Terimakasih Islam




Karya:  Umi Kalsum Tiara Ayu

Ruangan itu seperti neraka. Berkali-berkali aku menghapus air mata yang jatuh. Ku coba mengeluarkan segala penat yang terpendam hampir satu jam lamanya merasakan cacian layaknya tamparam di ruangan itu. Sungguh tak menyangka perusahaan ternama memiliki direktur yang bermulutkan jalanan, yang notaben karyawannya berpendidikan tinggi. Entah aku harus bagaimana sekarang. Sakit hati itu masih menyelinap disini. Yaampun. Apa surat pengajuan ku sebegitu tak berharganya bahkan seperti sampah yang dibuang dan hanya untuk diinjak-diinjak. Sangat terhina, di depan mata ku dia membuang dan menginjak-injak nya. Dia belum tau saja, aku bisa memberikan ide inovatif. Seandainya aku bisa bekerja sama dengan perusahaan itu, pasti perusahaan itu lebih melejit dan naik daun. Bahkan mungkin jabatan ku bisa lebih tinggi darinya. Lalu dia akan tunduk pada ku.



Hay!!aku ini Aulia Sabrina pemilik konter hp dan pemilik online shop, ya walaupun tidak terkenal namun masih sering order dan juga penulis naskah teater Cakrawala yang menang di pementasan se Indonesia. Mantan wakil ketua dari Jakarta Writers Group. Dan penulis novel, ya walaupun belum best seller. Huh.. apapun itu takkan membuat mama bahagia kalau aku belum menjadi sarjana. Tapi apa salah jika aku ingin menjadi sarjana dengan universitas yang terkemuka. Tapi universitas terkemuka tidak ada yang mau menerima ku. Yaallah aku tidak ingin yang berlebihan, asalkan universitas itu negeri aku sudah bahagia kok. Yaallah aku mohon semoga di tahun depan aku bisa. Huh.. Mungkin benar kata teman-teman dan kedua orang tua ku. Kalau aku ini orang yang bodoh, pemalas dan bangor dan orang yang bodoh, pemalas dan bangor itu sulit menjadi orang sukses. Sungguh itu perkataan atau kutukan. Harus ku akui hanya pak Naga yang masih baik. Seorang pencetus Jakarta Writers Group, dan satu-satunya orang yang mengerti ku. Dan. Hmm..

Saat itu, setelah aku datang ke perusahaan iblis terkemuka, yaallah ampuni aku. Aku sempat curhat padanya tentang keluhan ku pada hidup ku ini. Namun satu perkataannya yang membuat ku terkejut adalah saat dia menyuruh ku untuk kuliah di Universitas terkemuka di Australia dengan jurusan bisnis. Sekali lagi, dia menyuruh ku kuliah di Universitas terkemuka di Australia dengan jurusan bisnis. Sudah mendaftar di Universitas negeri di seluruh penjuru Indonesia saja tidak ada yang ingin menerima ku apalagi di sana. Apalagi aku tidak bisa berbahasa Inggris, sungguh pelajaran bahasa Inggris ku selama 12 tahun ini sepertinya tidak berguna. Tapi sepertinya dia serius dengan ucapannya. Dia langsung mencari rekan-rekannya yang bisa membantuku. Salah satu rekannya yang terpilih adalah Ryan Drug, lelaki berkebangsaan Australia pemilik salah satu perusahaan Advertising di Bali. Katanya, Ryan Drug membutuhkan partner kerja untuknya. Dan pak Naga berucap pada ku bahwa waktu setahun menganggur ku ini bisa di gunakan untuk training. Maksud dari training ku ini adalah untuk mendapatkan pengalaman kerja dan sertifikat untuk bisa masuk ke Universitas tersebut serta belajar berbahasa Ingris. Setelah setengah tahun training aku akan langsung di daftarkan disana dengan syarat training dulu hingga penentuan di terima atau tidak adalah tahun depan. Dan otomatis Universitas itu memantau ku dari sana.

