Trade Off : BEST RAMADHAN




Karya:  B.Delight

   Aku benci deadline seperti bagaimana aku membenci seledri dalam sup ayam menu sahur pagi ini. Rasanya memuakkan dan menciptakan sesnasi aneh dalam perutku, namun aku tetap harus menikmatinya. Well, setidaknya jika aku masih berniat untuk membuka mataku untuk hampir sepanjang hari.


Terjaga sepanjang malam ditemani dua cangkir kopi pahit yang mengerikan, atau dengan puluhan bungkus snack gurih yang habis dalam waktu sebentar. Ini adalah tentang bagaimana aku, seorang Hana hidup.
Pekerja lepas. Katakanlah begitu, walaupun aku lebih suka menyebutnya pekerja paruh waktu. Selama hampir satu bulan, terhitung dari hari pertama puasa ramadhan dimulai hingga hari ini, aku secara resmi berubah menjadi monster yang duduk di meja kerjaku sepanjang hari.
Aku tidak ingat berapa kali Ibu menghela nafas setiap melewati kamarku, atau Ayah yang menasehatiku untuk melakukan sesuatu selain menulis. Yeah. Aku penulis. Lebih tepatnya seorang mahasiswa yang sedang dalam masa liburannya.
 “Lagi?”Aku menghela nafas pada udara hangat di depanku, melirik jam dinding di atas meja. Sebenarnya aku ingin mengutuk pada pria—atau lebih tepatnya editorku—yang sudah puluhan kali mengatakan tidak pada dasar ceritaku. Padahal dia hampir membunuhku dengan semua deadline-nya.
 “Aku tidak mengerti bagian mana yang tidak menarik.” Aku berkata. Lebih tepatnya mengeluh. Ini melelahkan saat kamu tahu bahwa kamu baik-baik saja, namun orang lain terus mengkritik tentang hal yang tidak kita mengerti.
  “Ini tidak menarik. Siapapun yang membacanya tidak akan menemukan Jiwa-nya.”
  Ish. Terserah tentang jiwa. Dia bahkan hampir melayangkan jiwaku sekarang.
“Aku hanya berharap setelah puluhan dasar cerita yang kubuat, kamu memuji satu saja diantara semuanya.” Aku beranjak dari kursiku menuju kamar mandi. Berniat untuk mengambil air wudhu. Ini sudah pukul 9 malam bagaimanapun juga.
  “Kamu tahu bahwa kita bukan berada dalam hubungan yang seperti itu. Dan intinya cerita ini tidak menarik.”
  Dan aku hanya memutar bola mata dan menghela nafas pada bayanganku. Lingkaran yang serius di bawah kelopak mataku ditambah mata yang memerah. Sempurna. Aku mungkin harus memakai masker saat pergi untuk Shalat Idul Fitri lusa. Yeah, lusa. Aku membuang waktuku untuk dasar cerita yang sia-sia untuk hampir seluruh hari di bulan Ramadhan tahun ini.
  “Baiklah. Cepat katakan berapa lama deadline-nya.” Aku memijat pelipis, merasakan sesuatu yang berdenyut disana. Ini menyebalkan bagaimanapun juga.
 Untuk sesaat tidak terdengar jawaban apapun, jadi aku menyimpulkan bahwa editor menyebalkan itu mungkin sedang memeriksa kalender dan pada akhirnya menyadari bahwa ia sudah menyiksaku terlalu lama. Dan setelahnya ia akan merasa kasihan dan mengatakan oke pada satu dasar cerita buatanku.
  Namun, harapan akan selamanya menjadi harapan. Karena setelahnya kalimat editor itu membuatku terbelak tidak percaya.
 Tidak ada deadline lagi hingga dua minggu lagi. gunakan kesempatan ini untuk istirahat.”
  Dan dang! Aku mematung sambil mengutuk dalam diam. Setelahnya terdengar suara lagi.
 “Selamat hari raya.”
                                                    **********************
  Ketika aku mendapatkan juara kedua di lomba menulis cerpen, Ibu memujiku. Dan sejak hari itu, aku bermimpi untuk menjadi penulis yang hebat.
  Itu mengejutkan saat hal kecil itu bisa mengubah diriku yang sebelumnya terobsesi menjadi seorang penyanyi, menjadi seorang penulis. Garis bawahi itu, mengingat aku adalah gadis keras kepala yang sulit berubah pikiran.
  Saat melihat foto keluarga di ujung kamar, aku jadi teringatkan masa lalu. Dan itu sudah bertahun-tahun sejak terakhir kali aku menjadi bagian dari keluarga yang sebenarnya. Maksudku adalah berkumpul dan berbincang tentang sesuatu.
