Unexpected Disturber



Karya:  Izzaky el Fat’hiya



Tiga serangkai Hamid, Rio dan Pii mendengarkan ceramah dengan penuh perhatian. Bukan karena ingin mengambil hikmah dari pidato Abah Husin, sang Ta’mir masjid, yang terdengar berapi-api. Tapi karena Abah Husin akan murka pada siapapun, terutama jamaah remaja, yang berbuat onar walau hanya berupa pantomim. Pernah ia menghukum komplotan trouble maker, Iqbal cs, dengan menjemur mereka di halaman masjid selesai jumatan. Abah Husin memang terkenal galak dan disiplin soal adab di masjid. Ia tak segan menegur siapapun yang bertingkah tak beradab di masjid. Meskipun terkenal gaharnya, seluruh warga di kompleks perumahan Damai Sejahtera ini menghormatinya.


“Wassalaamu’alaikum warahmatllaahi wabarakaatuh…..” Abah Husin menutup pidato awal Ramadhannya dengan gaya dramatis. Seketika Hamid dan kedua temannya terbangun dari tidur ayam mereka. Finnaly…pikir mereka. Shalat tarawih malam pertama pun berjalan dengan khusyuk. Tak ada yang tahu ada teror yang mengancam mereka.
☻☻☻
“Sudahlah, Pi. Jangan dipelototin terus. Emang kamu ngerasa imanmu setebal apa sih?” tegur Hamid. Mereka sedang menonton televisi di rumahnya yang hari ini lengang karena seisi rumah sedang terlelap menghayati puasa mereka. Pii yang sejak tadi memegang remot, entah sengaja atau tak sadar selalu memindahkan chanel televisi mencari iklan minuman. Ia nyengir.
Kamu tunggu aja sampe kita tidur, habis itu, kulkas Hamid dalam kekuasaanmu,” kata Rio. Pii cemberut menatapnya sementara Hamid tertawa. Sahabatnya yang satu itu memang punya gaya bicara khas. Terkadang Rio merasa dirinya adalah detektif Conan versi nyata.
“Kamu liat ga akhir-akhir ini si Rafi sering kemana-mana sama Iqbal dkk?” Tanya Rio sambil menatap Hamid. Yang ditanya balas menatap, berusaha mengingat-ingat.
“Rafi anak bungsunya Abah Husin maksudmu?” tanyanya. Rio mengangguk.
“Sejak kapan sih mereka berteman?” sela Pii, “Bukannya Abah Husin ga suka dengan geng trouble maker itu ya?”
“Pertama kali lihat mereka barengan kurang lebih dua minggu yang lalu, selesai ujian sekolah.  Aku juga heran, apa Abah Husin ga tahu anaknya bergaul dengan siapa?” kata Hamid.
Ketiga serangkai itu saling pandang. Mereka adalah anak baik-baik yang taat pada agama dan orangtua serta bertekad untuk jadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa. Nilai ujian mereka selalu memuaskan dan orang tua mereka selalu bangga pada mereka. Sejujurnya bocah SMA sejenis mereka mungkin sudah nyaris punah dari muka bumi, terutama bumi pertiwi.
☻☻☻
DHUAARRRR....!!!
Hamid tergeragap bangun seperti seisi rumahnya. “Siapa sih malam-malam bikin kerusuhan gini?” serunya sambil keluar dari kamar. Ia mengelus-elus dadanya. Jantungnya masih berdebar tak keruan. Apa itu tadi?
Selanjutnya bisa ditebak, Abah Husin muntab dengan peristiwa menjelang sahur tadi. Ustad Faruq yang seharusnya mengisi kultum setelah sholat shubuh harus mengalah dengan Abah Husin yang sepertinya sudah sejak imsak ingin naik mimbar.
“Saudara sekalian,” nadanya rendah menggeram, menahan marah, “Telah terjadi peristiwa teror yang tak beradab pada dini hari tadi, seperti yang telah kita ketahui bersama.”
Seluruh jamaah mengangguk angguk. Suara-suarapun berdengung di seluruh penjuru ruangan. Siapa yang telah meledakkan petasan super jumbo yang bunyinya seperti bom itu. Banyak pasang mata tertuju pada geromboln Iqbal yang berkasak-kusuk gelisah di sudut masjid.
“Saya sampaikan di depan saudara-saudara sekalian, bahwa saya akan menghukum pelakunya di depan umum, tanpa pandang bulu. Kalau dia tidak mengakui perbuatannya sampai tertangkap basah oleh saksi mata, maka hukumannya akan lebih berat. Setuju?” Abah meminta pendapat warga. Semua serempak mengatakan, “Setuju!!”
