Terkekang itu bebas yang terlindungi




Karya: Nisa Nurash

Gadis itu sedang berbincang dengan ibunya yang sedang menonton sinetron di televisi. Masih mengenakan seragam putih dan abu abu karena baru saja pulang sekolah. 


“Bunda, Hilda diajak temen Hilda nonton Semarang Night Carnival.”
“Memangnya kapan?”,tanya bunda yang mengalihkan perhatiannya ke Hilda.
“Besok. Berangkat jam 6 sore. Ya maghrib lah bunda. Ikut ya?”,ucap Hilda dengan wajah mengiba.
“Kalau berangkat aja magrib mau pulang jam berapa? Kalau nonton kayak gitu pasti pulangnya jam sekitar jam 12 malam. Memangnya itu tugas sekolah?”
“Nggak.”, jawab Hilda tanpa berpikir panjang.
“Kalau begitu, berarti nggak usah. Bunda kan udah pernah bilang, kamu boleh main maksimal jam 5 sore harus sudah pulang. Nggak baik perempuan pulang malam, kecuali kalau kepepet misalnya ada tugas sekolah. Nggak boleh, bahaya kalau main malam.”
Hilda kesal. Dia menyesal mengapa dia tidak berbohong saja kalau itu tugas sekolah. Ibunya juga tidak akan curiga, tidak akan menanyakan ke kepala sekolah apa benar itu tugas sekolah. Dari kecil, Hilda memang dibiasakan untuk bertanggung jawab dan dilatiih kejujurannya. Dia dibesarkan dengan peraturan-peraturan yang lebih ketat dari anak remaja lainnya. Sebenarnya Hilda sadar, bahwa itu untuk menjaga pergaulannya. Tapi, dia juga ingin seperti anak lain. Sampai umur 16 tahun ini, Hilda tidak pernah keluar rumah lebih dari dari jam 18.30 malam, kecuali untuk ngaji, belajar kelompok, dan keperluan mendesak lainnya.
Pernah sekali Hilda pergi untuk bermain-main di Simpang lima bersama teman temannya. Waktu itu ada Arum, Cecil, Doni, dan Qisna. Awalnya tidak ada masalah saat mereka bermain. Orang tua Hilda pun mengijinkan Hilda bermain. Hilda juga tidak melanggar peraturan karena dia pulang ke rumah sebelum jam setengah 7. Masalah mulai muncul saat Hilda dengan jujur bercerita kalau saat bermain ada Doni, Hilda juga melajutkan ceritanya dengan mengatakan kalau Doni itu sebenarnya suka sama Hilda dan di tengah perjalanan Doni menyatakan cinta ke Hilda. Awalnya teman-teman Hilda meninggalkan Hilda dan Doni berduaan di sebuah taman. Lalu, Doni mulai mendekati Hilda. Walaupun Hilda menolak, tetap saja dia dimarahi ibunya.
“Hilda, kenapa nggak langsung pulang?”,tanya ibunya dengan penuh curiga.
“Hilda nggak tau bunda.”
“Kalau nggak tahu, wajar. Tapi waktu kamu tahu, ya kamu segera pulang menghindar dari Doni. Kamu malah berduaan sama Doni. Besok lagi jangan main sama teman-teman kamu yang itu lagi. Temen seharusnya melindungi dari perbuatan maksiat. Bukannya malah menjerumuskan kamu. Kamu kan sebelumnya juga pernah ditembak cowok, bisa langsung menghindar. Kenapa sama Doni nggak bisa?”
Setelah kejadian itu, kebebasan Hilda mulai berkurang. Hilda memang dibesarkan dengan agama. Dia tidak boleh begitu saja bergaul dengan laki laki yang bukan mukhrimya. Semenjak itu, Ibunya selalu mengantar dan menjemput Hilda ke sekolah. Kalau bukan ibunya, pasti kakaknya Ahmed.
“Astaghfirullah. Ya allah, tolong aku.”
Ramadhan pun telah tiba. Banyak teman-teman Hilda yang mengadakan acara buka bersama, ngabuburit, berjualan takjil, dan acara lainnya.
“Bunda, temen-temen ngaji ngajak Hilda buka bersama.”
“Oh, siapa aja?”
“Ada kak Nurma,Floren,Silvi, kak Eka, Yulia, Wanda, dek Titien, dek Nilam, masih banyak lagi kok bunda.”
“Yaudah, boleh aja. Kapan?”,tanya Bunda sambil menunjukkan wajah penuh kelegaan.
“Besok. Berangkatnya jam 4 sore. Nanti ketemuan di jalan Kanguru...”
Belum sempat Hilda menyeselaikan perkatannya, ibunya sudah menjawab,“iya, iya boleh. Besok minta uang tambahan sama ayah.”
Keesokan harinya, Hilda mengadakan buka bersama dengan teman-teman ngajinya. Mereka berbuka dengan senang. Tak lupa juga mereka berfoto selfie untuk dibagikan ke dunia. Setelah selesai sholat magrib, mereka pun berbincang-bincang sebentar. Kak Eka pun mengusulkan untuk jalan-jalan ke Simpang Lima. Semua sepakat kecuali Hilda yang terlebih dulu menelepon ibunya.
“Bun, Hilda mau jalan-jalan ke Simpang lima.”
