Tuhan dan MainanNya




Karya:  Hera Wahyuningtyas Pangastuti


Iklan tayangan bertema Ramadhan sudah menjamur di berbagai stasiun televisiku. Ini pertanda bahwa Ramadhan kian berlari dan mengunjungiku. Ramadhan tahun ini kurasa akan sangat berbeda. Dina yang berkesibukan dengan menulis, bisnis scraft book, dan kerja serabutan di bidang kesenian handy craft akan menghabiskan seluruh Ramadhan 1436 H di rumah saja. Dina sudah membuat banyak agenda kegiatan untuk mengisi bulan suci ini dengan berkarya dan bergerak. Soal impian sudah tidak perlu ditanya lagi, ia sudah menyiapkan banyak goal yang harus dicapai bulan ini. Oleh karena itu Dina fokuskan bulan suci tahun ini untuk berikhtiar untuk meraih goal yang aku inginkan.


Semarak Ramadhan telah menggema, orang-orang telah menyiapkan segala perlengkapan Ramadhan. Mereka yang menyimpan mukena dan sajadahnya, kini mengusap lagi kedua benda itu. Begitu pula dengan Dina, menyambut bulan suci dengan segala harapan dan kegelisahan. Harapan yang Dina inginkan adalah kesudahan dari kesusahan. Dalam setiap sujudnya, ia harap Tuhan selalu berada di hati, hadapannya, dan senantiasa menyayanginya.
Dalam setiap sujudnya, Dina berujar,
“Ya Allah Yang Maha Perkasa, menguasai segalanya bumi dan alam semesta. Engkau berikan aku kebahagiaan bertemu Ramadhan, tapi Kau tancapkan seribu duri bernanah pada kulitku. Apa ini? Kurang setiakah aku? Permainan macam apa lagi Ya Rabb?”
Rintihan setiap malam, harapan untuk pagi yang akan segera datang. Dina menemui banyak sekali ujian, bahkan sebelum Ramadhan menyapa. Ujian karena kecerobohan diri sendiri. Terdengar klise memang, tapi ia dibuat berlama bersujud meminta pengampunan dan pertolongan Tuhan. Dina dibuat kelimpungan dan menangis setiap malam. Jika orang lain merasa datangnya malam adalah kebahagiaan, baginya malam bagaikan saat di mana gadis cantik berkaca mata ini merenung dan menangis.
“Sehari ini apa yang telah aku lakukan ya Allah? Apa yang telah aku dapatkan? Kenapa begitu sulit aku mendapatkannya?”
Dina memiliki masalah mengenai finansial. Ia memiliki kehidupan yang semrawut di waktu yang lalu. Ia selalu boros, mengahmburkan uangnya yang sebenarnya masih ia dapatkan dari orang tuanya. Dina adalah seorang gadis belia yang lahir dalam keluarga yang cukup, tidak kekurangan dan tidak bermewahan. Ibunya yang sangat pandai mengatur keuangan, membuat keluarganya selalu tidak kekurangan walaupun ayahnya tidak bekerja. Dina sebenarnya bukanlah seorang gadis yang bergaya hidup hedon dan mewah. Ia tidak tertarik dengan kosmetik, belanja, gadget mahal, atau gathering yang isinya hanya ngobrol nggak penting. Dina justru seorang gadis penikmat buku, pecandu frasa, dan blogger amatir. Ketertarikannya ke dunia menulis membuatnya memiliki pengalaman banyak. Ia pun juga telah banyak menjuarai lomba menulis dan aktif dalam sebuah komunitas penulis di kota tempatnya tinggal. Tetapi, kecanduan membaca dan membeli makanan sebagai teman bacaan membuat kantongnya terus menipis. Tak hayal jika uang saku 100.000 untuk satu bulan hanya bisa ia pertahankan satu minggu saja. Kadang uang itu habis untuk membelanjakan buku 2 buah, atau parahnya hanya mendapat 1 buku langka saja. Bodohnya, entah setan mana yang hinggap di pundaknya membuat Dina membelanjakan uang SPPnya sebesar 25.000 selama satu semester untuk membelanjakan buku dan makanan kecil.
“Hah, ya Allah nggak kerasa udah satu semester. Gilaaa! Aku belum bayar SPP. Astagfirullah.” Sesalnya
Begitu kebingungan, Dina memutar otak. Ia memanfaatkan jaringan internet yang non stop di rumahnya untuk mencari lowongan pekerjaan penulis. Ia juga mengikuti beberapa lomba menulis yang berhadiah uang tunai. Dina terus berupaya untuk mendapatkan uang.
“Coba kalau hadiah yang aku menangkan kemarin udah dateng. Ya Allah masa udah 2 bulan nggak dikirim-kirim? Ini penipuan apa nggak sih? Huh!”
Dina memang sudah banyak menjuarai kompetisi menulis. Pernah ia memenangkan lomba menulis yang diadakan oleh sebuah majalah politik yang berhadiah uanga tunai yang cukup banyak, Rp 500.000,00. Sangat banyak untuk ukuran penulis pemula dan anak SMA seperti Dina. Sayangnya hadiah yang dijanjikan tak kunjung datang, masalah Dina kembali bertambah.