Aku sempat panas dingin dalam memikirkan kesungguhan pak Naga, namun apa yang harus di ragukan lagi, orang lain saja sungguh-sungguh pada nasib ku ini, aku juga harus lebih sungguh dari ini. Ini waktunya, aku tidak boleh main-main. Dan ini bukan lah hobi yang biasanya hanya akan ku lakukan karena aku suka, tapi tentang komitmen hidup. Aku harus menjadi sarjana di Australi. Kalau memang tuhan menggariskan ku disana, mau apa?. 'Okeh, aku siap apapun resiko dalam perjuangannya akan ku hadapi'. Itu kata terakhir yang sempat terucap di Bali oleh ku. Ya sedikit meyakinnkan pak Naga agar tidak khawatir meninggalkan ku di Bali sendirian.

Saat aku di Bali aku langsung bertemu dengan Receptionist dan menanyakan tentang pemilik perusahaan tersebut yang bernama Ryan. Belum apa-apa sudah di tertawakan, gara-gara aku salah pelafalan namanya. Yang seharusnya rayen, aku malah memanggil Ryan. Trus memang nya kenapa? Aku kan orang Indonesia. Namanya Ryan saja sok sok an di panggil Rayen sih bule bule. Yaallah mengapa hidup ku ini hanya untuk jadi bahan lawakan dan hinaan. Dan sesuatu yang tak pernah ku lupakan saat bertemu dengannya, dari pertama kali ku lihat wajah nya, ya.. tampan, tapi dia sangat sok dan sombong. Memang benar kata orang kalau Indonesia itu orang-orangnya ramah-ramah terutama aku hehe. Tapi keramahan ku malah di balas dengan kejutekannya. Hari ke 10 aku di Bali bersamanya untuk masa-masa percobaan partner tidak ada masalah. Yang lebih membuat ku riwuh, aku tidak pernah ketinggalan google translate saat berbincang dengannya. Ya.. sedikit demi sedikit aku mengerti bahasanya, walaupun saat berbicara dia sangat cepat.

Namun, yang aku heran, makhluk seperti apa dia? Sangat sulit bagi ku mengikuti maunya, di luar dari pekerjaan ucapan ku selalu salah baginya, sepertinya dia membutuhkan partner yang dia bisa ajak bertengkar. Dia bilang aku cerewet lah, ribet lah, lelet lah. Dan yang sempat membuat ku kesal dia berkata 'pantes perusahaan itu maki-maki lu, kalau lu kayak begini terus bahkan seluruh perusahaan gak kan sudi bekerja sama dengan lu, jangankan perusahan, universitas pun gak kan mau nerima lu' yah intinya begitu lah cacian yang ia rangkai dalam bahasanya. Sepertinya memang kita orang yang berbeda, ibarat air dan minyak. Dia orang yang pendiam dan santai, namun sepertinya sangat disiplin, tegas dan berkomitmen. Pantas semua karyawannya patuh dan tunduk sama dia. Kalau boleh aku jujur, aku tidak tahan menjadi partner kerjanya. Kalau aku tidak berfikir tentang nasib dan masa depan ku. Aku pasti sudah tidak ingin menjadi partnernya. Namun apa boleh buat, ini lah pekerjaan, mungkin disini aku sungguh tak tahan oleh sikapnya, tapi mungkin di luar sana akan ada banyak makhluk sepertinya yang mungkin lebih parah.

