The Most Wanted : Freedom




Karya:  Abdi Rafi Akmal


Tidak ada yang pernah menyangka Aku dan Dinda harus menghabiskan puasa di tahun ini di suatu daerah terpencil. Daerah konflik yang belum tercium oleh pemerintah. Perang saudara seakan menjadi suatu tradisi yang sangat kental di daerah ini. Penduduk setempat menamai daerah ini dengan nama, Al Aqra.



Dulu, disaat aku pertama kali mengenal tempat ini. Aku percaya ada banyak sekali tempat yang bisa dijadikan objek foto oleh Dinda. Daerah gurun, rumah penduduk, anak-anak setempat, seolah menjadi magnet tersendiri yang meyakinkan Dinda untuk ikut denganku ke Al Aqra. Aku sendiri yang berprofesi sebagai Jurnalis, mempercayai disana terdapat beragam peristiwa yang dapat kuliput. Aku dan istriku yakin, kembalinya kami dari tempat itu pada suatu saat akan dapat membawa berita besar yang layak dijadikan topik utama, di majalah semisal Times.

Ternyata semua itu hanyalah ilusi belaka. Memang banyak objek foto dan berita yang dapat diambil dari tempat ini. Namun, tidak seperti yang kubayangkan. Aku dan istriku tidak bebas bergerak di tempat ini. Sedikit saja melakukan kesalahan, kami mungkin mati ditempat.

Sudah 3 bulan, aku tinggal di tempat ini, atau lebih tepatnya sebagai tawanan. Satu-satunya orang yang ku kenal adalah istriku. Semuanya asing. Tapi sudah tidak, sejak 3 bulan aku disini. Setelah mengenal lebih jauh, ternyata ada satu orang lagi yang juga merupakan tawanan. Parahnya, Ia sudah disini kurang lebih 5 tahun!

Andre juga berprofesi sebagai jurnalis, sama halnya denganku. Alasan yang Ia punya sama sepertiku, disaat pertama kali aku ingin pergi ke tempat ini. Sejak seminggu yang lalu sudah menjadi teman dekat. Andre banyak becerita bahwa Ia sangat tidak suka hidup disini. Selalu diawasi, selalu dibatasi. Ia sering bercerita bahwa pada suatu saat, dirinya akan melarikan diri dari tempat terkutuk ini, dan memberitahu dunia.

Aku setuju, aku mengangguk. Lalu kemudian tertunduk lesu, mengingat tak ada jalan keluar dari tempat ini.

“Yah, ini udah malam keempat Ramadhan loh. Dan kita belum sama sekali Sholat Tarawih.” Dinda mencoba mengajakku berdiskusi di tengah kedinginan malam.

“Iya ma, ayah tahu. Cuma sekarang lagi ga memungkinkan untuk Sholat Tarawih. Sholat 5 waktu yang ga memakan waktu lama, tetep dicurigai.” Aku mencoba menenangkan Dinda.

“Ya ga bisa gitu dong yah. Kita akui, mereka memang punya agama yang berbeda dari kita. Tapi ga seharusnya, mereka membatasi ibadah kita seperti ini.”, kali ini Dinda berbicara agak keras. Suaranya berhasil menyadarkanku.

“Baiklah ma. Besok ayah usahakan bertemu dengan salah satu pimpinan mereka. Semoga aja, kita diberi kelonggaran dengan Sholat Tarawih.”

“Iya yah. Mama setuju, tapi hati-hati. Mama ga mau liat ayah ada apa-apa sampe kita bisa kembali ke rumah.”

Aku tersenyum. Suara dan senyum isriku ternyata menjadi pengalah rasa takutku terhadap orang-orang kejam ini. Ya Allah, berikanlah hambaMu ini kemudahan esok hari. Hamba hanya ingin beribadah kepadaMu. Aamiin. Begitu aku selesai panjatkan do’a, mataku terlelap tak kuasa menahan kantuk yang sangat kuat.

