UNEXPECTED RAMADHAN..




Karya:  Lina Sami’atul Hidayah

Hyo Hwa kembali menyeka keringat yang jatuh di pelipisnya, ia mendesah pelan melihat langit yang amat cerah kala itu. Kain selebar satu setengah meter kelabu yang menjuntai melindungi kepalanya itu melambai-lambai terhembus angin musim panas. Juni ini menempati masa di mana para manusia menikmati libur musim panas yang panjang. Berpergian ke pantai bersama keluarga atau kekasih.


Hyo Hwa melirik jam tangannya. Pukul tiga sore, itu artinya masih enam jam tiga puluh menit lagi adzan maghrib di masjid Central Seoul, satu-satunya masjid yang berdiri kokoh di daerah Itaewon, Seoul. Hari ini ia sudah berjanji pada Hwa Ram—saudara sepupunya— untuk ikut membagikan makanan ringan setelah berbuka puasa di masjid dan jadilah ia mengitari pasar, membawa dua plastik besar penuh berisi kentang, perisa makanan rasa barbeque, tepung terigu, gula pasir, ragi, bubuk kayu manis, serta biji wijen yang banyak.
Langkahnya terhenti ketika melihat seorang paman yang tengah menjual kacang-kacangan. Ia berbelok dan menaruh plastik di sisi kakinya, melihat-lihat jenis kacang apa saja yang diperdagangkan.
Senyum merekah di kedua sudut bibir Hyo Hwa. “Ahjusshi[1], tolong kacang tanah dua kilogram.” pintanya.
“Banyak sekali, nona. Apakah ada pesta di rumah anda?” tanya paman itu seraya memasukkan kacang tanah ke dalam plastik bening, lalu menimbangnya.
Animnida[2]. Saya akan membuat Hoddeok sebagai cemilan di masjid.” Jawabnya halus sambil menerima bungkusan kacang tanah lantas memasukkannya ke dalam plastik besarnya.
“Eolmamnikka[3], Ahjusshi?” lanjut Hyo Hwa mengeluarkan dompet putihnya.
4500, nona. Jadi, anda seorang Muslim? Kalau tidak salah ini adalah Ramadhan, ‘kan?” paman itu menerima beberapa lembar uang dari Hyo Hwa yang membalasnya dengan mengangguk semangat.
“Boleh saya sedikit mengenal islam dari anda, nona? Saya tertarik dengan agama tersebut. Sekitar lima belas menit mungkin,” lajutnya seraya sibuk menghitung uang kembalian, rasanya sedikit mengajak wanita berusia dua puluh lima tahun itu berbincang rasanya tak apa, pikirnya.
Sungguh dada Hyo Hwa bergemuruh, perutnya terasa penuh akan kupu-kupu yang berterbangan. Manik matanya menatap lega pada seorang paman penjual kacang yang baru beberapa detik ia temui itu, seorang yang berkisar empat puluh tahunan itu insyaallah akan kembali.
“Tentu saja, Ahjusshi.” Wanita itu masih tersenyum. Ia duduk di sebuah kursi yang disediakan paman tersebut lalu mereka mulai berbincang hingga lima belas menit saja rasanya amat kurang untuk berbincang, sehingga mereka menghabiskan sekitar setengah jam.
***
Hwa Ram terus mondar-mandir di depan tenda masak di bagian belakang masjid, banyak ibu-ibu di sana yang tengah sibuk memasak berbagai macam hidangan untuk berbuka puasa dalam jumlah besar. Ia sendiri tengah menunggu Hyo Hwa yang tak segera kembali dari pasar.
“Argh, seberapa jauhnya pasar dengan masjid sih? Awas saja kau, Hyo!” gerutu wanita dua puluh delapan tahun itu dengan menhentak-hentakkan kakinya.
“Eonni![4] teriak Hyo Hwa dari kejauhan, larinya terlihat lucu karena membawa dua kantong besar. Sesaat sampai di depan Hwa Ram, ia menyerahkan semua belanjaannya, lalu tangannya bertumpu pada kedua lutut, napasnya putus-putus dan pendek.
Hwa Ram masih dengan tatapan mengintimidasi meninggalkan Hyo Hwa, menaruh dua kantong besar di atas meja kemudian mengeluarkan beragam bahan untuk membuat Hweori Gamja dan Hoddeok.
“Eonni, mianhae… jeongmal mianhae[5], tadi ahjusshi penjual kacang itu mengajakku berbincang. Jadi aku tak salah, ‘kan?” Hyo Hwa ikut menata bahan-bahan tersebut, memasukkan biji wijen ke dalam wadah baskom.
