Virus Era




Karya:  Badai Waramang


“ Sepuluh hari terakhir di bulan penuh nikmat ini akan berakhir. Hari demi hari mulai terasa, rasa yang dulu sering singgah. Rasa yang hanya satu kali dalam setahun dapat dirasakan. Setiap umat manusia di muka bumi bertarung dengan monster yang ada dalam diri mereka selama tiga puluh hari. Tidak ada istirahat untuk melawannya. Semua ini dilakukan untuk mengembalikan jiwa suci dari kegelapan dunia yang telah lama mengotori jiwa. Jiwa untuk menyambut hari kemenangan dimana dihapuskan segala jenis dosa oleh Sang Maha Kuasa. Rasa diguyur oleh kemenangan yang dinanti-nanti mewarnai hari Raya Idul Fitri. Tapi, rasa ini mulai sirna ditelan oleh kelalaian dari kenikmatan yang disuguhkan oleh dunia. Mereka menghasut umat manusia dengan segala jenis tipu daya, seakan menghipnotis mata umat manusia untuk melupakan darimana asal mereka dan siapa Pencipta mereka. Bahkan anak-anak pada era ini, tidak lagi mencari monster dibawah ranjang mereka, karena mereka menyadari, monster yang selama ini mereka takutkan tidak berada dibawah ranjang melainkan bersemayam di dalam diri mereka. Hanya orang-orang yang dapat bertahan dalam masa pengujian selama tiga puluh hari inilah yang akan menjadi jiwa suci penghuni Syurga. Kemajuan zaman dan berkembangnya teknologi tidak lagi bertujuan untuk menyelamatkan umat manusia dari kegelapan dunia, melainkan untuk memuaskan monster didalam diri mereka dan menenggelamkan mereka menuju palung kelalaian yang amat dalam. ”

 
Inilah bunyi secarik kertas kusam yang aku temukan dari peta harta  dalam buku misterius di rak buku tua keluargaku. Kertas kusam ditelan usia dengan corak tinta yang mulai kabur membuatku bertanya-tanya “siapa penulisnya ? dan apa maksud dari catatan ini?“.
Dikala itu, awan gelap  menyelimuti langit senja di desaku. Desa yang dikelilingi oleh pegunungan berbentuk tapal kuda, membuat daerah tempat aku tinggal jauh dari peradaban perkotaan. Tidak lama setalah itu hujan pun mulai turun mewarnai sunyinya sore dengan bunyi khas yang mendamaikan hati. Dan suasana seperti inilah yang membuatku sulit untuk memejamkan mata layaknya manusia pada umumnya. Rasa bosan yang terus terngiang di telinga membuatku mulai mencari sesuatu untuk menghibur diri. Sebenarnya rumah ini adalah rumah nenekku, nenek Marta biasa aku memanggilnya. Ini merupakan kali pertamaku menghabiskan sepuluh hari terakhir ramadhan di rumah nenek Marta. Rumah dengan eksterior kastil kuno zaman penjajahan belanda memberikan efek misterius tersendiri pada rumah ini. Di setiap ruangannya pun masih tertata rapi benda-benda kuno yang sudah jarang ditemui pada era sekarang. Hal ini lah yang membuatku penasaran untuk menelusuri rumah ini. Aku pun mulai menelusuri ruang utama dalam rumah ini yaitu ruang dimana aku berada. Dari sofa tua tempatku duduk terlihat nenek Marta yang sedang merajut di kursi goyangnya di depan perapian. Disaat aku mulai bergerak, aroma kayu jati dari sofa itu mulai keluar menutupi penciumanku. Lalu akupun mulai berjalan melewati pintu disebelah kananku menuju sayap kanan rumah ini. Dan mulai terlihat pintu menjulang tinggi yang menghubungkan rumah ini dengan dunia luar. Suara gemuruh dan petir dari luar hampir membuatku mengurungkan niatku. Tapi rasa ingin tahu yang  besar seakan mendorongku untuk terus maju. Akupun mulai meraba-raba dinding yang ada di samping kiriku untuk menuntunku melangkah maju. Langkah demi langkah semakin meyakinkanku bahwa akan ada hal menarik di depan sana. Disaat sedang meraba dinding papan kayu yang tersusun rapi, hembusan angin terasa dari sela papan kayu itu, berjalan melalui jemariku.