***
Aku berdiri di tengah padang gurun yang sangat luas. Aku sendirian dengan hanya bermodalkan kertas catatan dan penaku. Aku bingung dan takut. Tiba-tiba saja suara senjata api mulai berkumandang. Sial, ternyata aku lagi ditengah wilayah perang. Aku lantas berlari secepat mungkin menjauh, tapi tak ada gunanya. Itu gurun, bung. Tak ada tempat berlindung. Aku hendak meminta pertolongan salah satu kubu, tapi aku tak tahu pihak mana yang baik.

Stttooppppp... stooppppp!!! Aku berteriak sangat keras, tidak ada yang memperdulikanku. Mereka hanya sibuk menembaki musuh. Aku seakan-akan menjadi tumbal di tengah keganasan perang saudara yang terjadi. Disaat rasa takutku mulai mencapai puncak tertinggi, ku rasa ada satu timah panas yang menembus dadaku. Lantas kupegang dada disebelah kiri. Begitu banyak darah yang berceceran. Tanganku juga lantas menjadi merah pekat, warna khas darah, tapi tetap tidak ada yang memperdulikan. Aku bimbang. Timah panas itu benar-benar mengoyak bagian dalam tubuhku, rasa panas langsung menjalar keseluruh tubuhku. Hingga kemudian...
***

“Maaf yah, Dinda ngga sengaja ketumpahan sup di dada ayah.”

Ternyata itu Dinda. Ia berusaha membangunkanku untuk makan sahur. Dan ternyata, sup yang ditangannya tumpah ke badanku.

“Iyaa, gapapa ma.”, aku berbohong. Padahal panasnya benar-benar menguliti kulit yang ada dibawah baju.

“yaudah yah, ganti baju aja dulu sana. Abis itu makan sahur, bentar lagi adzan Subuh loh.”

Yaa lagi-lagi. Setiap kata yang terlontar dari Dinda seakan menjadi mantra yang sangat ampuh untuk memulihkan kondisiku kapan pun itu. Wajahnya yang bulat, dan matanya yang indah selalu berhasil melumpuhkan semua ocehan yang akan terlontar dari mulutku. Oh Dinda, sungguh beruntung aku memilikimu sebagai istriku.

Jam 06.00 a.m
Pagi ini setelah Sholat Subuh. Aku kembali kepada rutinitasku sebagai seorang tawanan. Bekerja tanpa diberi upah. Kadangkala aku mencari emas di sungai-sungai. Sempat juga aku memberi makan sapi. Atau aku juga pernah berprofesi sebagai pembersih kendaraan perang milik mereka.

Seperti janjiku semalam. Aku akan bertemu dengan pimpinan mereka hari ini. Bertemu dengan salah satu pimpinan mereka sebenarnya bukanlah hal yang bagus. Aku ingat banyak rekan kerjaku yang tak kembali, begitu mereka disuruh menemui pimpinan kelompok yang bengis ini. Tapi aku tidak bisa mengingkari janji yang telah kusanggupi tadi malam. Aku harus pergi. Tapi aku tidak bisa sendiri, aku perlu teman. Tapi aku tidak bisa menyertakan istriku dalam pertemuan nanti, terlalu bahaya. Maka dari itu, aku mengajak Andre.

“Ndre, kamu ikut aku ya nanti siang.”

“Kemana?”

“Bertemu dengan pimpinan mereka, Si Kidal”

“Apa? Aku ngga salah denger Di? Ketemu dengan dia, sama aja kamu cari mati. Inget, disini masih ada istrimu yang harus kamu jaga.”

“Ya Aku tahu. Tapi seenggaknya aku bisa melakukan hal berani ini lebih dulu daripada Kamu, yang kerjaannya cuma mimpi bisa lolos dari tempat ini. Dan satu lagi, kalau bukan karena istriku, si Dinda, aku ngga mau menemui keparat itu.”

Andre terdiam mendengar jawabanku. Awalnya aku berharap, Andre menyiapkan jawaban yang lebih meyakinkan agar aku tidak bertemu dengan Si Kidal. Tetapi aku salah, Andre kemudian diam. Dia tak berkata apa-apa setelah itu.