Hyo Hwa melirik Hwa Ram yang masih diam, sibuk dengan dunianya sendiri. Wanita berhijab kelabu itu memajukan bibirnya, sebal sekali.
Okay, sekarang kau bawa kacang ini ke sana, giling kasar. Aku akan membuat adonannya,” Hwa Ram sudah menyisingkan lengan bajunya sampai siku ketika ia menunjukkan mesin giling di sudut kanan mereka. Tangannya mulai memasukkan tepung terigu dan lainnya kecuali bubuk kayu manis, kacang, serta biji wijen yang akan digunakan sebagai isi.
Hyo Hwa sudah tak cemberut lagi, hatinya sudah kembali dipenuhi pelangi. Hwa Ram menggelengkan kepalanya yang juga dibalut hijab berwarna kelabu. Adik sepupunya itu mudah berubah suansana hatinya.
Hyo Hwa terus bersenandung ria membawa sebaskom besar kacang tanah, meletakkan di sisi mesin giling. “Life couldn’t get better… Uuu yeyeye~ Life couldn’t get better~,” Hyo Hwa mengangguk-anggukan kepalanya seiring dengan lagu yang ia nyanyikan.
 Lagu dengan judul Miracle milik Super Junior, boyband favoritnya sejak lima tahun yang lalu, bahkan sekarang ia terdaftar sebagai ELF[6] resmi. Suatu kebanggaan tersendiri untuk dirinya. Dan untungnya sang suami tak mempermasalahkan.
Selang setengah jam ia terus berdiri di depan mesin penggiling, wanita itu kembali ke sisi Hwa Ram yang pun telah rampung dan sedang menutup adonannya dengan kain besar, menunggunya hingga berkembang dua kali lipat. “Sudah selesai, tinggal mencampurkan bahan isinya, ‘kan?”
Hwa Ram mengangguk. “Kalau begitu, ayo shalat ashar dan setelahnya jangan berharap kau berhasil kabur. Kau harus memperbaiki bacaan tilawahmu, aku tak mau dengar omelan suamimu.”
“Tapi, Eonni—,” Hyo Hwa langsung bungkam begitu melihat Hwa Ram yang meninggalkannya masuk masjid. Ia mendesah pelan, bibirnya mengerucut dan mulai mencampurkan bahan isi Hoddeok.
Sepuluh menit setelahnya…..
“Hyo-ya![7]” seru Hwa Ram dengan langkah cepat menghampiri Hyo Hwa yang sedang mengupas kulit kentang. “Kau tak shalat ashar dan membatalkan puasamu di pojokan masjid?”
Hyo Hwa mengernyit terganggu dengan nada bicara Hwa Ram, “Jangan marah, ini bulan puasa.” Ucapnya kalem, tak mau membangun emosi.
“Aku sedang udzhur. Sudah tiga hari. Aku cuma mau mencium bau perisa makanan untuk Hweori Gamja, ternyata enak.” lanjutnya dengan mengangkat tiga jari kanannya di depan wajah Hwa Ram dan nyengir.
Wajah kakak sepupunya memerah malu, menuduh adiknya batal puasa. “Mianhae.. kukira semangat ramadhanmu runtuh.”
“Ck, lagipula mana mungkin aku makan di tempat terbuka seperti ini? Aku bisa dicap buruk. Tapi, Eonni.. ramadhan ini terasa sangat panas, ya? Apalagi kalau lihat anak kecil yang berebut ice cream, soft drink— Astaghfirullah! Mianhae, aku kelepasan,”
Hwa Ram tak menanggapi lebih lanjut, ia membuka adonan yang sudah mengembang dan melanjutkan pekerjaannya, mengisi dengan campuran gula merah, bubuk kayu manis, biji wijen dan kacang cincang. Sedang Hyo Hwa yang sebelumnya menatap penuh sesal pada kakak sepupunya kini beralih mencuci kentang dan membawanya untuk dibuat menjadi bentuk spiral panjang dengan mesin khusus.
Hoddeok dan Hweori Gamja adalah jajanan khas Korea. Hoddeok sendiri adalah sejenis pancake khas Korea yang berisi gula, kacang tanah atau isian yang manis. Banyak dijual saat musim dingin dan memiliki rasa manis. Sedangkan Hweori Gamja atau Kentang Tornado merupakan kripik kentang yang dibentuk spiral panjang dan ditusuk dengan lidi lalu dibubuhkan dengan bumbu bubuk seperti manis, pedas, keju, atau bawang. Hyo Hwa sendiri ingin menggantinya dengan rasa barbeque, lebih internasional menurutnya.
