Wajah Nenek di Lautan Marmara




Karya:  Annisa Ratna Pratiwi


“Ting nong… ting nong…”

“Aku saja yang buka, Ummi.”

Setelah kuputar handle dan daun pintu terbuka, “Assalamu’alaikum…”

Seperti mimpi, namun ini nyata. “Wa’alaikumussalam warahmatullah,” saking bahagianya mataku sampai berkaca-kaca, “Nenek…” kuraih tangannya yang agak keriput itu sembari menciumnya takzim, “Kakek…” begitu pula dengan beliau.



Kakek tersenyum, “Nǐ hǎo ma?[1]

“Hĕn hǎo, xièxie.[2]” Semoga saja nada ucapanku benar. Bahasa Mandarin, salah pengucapan nada bisa jadi beda arti. “Kok nggak bilang-bilang mau datang, nanti kan kita siap-siap jemput. Mari masuk, biar kopernya aku yang bawa.”

“Tadinya mau kasih kabar, tapi ndak boleh sama Nenek.”

“Wah, ceritanya kejutan nih…”

Selang tahun ketiga dari kematian suaminya, nenek menikah lagi dengan pria keturunan China-Jawa itu. Ya, lelaki yang kini bersamanya, kakek Yusuf Ma Dexin. Mereka memutuskan untuk menetap di negeri Tirai Bambu setelah Ummi melahirkan anak pertama, aku. Mereka jarang berkunjung ke Indonesia, namun soal komunikasi kami sering bertukar kabar lewat surat ataupun via internet.

***

Sungguh momen yang sangat berharga sekaligus kesempatan langka, dapat berkumpul menghabiskan detik-detik akhir perjuangan Ramadhan bersama orang-orang tercinta.

Untuk menu tambahan buka puasa nenek akan membuat kue bulan, kue khas China. Sebenarnya aku belum pernah mencicipi rasanya, tapi melihat bahan-bahan yang dipergunakan, sepertinya enak.

“Sudah hatam berapa kali toh, Ra?” seraya mengaduk-aduka donan. Ummi yang sedang mengangkat kue bawang dari minyak panas hanya tersenyum mendengar pertanyaan nenek.

Kumenunduk malu, “Hehe,” perlahan kuberanikan diri menoleh kearahnya, “Belum Nek, baru sampai pertengahan juz 28.”

Tersenyum. Tatapannya begitu hangat. “Ramadhan itu bulan penuh berkah, mbok yo jangan disia-siakan.”

“Iya Nek, insyallah bisa hatam.”

“Sebetulnya ndak hanya sekadar hatam, baca Al Qur’an sambil meresapi maknanya itu lebih utama, Nduk.”

“Mushafku terjemahan kok. Kalau penasaran sama artinya… tinggal ngelirik terjemahan. Tapi seringnya belum begitu paham sama maksudnya, jadi aku tanya Abah, Nek.”

“Ndak apa-apa.”

“Kalau bulan puasa rasanya beda yah, Nek. Suasananya kayak adem ayem gimana… gitu. Eh, gak kerasa sebentar lagi mau selesai.”

“Itu istimewanya. Ramadhan yo bulan pilihan, bulan di mana diturunkannya Al Qur’an, semua pintu surga dibuka, semua pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu. Nenek ndak tahu bisa bertemu Ramadhan lagi atau ndak. Nanti kalau memang waktu Nenek ndak sampai yo ndak apa-apa. Bisa menikmati yang sekarang saja Nenek sudah senang, apalagi bisa dipertemukan denganmu, Nduk.”

***

Hmmh, keindahan laut Marmara yang membiru kini mulai terbiaskan cahaya jingga. Berdiri di jembatan Galata ditemani belaian angin yang berhembus, sapaan burung camar yang beterbangan serta pemandangan gedung-gedung bersejarah di Old City rupanya cukup menghibur, melepas penat yang entah mengapa ia datang tanpa diminta kehadirannya.

Kini wajahnya memenuhi lautan. Ya, nampak begitu jelas menghiasi soreku di sini.

Nenek. Sungguh, bersamamu adalah kenangan terindahku. Takdir Tuhan terlalu agung untuk dipertanyakan, namun sang waktulah yang Ia perkenankan mengungkap segala rahasia-Nya. Dan nampaknya kata-kata itu adalah isyarat akan kepergianmu enam tahun silam.

***

Nyanyian rindu. Perbedaan ruang dan waktu kerap kali menghadirkan lagu itu. Liriknya begitu dramatis. Kalbu ini berdenyut tak beraturan dibuatnya. Jiwa pun seakan ingin berteriak, memanggil pujaan nan jauh di sana.

Rasanya baru kemarin burung besi membawaku terbang menuju negeri impian. Kali pertama kurasakan nikmatnya berada di udara, memandang keindahan negeri nenek moyang dari ketinggian. Subhanallah. Namun itu hanya sebentar karena beberapa menit kemudian yang ada hanyalah pesona gumpalan-gumpalan putih, mengingatkanku sedang berada di atas awan.

