Terima Kasih Ramadhan




Karya:  Agus Prastyo Utomo Sudibyo

Dengan langkah cepat bak kijang yang tengah dikejar sang raja hutan, seorang lelaki berusia 40 tahun berlari dengan cepatnya guna menghindari kejaran masa. Malam ini menjadi saksi pelariannya, aksi kejar-kejaran oleh warga tengah ia lakoni. Berlari dan menghindar itulah perkejaannya di tiap malam, bukan tanpa alasan lelaki itu baru saja mencuri 2 buah handphone beserta uang tunai  5 juta rupiah yang ia dapat dari seorang rumah warga.


Ia menyebutnya pekerjaan, di hampir tiap malam pekerjaan ini menjadi ladang pencarian rezekinya, ia tidak memiliki pendidikan yang tinggi. Namun, itu tidak menjadikan alasannya untuk mendidik sang anak hingga bergelar sarjana. Dengan terus berlari lelaki itu mencari tempat untuk bersembunyi, lelah tidak menjadi masalah, jika apa yang ia dapat berhasil ia persembahkan untuk anak tercinta.
Waktu terus bergulir. Namun, ia tetap saja berlari, tidak sedikit warga yang berlari mengikutinya, pandangannya bak serigala yang buas, bola matanya berkeliaran mencari tempat persembunyian, ia sangat mengetahui tempat yang terbaik untuk menyembunyikan diri, perkebunan.
Langkahnya terhenti di sebuah ladang perkebunan milik warga, di tempat ini ia beristrirahat sejenak, lelaki itu mulai mengatur nafasnya yang mulai terkuras akibat berlari. Lelah dan letih bagaikan beban yang harus ia hadapi. Kedua mata itu menatap bulan yang mengapung dengan indahnya, malam ini bulan purnama itu hadir untuk menghiasi langit.
Senyum itu menghiasi wajahnya, bukan karena menatap sang cahaya malam, melainkan keberhasilannya mendapatkan buah pencariannya. Malam ini ia tidak akan pulang dengan tangan hampa, uang ini akan membuat anaknya di rumah tersenyum melihatnya. Lelahnya berlari membuatnya memejamkan sang penglihatan.
Hewan berkaki dua itu membangunkannya dengan suaranya yang khas. Matanya mulai terbuka, ia lebih dahulu bangun mendahului sang mentari. Tak ingin mengulur waktu ia pun bergerak cepat untuk tiba di rumah.
Tangan itu mengetuk dahan pintu dengan halusnya, suara itu membangunkan anak lelaki berusia 10 tahun itu dari mimpi indahnya, ia pun dengan segera untuk membukakan pintu.
“Ayah.”
Suara itu mengetarkan hatinya.
“Kamu baru bangun tidur nak, jagoan ayah hari ini kesiangan bangunnya.”
Dengan mengusap kedua matanya anak lelaki itu menjawab.
“Hari ini kan hari minggu yah, sekolah libur.”
Ayah itu tersenyum seraya berkata.
“Kamu cepat mandi ya nak, ada yang ingin ayah bicarakan.”
Anak itu baik, ia tak pernah menunda sebuah perintah. Lelaki itu menatap uang yang berada di genggamannya, uang ini akan ia ubah dengan sesuatu yang berharga, membelikan sebuah mainan. Sejenak ia merenungi apa yang selama ini ia dapatkan, ia menyadari jika uang ini bukanlah hal yang baik untuk diberikan kepada anak. Sudah 1 tahun ia menjalani roda perekonomian ini, jauhnya nilai agama membuatnya hilang arah kehidupan.
Anak itu duduk menyampingi ayahnya.
“Apa yang ingin ayah sampaikan, apa ayah ingin memberikan aku kejutan?”
Lelaki itu mengusap lembut rambut hitam buah hatinya.
“Iya, ayah akan memberikan kamu kejutan, tapi bukan sekarang, ayah mau nanya sama kamu, apa hadiah yang selama ini kamu idamkan nak?”
Sejenak anak itu berpikir.
“Aku mau…. Oh ya, sebentar lagi kan bulan puasa, aku mau ayah membelikan aku baju muslim yang baru sama pecinya juga yah.”