***
Malam itu setelah dilaksanakannya shalat maghrib dan berbuka puasa, Hyo Hwa, Hwa Ram dan beberapa panitia masjid langsung menuju tangga paling bawah masjid, membangun tenda kecil dan menata jajanan yang mereka buat. Seratus Heddeok dan Hweori Gamja telah tersedia di sana, juga terdapat Teokbokki, Bungeoppang, Kkultarae yang dibuat oleh panitia lainnya. Banyak anak kecil keluar dari masjid, mengerubungi mereka untuk mendapatkan jajanan.
“Oh! Hyunnie manis, kau mau yang mana? Pilihlah yang kau suka.” Hwa Ram mengangkat tubuh bocah kecil laki-laki berusia empat tahunan, membantunya memilih jajanan yang beraneka ragam.
“Hyunnie mau tteokbokki sama bungeoppang, Noona[8].” tunjuknya.
 “Baiklah. Ini dia, satu cup tteokbokki dan satu bungeoppang untuk Hyunnie yang manis. Ucapkan apa setelah diberi sesuatu?” tanya Hwa Ram yang telah mensejajarkan tubuhnya dengan bocah kecil itu.
Hyunnie mendekap jajanannya. “Gamsahamnida,[9] Noona. Saranghaeyo.”
Satu kecupan di pipi Hwa Ram ditinggalkan Hyunnie yang langsung berlari menjauh, mendekati ibunya.
“Ehem, dapat pernyataan cinta dan ciuman di malam ramadhan, bukankah itu keren?” goda Hyo Hwa yang sekilas melirik kakak sepupunya.
Hwa Ram tertawa. “Salahkan wajahku yang cantik ini.” Ia terkekeh.
Hyo Hwa menggerutu, acara menggoda sepupunya itu gagal.
***
Jong Woon terus mengintip dari balik pohon, meneguk air liurnya saat melihat berbagai jajanan gratis di depan bangunan besar itu, bangunan ibadah yang pernah dikatakan ibunya saat ia bertanya dulu.
Tanpa sadar ia telah berdiri tak jauh dari sana, agak mengendap bersembunyi, tangan kanan mungilnya menyentuh dan mengusap perut kosongnya. Bocah tujuh tahun tersebut berkaca-kaca, ingin sekali menghampiri tapi malu. Dia takut ditolak karena perbedaan agama. Ia adalah seorang Kristiani.
Terlintas sebuah ide di pikirannya. Ia tahu itu salah dan Tuhan akan marah padanya, juga ayah ibunya yang sekarang telah tiada. Tapi bagaimana dengan dirinya yang kelaparan? Ia masih ingin hidup. Baru tadi pagi ia kabur dari ‘rumah neraka’ bibinya yang kejam dengan tangan kosong. Bersumpah takkan kembali untuk menerima siksaan fisik atau batin.
Ia menerobos banyak anak-anak yang mengerubungi tenda kecil itu, termangu, jajanan lezat sedang menunggunya.
Matanya menyapu sekitar. Anak sebayanya sibuk memilih jajan, orang dewasa juga sibuk dengan mereka. Tangan kanannya bergerak perlahan, matanya tetap awas, satu cup tteokbokki sudah ada di genggamannya, menyalurkan di tangan kiri.
Hyo Hwa yang sudah tak melayani kaget, ia mencengkram lengan Jong Woon yang akan mengambil heddeok.
Mata Jong Woon membulat sempurna. Bocah itu ketahuan mencuri.
“Lepaskan aku!” bentak Jong Woon, tak sadar menarik perhatian sekitarnya.
Hyo Hwa buru-buru keluar dari sana, membawa Jong Woon yang berontak bruntal dalam gendongannya dan berteriak, membuat Hyo Hwa sedikit kesulitan.
“Diamlah!” wanita itu balik membentak Jong Woon.
Ia bungkam, melihat orang dewasa yang menggendongnya telah berhenti dan sempat membentaknya dengan mata melotot membuatnya takut, lalu bendungan air di pelupuk mata itu telah mengalir lembut di kedua pipinya. Ia sesegukan.
Hyo Hwa merasa bersalah, ia membenamkan wajah anak itu di pundaknya, mengelus surai hitam legam, sedikit lega saat sebuah tangan kiri melingkari leher wanita itu. “Stt.. maafkan aku.. maafkan aku…”
Cukup lama ia mendiamkan pencuri kecil tadi hingga sekarang mereka duduk di tangga ke dua belas. Suara perut kosong terdengar sampai telinga Hyo Hwa, melihat bocah di pangkuannya menunduk dengan semu merah di kedua pipinya, cukup membuatnya faham permasalahan mereka.
