The Secret of Sincerity




Karya:  Purnama Putri


Sudah masuk waktu dzuhur namun belum juga ada panggilan adzan menggema di sekitaran bumi yang Rahmat pijak. Padahal sengaja Rahmat meninggalkan segera antrian panjang casting-nya untuk menghadap kepada Sang Ilahi. Jika saja ia tahu, jam segini masih sedikit orang yang menyambangi masjid, ia tak perlu terburu-buru datang demi mengejar shalat berjamaah.


Kesal akibat dihimpit oleh waktu, akhirnya Rahmat mengambil inisiatif. Dia ingin mengumandangkan sendiri seruan adzan tersebut. “Daripada aku mesti menunggu lebih lama lagi” pikirnya yang terus dibayangi detak jarum jam di tangan. Selesai berwudhu, Rahmat bergegas menghampiri microphone yang berdiri tegak pada stand-mic. Lalu dengan lantang ia menyeru “Allahu Akbar, Allahu Akbar … Allahu Akbar, Allahu Akbar … Asyhadualla Ilaha Ilallah … Asyhadualla Ilaha Ilallah … Asyhaduanna Muhammada Rasulullah … Asyhaduanna Muhammada Rasulullah … Khayalashala … Khayalashala … Khayalalfalah … Khayalalfalah … Allahu Akbar, Allahu Akbar … Lailaha Ilallah
Saat sedang khusyuk membaca doa setelah adzan, terdengar suara gemuruh tepuk tangan. “Wah, baru kali ini aku denger Kamu adzan. Mantab juga suaramu, Mat !” puji Ujang yang ternyata sedari tadi duduk memperhatikan di belakang mimbar tempat kumandang adzan. Rahmat agak kaget atas kemunculan kawan satu kampungnya itu. Terlebih tingkah polos Ujang yang memalukan itu dipandang sinis beberapa jama’ah. Memang benar, di dalam masjid dilarang bikin onar termasuk bertepuk tangan. Tetapi nampaknya hal mendasar seperti itu tidak begitu dipahami Ujang yang notabennya cuma lulusan Sekolah Menengah Pertama.
“Loh? Kok Kamu disini, Jang?” tanya heran pria berparas mirip walikota Bandung ini. Seingat dia, Ujang mengatakan akan tetap menunggu giliran casting-nya tiba. Seusai namanya dipanggil, barulah Ujang mau menyusul Rahmat kemari. “Kunaon atuh … Aku teh muslim, Mat. Masa iya eunteu boleh sholat disini?” jawab Ujang spontan dengan logat sunda yang kental. Mendengar perkataan temannya itu, Rahmat hanya tersenyum manis kemudian memilih melanjutkan ibadah shalat sunnah ketimbang menanngapi.
Selesai shalat dzuhur, sepasang sahabat itu kembali ke salah satu gedung stasiun televisi swasta.  Disana mereka hendak mengikuti audisi bertajuk BINTANG BARU BERSINAR. Itu adalah audisi pemilihan bakat tahunan yang diselenggarakan pihak stasiun TV dan bekerjasama dengan sebuah PH. Bila berhasil meyakinkan juri dengan bakat yang dimiliki, maka setiap calon bintang yang lolos seleksi tersebut akan di-training lagi hingga masa debut mereka nanti. Yah, seperti yang pernah ujang bilang “Jakarta itu tempatnya orang sukses. Tapi kalau pengen sukses, harus berproses”. Jadi Rahmat berusaha menikmati saja proses yang sedang dijalani ini.
Meski keduanya mengikuti casting yang sama, namun kategori yang mereka ambil berbeda. Rahmat mencoba peruntungan di jalur musik, sedangkan si Ujang memilih jalur seni peran. Sehingga mau tidak mau, kebersamaan mereka terhenti ketika sampai di persimpangan dekat WC di lantai 3 gedung. “Berjuang !” kata Ujang dengan senyuman lebar sambil mengepalkan kedua tangan. Rahmat balik menyemangati dengan berujar “Kita Bisa ! Sukses”. Matanya berbinar saat mengucap kalimat tersebut karena besar harapannya untuk meraih kesuksesan. Akhirnya mereka pun melangkah berlawanan arah, berpisah menuju ruangan audisi masing-masing.