“Ya, kalau kamu nggak mau ikut, ya gak masalah. Aku bisa sendiri. Tapi tolong, kalau ada terjadi apa-apa sama aku, tolong jagain Dinda.”

“Di, aku udah lama nunggu kesempatan ketemu dengan pimpinan bajingan itu. Tapi nyaliku sangat sedikit. Tapi sekarang, impianku sama sepertimu, maka dari itu, aku mau.”, sepintas, terlihat kobaran api semangat yang menyala-nyala di dalam diri Andre. Sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya.

“Gitu dong. Abis Sholat Dzuhur, kita kesana.”

Jam 01.00 p.m
Entah seberapa besar nyaliku saat ini. Atau, entah seberapa besar kondisi kejiwaanku terganggu. Tidak ada satu orang pun disini –yang masih waras, yang mau bertemu dengan Si Kidal jika tidak membawa emas atau apapun itu. Tapi untungnya, ada Andre yang bersedia menemaniku bertemu dengan pimpinan kelompok ini. Kondisi ini sedikit membuatku nyaman. Setidaknya ada dua orang yang dianggap gila, bukan satu.

Cukup sulit mencari Andre saat ini. Saat ini Aku tidak tahu, Ia sedang bertugas di bagian mana. Karenanya, aku memutar daerah ini untuk mencari Andre. Hingga akhirnya aku sampai di depan rumah kosong, yang kedengarannya sangat berisik. Aku mendekati rumah tersebut dengan berhati-hati. Aku mendengar seperti sesuatu yang dikemaskan didalam rumah bekas serangan bom tersebut. Dengan keberanian yang berhasil aku kumpulkan dalam beberapa menit, aku mendorong pintu tersebut.

“MAAFKAN SAYA, SAYA TIDAK BERMAKSUD APA-APA.”

Itu Andre. Ia terlihat sangat kaget saat aku masuk kedalam rumah tersebut.

“Eh Ndre, jangan teriak dong. Nanti dikira ada masalah.”

“Yah kamu Di. Aku kira tentara bengis itu. Tunggu sebentar ya, aku lagi nyiapin peralatan.”

Aku melihat banyak sekali barang. Barang-barang yang dalam 3 bulan ini sangat aku kenal. Ada Granat, Peluru, Pisau dan Tas yang isi didalamnya aku tidak tahu apa.

“Apa-apaan ini Ndre? Jangan macem-macem dong. Aku kesana dalam keadaan damai.”, aku kaget setengah mati ketika melihat barang tersebut.

“Santai aja Di. Ini udah aku rencanain dari dulu. Ini kesempatan yang sangat berharga banget. Aku udah nunggu ini dari dulu. Aku terima kasih karena ada kamu disini.”, matanya sedikit berbinar. Ia terlihat begitu antusias dengan kesempatan ini.

“Maksud kamu apaan sih Ndre?”, lantas aku balik tanya, karena aku tidak tahu apa yang dia maksud.

“Jadi gini. Aku udah kurang lebih 5 tahun disini. Berkali-kali aku memikirkan cara agar bisa lolos. Tapi tidak ada jalan. Satu-satunya jalan, adalah pertolongan dari luar. Bagaimana aku menghubungi pihak luar? Ya dengan telepon. Aku sempat bingung dengan hal ini, tapi aku yakin pasti ada satu di dalam kantor Si Kidal. Hampir di setiap kesempatan, aku melewati kantor tersebut mencoba mencari tahu letak telepon itu. Akhirnya aku ketemu. Tapi aku tidak bisa sembarangan masuk kesana. Lebih tepatnya, aku tidak bisa menjalankan aksi mencuri telepon itu jika masuk seorang diri. Sekarang ini ada kamu, Abdi. Kita masuk berdua kesana, kemudian aku akan mencari alasan agar aku bisa mencari kesempatan ke tempat telepon itu. Tapi maaf, kamu harus berbicara seorangdiri dengan Si Kidal. Jika aku berhasil mencapai tempat telepon itu, aku akan menghubungi Militer Internasional untuk membantu kita.”, Andre berbicara sangat cepat, tapi aku mengeri apa yang dikatakannya.