Semenjak aku menjadi partner nya dan menemani kebisuannya saat ke berbagai tempat, aku menjadi akrab dengan Nadine, adik semata wayang Ryan. Jujur, aku sempat terharu saat Nadine bercerita pada ku tentang sosok Ryan. Dari situ aku menganggap bahwa Ryan bukan orang yang biasa, ya.. bisa dibilang aneh. Dari namanya saja sudah aneh. 'Ryan Drug' apa dia terlahir dari lintingan rokok? Haha. Bagi Nadine, Ryan adalah kakak yang bertanggung jawab, semua kebutuhan Nadine berasal dari keringat Ryan. Ryan anak yang tenang tapi pencinta kebebasan. Ryan adalah sosok yang bodoh, dia tidak lulus SMA dan otomatis dia hanya mengenyam pendidikan SMP. Semua saudara memandang Ryan sebagai sampah keluarga. Apalagi keluarga Ryan sempat mengalami masalah, itu yang membuat Ryan memilih jalan hidupnya sendiri dengan apa yang ia mau. Aku tidak berani bertanya masalah apa yang di hadapi kelurga mereka. Hanya dengan mendengarkan cerita Nadine aku sudah faham jika Ryan itu adalah orang baik dan dia orang yang unik dan pemberani. Dengan gelar tamatan SMP nya dia tidak malu, bahkan dia tidak perduli dengan cacian temannya, begitu pun mantan nya dulu yang memutuskannya karena dia tidak lulus SMA. Dia sangat amat memulai hidupnya dari nol, bahkan dari minus. Dia rela ngamen atau menjadi musisi jalanan di Jakarta untuk bisa menghasilkan uang sendiri sekaligus karena dia suka bermusik, dan dia bisa memainkan semua alat musik termasuk angklung dan gendang. Sumpah itu menakjubkan, seorang bule menjadi pengamen dan bisa bermain angklung dan gendang. Hingga dia memberanikan diri untuk bertanya dan mengasah kemampuannya di bidang advertising, bahkan hampir di tipu atau gulung tikar. Hingga kini semua saudaranya memuji nya dan bahkan bangga terhadapnya. Ya bisa dibayangkan, sosok sampah kini menjadi orang yang berarti dan tidak bisa satu pun orang meremeh kan nya.

Suatu hari, aku tidak merasa diriku terancam saat di dekatnya. Walupun orang-orang bilang bahwa dia pemuda yang sangat westernisasi. Dan aku memang partnernya, namun aku rasa aku partner kerja bukan partner yang dimana pun dia berada aku harus ada bersamanya. Begitu pun saat dia menjadi DJ di salah satu club di Bali. Ini kali pertamanya aku datang ke tempat seperti ini. Orang tua ku selalu menganggap bahwa aku anak yang nakal, namun setelah aku bersama Ryan aku berasa bahwa aku adalah anak yang alim. Mungkin karena kehidupan kita berbeda. Sungguh aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan di club itu. Aku juga tidak mengerti mengapa Ryan mengajak ku untuk menemani nya saat dia menjadi DJ. Sebagai partner, aku tetap menghargai ajakannya. Aku hanya duduk diantara wanita-wanita yang memakai pakaian seksi sedang berlenggak lenggok seakan tak berfikir akan ada kematian di dunia ini. Di antara menu yang ada disini aku hanya minum minuman bersoda, bukan alkohol. Sesekali menyeruput minuman, telinga ku seakan setuju bahwa aku sangat menikmati alunan lagu yang diiringi oleh Ryan.

Setelah dari tempat itu aku seperti babysitter nya yang merangkul ia jalan hingga mencapai tempat tidur, menggantikan bajunya. 'Haduh.. anak ini terlalu banyak minum alkohol'. Memandang wajahnya, wajah tulus itu kini terlelap dengan ramuan alkohol. Ketahuilah, aku sangat penasaran padamu. Melihat mu seperti ini bukan membuat ku jijik atau ingin mencibir mu. Tapi, kau sosok yang profesional, kau tahu apa yang harus kau lakukan saat di ruang yang berbeda. Di satu sisi kau menjadi bos yang disiplin, tegas dan berkomitmen di perusahaan, hingga menjadikan karyawan mu disiplin dan profesional kerja. Di satu sisi yang berbeda, kau menjadi DJ serta pemuda yang westernisasi jika sudah bergaul, berteman hingga menemukan hoby mu. Bermabuk-mabukan, merokok, berlenggak-lenggok bersama teman.

