di hingar-bingar kota, nyanyian cinta yang hanya lewat sekelebat mata, wanita-wanita muda yang belum mengerti derita cinta. Dan rasa cinta ini akan selalu mengikutiku sampai kau mengerti, sayang. Bila tidak segalanya dapat bahagia bila bersama orang lain. Aku tak akan pernah bisa bahagia selama aku belum bisa berdamai dengan masalalu, berdamai denganmu, sayang.
Bisakah kau maafkan aku, Yasmin? Maafkanlah aku.
Demi kereta yang kutuntun hanya agar aku dapat menemukanmu di tempat itu. Demi langit maghrib yang kala itu sangat aku benci hanya agar kamu mengerti. Demi cinta-cintaku yang hilang dimakan jarak dan luka agar kamu mengingat kembali betapa hancurnya hatiku kala itu. Demi bulan sucimu yang ternyata sanggup memisahkan kita dulu.
Tidak  bisakah, Yasmin?
Berdalihlah semampumu. Sekuatmu. Namun jangan pernah kamu lupakan pagi itu, Yasmin. Jangan pernah kamu munafikkan. Dikala hatimu bersandar pada hati ini, bercerita manja betapa kamu merindukan meneguk secangkir coklat dipangkuanku. Aku pernah membahagiakanmu. Membiarkanmu bergelayut mesra selepas canda. Kubelai rambutmu dan berkata: Kutunggu kau, Yasmin. Kutunggu kau mengingat hari ini, suatu saat nanti.
Tetapi ternyata apa arti bahagia bila tertutup luka?
Tempat ini semakin mengingatkanku pada gelak tawa dan ceritamu waktu itu, sayang. Tawamu yang menyembuhkan kegelisahan hati dan menyempurnakan indahnya hari. Cahaya di sudut-sudut tempat ini seperti merindukan bayanganmu yang lincah seperti lompatan-lompatan gejolak jiwaku ketika menatapmu waktu itu. Bahkan angin mendatangiku setiap hari dan bertanya, kemana wangi aroma tubuhmu yang lekat lebih dekat dari urat nadi.
Takbir yang menggaungkan nama tuhanmu berkumandang di setiap sudut-sudut pendengaranku. Namun, mengapa hanya suaramu yang dapat kudengar? Ramadhanmu kali ini kamu benar-benar menang. Sumpah mati, Yasmin. Aku merindukanmu walau kini kenyataannya kamu memilih bersama tuhanmu. Bisakah kau mengerti perasaanku yang itu?

Komentar

share!