“Kemudian, Ndre? Kamu yakin kamu bisa lolos dari tempat itu?”

“Tidak tahu. Waktu kita sedikit, tapi aku perlu waktu yang banyak. Aku sangat mengandalkanmu, Abdi. Buat mereka, berbicara panjang lebar, dan buat dirimu jadi perhatian utama, sehingga mereka lupa dengan diriku.Hanya ada satu kesempatan Di. Aku harap, kamu sama antusiasnya dengan yang kualami.”

Aku mengangguk. Bukan pertanda setuju. Hanya sebagai respon pada umumnya setelah orang berbicara panjang lebar. Kini, diriku bisa merasakan batas umur yang tinggal beberapa jam lagi.

Di kantor Si Kidal.
Aku masuk dengan perasaan tegang yang luar biasa. Aku masuk dengan membawa dua tanggu jawab, sebagai penyampai pesan dari istriku, dan pemberi keamanan buat Andre. Aku sadar, kesempatanku hanya sekali. Jika aku melakukan kesalahan fatal, aku mati, Andre mati, dan.... Dinda juga pasti mati.

Semua yang direncanakan berhasil pada awalnya. Usaha Andre untuk keluar ruangan dan mencari telepon berjalan mulus. Aku juga berhasil membawakan peran sebagai perhatian utama, semua penjaga yang masing-masing tingginya 10 cm lebih tinggi berdiri mengeliliku dengan tangan memegang senjata. Setelah aku merasa cukup lama, aku kemudian meminta dengan sangat, agar permintaanku dituruti. Alangkah indahnya, Allah memberi kemudahan dalam negosiasi ini. Si Kidal memperbolehkanku Sholat Tarawih sepanjang bulan Ramadhan ini tanpa pengawasan. Dan tiba-tiba, Andre kembali masuk ke kantor, tepat sebelum yang lain menyadari kepergian Andre yang cukup lama.
Baru saja aku keluar. Andre melompat kegirangan, dan setengah berbisik kepadaku. Ia mengatakan, bahwa dirinya berhasil menghubungi pasukan Militer Internasional. Ia mengatakan bahwa sempat terjadi perundingan yang cukup sengit, mengingat mereka tidak ingin tertipu dengan telepon orang jahil. Tapi Ia berhasil. Aku merasakan napas kembali lancar dari hidungku, pesan dari Dinda sudah tersanggupi, dan kini tinggal menunggu bala bantuan datang.

2 hari kemudian.
Aku sempat berharap semua yang dikatakan Andre adalah kebenaran, bukan kebohongan. Tapi nyatanya, ini sudah memasuki hari kedua, sejak Andre melakukan panggilan ke Pasukan Militer Internasional. Apakah bala bantuan yang dijanjikan akan datang?

Tepat tengah hari. Rasa hausku akibat berpuasa sudah mulai terasa. Tapi tiba-tiba saja ada pengumunan yang menyatakan bahwa setiap penduduk disuruh berkumpul ke lapangan. Rasa khawatirku sempat melanda. Aku bergegas mencari Dinda, dan pergi bersamanya. Aku tidak ingin di saat-saat seperti ini, aku jauh dari dirinya.

Di tengah lapangan yang penuh pasir dan terlihat kumuh itu. Seseorang membacakan berita buruk. Bahwa telah ditemukan jejak disekitar telepon milik mereka. Orang itu juga menyebutkan bahwa tercatat ada panggilan keluar yang menggunakan telepon tersebut. Aku tidak percaya dengan apa yang dikatakan orang itu. Tapi aku yakin, itu adalah jejak milik Andre. Refleks, kepalaku berputar mencari keberadaan Andre. Sialnya, karena memang jumlah penduduk yang terlalu ramai, atau karena aku yang tidak teliti mencari, Andre tidak ada dalam pandanganku. Kembalilah fokusku pada orang di depan, yang membacakan berita buruk tersebut.