Hmm.. mencium aroma pantai seperti menyentuh ketenangan, apalagi ditambah satu cangkir kopi di pagi hari. Suasana ini semakin membuat ku menemukan ide akan tulisan tulisan yang terketik rapi dengan jari-jari yang seakan memiliki mulut untuk berkata. Pada intinya kau lah sosok lelaki profesional dengan penuh ketenangan. Tulisan ku terhenti di halaman ke 101 saat Ryan tiba-tiba hadir di samping ku dengan wajah kucal. Yang tak ku sangka-sangka dia bercerita tentang hidupnya kepadaku, persis apa yang di ceritakan oleh Nadine. Yang baru ku tahu, Ryan adalah salah satu anak korban broken home dia sangat amat menghargai pilihan kedua orang tuanya, maka dari itu dia memiliki pilihan lain yang harus membawanya pada kesuksesan 'satu hal, aku tidak ingin menjadi mereka, namun aku bangga dengan ke dua orang tua ku. Diantara kedua orang tua ku, aku tidak memilih siapa-siapa. Aku memilih jalan hidup ku sendiri yang mana hanya ada aku dan diriku.'

'dan tuhan' sambung ku, aku tidak tahu apakah ucapan ku membuat nya tersinggung atau bagaimana, tapi aku rasa ucapan ku tidak salah. Memang benar adanya. Oh iya, selama ini aku tidak tahu tentang ajaran apa yang dianut oleh Ryan. Mencoba bertanya, takut salah, takut kebawa sensitif. Mungkin dia tahu apa yang sedang ku fikirkan hingga buka suara tentang ajaran yang ia anut. Sempat kaget saat kata 'ATHEIS' itu terucap dari mulut tipis itu. Bahkan dia sempat ingin ikut aliran iluminati. Yaampun.

'Kenapa si orang islam sangat rajin beribadah, sampai 5 kali sehari. Dan suka membaca kitab yang bacaan sulit itu dan mampu menghafal nya. Aku salut dengan agama mu.'

'Islam itu penuh dengan keteduhan, semua yang dilarang dan yang di jalankan mengandung makna, Ryan. Tidak hanya sekedar prinsip semata. Aku juga bangga memeluk agama islam.'

Agama adalah pedoman hidup. Jika ia tidak memiliki agama, jelas ia tidak memiliki pedoman di hidup nya. Sungguh membuat ku tercengang, tak pernah aku rasakan sosok Ryan yang seperti ini. Berbulan-bulan ku mengenalnya, aku baru rasakan perbincangan kami tidak seperti biasanya. Sepertinya Ryan membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Seandainya aku bisa membawa nya ke agama mu yaallah. Aku rasa aku mencintainya. Ini akan menjadi pertama kalinya bagi ku mencintai lelaki yang tak sejalan. Tidak!! Aku tidak mungkin mencintai atheis sepertinya. Apalagi yang ku tahu semua keluarganya beragama kan kristen, bisa saja dia akan masuk kristen kembali. Bagaimana pun kita tak akan sejalan.

Ini waktunya aku ke Jakarta bersama Ryan. Ryan juga ingin membuka cabang di sana, sekaligus aku akan tetap menjadi partnernya. Mm.. banyak sekali pengalaman yang kudapat saat bersama Ryan di Bali. Bermalamkan di club, mendengar suara ombak di pagi hari, ke mall memilih baju untuknya, dan memberikan ide untuk tatto di lengannya. Semua terasa teduh. Sesampainya di jakarta pun, kita jadi sering bersama. Kita sudah jarang bertengkar, mungkin karena kita sudah memahami masing-masing karakter. Sedikit, Ryan merubah ku menjadi pembisnis yang profesional, disiplin dan berani. Aku menjadi pintar menyusun strategi ekonomi dan bisnis. Aku dan Ryan seperti bertukar bahasa sekarang. Aku pandai berbahasa Inggris, dan Ryan pandai berbahasa Indonesia. Satu lagi, novel kedua ku kini telah rilis dan sepertinya akan menjadi best seller hehe. Bersamaan dengan itu, aku membuka salah satu kedai kopi di Jakarta Selatan. Kini aku bisa menikmati kopi lebih dekat bersama dengan penaku.