“Mungkinkah dinding ini berlubang?”pikirku sambil mengintip disela itu.
“Gelap sekali? Seperti ada ruangan dibalik dinding ini. Tapi, bagaimana cara masuknya?”ujarku keheranan.
Dengan teliti aku mulai meraba permukaan dinding itu. Dari permukaan yang paling atas menuju permukaan paling bawah. Keganjalan mulai terasa saat mencapai pertengahan papan. Setinggi lutut orang dewasa. Permukaan yang agak masuk ke dalam dari permukaan yang lain. Lalu secara spontan pun ku tekan kedalam. Dan…
“Pintu geser ?”pikirku dalam hati terkejut dengan terus menggeser pintu itu. Sontak aku terkejut, angin kencang dari dalam ruangan itu menampar wajahku seketika.
Hembusan angin dari luar seperti mulai menuntunku untuk terus masuk kedalam. Terowongan ini cukup sempit untuk ukuran anak remaja sepertiku, jadi aku memasukkinya dengan merangkak layaknya kucing melewati gorong-gorong. Kegelapan sekitar membuatku buta akan jalan di depanku. Hanya dinding bebatuan hitam dan lembab yang dapat menuntunku terus maju mencapai ujung dari terowongan ini. Setelah sampai ujung terowongan, aku hanya menemukan pintu dari kayu mahoni berukirkan tulisan seperti bahasa inggris yang cukup sulit aku mengerti maknanya. Dan disaat aku mencoba untuk membukanya, pintu itu terkunci.
“ Rudiii… Rud… dimana kamu nak ? sudah maghrib nak” suara Ibuku memanggilku dari lantai satu.
“Iya bu, Rudi kesana sekarang. “sahutku seraya mulai melangkah mundur.
Semua anggota keluargaku, ayah, ibu, kakak, nenek dan Murti, anak tetangga sebelah, sudah ada di ruang makan, mengisi kursi yang ada di sana. Setelah lama tidak bertemu, dia hanya menebar senyuman di kala mata kami bertemu. Aku akui Marta cukup manis dengan penampilannya yang tomboy dan kuncir kudanya. Tapi sayangnya dia agak aneh. Sejak masuk SMP sekarang ini, kami mulai jarang bertemu karena aku bersekolah dikota. Dia sering bercerita padaku tentang sejarah kuno desa ini, mitos-mitos aneh dan misteri-misteri tersembunyi yang ia temukan.
“Darimana saja kamu Rudi?” Tanya ibu penasaran sambil mulai mengambilkan secangkir susu coklat hangat sebagai pembuka buka puasa.
“Cuma muter-muter sebentar bu.” jawabku sambil mendekati kursi paling pojok dan bersampingan dengan milik Murti.
“Apa kamu sedang mencari sesuatu?”bisiknya tiba-tiba padaku
Saat akan menjawab pertanyaannya, perhatianku sempat teralihkan oleh kursi meja makan yang dia duduki. Di kayu papan yang biasa digunakan untuk sandaran terdapat nama yang sangat asing di memoriku.
“Marry?”pikirku dalam hati.
“Mari kita mulai buka puasanya”kata Ayah membuyarkan konsentrasiku.
Setelah berbuka puasa aku pun mulai mengelilingi meja untuk memeriksa kursi tersebut satu per satu. Anehnya setiap kursi yang di duduki oleh anggota keluargaku memiliki nama-nama yang berbeda. Di kursi terakhir Murti telah menantiku, duduk dikursi itu dengan posisi menghadap kebelakang.
“Sudah aku duga kamu sedang mencari sesuatu.”Tebaknya sok tau.
“Apa kau sedang tidak ada kerjaan ?”jawabku untuk menjauhkannya dari kursi itu.
“Kalau kamu sedang mencari harta karun, aku tau kemana harus mencarinya”kata Murti dengan nada yang misterius.