***
Sementara ada sekelompok anak manusia yang sedang mengadu nasib memperjuangkan mimpi, di sisi lain gedung serupa ada seseorang yang lebih dahulu beruntung sebab telah berada di posisi impian tersebut. Geri Wahyudi Trigunanda atau yang kini bernama ‘beken’ Garry Watery merupakan artis jebolan BINTANG BARU BERSINAR dua tahun yang lalu.
Berbeda dengan orang-orang yang masih sibuk bergelut dengan audisi di lantai tiga, Garry sekarang sudah dapat menuai hasil dari kerja kerasnya. Di lantai tujuh gedung ini, dia sedang rapat bersama management team-nya, membahas album religi yang direncanakan release hari ini dalam rangka menyambut ceria bulan penuh berkah, bulan ramadhan. Bukan cuma promo album yang kini mengisi kegiatan puasanya, Garry memiliki segudang aktifitas lain pula seperti shooting film layar lebar, memandu program talk show, acara sahur, dan menjadi DJ di radio 9,94 FM.
Kesibukannya ini tidak terlepas dari kepercayaan masyarakat terhadap dirinya. Dengan modal wajah tampan ala Timur Tengah, Garry yang sebenarnya asli Magelang itu cukup mudah mengambil simpati publik dan meraih popularitas. Bakat dan talentanya yang terus diasah pun semakin menguatkan alasan mengapa orang berani membayar mahal untuk menyewanya dalam suatu acara. Hanya sayang, sejak karirnya yang kian menanjak, Garry tumbuh menjadi pria yang angkuh. Suka menganggap dialah yang paling hebat dan berpengaruh di dunia hiburan Indonesia. Dia memandang rendah kepada orang yang terlihat lemah di kasar matanya.
“Kan udah gua bilang, lemon tea pake es !! Nah, coba lo liat ! Mana itu es batunya?!” ketus Garry sambil menunjuk sebuah gelas di meja. Office boy itu berkata dengan tertunduk ketakutan “Maaf, Mas. Biar saya buatkan lagi”. Lantas Garry mengangkat kedua tangannya sembari membuang muka “Enough ! Sekali lo gak becus, ya gak becus. Dan emangnya lo siapa?! Nyuruh gua buat nungguin lo lagi”. Kemudian Garry mengambil jaket kulitnya dan berjalan menuju pintu. “Mau kemana lo, Ger?” tanya seorang talent creative. “Nyari minum di luar” tuturnya asal tanpa memikirkan perasaan rekan-rekan kerjanya. Semua yang ada di ruang rapat itu pun cuma dapat menahan emosi dengan mengelus-eluskan dada.
***
Ujang berlari menghampiri Rahmat yang sedang duduk di pinggir kolam air mancur. “Wuhuu … I rock it !” ucapnya riang. “Wiih, bisa juga Kamu teh ngomong Inggris?” Rahmat tertegun.
“Bisa atuh, Mat. Tiap hari di kosan kan aku makan mie kari keju”
“Kunaon sih Kamu girang pisan?”
“Jelas girang, Mamat kaseeep … Abdi teh bentar lagi bakal jadi artis terkenal di Jakarta !”
“Wah, jadi Kamu teh keterima?”
Dengan senyuman merekah, Ujang menganggukkan kepala. Mereka lalu berpelukan, meluapkan rasa gembira dan haru yang teramat dalam. Rahmat pun tak henti-hentinya menyelamati keberhasilan awal karir karibnya tersebut. Hingga akhirnya Ujang menyadari sesuatu, “Gimana kalau Kamu? Lolos juga, kan?”
Sejenak suasana malah menjadi hening. Kalimat lirih “Belum, Jang. Mungkin rezekiku tahun depan” yang Rahmat lontarkan memecah kesunyiaan. “Ah, masa? Yang bener? Serius? Kok bisa? Budeg semua kali ya, juri yang nilai Kamu itu?! Suaramu itu bagus banget, loh … Vidi, Afgan, Ahmad Dhani, kalah sama merdunya suaramu. Tadi pas Kamu adzan aja, aku nyampe dibuat merinding”. “Ya udah, lupain aja masalah aku. Cukup hibur kawanmu ini dengan traktiran, oke?” telapak putih tangan Rahmat yang terbuka lebar, disambut oleh cengkraman erat tangan Ujang yang lalu menimbal “Oke, Bos !”