Abah tersenyum puas. Usai jamaah bubar, dipanggillah Hamid cs. Secara resmi Abah meminta bantuan mereka bertiga untuk menangkap pelaku kejahatan tak berperikemanusiaan ini. Trio itu mengangguk takzim, tak punya pilihan untuk menolak. Abah bagai sheriff di kota-kota Amerika. Tak ada yang berani menolak perintahnya jika ia sudah berkehendak.
“Kita harus mulai dari mana? Semuanya terlalu ambigu,” Rio mulai lagi dengan gaya bicara ala animenya, “Peristiwa itu terjadi dini hari ketika tak ada saksi mata sama sekali.”
 “Nuduh gerombolan Iqbal tanpa bukti bisa-bisa menimbulkan fitnah.” Sahut Hamid.
“Kalau itu petasan, pasti ada sisa ledakannya. Apalagi yang sebesar itu.Kita keliling aja, siapa tahu ada yang bisa kita temukan.” Kata Pii. Sontak kedua sahabatnya menoleh heran padanya. Ia balas menatap mereka dengan angkuh. “Selama ini aku hanya pura-pura bodoh saja di hadapan kalian,” katanya berlagak meniru gaya bicara Rio, “Aku tidak suka orang lain tahu betapa cerdasnya diriku.”
Sambil berkata begitu ia menodongkan tangannya yang membentuk pistol ke arah Rio dan berpura-pura menembak.  Sontak Hamid tertawa. Apalagi melihat wajah cemberut Rio.
☻☻☻
Sudah berlalu tiga hari dan warga masih merasakan teror itu setiap dini hari. Mereka frustasi dan mulai saling curiga satu sama lain. Hamid cs pun mulai merasa tertekan setelah patroli mereka tak menghasilkan apapun. Sisa petasan bertebaran di seluruh komplek karena semua anak main petasan. Tak ada barang bukti yang bisa mereka dapatkan. Padahal Abah sudah mulai kembang kempis, siap menerkam siapa saja yang dituduh meskipun tanpa bukti. Gerombolan trouble maker juga tak tenang, karena mereka selalu jadi sasaran kecurigaan warga. Hingga akhirnya mereka menemui trio detektif untuk menawarkan kerjasama. Ada Rafi, putra Abah Husin disitu. Rio menyebut mereka penghuni zaman batu. Akibat dari sulitnya menasehati geng ini supaya insyaf dari kebiasaan onarnya. Baginya di antara mereka tak ada yang bisa diajak bicara secara intelek kecuali Yusuf, yang keberadaannya di geng itu memang janggal. Mungkin dia tersesat dan tak tau arah jalan pulang.
Hamid yang secara de facto dianggap sebagai ketua angkat bicara pertama kali. “Apa maksud kedatangan kalian?” tanyanya.
“Kami ga bisa terus-terusan nerima tatapan curiga dari penduduk sekampung karena ulah orang yang tak bertanggung jawab. Berani sumpah bukan kita pelakunya,” kata Iqbal.
“Kalian punya bukti bahwa kalian bukan pelakunya?” tanya Rio. Geng itu saling pandang dan menggeleng bersamaan.
“Terus gimana orang akan percaya? Secara kalian sudah punya reputasi menakjubkan di dunia kriminal kampung kita,” kata Pii agak ketus.
“Makanya kita mau menawarkan kerjasama.” Kata Yusuf. Hamid dkk langsung syok. Apa tadi? Kerjasama? Dengan gerombolan trouble maker paling terkenal sejagad komplek?
Yusuf yang melihat gelagat penolakan segera bicara dengan gaya diplomasinya, “Kami punya banyak sumberdaya yang bisa kami manfaatkan untuk menggali informasi.”
Rio mendengus, “Kalian seperti mafia saja.”
Setelah perundingan yang agak alot, diputuskan mereka akan melakukan aksi tangkap basah bersama-sama. Namun mereka belum menemukan cara bagaimana operasi tangkap basah ini. Perundingan baru sampai pada tahap kesepakatan.
Esoknya, sudah hari keempat warga di teror. Tekanan semakin berat dirasakan oleh trio Hamid dkk. Mereka belum juga menemukan cara untuk operasi ini. Sampai tiba-tiba Hamid mendapat ilham selepas taraweh. Ia berkumpul dengan kedua sahabatnya. Ia menemukan ide, mereka akan bangun satu jam lebih awal, dengan cara minum air putih banyak-banyak sebelum tidur.
“Apa kita perlu ngabarin partner kita?” tanya Rio.
Hamid menggeleng. “Aku curiga dengan salah satu dari mereka. Mungkin bukan Iqbal, tapi salah satu anggotanya. Kamu harus bisa meyakinkan dia untuk keluar bareng kita, tanpa mengajak satupun anggotanya.”
