TANDA TANYA MERAH




Karya:  Adi


Kedinginan tengah malam mulai terasa hingga ke kulit ari. Mata ini terasa begitu sangat berat untuk dibuka, namun apa daya ketika hati sudah bertekad untuk tetap bangun di sepertiga malam ramadhan. Terkesan melihat teman sekamarku sudah mendahui bangun. Sudah dua bulan ini ia begitu rutin terbangun di sepertiga malam. Suara gerakan tubuhnya yang mungkin membuat aku terusik dan terbangun.



Kuhamparkan sajadah di ruangan khusus solat lantai dua kamar kos kami. Kondisi yang sunyi dan tenang di ruangan ini membuat kita termenung dan mengevaluasi segala aktivitas hari ini. Waktu-waktu inilah, semua keinginanku di dunia pupus, dan hanya ingin mendekat sedekat-dekatnya dengan yang Maha Kuasa. Seusai melakukan solat malam, aku membuka tulisan harian dan membaca beberapa catatan ajaib yang dapat menyadarkan kembali orientasi di daerah perantauan.

Ku baca catatan pekan awal ramadhan. Senyum di wajah mengingat kejadian di hari itu,“Alhamdulillah” kuucapkan pelan ketika mengawali.. Acara itu dimulai sudah sejak delapan pagi tadi. Aku betul - betul terlambat ketika melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 12.30. Memang awalnya tidak ingin masuk mata kuliah pagi itu, tapi aku kembali mempertimbangkan prioritas saat ini. Butuh waktu untuk memahami apa yang sedang dibahas oleh utusan lembaga resmi pemerintah ketika datang di sesi terakhir. Sambil membuka note kit yang diberikan panitia,aku berpikir belum waktunya dapet materi seperti ini. Disitu tertulis, ‘Metodologi Penulisan Ilmiah dan Internasional’. Terlihat mereka fasih membicarakan topik yang sedang dibahas sehingga suasana ‘ilmiah’ terbangun dalam acara ini. Sekilas melihat peserta yang hadir, ternyata aku junior, tampak orang-orang sudah berpengalaman memenuhi acara ini. “Junior? Apa masalahnya?” Tanya diriku,”Ini adalah cara agar aku bisa belajar!” tegas dalam diri. Teringat sebuah artikel yang kubaca pagi ini, kisah tentang imam syafi’i yang diusia muda banyak menghasilkan karya islam, dan pemuda-pemuda disamping rasulullah yang sudah ikut hijranya diusia muda. Jadi, tak ada salahnya aku belajar disini!

Tiba-tiba temanku, Didit memanggilku, “bro, lihat tuh di depan list peserta yang manuscriptny sudah diberi penilaian”.

Seusai acara inti, masuklah sesi ‘Klinik Penulisan’, disini kita akan dibagi menjadi empat grup yang nanti akan dibimbing langsung mengenai manuscript yang sudah dikumpulkan sebelum mengikuti acara ini oleh pakar penulis ilmiah. Ketika sudah diumumkan, namaku termasuk ke dalam grup empat.

“Dit.. semua manuscript  diperiksa dan dibimbing  langsung sama professor-professor itu” ujarku kepada Didit, jantungku berdebar kencang, angan-anganku melayang entah kemana, menanti nasihat tentang tulisanku bak akan menerima sebuah nasihat agung dari seorang kaisar,.

 Wush,,” Didit menyambar anganku “jangan mikir yang enggak-enggak.” Jawab Didit, semua peserta mulai menggerumuni sang profesor itu, dan sangat berantusias mendengar kritik setiap tulisan mereka satu persatu.

Astagfirullah, bagaimana ini..” ucapku. Didit melihat kekhawatiranku.

Sambil menunggu nama yang dipanggil, Tiba-tiba ada seseorang yang menyapa,

“eh, kamu ikut acara ini?” tanyanya heran. “iya,,” jawabku.

“ Wah, padahal masih semester awal ya, tapi sudah berminat ikut acara seperti ini,” sahut Widi, nama wanita muda yang menyapaku tadi. Wanita itu kukenal di kampus, tapi sepertinya ia lupa dengan namaku.