***
Kedua insan tersebut lantas bergegas menuju sebuah warung makan Padang di kawasan Kemang. Mereka kesana menggunakan sepeda motor butut warisan dari kakek Ujang. Sebuah motor vespa yang di dalamnya memiliki banyak problematika. “Loh, loh, loh? Ada apa ini, Jang?” tanya Rahmat bingung ketika mendadak barang waris tersebut berhenti di tengah jalan. Sontak jalur protokol yang sedang dipadati kendaraan itu menjadi ramai oleh gemuruh suara klakson yang saling bersahutan. Para pengguna jalan sudah tidak sabar menunggu mereka menepi ke pinggiran.
“Haduh, Mat ... Mau sampe kapan kita dorong motor ini?” keluh Ujang sembari menyeka keringat. “Sampe kita nemu bengkel atuh” ucap Rahmat pasrah. Ujang menepuk bahu Rahmat lalu berkata “Aku teh mau ke warung sebentar ya, beli air”.
“:Inget puasa atuh, Jang”
“Masalahnya tenggorokkan udah kering banget, Mat. Capek pisan pula. Aku teh gak ketahan”
“Nanggung, Jang ! Tinggal sejam lagi, buka”
“Sejam itu 60 menit 3600 detik, Mat. Masih lamaaa”
Rahmat pun hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan Ujang. Sahabatnya itu membuang mentah nasihat yang ia berikan. Dengan mantab, Ujang berjalan ke warung kelontong di sebrang jalan.
Sambil menunggu temannya itu melepas dahaga, Rahmat memilih melanjutkan mendorong motor vespa yang mogok. Namun baru beberapa langkah dia berjalan, mobil sport berwarna putih tiba-tiba datang menghantamnya. Mobil yang bernilai milyaran rupiah tersebut melaju kencang dari arah belakang. Seketika Rahmat terlempar lalu terguling hingga berakhir terbaring di aspal. Sedangkan si pengemudi brutal yang ternyata adalah seorang public figure, Garry Watery itu langsung diamuk masa yang geram.
***
Jangan dulu mengkasihani Rahmat sebab ia ditimpa berbagai kemalangan. Selalu ingat bahwa apabila seorang hamba diberi musibah dan dia bersabar, maka disitu ada hikmah dan berkah yang Allah SWT telah siapkan baginya. Begitu pula sekiranya yang dirasakan oleh Rahmat.
Perih batin akibat penolakan casting, dikerjai vespa butut, dan ditabrak mobil balap merupakan rentetan ujian yang hari ini Rahmat hadapi. Tetapi semuanya luntur manakala ada seorang pria bertubuh tegap dan berjanggut lebat, menghampiri dan menawarinya sebuah pekerjaan menakjubkan. “Maukah Ananda ikut dengan saya ke Mekah, dan menjadi muazin disana?” itulah tawaran yang terlontar dari bibir pria asing tersebut.
Setelah ditelusuri, orang tua baik hati itu adalah salah satu Imam di Mekah yang juga kerabat dari ayah Geri Wahyudi Trigunanda. Niatnya untuk menjenguk anak sang sahabat, bersambut pula dengan pemikiran mengajak Rahmat menjadi abdi Allah SWT di tanah suci. Pemikiran itu muncul saat secara tidak sengaja Syeikh mendengar lalu menyimak suara Rahmat saat melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an.
Selama di pembaringan di rumah sakit, Rahmat memang rajin membaca kitab suci. Ia mengikhlaskan atas segala yang terjadi pada dirinya kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT. Berkat kesabaran dan ketaatannya tersebut, dia memperoleh berkah berlimpah yaitu berupa sebuah kesempatan. Kesempatan yang bahkan lebih indah dari sekedar menjadi selebriti.
Berbeda dengan Rahmat yang sebentar lagi bangkit menjadi muazin di Mekah, artis sombong Garry Watery malah harus merelakan karirnya meredup. Opini publik tentang dirinya mendadak berubah. Berita mengenai tingkah lakunya yang buruk pun meruak ke permukaan. Setiap media cetak dan elektronik seolah tak bosan menuliskan hal-hal negative berkaitan dengan insiden kecelakaan. Promo album religi yang direncanakan sebelumnya gagal pula terlaksana karena banyak pihak yang kecewa dan meng-cancel. Hingga puncaknya, Garry dikeluarkan dari tim management-nya sendiri.


… Tidak sulit bagi Allah SWT untuk memutar balikkan kehidupan hambanya…

Komentar

share!