Pii menatap heran pada sahabatnya, “Kenapa kamu curiga sama temennya Iqbal dan bukan Iqbalnya?”
Hamid hanya nyengir, “Insting.”
Maka dini hari, berkumpullah Hamid dkk dengan tambahan anggota sang ketua suku, Iqbal. Mereka menutup tubuh dengan kain sarung berwarna gelap seperti ninja. Dengan hati-hati mereka berkeliling, patroli. Jika ada orang yang lewat, entah pulang kerja atau pulang dari masjid, mereka sembunyi. Khawatir misi mereka gagal, dan lebih khawatir dikira maling, atau bahkan dituduh sebagai pelakunya. Mereka sudah sampai di bagian terakhir komplek yang belum di periksa, yaitu di ujung pemukiman, tepat di dekat sungai yang membatasi komplek dengan kampung sebelah. Mata mereka tiba-tiba menangkap sosok yang berjalan perlahan ke tepi sungai. Dari balik semak-semak mereka mengintip orang tersebut. Sama seperti mereka, orang ini juga memakai sarung untu menutupi wajahnya.
Mata mereka terbelalak saat orang itu mengeluarkan petasan jumbo seukuran dinamit. Jantung mereka terpacu cepat. Bersiap dengan suara ledakan, mereka menutup telinga rapat-rapat. Dan... DHUARRRR....!!!!
Tertangkap basahlah pelakunya. Pii sudah buru-buru ingin menerjang orang itu, tapi dengan sigap ketiga temannya menahan tubuhnya.
“Kita belum tau siapa dia. Kita harus ikuti dia sampai rumahnya. Jangan sampai ketahuan!” bisik Hamid. Maka dengan lebih hati-hati mereka mengikuti teroris itu. Orang itu benar-benar licin. Nyaris saja mereka kehilangan dia. Dan....alangkah terkejutnya mereka ketika orang itu menuju pintu belakang rumah Abah Husin yang tak berpagar. Sesaat mereka tercenung, antara syok dan tak percaya. Dilihat dari ukuran tubuhnya, itu pastilah Rafi. Jadi semua ini ulahnya?
Bukannya gembira karena sudah berhasil menangkap basah pelakunya, kini Hamid dkk dan Iqbal justru galau. Bagaimana cara memberitahu Abah Husin yang terlanjur berkoar-koar akan menghukum pelaku teror ini di depan masa.
☻☻☻
“Apa kita ajak Abah melakukan pengintaian ya?” kata Iqbal setengah melamun. Serentak kepala trio itu tertuju ke arahnya. Wajah mereka cerah seketika. Akhirnya mereka, tanpa Iqbal tentu saja menghadap Abah Husin, menyampaikan laporan soal operasi mereka tanpa memberi tahu siapa pelakunya.
“Kepalanya ditutup kain sarung, Bah. Kita ga bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tapi kami berhasil mengikuti dia sampai ke rumahnya.” Kata Hamid sopan. Wajah Abah yang belakangan terlihat seperti PNS di tanggal tua seketika berubah cerah.
“Bukan masalah! Bukan masalah. Berarti nanti malam, tangkap dia dan bawa ke hadapan saya. Saya akan menunggu di depan rumah!” kata Abah Husin. Mereka sedang di serambi masjid selepas tarawih. Hamid sengaja tidak sowan ke rumah, khawatir Rafi akan cuti beraksi hari ini dan justru membuat mereka malu karena teroris yang diincar ternyata tak beraksi malam itu.
“Gimana kalau Abah ikut saja dengan kami, jadi bisa mencegah si pelaku beraksi untuk yang ke-6 kalinya.” Kata Rio. Abah tampak berpikir sejenak, lalu menggut-manggut.
“Untuk mengindari intervensi di luar pihak kita, sebaiknya Abah menjaga kerahasiaan misi ini dari siapapun, termasuk anggota keluarga. Gimana Bah?” tanya Pii. Lagi-lagi Abah Husin mengangguk.
“Baik. Saya ikut!”
Plong! Beban berat terangkat separuh dari dada mereka. Maka setelah mengabarkan tentang misi bersama Abah Husin ini kepada Iqbal, mereka bubar. Bersiap untuk drama penangkapan dini hari nanti.
☻☻☻
Sasaran terkunci. Abah tidak menyangka Iqbal menjadi salah satu anggota tim detektif. Selama ini ia curiga pada Iqbal. Tapi setelah tahu Iqbal tak bersalah, Abah jadi bertanya-tanya siapa teroris ini sebenarnya. Semua menahan nafas ketika teroris menuju tempat aksinya. Pii yang jago silat sembunyi di tempat terpisah bersama Iqbal untuk mengpung sasaran kalau ia melarikan diri. Tibalah saatnya operasi penangkapan. Si peneror mengeluarkan senjata keramatnya. Bergarak bersamaan kelompok pengintai mendekat dengan hati-hati sampai jarak cukup dekat untuk menangkapnya. Dan...