“Sama siapa?”
“Sama teman-teman ngaji. Tadi Kak Eka ngajak.”
“Oh iya. Uangnya masih cukup?”
“Masih kok.”
“Iya. Hati-hati ya.”
Aneh, pikir Hilda. Padahal, Hilda takut kalau ibundanya memarahi, teringat kejadian sama Doni. Tapi kenapa kalau sama teman-teman ngaji langsung diijinkan? Hilda pun bersenang-senang. Hilda pulang ke rumah jam 9 malam. Dan, ibu bapaknya tidak memarahinya.
Begitu juga acara lainnya. Hilda pun diajak oleh Arum, Cecil, Qisna, Hapsoro,Dewa, Dewinta, Ummi, Aji dan teman lainnya untuk berjualan takjil yang hasil penjualannya akan diberika kepada panti asuhan.
“iya, boleh. Hati hati ya.” Kata Bunda dengan santai.
Hilda berpikir kalau di bulan  Ramadhan ini ibunya membebaskannya. Bukankah kalau di Bulan Ramadhan itu seharusnya lebih dikekang? Orang tua lain selalu menyuruh anaknya meningkatkan intensitas ibadah di bulan Ramadhan. Yang tadinya pacaran, untuk mengurangi kegiatan pacaran mereka, karena bulan Ramadhan adalah bulan suci. Lalu, mengapa bunda malah tidak sperti itu? Hilda tidak mau memikirkannya, dia lebih baik menikmati kebebasann yang diberikan saat ini.
3 hari kemudian, Kak Nurma mngirim pesan singkat yang mengabarkan bahwa remaja pengajian ingin mengadakn acara buka bersama lagi dan dilanjutkan jalan-jalan. Hilda pun setuju dan rencana itu berhasil terselenggara.
“Kalau nggak gini, nggak bisa jalan-jalan ya.”,kak Numra mencurahkan isi hatinya tanpa seorangpun yang bertanya.
“Iya. Cuman sama kalian aja aku boleh keluar malam malam. Soalnya bapakku percaya kalau sama kalian, nggak bakal lupa Sholat. Di sini juga nggak ada laki lakinya, jadinya nggak ada kesempatan mendekati zina. Sayang ya, cuman bisa pas Ramadhan.”,Floren ikut mendukung kak Nurma.
“Aha, setelah Ramadhan kita jalan-jalan lagi dong. Boleh pasti. Kan orang tua kita tahu kalau kita insyaallah saling mengingatkan buat tetap sholat, buat jangan deket deket cowok yang bukan mukhrimya. Iya kan? kita juga kan saling ngingetin buat tadarus setiap hari kan?”,kak Nurma tiba tiba menyampaikan usulnya.
“iya iya.”,jawab semua serempak.
        ###
“Bunda setelah Ramadhan, Hilda main lagi sama teman teman ngaji, sama teman sekolah ya.”
“iya, tapi jangan main yang kayak dulu ada berduaan sama cowok lagi ya. Itu tidak terkecuali, sama temen sekolah atau ngaji.”
Itu dia jawabannya. Hilda kini mengerti arti penting manjaga pergaulan. Semua nasihat ibu, semua pelajaran yang diberika guru dan Ustadz, semua sudah Hilda mengerti. Bulan Ramadhan telah membuktikannya. Di bulan Ramadhan, semua orang berlomba-lomba berbuat kebaikan, padahal di hari biasa mereka melakukan kegiatan yang tanpa sadari itu berdosa. Mengapa Ibu Hilda mengijinkan Hilda bermain lagi dengan teman-temannya yang pernah menjebak Hilda dengan Doni? Karena ini bulan Ramadhan. Mereka tidak berani membuat orang melakukan hal-hal yang mendekati zina. Mereka lebih baik melakukan kegiatan untuk saling membantu misalnya berjualan takjil.
Mengapa Ibu Hilda mengijinkan Hilda bermain bersama teman-teman ngaji saat bulan Ramadhan?  Sebenarnya, Ibu Hilda akan selalu mengijinkan Hilda saat ingin jalan-jalan dengan teman ngajinya, bahkan saat di luar Ramadhan. Karena ibu yakin, setidaknya Hilda tidak akan lupa sholat, tidak berani berduaan dengan laki laki. Karena teman-teman ngaji telah mempelajari isi al-qur’an yang melarang mendekati zina, tidak melupakan sholat, dan selalu menjaga kehormatan wanita. Itulah pentingnya memilih teman.
Biasanya teman yang baik juga akan mengajak untuk melakukan kegiatan yang baik. Di bulan Ramadhan, ini semua orang termasuk teman-teman Hilda melakukan kegiatan yang baik dan bermanfaat. Tidak seperti hari hari biasa, yang hanya berjalan jalan tidak tentu tujuan, malah menjebak Hilda. Orang yang baik akan meneruskan kebaikan yang telah dia buat saat menjalani bulan Ramadhan. Dan Hilda berharap kebaikan itu ada pada teman-temannya.
“Semoga semua ini dapat berlanjut bahkan setelah Ramadhan usai.” ,doa Hilda di dalam hatinya.
###

Komentar

share!