“Jadi, ayo kita makan, semoga masih ada makanan di dalam,” ajak Hyo Hwa seraya berdiri, menuntun Jong Woon masuk ke dalam masjid, siapa tahu ada sebagian makanan tersisa.
Jong Woon mengerjap gembira tetapi sesaat kemudian pandangannya redup, bocah itu mendadak berhenti.
“A-apakah boleh Jong Woon masuk ke sana?” tanyanya gugup.
Hyo Hwa menaikkan satu alisnya, “Tentu saja! Ada apa?”
“Tapi agama Jong Woon ber-beda, Noona...,” suaranya tercekat diakhir. Takut harapannya runtuh untuk dapat makan enak, tteokbokki yang ia curi tadi pun terjatuh.
Hyo Hwa tertegun, lalu tersenyum ceria. “Tak apa, Woonie. Boleh saja kau masuk ke masjid asal tidak merusak atau menggangu yang sedang ibadah,” jelas Hyo Hwa kembali berjalan masuk ke sana. Mereka duduk di teras.
Hyo Hwa kembali dengan sepiring nasi dan ayam goreng serta teh hangat, menemani Jong Woon yang kelihatan semangat makan. “Jadi, namamu Jong Woon?”
Anak itu mengangguk menatap Hyo Hwa dengan mulut penuh. Piringnya sudah setengah penuh habis. “Jong Woon. Kim Jong Woon.”
Hyo Hwa tertawa ringan. “Kenapa sendirian? Tersesat ya? Nanti Noona bantu mencari orang tuamu,” tawarnya mengelus rambut Jong Woon lagi.
Jong Woon menuntaskan makannya yang masih sedikit tersisa, ia sudah kenyang dan Hyo Hwa menyingkirkan piring, kembali pada Jong Woon yang terdiam menunduk dalam, anak itu menangis dalam diam. Hyo Hwa kembali dibuatnya bingung. Ia rasa ia tidak salah, malah menawarkan bantuan.
Anak itu mendongak, tak ada lagi air mata, ia tersenyum. “Appa wa Eomma[10]  sudah di pangkuan Tuhan. Jong Woon sudah berjanji jadi anak baik, tapi tadi aku kabur dari rumah bibi karena beliau menyiksaku dan aku juga mencuri. Mianhae…
“Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun..” Hyo Hwa terenyuh, anak itu pasti menyimpan beban berat di usianya yang masih sangat belia.
“Jong Woon…” panggilnya lembut setelah cukup lama ia berkecambuk dengan pikirannya sendiri. “Noona dan suami noona belum dikaruniai seorang anak, tapi— ah… bagaimana aku mengatakan hal serius pada bocah kecil?” gumamnya.
“Aku mau!” seru Jong Woon. “Aku mau tinggal di rumah noona dan menjadi anak angkat noona. Aku mau!” ia tersenyum lebar, berlari memeluk leher Hyo Hwa yang terkejut.
“Alhamdulillah.. terima kasih, Allah.. terima kasih..” Hyo Hwa menitikkan air mata bahagia, membalas pelukan Jong Woon dan menciumnya bertubi-tubi.
Jadi kemudian ia menelpon suaminya, mengabarkan ingin mengadopsi Jong Woon, lalu mendapat persetujuan dari sang suami yang akan menjemput mereka setelah ini, akan mengurus tetek bengek masalah adopsi Jong Woon dari bibinya. Hyo Hwa sendiri tak henti-hentinya menangis bahagia, menggumamnya rasa syukurnya pada Allah Azza wa Jalla dan memeluk Jong Woon.
Ramadhan penuh berkah, bulan mulia. Allah selalu membantu hambaNya yang mau terus beribadah, terus berikhtiar tanpa rasa putus asa. Hyo Hwa dan suami benar-benar bersyukur, mereka berjanji di hati masing-masing untuk tidak menyia-nyiakan seorang Jong Woon dan menuntun anak itu kembali pulang…
END
Kamus:
  1. Paman
  2. Tidak [formal]
  3. Berapa harganya
  4. Kakak. Panggilan perempuan untuk kakak perempuan.
  5. Maaf.. aku sungguh minta maaf [informal]
  6. Nama fansclub boyband Super Junior
  7. ya. Panggilan yang menunjukkan keakraban.
  8. Kakak. Panggilan laki-laki untuk kakak perempuan.
  9. Terima kasih [formal]
  10. Ayah dan ibu

Komentar

share!