“iya Mba, Ya..  ikutan ajah sih mba” jawabku.

“Wah, keren, kreatif banget kamu ya..  berarti sudah mengirim manuscriptnya?

”sudah, mba gimana?”

“telat aku ngirimnya, Tapi aku harap sih sudah diperiksa professornya. lah  kamu ngirim kapan memangnya?”

“Di hari terakhir pendaftarannya kok mba, itupun seadanya” jawabku dengan senyuman. Pembicaraan kami terhenti saat dimulai panggilan pertama dari seorang peserta seminar itu. Kekhawatiranku kembali saat itu,

“Bro, lu kan tahu sendiri tulisan gue kayak gimana, gue ragu nih mau ngeliat tulisan gue, sumprit dah kagak masuk metodologi banget. Kalau gue liat dari format penulisannya, gw udah offside.. tau kagak..” bisikku ke Didit.kalo gue maju, mesti gue bakal babak belur”. Logat jakarta yang keluar dari mulutku seketika.

“ah elu gimana sih, katanya gentleman, masa yang beginian ajah kagak berani”, Ujar Didit

bukan gitu, ini masalah harga diri bro.. liat tuh, sekeliling kita ajah, udah kayak yang expert gitu”

“ya, elah masa lu mau pergi gitu ajah? Ini momen bro, ntar lu tau dimana kesalahan lu nantinya, udeh coba ajeh bismillah..”

Setiap melihat tumpukan kertas yang dipanggil oleh sang professor itu, jantungku makin berdebar-debar. Detaknya makin tidak menentu, ragu dengan pernyataan Didit berbagai pikiran aneh muncul seketika, melarikan diri, pergi ke belakang, bahkan tidak menghiraukan sama sekali adalah jalan yang harus kuambil. Satu demi satu peserta mendekat ke professor tersebut . Semua peserta khusyuk mendengarkan bak seorang kiai yang sedang menyampaikan amanat. Detik demi detik, menit per menit terus berjalan dan tibalah namaku dipanggi.

Mataku membesar seketika, jantung yang makin susah unttuk di hitung kecepatannya, tangan sudah yang terasa dingin sejak masuk sesi terakhir berharap aku bisa melakukan sesuatu. Didit sudah melihatku, dan orang – orang melihat sekelilingnya mencari siapa pemilik tulisan yang dipegang professor itu. Aku menatap Didit memastikan untuk tidak bertingkah laku apapun. Aku yang berada disebelah Widi, seorang wanita yang menyapaku tadi, meliriknya, dan ia tidak mengenali nama yang baru saja disebut.

Aku dan Didit mencari jarak sedekat-dekatnya dengan professor itu, Didit berusaha mengintip tumpukan kertas di meja professor itu, Ia juga ikut merasa heran apa kritikan yang diberikan professor itu. Tiba-tiba Didit melihatku, ia mengatakan, “ada tanda tanya merah ditulisanmu.”. “Whats... tanda tanya merah.. apa itu maknanya,,” tanya diriku. Bingung, tak berani aku menanyakan arti dari simbol ‘tanda tanya merah’ kepada sang professor. Kubuka memorisimbol koreksi dosen-dosen kelasku tapi tetap tidak mendapatkan penjelasan. Aku dan Didit termenung ikut mencari arti tanda tanya merah itu. Hingga di akhir sesi acara simbol itulah yang selalu kami pikirkan. Mencari makna dari simbol itu. “Alhamdulillah” kuucap pelan seusaiacara ini. Pengalaman hari ini membuatku sadar arti pentingnya sebuah persiapan. Kejadian hari ini merubah kebiasaanku. Mungkin kalau aku bisa mengatasi hal itu, aku akan lebih berani menghadapi masalah apapun, bahkan dampak terburukpun bisa diantisipasi.

Seusai acara tersebut, kami masih berpikir arti dari tanda keramat itu.

”BINGUNG..” kata yang kuucap tanpa sadar, namun hal itu yang bisa kutafsirkan. Aku dan Didit saling manatap dan kita tertawa bersamaan seketika. Hal itu yang mungkin professor itu ungkapkan juga terhadap tulisanku.

Komentar

share!