“Hanya itu? bulan puasa nanti ayah janji akan membelikan kamu baju muslim sama peci yang baru, biar anak ayah tambah semangat.”
Anak itu tersenyum dengan manisnya.
“Oh ya yah, kemarin bu guru bilang hadiah yang paling baik adalah hadiah yang di dapat dari mencari rezeki yang halal, halal itu apa yah, apa itu nama pekerjaan?”
Pertanyaan itu bagaikan anak panah yang menghujam jantungnya, bagaimana tidak, lelaki itu tak pernah mengajarkannya akan ilmu agama, uang yang ia dapat tak pernah ia beritahu. Ayah itu hanya tersenyum menanggapi pertanyaan itu.
“Bukan nak, jawabannya nanti aja, sekarang ayah mau istirahat dulu.”
Tengah malam. Bernaungan bulan dan bintang lelaki itu keluar dari tempatnya berteduh. Dengan beranselkan tas punggung, serta penutup wajah berwarna hitam lelaki duda itu bersiap untuk melakukan tugasnya.
Langkahnya berjalan perlahan, tenang, dan sunyi. Perlahan ia mulai menyisiri sebuah perkampungan yang mulai nampak sepi. Tak ada petugas keamanan membuatnya leluasa untuk misinya. Matanya mulai memperhatikan tiap rumah, rumah bertingkat dan berpagar menjadi tempat sasarannya. Langkah itu terhenti di sebuah rumah berukuran tingkat. Namun, minimalis.
Melompati pagar dan masuk melalui kaca jendela adalah hal yang termudah baginya. Mulai memasuki ruangan utama, sebuah handphone dan beberapa emas digasaknya. Malam ini ia tersenyum, hari ini apa yang ia dapat cukup untuk membelikan baju baru untuk sang anak.
Ia mulai berjalan keluar, pemilik rumah itu tak menyadari kehadirannya.
“Ini menjadi hari keberuntunganku.” Ucapnya.
“Kebertuntungan di dunia dan penyesalan di akhirat.”
Suara itu mengejutkan dirinya. Ia menelan ludah itu.
“Apa bapak tidak takut mencuri di bulan yang suci ini?”
Suci? Apakah ini sudah bulan ramadhan?”
Ia pun menoleh ke arah belakang, dan ternyata pemilik rumah itu mengetahui gerak-geriknya.
“Ini sudah bulan ramadhan, bulan dimana penglipatan kebaikan, dan juga penglipatan keburukan bagi siapapun yang melakukan kejahatan di bulan yang suci ini. Apa bapak ingin mengotori bulan yang suci ini dengan perbuatan bapak?”
Lelaki itu membuka penutup wajahnya.
“Maafkan saya, saya tidak menyadari malam ini sudah masuk bulan ramadhan, ini handphone dan emas milik bapak, jika bapak ingin membawa saya ke penjara saya siap.”
Pemilik rumah itu tersenyum.
“Saya tidak akan membawa bapak ke kantor polisi, saya akan membebaskan bapak dengan catatan bapak segera pulang ke rumah, Allah akan memberikan rezekiNya yang terbaik bagi hambanya yang berusaha dengan sungguh-sungguh dan dengan jalan yang baik. Di dunia ini masih banyak rezeki halal yang Allah telah persiapkan untuk kita, carilah yang halal agar keluarga di rumah bahagia merasakannya.”
Lelaki itu tersenyum seraya mengucapkan terima kasih atas nasehat yang telah diterimanya. Ia pun melangkah menuju rumah, sepanjang perjalanan ia merenungi nasehat yang baru saja merasuk dalam kalbu. Ia menyadari jika 1 tahun ini ia memberikan nafkah dari bukan jalan yang baik, uang haram itu mudah ia dapatkan. Namun, itu pula yang membuat sang anak tak jarang jatuh sakit. Ia teringat akan janjinya untuk membelikan buah hatinya perlengkapan ibadah, ia tak tahu pekerjaan halal apa yang harus ia lakukan.
Matanya menatap jalan lurus yang mulai sepi dari kendaraan, dilihatnya seseorang yang merasa kesulitan dengan mesin mobil, ia pun menghampirinya.
“Maaf pak, saya melihat bapak sedang kesulitan dengan mesin mobil ini, jika bapak mengizinkan bolehkah saya melihatnya?”