“Apa maksudmu?”jawabku mencoba menutupi sesuatu yang sudah kutemukan.
Dia menatap kedua bola mataku dengan dalam seperti hendak mencari sesuatu disana.
“Nenek Marta pernah berkata padaku, jika kamu mencari harta maka peta yang akan menuntunmu kesana”jawabnya dengan memandang rak buku disamping perapian tempat nenek Marta biasa merajut.
Disaat aku mulai melangkah mendekati rak buku itu, Murti menghentikanku.
“Jika kamu mau mencarinya, kamu harus mengajakku.”katanya sambil menyilangkan tangannya.
“Kenapa aku harus mengajakmu Tuan Putri?”ejekku untuk menciutkan semangatnya yang selangit itu.
“A.. a.. apa maksudmu?Tentu saja aku harus ikut. Karena hanya aku yang tau dimana peta harta itu. Sudahlah, sebaiknya kita cepat mulai mencari.” ujarnya gugup setelah memutar badannya kedepan.
“Sebaiknya kita mencari peta itu nanti saja. Karena masih ada waktu maghrib dan Isyak. Dan aku masih perlu memikirkan sesuatu yang masih membuatku bingung.”kataku sambil menarik tangannya untuk kembali.
Setelah selesai sholat Terawih, aku mulai mengumpulkan pazzel dari teka-teki misteri tempat ini. Dimulai dari eksterior rumah kuno, ruang rahasia yang hanya ada satu pintu kayu berukir tulisan seperti bahasa inggris yang tidak kumengerti maknanya, pintu yang terkunci tanpa kunci, dan kursi dengan nama-nama yang tidak kuketahui siapa mereka.
“Kursi milikku ada nama Rudolf, Milik ayah… Kane, miliki ibu… Jack, milik kakak… Seth, milik nenek Marta… Beth dan milikmu Murti… Marry. Apa kau kenal dengan nama-nama ini ?”ujarku sambil memutari meja makan itu.
“Emmmmm… Sepertinya aku pernah tau nama-nama mereka, tapi dimana ya?Ooo… ikuti aku.” Sontak dia langsung menarik tanganku menuju rak yang ada di samping perapian.
Tanpa permisi atau mengatakan sesuatu dia langsung naik ke pundakku dan mulai mencari sesuatu dibalik buku-buku tua yang berbaris di rak buku besar ini.
“Aaaa…. Ini dia?”kata Murti sambil meloncat turun.
“Aduh, sakit punggungku. Kamu bertambah berat.”erangku kesakitan.
“Hmmmm…”jawabnya seraya melihatku seakan mau marah.
“E…. sebenarnya apa yang sedang kamu cari?”jawabku mencoba mengelak.
“Lihatlah ini… karena aku sering kesini menemani nenek Marta, aku sering membaca buku-buku yang cukup kuno disini. Mulai dari mitos hingga sejarah desa ini. Semuuuuua, sudah pernah kubaca. Dan yang paling aneh menurutku adalah buku ini.”jelas Murti padaku sambil memberikan sebuah buku yang tidak biasa.
Buku ini memiliki sampul yang agak tebal berwarna merah gelap dengan hiasan seperti akar yang merambati kovernya berwarna perak. Saat aku buka mulai tercium aroma kertas tua dan debu berterbangan memenuhi muka kami. Di setiap lembarnya terdapat tulisan tegak bersambung yang ditulis menggunakan tinta hitam.
Hari ini kami menemukan terowongan rahasia dirumah ini, Jack dan Rudolf lah yang menemukannya pertama kali. Lorong sempit yang hanya cukup bagi kami. Ujung dari terowongan itu, terdapat ruang berukuran 4x4 meter. Ruangan yang cukup luas unutk tempat bermain kami. Aku dan  Seth mencoba untuk membersihkan tempat ini. Marry bertugas menghias tempat ini, sedangkan Jack, Kane dan Rudolf mengangkat meja lipat yang ada di markas kami sebelumnya ke tempat ini. Meraka juga membuat rak buku kecil yang tebuat dari kayu bekas untuk meletakkan buku-buku koleksi kami.