Dan suatu ketika... 'Aulia, aku ingin Islam' di puasa hari pertama ini, ucapannya membuat ku terus menerka apa yang ia maksud. Dia sangat sungguh-sungguh untuk masuk Islam. Bahkan dia sempat membaca surat annas, dan itu sempat membuat ku terkejut. Saat aku tanya ilham apa yang merasuk di dirimu hingga dia ingin islam kan agamanya. Dia sempat melihat ku shalat tahajut, dia merasa islam benar-benar nyata. 'Saat aku melihat mu dan orang-orang di luar sana membaca alQur'an, dan saat aku mendengar suara adzan. Itu semua telah merasuk di pikiran hingga seakan ada bisikan bahwa islam akan membawa kedamaian untuk ku. Di saat bulan Ramadhan ini aku mulai mencintai islam' subhanallah hamba baru allah. Aku memiliki warga baru, teman baru di jalan Allah.

Setelah dia menjadi muallaq, aku selalu berusaha mendampinginya, memberitahunya tentang arti puasa dan sabar. Yang membuat ku tertawa saat dia bertanya 'apa kentut bisa membatalkan puasa?' ya jelas tidak haha. Dan juga aku ikut mengaji, dan mendengarkan ceramah bersama Ryan. Ini terasa lebih indah dari yang ku bayangkan. Islamnya Ryan menuntunku ku untuk lebih memperdalam ibadah ku dan yakin lahir dan batin untuk berhijab, subhanallah. Ada keindahan-keindahan baru yang ku rasakan di hidup ku dengan tampilan baru ku dan islam yang melekat di dalam diri ku.

Tepatnya malam lailatul qadar, aku ternominasi menjadi pembisnis muda bersama Ryan. Dan... aku mendapatkannya. Aku mendapatkan piagam penghargaan pengusaha muda. Serta, mendapat seritifikat menuju Universitas yang aku impikan itu. Semua menjadi double. Dan aku bisa menjadi public speaking berbahasa inggris. Saat salah satu pengusaha terkaya se Asia bertanya pada ku, mengapa aku bisa seperti ini? Aku jawab 'kali ini aku bangga menjadi orang yang bodoh, pemalas dan bangor. Kekurangan ku mendorong ku untuk berubah dan menjadi orang sukses. Seperti yang mama ucapkan, tidak ada orang sukses yang bodoh, pemalas dan bangor.' Ucap ku dengan mata berkaca-kaca menahan air mata melihat wanita cantik yang duduk tepat depan ku tersenyum sembari menghapus setiap butir air mata yang melinangi pipi nya. 'Dan terimaksih untuk partner bisnis sekaligus guru bagi ku. Mampu dan sudi menampung ku dan men-tatah ku berjalan hingga kini. Aku belajar dari segalanya, dari semua perjalanan tak terduga. Dan satu lagi, terimakasih untuk Allah, islam yang sangat melekat didiriku membuat ku percaya akan kehidupan yang lebih baik. Malam ini lah tepat salah satu pemberian tuhan dari kepercayaan ku, terimakasih islam.' Lanjut ku disambung senyum manja dari bibir tipis lelaki yang sangat terlihat mempesona.


***

Sepulang ku dari Australia dengan gelar Master Business and Economics, aku mendapatkan job untuk memotivasi anak-anak sekolah, mahasiswa ataupun umum. Semua perjalanan ini ku tuang kan dalam novel ku yang ke tiga. Oiya aku tidak sabar bertemu dengan partner bisnis ku dulu dan melihat buah hati nya yang baru lahir di rahim ustadza. Subhanallah. Saat pertemuan kami bermain TOD (truth or dare) ternyata cinta ku tak bertepuk sebelah tangan dulu. Dan calon suami ku yang juga pengusaha ini hanya tertawa mendengarnya. Lucu ya kami.

------------ The And ------------

Komentar

share!