“Ya Allah Yang Maha Penolong, apa lagi yang kau uji dari hambaMu yang hina ini? Apakah aku memang Kau pilih karena imanku dengan ujian ini? Luluskanlah hambaMu ini ya Allah.” Pinta Dina di setiap akhir shalatnya.
Ramadhan tiba, Dini berharap bulan ini ia mendapat jawaban dari setiap do’anya. Dina fokus terhadap ibadahnya. Namun, ia tak berhenti berpikir karena deadline pembayaran yang kian dekat. Getar hati mencapai puncak, Dina benar-benar takut. Ibunya tidak tahu soal ini, selalu Dina katakan bahwa semua lunas. Kebohongan memang merugikan, dan ini kebohongan yang keterlaluan. Dina hanya bisa menyimpan rahasia ini sendiri, tidak satupun dari keluarganya yang tahu. Dina harap semua akan menemui hasilnya, harapannya. Dina hanya bisa meminta pertolongan kepada Tuhan, entah sampai kapan janji Tuhan akan menolongnya. Dina terus berdo’a.
Bulan ramadhan dinikmati Dina sebagai waktu untuk berintrospeksi diri. Ia menyadari segala kecerobohan berbuah kegagalan, dan semuanya yang membuatnya kembali terpuruk. Dina mencoba bangkit, walau entah harapannya akan benar-benar tercapai atau malah ia semakin gila. Dina mengabdikan dirinya selama Ramadhan dengan mengajar baca dan menulis Al Qur’an di masjid kampungnya. Setiap sore ia rajin ke masjid dan membina anak-anak kecil untuk mengenal agamanya, amalannya, dan menuntun para penerus bangsa ini menjadi penerus yang bertindak sesuai tuntunan agamanya.
“Dinaaa, bangun nduk! Udah jam empat sore. Ayo mandi trus ke masjid. Anak-anak dah nunggu.” Teriak ibu Dina.
“Iya, Mama. Aku shalat Ashar dulu.” Jawab Dina.
Dina selalu ikhlas mengajar adik-adik kecil karena ia selalu ingat pesan ibunya.
“Kita itu bukan orang kaya harta, tapi kita punya ilmu. Sodaqoh nggak harus harta, uang, barang. Sodaqoh ilmu bermanfaat apalagi ilmu agama justru lebih barokah. Karena ilmu yang bermanfaat akan terus ada dan tidak berkurang sampai mati. Sedangkan harta, uang, benda mereka bisa rusak, habis, dan hilang sewaktu-waktu.”
Dina menghabiskan Ramadhan dengan mencari penghasilan. Ia mengikuti sebuah lomba blog dengan memposting tulisan dalam blognya. Kompetisi ini diselenggarakan selama 15 hari. Dina rajin mengikutinya sepulang dari mengajar mengaji. Namun, Tuhan berkehendak lain. Tak satupun dari 15 kesempatan itu Dina menangkan. Dina sempat berkecewa hati, menganggap dirinya sudah benar-benar tak memiliki kemampuan. Ia sempat nglokro untuk menulis. Tapi ia teringat pada sebuah buku yang pernah ia beli berjudul “Menertawakan Kegagalan” karya Nistain Odop. Sang penulis berujar, bahwa kegagalan yang sesungguhnya adalah saat seseorang tidak sama sekali mencoba. Seseorang yang takut akan gagal, takut akan jatuh, dan takut akan terluka, membuat mereka berdiam diri dan hanya berhayal keberhasilan. Dalam sebuah kehidupan pasti ada kegagalan. Lalu Dina berpikir lagi, ia tidak salah. Kesalahannya adalah kurang belajar, sehingga karyanya masih dilampaui oleh peserta lain.
“Hanya sedikit manusia yang mau bergerak, dan berhasil. Aku adalah satu di antaranya.” Ujar Dina sebagai tekadnya.
Dina terus berkarya, iya tidak hanya menulis dan mengikuti lomba. Kini ia membuka usaha scraft book kecil-kecilan bersama seorang temannya. Bermodal kreativitas dan waktu luang, ia memaksimalkan kemampuannya guna sesuatu yang bermanfaat dan berdaya jual. Untuk mengisi waktu luang dan membayar hutangnya.
“Alhamdulillah ya Allah. Mudahkanlah apapun yang hamba lakukan, ridhoi setiap langkah hamba, dan tolong hamba dalam setiap kesusahan hamba. Amiin.” Dalam setia sujud Dina berdo’a.
Dina sadar, bahwa tidak ada janji Tuhan yang dilupakan olehNya. Hanya Tuhan memiliki waktu yang sempurna untuk mengabulkannya. Dina sadar bahwa ia hanya sebuah debu yang berterbangan. Dina bukanlah apa-apa. Dina hanya sebuah mainan dari Tuhan. Kehidupan adalah misteri, seperti langit yang berdiri tanpa tiang. Tuhan memang penyayang, seperti setiap ujian yang sarat kasih sayangNya.
“Banyak sekali kerikil, duri, racun yang pernah singgah di tubuh ini. Cobaan, halangan, rintangan silih berganti lebih cepat dari musim kemarau dan penghujan. Aku dibuatNya takhluk, tunduk, kalah di bawah kekuasaanNya, permainanNya, skenarioNya. Tapi sekeras apapun itu hatiku lebih keras berkata, ‘Tuhan memang senang permainkan, tapi kita harus lebih kuat bertahan.’. aku harus kuat dan bangkit. Harus!”

Komentar

share!