“Ini buku diary.”kataku menjelaskan pada Murti.
“Ya… aku juga berfikir seperti itu saat membaca buku ini”kata Murti menaggapi.
“Dan nama-nama yang ada pada kursi diruang makan adalah orang-orang yang ada di buku ini.”tambahku.
“Bagaimana dengan terowongan dan markas yang dimaksud di sini? Mereka juga menggambar peta untuk masuk kesana.”Tanya murni keheranan.
“Aku kemarin menemukan terowongan itu. Terowongan itu ada di dalam rumah ini. Semuanya sama dengan yang ada di buku diary ini.”jawabku menjelaskan apa yang sudah aku temukan.
“Lalu apa lagi yang kita tunggu? Ingat… Harta itu tidak sedang menanti kita.” Kata Murti sambil menarik tanganku.
“Tapi ada sesuatu yang berbeda di sini. Terowongan yang aku temukan kemarin di hadang oleh pintu yang cukup kokoh. Dan pintu itu terkunci. Aku belum menemukan petunujuk sama sekali tentang keberadaan kuncinya. Sementara buku diary ini tidak menjelaskan tentang kunci sama sekali. Hampir semua lembarnya menjelaskan kegiatan yang mereka lakukan di dalam sana. Ruang ini seperti sengaja dikunci.”jelasku pada Murti
Kami menemui jalan buntu. Berkali-kali coba kami putar otak tetap berakhir pada buku ini. Jika dilihat dari nama-nama yang ada pada kursi di ruang makan, pemilik buku ini adalah Beth. Beth menulis semua yang telah mereka lakukan dalam kamar itu tanpa membahas tentang pintu ataupun kunci. Dan yang masih menjadi misteri adalah tulisan seperti bahasa inggris kuno yang tertulis di daun pintu di terowongan itu mungkin itu petunjuk.
“Mungkin ada satu petunjuk lagi yang kita lewatkan.”kataku sambil membuka setiap lembaran diary ini. Dan lembaran terakhir terdapat bekas satu lembar yang tersobek. Di bekas sobekkan itu tertinggal nama Beth….  Bethavia…
Dengan rasa penasaran yang serasa akan meledak, aku menarik tangan Murti dan muai berlari menuju terowongan itu lagi. Tinggal sedikit lagi… Semua ini akan terungkap… tinggal sedikit lagi…. Hal itu terus terngiang dalam benakku. Tulisan aneh yang terukir di pintu itu mungkin suatu petunjuk. Terowongan yang tadinya terasa panjang, seperti diperpendek. Hanya terasa beberapa detik saja untuk melewatinya. Hingga sampailah kami pada petunjuk terakhir. Di saat mataku tertegun pada petunjuk terakhir kami, pintu kayu kokoh yang menghadang kami seperti berkata “Hentikan langkah kalian… Permainan cukup sampai di sini.”…
“ Alle herinneringen voor altijd begraven worden in het geheugen dat in de toekomst van het virus tijdperk zal herinneren, die fungeert al seen herinnering sleutel tot de toekomst “ ucap Murti dengan bahasa yang sulit aku mengerti.
“Kamu bisa membaca kalimat itu ?”tanyaku pada Murti takjub.
“Ya… seperti itu tadi bunyinya. Ini bukan bahasa Inggris aneh, ini Dutch.”jawabnya bertele-tele.
“Apalah itu… Apa kamu bisa mengartikannya?”
“Ya… akan kucoba… Semua kenangan akan selamanya terkubur dalam memori yang akan mengingatkan masa depan tentang virus era, Memori yang berperan sebagai kunci masa depan“ ucap Murti mencoba mengartikan tulisan pada pintu kayu itu.
“Apa benar seperti itu? Virus era ? aku masih belum memahaminya.”jawabku kebingungan.
“Kalau kamu tidak percaya, coba saja artikan sendiri.”jawab Murti sebal.