Pemilik mobil itu tak berkata, ia hanya mengangguk sebagai isyarat dari sebuah pertanyaan. Lelaki itu mulai melihat kondisi mobil, walaupun ia tak mengenyam pendidikan tinggi. Namun, ia memiliki keahlian di bidang otomotif dan memperbaiki mesin mobil adalah pekerjaan yang amat ia pahami. Tidak memiliki ijazah membuatnya patah semangat dalam menggali keahlian ini.
Tangannya mulai meraba-raba mesin, mengecek satu bagian demi bagian. Hingga permasalahnnya pun ia temui.
“Sekarang coba bapak stater.”
Lelaki berkemeja itu menuruti. Dan mesin mobil itu pun berbunyi.
“Terima kasih pak atas pertolongannya, kalau bukan bapak saya ga tau harus bagaimana lagi, saya tidak mengerti soal mesin, oh ya ini ada sedikit ucapan terima kasih karena bapak telah membantu saya.”
Lelaki itu mengeluarkan uang kertas berwarna merah sebanyak 5 lembar.
“Ini mohon diterima.”
 Lelaki itu terdiam. Ini seperti sebuah kejutan dari Tuhan untuknya. ini adalah uang halal pertamanya semenjak 1 tahun terakhir. Ia pun menerima itu sebagai hadiah dari Tuhan atas usahanya membantu.
“Terima kasih pak, semoga uang ini bisa saya gunakan dengan sebaik mungkin.”
“Iya, oh ya apa pekerjaan bapak?”
Dengan senyum yang tipis lelaki itu menjawab.
“Saya belum punya pekerjaan.”
“Kalau begitu ini kartu nama saya, jika bapak berminat bapak bisa bekerja di tempat saya, anggap saja ini bonus karena bapak telah menolong saya.”
Tidak ada yang tahu apa yang Tuhan mau, ini adalah sebuah pelangi di malam hari. Kejutan bagi siapapun yang berusaha dengan sungguh-sungguh mencari rezeki di jalanNya, jalan kebaikan. Dan hadiah itu tidak disia-siakan oleh lelaki itu. Ia kembali teringat akan janji kepada anaknya, di pukul 1 pagi dini hari ia bergegas pergi ke toko pakaian yang buka selama 24 jam. Ia tahu kemana harus melangkah.
Aroma masakan tercium sangat harum, membuat siapapun ingin menyantap hidangannya, anak kecil berusia 10 tahun itu bangun dari kehidupan ilusi, membuatnya mengucapkan sebuah kata yang indah.
“Ayah.”
Anak itu mulai melangkahkan kaki dan pergi menuju ruang tamu. Disana sang ayah telah menyiapkan hidangan terbaiknya untuk mengawali sahur pertama di tahun ini. Pagi ini makanan halal itu siap mereka makan.
“Jagoan ayah cuci muka dulu sana setelah itu kita makan bersama.”
Anak itu menuruti. Sementara itu sang ayah menyiapkan sebuah kejutan untuk buah tercintanya. Tak berselang lama anak itu kembali.
“Rasya.”
“Iya yah.”
“Ayah punya kejutan untuk kamu.”
“Apa itu yah?”
“Kamu harus menutup mata kamu dulu, baru nanti ayah kasih tau.”
“Ih ayah bikin aku penasaran aja.”
Anak itu pun kembali menuruti ucapan sang ayah. Sebuah hadiah yang disembunyikan di dalam kotak berukuran sedang itu menjadi  kejutan untuk buah hatinya.
“Sekarang kamu boleh membuka mata kamu.”
Mata itu terbuka.
“Taraang…. Ini kejutan dari ayah.”
“Apa ini yah?”
“Sekarang kamu boleh membukanya.”
Ia pun merobek-robek kertas yang menutupi hadiah itu. Ketika semua terlihat jelas, seutas senyum yang indah itu terpancar dari wajah anak itu. Sangat manis.
“Ayah, ini kan baju muslim sama peci, ayah, aku sayang ayah.”
Anak itu memeluk ayahnya, butiran air mata itu jatuh menembus rambut sang anak. Lelaki itu berhasil mempersembahkan hadiah terbaik untuk anaknya tercinta. Tuhan telah memberikannya jalan yang terbaik bagi mereka yang tulus ingin memberi dari arah yang baik. Dan lelaki itu telah membuktikannya.

Komentar

share!