Tekad Suci




Karya:  M. Abdis Salam Al-Qawwiyu Dien

“Man qoro’aal qur’aana wa a’mila bihi albasaallahu taajan yaumal qiyaamati. Dhow’uhu ahsanu min dhow’isy syamsi fii buyuutid dunyaa law kaanat fiikum fimaa zhonnukum billazii a’mali?”



Hadis ini telah tertulis sejak setahun lalu di awal mushaf Al-Qur’anku. Diriwayatkan dari Abu Daud. Rasulullah SAW bersabda “Barang siapa yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkannya maka Allah SWT akan memakaikan sebuah mahkota untuk kedua orang tuanya di hari kiamat. Yang cahayanya lebih baik dari sinar matahari yang menerangi rumah-rumah di dunia. maka apakah kalian kira terhadap orang yang mengamalkannya?”
Sungguh hadis yang membuat hatiku luluh karenannya, nafasku tersendat olehnya, aliran darah yang semula lancar seakan macet bak jalanan ibu kota Jakarta, dan membuat kedua mataku tak sanggup menahan derasnya air mata yang jatuh begitu saja tetes demi tetes ke lantai. Inilah motivasiku dalam menghafalkan kitab suci Al-Qur’an.
***
Ramadhan ini kembali kujalani bersama nenek. Sama seperti ramadhan-ramadhan sebelumnya. Kami selalu menjalani bulan ini berdua saja.
Inilah aku Umar Al-Fadani. Seorang santri kelas I tsanawiyah di Pondok Pesantren milik ustadz Mansur El-yusuf. Nenek adalah satu-satunya keluarga yang kumiliki saat ini. Ayah dan Ibu telah pergi jauh dan tak akan pernah kembali sampai kapanpun. Aku tidak dapat membayangkan paras dua orang yang selalu menyayangiku itu. Kata nenek ayah dan ibu adalah pasangan yang sangat setia. Selama pernikahannya, tak sekalipun nenek melihat mereka berdua bertengkar. Senyuman manis adalah hal yang selalu terpancar dari wajah mereka yang indah. Tetapi garis takdir berkata dengan kemauannya. Saat usiaku baru menginjak tiga tahun, ayah dan ibu meninggal dunia dalam tragedi tsunami Mentawai. Goncahan gempa yang kuat di susul tsunami yang besar menghancurkan Sumatera Barat dan merenggut nyawa pelita-pelita hidupku.

“Sabar aja cu. Gak usah di pikirin. nanti malah nangis. Do’ain aja. Sama hafalin tuh Al-Qur’an.” nasehat nenek kepadaku.

“Iya nek. Do’a selalu Umar kirimkan kepada ayah dan ibu agar suatu saat kita bisa berkumpul bersama di surga firdaus-Nya Allah SWT.” sahut ku sedikit sedih.
***
Sejak setahun lalu aku telah menimba ilmu di Pondok Pesantren asuhan ustadz Mansur El-Yusuf. Ku ikhlaskan masa remajaku yang indah untuk hal yang lebih indah. Bahkan paling indah yang keindahannya akan terus tetap terindah di dunia maupun di akhirat.
Sejak kudapatkan kutipan hadis tentang mengamalkan Al-Qur’an yang ku dapatkan dari ustadz Mansur El-Yusuf. Aku mulai berpikir bahwa aku ini adalah seorang anak yang sebatang kara. Ayah tak punya, ibu taka ada. Berbeda dengan teman-temanku yang masih memiliki salah satu bahkan lengkap kedua orang tuanya. Mereka bisa berbakti dengan mudah kepada orang tuanya.

“Lalu bagaimana dengan saya pak ustadz yang ibu dan ayahnya telah meninggal?” tanyaku keheranan kepada ustadz Mansur El-Yusuf.

“Do’ain terus mereka. Hafalkan juga al-qur’an agar kamu bisa menghadiahkan mahkota kepada kedua orang tuamu.” jawab ustadz Mansur El-Yusuf.

“Iya pak ustadz” balasku.

Benar juga perkataan pak ustadz kepadaku. Ini bisa menjadi salah satu caraku berbakti kepada ayah dan ibu. Dan mulai hari itu kuniatkan dalam hati yang paling dalam. Akan ku hafalkan dan amalkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan izin dan ridho Allah SWT.
Maka dimulailah perjuanganku dalam menghafal Al-Qur’an sampai tibalah aku di Ramadhan tahun ini.
***

Ramadhan ini aku telah memiliki jumlah hafalan 15 juz berkat menghafal sejak setahun yang lalu. Pencapaian yang sangat luar biasa kata ustadz Mansur El-Yusuf. Melebihi pencapaian seluruh santrinya. Nenekpun begitu bangganya terhadap diriku. Dia menyuruhku untuk terus menghafalkan Al-Qur’an setiap malam agar Ramadhan ini hafalan 30 juz bisa terselesaikan. Kuturuti perintah nenek dengan harapan ramadhan ini hafidzul qur’an tersemat di diriku.
Malam demi malam ku lalui. Kuhafalkan Al-Qur’an sampai tiba di malam yang ke-10 ramadhan. Kekhusyu’anku dalam mengaji terganggu oleh seorang pria yang memanggil-manggil namaku dengan suara dan nada yang keras.


“UMAAARR DIMANA KAMU???” teriak lelaki tersebut.

“Disini pak” ku sahut teriakan lelaki itu.

“Umar nenek kamu meninggal” kata lelaki yang mencari-cariku sejak tadi.

Jeebb. Satu kaliat yang terangkai dalam empat kata yang mengagetkan jantungku. Akupun berlari ke rumah dengan tangisan dan rasa yang tak bisa ku percaya.
Ku masuki rumah dengan tatihan langkah. Ku ratapi wajah nenek yang sudah terbujur kaku tak bernyawa. Ku cium keningnya berulang kali seakan tak ingin kurasakan hari ini.

“Sabar Umar. sabar. Nenek sudah dipanggil sama Allah SWT.” pak ustadz Mansur berkata dari belakangku.

“Saya gak kuat pak ustadz. Tinggal nenek satu-satunya permata yang saya miliki di dunia saat ini. Mulai hari ini saya akan hidup sendiri pak ustadz” jawab ku terseduh-seduh.

Pak ustadz menggapai tangan ku dan memelukku.
“Mar. masih ada pak ustadz. Mulai hari ini pak ustadz yang akan jaga kamu. Anggap aja pak ustadz bapak kamu sendiri. Ingat pesan pak ustadz selesaiin tuh Al-Qur’an. Dengan ridho Allah, itu yang akan membantu Umar dan keluarga di dunia dan akhirat” kembali pak ustadz menasihatiku.

“Makasih pak ustadz. Umar akan mengikuti nasihat pak ustadz. Juga nasihat dan pesan-pesan nenek selama hidup” jawabku.


***




Malam semakin larut. Kabur duka di malam Ramadhan ini telah mencabik-cabik hatiku. Aku harus sabar. Karena memang setiap manusia akan meninggal. Tinggal menunggu waktu dan gilirannya saja. Kutakkan melupakan nenek dengan segala petuah-petuahnya. Ayah, ibu, dan nenek akan selalu berada di sanubariku.

“Nenek, bersabarlah. Sebentar lagi akan Umar khatamkan hafalan Al-Qur’an ini. Dan semoga kita bisa menjadi keluarganya Allah SWT. Dan semoga kalian terangkat derajatnya dengan izin Allah SWT.”

Selesai

Komentar

share!