  Jadwal kuliah yang menumpuk adalah alasan utamanya. Dan bahkan disaat libur seperti ini, aku harus mengorbankan waktu yang seharusnya bisa kumanfaatkan untuk deadline sia-sia itu. Pujilah editor yang mungkin sedang menikmati masa mudanya itu.
  Dan semakin dipikirkan, aku merasa bahwa ini keterlaluan. Bahkan di bulan suci dimana aku diharuskan untuk beribadah lebih dari biasanya. Dan, itu membuatku merasa sedikit menyesal. Dulu aku berharap bahwa aku memiliki kekuatan mengontrol waktu agar bulan puasa berakhir dengan cepat. Namun kali ini, aku berharap aku bisa mengulang waktu menuju awal ramadhan.
  Kita memang selalu menyesal di waktu yang salah. Yaitu diakhir cerita.
                                              *******************
  Kuberitahu beberapa hal. Kemunculanku dihadapan keluargaku adalah peristiwa langka yang lebih langka dibanding dengan Maru—adik laki-lakiku— yang mematikan TV dan belajar di dalam kamarnya. Dan untuk beberapa hari terakhir, kemunculanku hanya ditandai oleh satu porsi makanan yang berkurang di meja makan saat sahur.
   Semua orang mungkin berpikir bahwa akhirnya aku menyadari bahwa hari ini adalah sahur terakhir, pada kenyataannya aku berpikir bahwa sahur didalam kamar adalah menyebalkan tanpa mengerjakan deadline. Namun karena semua orang menganggap ini pengorbanan untuk sahur terakhir, aku membiarkan mereka berpikir seperti itu.
  Betapa aku ingin tertawa saat semua orang menatapku aneh.
  “Hana?” Ibu yang membawa sepiring daging rending melirikku kaget. Sementara adik dan kakak laki-lakiku, Maru dan Kak Johan melongo menatap kursi kosong yang terisi hari ini, dan Ayahku menghentikan kegiatan mengunyah kacangnya dan menatapku kaget.
   Aku sempat merasa bahwa reaksi mereka sama dengan reaksi saat kami sekeluarga terkejut dengan nenek yang hampir 5 tahun tidak kami lihat muncul secara tiba-tiba diruang tamu. Jadi, apa mereka menganggapku sebagai nenek sekarang.
  “Wow. Ada setan yang menganggumu?” Kak Johan berkomentar sambil memiringkan kepalanya. Sementara Maru tertawa pada komentar kakak dan menatapku tertarik. Aku memutar bola mata.
   “Kalian setannya.” Aku menyahut pelan, lalu berjalan menuju Ibu yang entah kenapa tersenyum padaku. Ayolah! Reaksi mereka membuatku seolah menjadi tamu kehormatan yang tidak diduga sama sekali. Atau mungkin monster yang setelah sekian lama keluar dari sarangnya?
   Ibu menyerahkan sepiring rending ketanganku, “Akhrinya.”
  Sementara aku kebingungan dengan makna akhirnya, Maru sudah mengomel tentang rendang yang tidak kunjung datang dan setelahnya aku menyentil bocah itu gemas. Aku ingat bahwa kami membicarakan tentang nenek yang sedang sakit dan mengirimkan salam.
  Aku juga ingat, bahwa aku hampir menangis malam itu. rupanya aku merindukan keluargaku.
                                                 *******************
 Keluargaku masih sama terkejutnya saat aku duduk di meja makan dan memakan hidangan buka puasa terakhir kami bersama-sama. Tapi, tidak ada yang mengeluarkan komentar karena perbincangan tentang menu makan besok sudah menjadi topic utama.
 Kehangatan yang kurindukan. Perbincangan membosankan yang lebih menarik dari topic utama kehidupanku beberapa tahun terakhir. Terkurung dalam diskusi tentang cerita dan peristiwa, lalu menjalankannya sesuai aturan dan selera.
  Tidak selamanya passion membantu dalam kehidupan. Pada akhirnya aku sadar tidak seharusnya mimpi dan tujuan menyita waktu dalam kehidupan nyataku. Aku yang selama ini mengurung diri akhirnya mengerti secara sepenuhnya menderita dalam pilihan.
 Mengikuti deadline dan membuang waktu untuk keluargaku, adalah pilihan dalam hidupku.
 “Bagaimana deadline-mu?” Aku mengalihkan pandang pada Ibu, setelah beberapa saat menonton Kak Johan dan Maru sibuk menyalakan kembang api dengan gaya kekanakan. Ini malam hari raya, malam sebelum hari kemenangan.
  Aku menggeleng sebentar, entah kenapa menahan tangis. “Tidak ada yang selesai.” Suaraku menjadi serak, namun aku memaksa untuk menahan air mata itu. ini mengejutkan bahwa aku merasa lelah begitu aku mengakui dalam hati bahwa deadline ini memberatkanku.