“Tapi tunggu dulu… mungkin ini sejenis petunjuk. Pada kalimat ini menyebutkan kunci… Memory yang berperan sebagai kunci….. kurasa aku tahu dimana kunci yang kita perlukan untuk membuka pintu ini.”kataku mencoba mencari jawaban dari pazzel terakhir.
“Maksudmu kita membutuhkan memori card untuk membuka pintu ini?”jawabnya dengan menuding pintu dihadapan kami.
“Bukan begitu tuan putri… memori yang dimaksud dalam buku ini bukan mengacu pada memori card, foto atau semacamnya. Hal ini lebih ke alat untuk menyimpan dan mengingatkan pada sesuatu. Dan yang sering orang lain lakukan untuk mengingat sesuatu adalah… mencatatnya” jelasku pada Murti yang tersipu malu seraya aku membuka kover tebal buku diary itu. Dan dugaanku benar terdapat kunci dengan ukiran yang indah berwarna emas seukuran jari telunjuk tersimpan di dalamnya.
“Dengan ini pintu penjaga teka teki misteri akan terbuka.”kataku sambil membuka pintu kayu itu.
Kreeeeeek… bunyi engsel yang mulai berkarat seakan meraung kesakitan karena lama tidak dibuka. Seberkas cahaya pun menyilaukan pandangan kami. setelah selang beberapa detik pandangan kami mulai jelas kembali. Semua yang kami lihat pada kamar berukuran 4x4 itu masih sama dengan yang kami baca dalam buku diary. Dan yang menarik perharian kami adalah pigura yang berisi selembar kertas yang tersimpan baik dibalik kaca pelindung pigura.
Dan disini lah kami, dengan selembar tulisan tangan yang menjabarkan tentang kegelapan dunia dan monster yang ada dalam diri manusia.
“Kertas ini seperti dirobek dari bukunya.”kata Murti.
 Lalu aku pun mulai ingat dengan robekan kertas yang ada pada bagian akhir diary Bethavia. Dan setelah aku padukan… Cocok. Ini adalah bagian yang hilang dari diary Bethavia.
“Lalu apa maksud dari semua ini?”tanyaku kebingungan.
“Mungkin sebaiknya kita tanyakan pada pemiliknya?”jawab Murti sambil menunjuk nama yang berada dipojok kertas tersebut. Bethavia Marta atau lebih kita kenal nenek Marta.
Kamipun bergegas kembali untuk menanyakan apa maksud dibalik teka-teki misteri ini. Dan yang dilakukan nenek Marta saat kami bertanya adalah tertawa. Dengan matanya yang sudah mulai sayup dan kulit pipi yang sudah keriput, dia tertawa bahagia seakan melepas beban berat yang selama ini dipikulnya.
“Akhirnya pesan ini tersampaikan juga Mary…. Jack… Pesan kalian telah sampai ke masa depan, seperti yang kita inginkan. Sekarang kalian bisa beristirahat dengan tenang. Mungkin kalian heran maksud dari catatan ini. Catatan ini kami semua yang membuat di kala musuh terbesar manusia, hawa nafsu dan ilmu pengetahuan mulai berkembang. Sekitar sembilan puluh tahun yang lalu, kami yang masih anak-anak, masih sering berkumpul untuk menikmati hari kemenangan setelah tiga puluh hari kami berperang dengan hawa nafsu yang ada pada diri kita. Kami mencatat pesan yang kami peroleh dari sebuah buku kuno koleksi kami. Catatan sebagai pengingat masa depan bahwa setiap godaan yang berada diluar tidak lagi menggoda dari luar melainkan berada dalam diri kita. Sifat manusia yang tidak pernah puas membuat satu per satu dari kami hilang. Hilang untuk mencari sesuatu yang membuat mereka selalu tergiur akan keberadaannya dan tenggelam dalam kesibukan dunia. Kehangat yang selama ini kami rasakan, rasa yang hanya setahun sekali dirasakan telah terkikis sedikit demi sedikit. Seperti tubuh yang tergerogoti oleh virus, Virus Era. Dan setelah lama hilang, rasa itu mulai muncul kembali.”jelas nenek Marta sambil tersenyum melihat kami.

Komentar

share!