Kucoba tuk memejamkan mata seraya menarik napas dalam-dalam, lalu kuhembuskan ke udara. Sedikit lebih ringan. Terpaan angin melambai-lambaikan jilbab bergo hijau muda yang kukenakan.

***

Padahal hari sudah semakin sore, tapi para pemancing yang bertengger di atas jembatan dua tingkat yang mengagumkan ini seolah tak mau bergeser sedikit pun. Begitu pula dengan lautan Marmara, masih saja disibukkan dengan pemandangan aktivitas kapal yang hilir mudik.

Seseorang menepuk pundakku dari belakang, “Rara!” ternyata Aisyah, “Dicari kemana-mana juga… eh, ada di sini.”

“Lagi iseng. Barang kali aja ada camar yang mau bawa aku pulang.”

“Ehem!! Camar apa camer...” Novi sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya.

Aisyah senyam-senyum.“Camer kali tuh,” ia memainkan sebelah alisnya.

Mulutku membulat.

“Baru tahun pertama juga, ngomongnya yang kayak begituan!”

“Nih Ra,” Novi sodorkan sebuah ponsel, “Punyamu.”

“Loh, bisanya sama kamu?”

“Tadi kan nitip. Lupa yah Neng?”

“Cuma gak ingat doang, Non.” Aku tersenyum malu

“Sama saja. Balik ke asrama yuk Ra, Nov. Sudah sore.”

“Siap-siap buat shalat tarawih deh. Iya gak Ra?” Novi mengkerlingku.

“He-eh. Di Blue Mosque.”

Sejak dua hari yang lalu Novi senang membayangkan shalat tarawih pertamanya di tempat itu.

Masjid yang dibangun pada masa pemerintahan Sultanahmet I sekitar tahun 1609-1616 oleh arsitek Mehmet Aga ini jika dilihat dari luar halamannya memang berwarna kuning, namun saat masuk ke dalamnya pengunjung pasti terpesona dengan keindahan interior masjid yang berwarna kebiruan. Nama Blue Mosuqe diberikan karena interior mesjid ini disusun oleh ribuan keramik iznik berwarna biru. Pada malam hari mesjid ini terlihat lebih indah dari kejauhan, lampu-lampu sekitar menjadikannya berwarna keemasan. Subhanallah.

“Semoga semua yang udah kita rancang di jadwal kegiatan Ramadhan bisa terlaksana dengan baik, yah.” Aisyah tersenyum.

“Amiin.” Jawabku dan Novi serempak.

***

Ramadhan bulan suci dan agung, tetapi tidak bisa menyucikan manusia, kecuali jika kita mau menyucikan diri dengan ibadah dan taqwa kepada-Nya. Memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, berusaha agar puasa kita tidak sia-sia.

Seperti pesan almaghfurlah nenek, “Ra, banyak orang yang menjalankan puasa tapi mereka ndak mendapatkan apa-apa kecuali haus dan lapar. Mereka berbuat tapi ndak didasari pemahaman terhadap hikmahnya. Kemuliaan dan kebesaran Ramadhan yo diperuntukkan bagi yang memanfaatkannya untuk meningkatkan kualitas keikhlasan, pendekatan diri dengan Gusti Allah, kesungguhan dalam melaksanakan perintah dan menjauhkan segala apa yang dilarang-Nya, Nduk.”

Kata-kata Abah pun masih tersimpan dalam memoriku, “Anak-anakku... buat Ummi juga nih, Abah mau sedikit berbagi. Didengar baik-baik ya...” kala itu kami mengangguk, “Iya, Abah...” kemudian beliau melanjutkan nasihatnya, “Seorang mukmin itu siap mengorbankan apa yang dicintai demi Allah, siap menahan melakukan apapun meski ia sangat menginginkannya kalau Allah memerintahkan meninggalkannya. Inilah ibadah yang hakiki, melaksanakan perintah dan meninggalkan yang dilarang. Ibadah kepada Allah bukan pada bulan Ramadhan saja, tetapi Allah mengetahuibahwa iman manusia sangat fluktuatif, naik turun tidak menentu, maka dari itu Allah merahmati manusia dengan adanya musim peningkatan ibadah. Semua muslimin dalam nuansa ibadah yang sama, sehingga puasa, shadaqah dan ibadah lainnya menjadi hal yang dinikmati kemudian dapat dilakukan sepanjang tahun.”

Pada malam-malam ganjil terakhir di bulan suci Abah biasa mengajak keluarganya mendirikan qiyamul lail bersama, dilanjutkan dengan siraman rohani dan setelah itu kami menikmati santap sahur.

Begitulah, puasa adalah simbol kesiapan untuk meninggalkan apa yang paling disukai oleh nafsu demi mencari keridhaan Allah swt.

Ramadhan, oh Ramadhan, kami akan terus berusaha melakukan yang terbaik dan tidak menyia-nyiakanmu. Karena kami tak tahu sampai kapan Ia memberi kesempatan berjumpa denganmu.

Komentar

share!