  “Kamu tahu betapa leganya Ibu melihatmu kembali?” aku tidak menatap saat Ibu berbicara, karena air mataku sudah terlanjur jatuh. “Kami semua benar-benar lega, bahwa kamu menjadi dirimu sendiri setelah sekian lama.”
   Aku tidak mengatakan apapun dan hanya menatap kembang api yang memancarkan cahaya berkilauan dilangit yang cerah. Beberapa kali bayangan bintang jatuh melintas membuatku tersenyum. Ini melegakan juga.
  “Hana akan tadarus sama-sama, kan?”
  Aku melirik Ibu yang terlihat hati-hati padaku, mengingat dimasa lalu aku akan dengan jelas mengatakan tidak dan mengabaikan semua ajakan itu dengan dingin. aku menyesali masa lalu itu. tanpa sadar aku mengangguk, memeluk Ibu kemudian.
  “Maafin Hana, Bu.” Dengan fokus yang payah, aku menangkap bayangan Maru dan Kak Johan berhenti memainkan kembang api dan menatap kami. Dari bayangan jendela rumah aku juga melihat ayah dengan peci dan kemeja putih menatap kami dalam diam.
   Ini adalah ramadhan dan hari kemenangan terbesar dalam hidupku. Aku tidak pernah berpikir tentang rasa sakit yang kutanggung dan yang keluargaku tanggung setidaknya untuk hari ini. ini adalah hadiah terbaik yang pernah Allah berikan padaku.
   Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.
                                              *********************
  Perjalanan yang biasanya membosankan—karena aku terus mengetik semua isi kepalaku—menjadi sangat berbeda kali ini. aku tidak membawa gadget yang biasanya kugunakan selama beberapa tahun terakhir. Berbincang dengan kakak dan adikku rupanya sangat menyenangkan hingga dalam satu titik aku sadar bahwa ini adalah kehidupan yang kurindukan.
 “Nenek akan syok saat melihatmu, kak.” Maru merebut popcorn yang sejak tadi kupegang, lalu kemudian melahapnya dengan beringas. Aku hampir saja berniat untuk merebutnya balik saat Kak Johan bersuara.
  “Hei! Aku yakin nenek tidak akan mengenali Hana lagi.” Dan aku hanya memutar bola mata. “Kalian berbicara seolah aku tidak bertemu nenek selama bertahun-tahun saja.”
  Kak Johan dan Maru saling berpandangan sebelum akhirnya menggelengkan kepala dengan prihatin sambil berbagi popcorn milikku. Dan saat ibu mengatakan bahwa sudah 5 tahun aku tidak ikut liburan ke rumah nenek, aku sadar bahwa perkataan mereka mungkin saja menjadi kenyataan.
   “Terimakasih, Hana.” aku mendengar Kak Johan bersuara, dan aku sempat meragukan bahwa itu benar-benar kak Johan sebelum akhirnya aku menangkap senyum tulus yang familiar itu tertuju padaku.
    Aku menaikkan sebelah alisku, “Untuk apa?”
   Kak Johan menatap kedepan dan melanjutkan senyum untuk dirinya sendiri. sementara aku memilih menutup mulut karena situasi yang berubah menjadi canggung tanpa bisa kukendalikan. Hingga akhirny kalimatnya terdengar dengan lembut.
   “Karena sudah membuat pilihan untuk kembali.” Aku menatapnya lagi, lalu tersenyum tipis. Aku ingat bahwa Kak Johan pernah beberapa kali bercerita tentang Trade Off, jadi aku hanya mengangguk dan merebut kembali popcorn-ku dari Maru yang tertidur.
   Kadang, sebagai manusia biasa kita mengorbankan sesuatu tanpa mempertimbangkan nilainya. Trade off memang selalu terjadi, namun Trade off ada untuk pilihan terbaik. Untuk satu kali saja. K adang, keluar dari dunia yang pribadi untuk diri kita sendiri bukan hal yang terlalu buruk. Untuk melihat sekeliling dan menikmati kehadiran orang lain.
    Kita tidak pernah sendiri. Jika bukan karena kehadiran, doa dari orang yang mencintai kita akan selalu menemani kehidupan ini. Walau rasanya menyakitkan merasa bahwa tidak ada tempat untuk bersandar, namun itu adalah saat yang tepat untuk melihat ke dalam hati kita.
   Kita tidak sendiri. Ada Allah dan doa dari orang yang mencintai kita.
   Ramadhan kali ini berakhir dengan perubahan dalam hidupku. Dari hal paling sederhana.

Komentar

share!