“Nah! Ketangkep kamu! Dasar tak tahu adab!” abah langsung menyembur si teroris yang nampak syok karena dirinya barusan disergap oleh tim ‘taktis’ pimpinan Hamid. Ia berusaha lari. Tapi kalah tenaga dengan Pii dan Abah Husin yeng mencekal lengannya. Sia-sia berusaha memberontak. Akhirnya ia pasrah. Dengan tak sabar Abah Husin melepas sarung yang menutupi wajah si pelaku. Dan betapa kagetnya waktu ia melihat wajah putra bungsungya dibalik sarung itu, berlinang air mata sambil memohon-mohon ampun. Hamid dkk terdiam, tak berani bergerak. Tak tahu apa yang akan dilakukan Abah Husin.
☻☻☻
Pagi itu adalah hari bersejarah. Sejak shubuh abah sudah mengumukan bahwa pelakunya telah ditemukan dan akan dihukum pagi ini. Siapa saja boleh melihat penghukuman yang akan dilakukan di lapangan masjid. Seluruh jamaah menyambut senang kabar tersebut. Maka pukul sembilan pagi, warga berkerumun di sekitar lapangan. Termasuk dua geng yang kini berpartner. Warga terkejut mendapati Iqbal ada di kerumunan penonton. Mata mereka tertuju pada seseorang yang wajahnya ditutupi sarung.
“Hadirin sekalian,” Abah berpidato sebelum menunjukkan teroris itu, “Perbuatan orang ini telah merugikan kita semua. Teror yang dilakukan menimbulkan keresahan. Ini adalah komitmen saya bahwa siapapun pelakunya akan saya hukum sepantasnya. Dan agar menjadi pelajaran bagi semuanya untuk tidak mengulangi hal serupa di masa yang akan datang.”
Abah membuka sarung penutup. Seketika warga terkesiap melihat sosok Rafi, anak sang maskot, ternyata adalah pelakunya. Suasana senyap, tak ada yang tahu harus bicara apa. Abah memandangi para penonton.
“Ya. Semalam, saya beserta para saksi mata, Hamid dan rekan-rekan, dibantu Iqbal, menguntit pelaku dan berhasil menangkap basah perbuatannya. Dia adalah Rafi, anak bungsu saya.” Kata Abah, “Saya atas nama ayahnya, mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kekacauan yang ditimbulkan oleh perbuatan putra saya. Saya berjanji ini tidak akan terulang lagi. Semoga warga semuanya memaafkan kekhilafan saya.”
Suasana masih hening sampai beberapa saat. Maka Abah mulai melaksanakan hukuman, menyuruh Rafi membersihkan setiap jengkal masjid sampai menjelang maghrib nanti. Saat itu pak RT maju.
“Abah Husin, kami sangat menghargai komitmen Abah untuk berbuat adil pada siapa saja. Kami mengenal Rafi sebagai anak yang baik. Kalau boleh tahu, kenapa Rafi sampai bisa melakukan hal seperti itu?” tanya pak RT.
“Tanyakan saja sendiri,” Abah menatap Rafi. Yang dipandangi menunduk malu.
“Saya ingin balas dendam sama Iqbal. Tahun lalu, waktu saya sedang naik motor ke sekolah, dia lempar petasan ke arah saya, membuat saya jatuh dan dipermalukan banyak orang. Saya ingin balas dendam, biar dia tau rasanya dipermalukan. Saya sungguh minta maaf.” Kata Rafi lirih. Suasana kembali hening. Hamid cs menatap Iqbal yang terpana. Akhirnya, biang kerok itu maju, meminta maaf dengan sungguh-sungguh pada Rafi. Lalu ia menghadap Abah, minta dihukum bersama Rafi. Warga menghargai apa yang dilakukannya.
Mungkin karena solidaritas, seluruh anggota Iqbal ikut maju, siap menjalani hukuman bersama sang kapten. Abah pun senang. Ia mengizinkan bocah-bocah itu kerja bersama. Pii mendesah kesal. “Kenapa kita harus nanggung dosa orang-orang ini sih?” katanya sebal.
“Seharusnya sejak awal memang kita nggak perlu berurusan dengan kawanan dari zaman batu itu,” keluh Rio. Hamid menghela nafas. Agak kesal juga begini endingnya. Sungguh di luar dugaan, sungguh tak disangka. Mereka bertiga saling pandang, seolah bicara lewat tatapan mata. Mungkin sesekali mereka harus keliling seperti kelompok detektif Conan di film. Mereka lumayan berbakat. Tawa mereka meledak.

Komentar

share!