Satu saat kemudian, terdengar suara tembakan. Orang-orang di sekelilingku berteriak. Aku menoleh, ternyata ada satu penduduk yang ditembak ditempat. Orang yang didepan kembali menyuarakan, jika tidak ada yang mengaku, maka satu per satu akan mati. Aku merasa ada batu besar yang menghalangi paru-paruku untuk bernafas. Secara tak sadar, pegangan tanganku  terhadap Dinda semakin erat. Aku takut. Aku tidak mau jadi korban kebengisan ini.

Sudah 10 orang mati di sebelah kananku. Hanya berjarak beberapa orang lagi, sebelum sampai pada diriku. Ketika aku mulai kehabisan harapan, terdengar teriakan dari arah belakang. Aku melirik, Dinda meilirik, semuanya melirik. Itu Andre. Dia memegang senjata dan tas yang waktu itu aku lihat di rumah kosong tersebut.

“WOOOIII KEPARAT!!! INI AKU, YANG MAKAI TELEPON KALIAN!! TERIMA KASIH YA. BENTAR LAGI ADA TENTARA YANG MENUJU KESINI, DAN KALIAN SEMUA, TENTARA BAJINGAN, AKAN MATI!!” Andre berteriak sangat keras. Terlihat sangat jelas, bahwa bantuan sebentar lagi akan datang.

Sesaat kemudian, Andre menembak secara membabi buta kearah tentara bengis tersebut. Ada beberapa yang kena. Tapi itu tidak seberapa, karena masih ada sisa ratusan orang bersenjata lengkap yang siap membalas aksi Andre. Tentara itu membalas aksi Andre, namun Andre lari kearah hutan. Mereka mengejar.

Aku berharap, ini mimpi. Tapi bukan, ini memang kenyataan. Penduduk yang mati, Andre yang jadi gila, tentara yang terkena tembakan, semua itu nyata. Di pundakku, Dinda menangis tak tahan melihat semua kenyataan pahit ini.

Samar-samar terdengar dari arah hutan, suara jeritan yang amat mengerikan. Aku mengenal suara itu, tapi aku berharap instingku salah. Ketika tentara itu keluar dari arah hutan, terlihat seseorang menggenggam sebuah tangan, hanya sebuah tangan. Diujungnya darah menetes-netes tak tertampung. Kemudian, muncul Andre yang diseret secara kejam oleh tentara itu. Ia diseret sampai tepat dihadapanku. Aku ingin muntah melihatnya, Andre kehilangan satu tangannya secara paksa. Namun aneh, Ia tetap tersenyum.

“Abdi. Terima kasih, buat perlindungannya beberapa hari yang lalu. Sekarang kalian bisa bebas. Sebentar lagi...”, seketika itu juga Andre ditembak tepat dikepalanya dan disaksikan penduduk setempat.

Aku kaget melihat Andre mati begitu sadis di tanah terpencil ini. Pemandangan yang mengerikan. Bahkan Dinda menangis semakin menjadi-jadi di pundakku. Aku berharap saat ini juga ada keajaiban.

“LETAKKAN SENJATA KALIAN. KALIAN SUDAH TERKEPUNG. MENYERAHLAH.”

Terdengar suara dari atas lewat pengeras suara. Aku memandang keatas, begitu juga semua orang. Helikopter. Iya ada helikopter, dua, tiga, banyak sekali helikopter yang mengepung daerah itu. Lusinan pasukan juga diterjunkan dari heli tersebut.

Dari semua hal yang dicari oleh para penduduk. Hanya satu yang sangat mereka cari, yaitu Kebebasan!

Aku berlari bersama Dinda mencari tempat aman. Pasukan itu datang dan melumpuhkan tentara-tentara tersebut. Aku melihatnya jelas sekali. Hanya beberapa menit, suasana kembali kondusif.

Aku tersenyum, Dinda yang masih dalam isakan tangisnya juga ikut tersenyum, begitu juga dengan semua orang. Kebebasan telah tiba. Kebebasan yang mereka tunggu-tunggu akhirnya datang di Bulan Ramadhan ini.

Komentar

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!