TANDA TANGAN




Karya:  Balqis Sukma Pertiwi


Teriknya panas dan asap buangan dari kendaraan para orangtua dan wali yang baru saja mengambil rapor rasanya membuatku makin kesal. Barusan aku ditinggal Abang pulang karena ada satu nilai merah di raporku,IPS terpadu. Katanya Ia tak mau berjalan dengan adik yang bikin malu. 


Sebenarnya hal itu tak begitu masalah, toh walaupun sudah diajari Abang berkali-kali aku tetap tidak cocok diajari Abang yang mahir mendidik mahasiswa. Akar dari kekesalanku adalah tugas dari guru agama di sekolah;mengisi buku kegiatan Ramadhan. Tugas ini hanya ditujukan pada kami yang baru naik kelas 9. Bagaimana tidak kesal? Tahun lalu murid yang naik ke kelas 9 dibebaskan dari tugas macam ini. Apalagi ‘kan Ramadhan tahun ini bertepatan dengan liburan sekolah, mengapa mesti ada tugas?
Ibu yang sedang membaca majalah di teras mengernyit saat aku masuk rumah dengan wajah kesal.
“Lho,Dek? Kok masuk rumah nggak ngucap salam? Kok Ibu dicuekin? Kok tadi nggak bareng Abang? Ohya, tadi kata Abang rapor Adek ada merahnya, pelajaran apa itu?” pertanyaan ibu meluncur bertubi-tubi. Aku hanya bisa menghela nafas panjang.
Adek sedang kesal ,ya? Coba istighfar dulu, Dek. Ingat, lagi puasa, lho. Adek sudah shalat?”
Aku hanya menjawab pertanyaan terakhir dengan manggut-manggut sambil mengucap salam . Ibu menjawabnya dengan bersuara, tidak seperti yang barusan kulakukan—hanya bibir yang bergerak, suara hilang ditelan rasa kesal.
Aku masuk kamar kemudian merebahkan diri di kasur.
-
Sebenarnya mengisi buku kegiatan Ramadhan tidaklah sulit, hanya tinggal mengisi sesuai kegiatan yang dilakukan selama bulan Ramadhan. Satu-satunya  hal yang tidak aku senangi dari mengisi buku kegiatan Ramadhan adalah meminta tanda tangan dari Ustaz yang poin-poin ceramahnya dicatat di dalam buku. Masalahnya, yang meminta tanda tangan harus menunggu hingga shalat witir dan doa bersama usai baru bisa meminta tanda tangan sang penceramah. Tentu saja akan lama dan  bikin malu—karena harus berebut tanda tangan dengan anak-anak SD, anak kelas 7, dan anak kelas 8. Apalagi badanku sudah tinggi besar seperti ini.
“Lho, Ndra, kamu dikasih tugas mengisi buku Ramadhan?” Ata, tetangga yang sama usianya denganku bertanya saat ia melihatku membawa buku kegiatan Ramadhan. Kami pergi ke masjid komplek bersama.
“Iya, Ta. Memangnya kamu nggak?”
Nggak, ‘kan udah kelas 9. Eh tapi adik kelasku juga nggak dikasih deh kayaknya, ‘kan, Ramadhan kali ini bertepatan dengan libur sekolah, Ndra. Adikku yang bersekolah di SMP 55555 saja tidak dikasih. Kakak-kakak kelasnya juga tidak dikasih katanya,” jelas Ata.
“Oh gitu.. Apa mungkin tugas ini hanya berlaku di beberapa sekolah, ya, Ta?”
“Kayaknya cuma di sekolah kamu, deh, Ndra. Eh, tapi bukannya adik kelas kamu si Eka tidak ya? Aku tidak lihat tuh, dia bawa buku itu, tadi dia lewat hanya membawa sajadah. Kok bisa beda gitu, Ndra?”
“Ya itulah, Ta. Tugasnya hanya untuk murid yang baru naik kelas 9,” jawabku seadanya.
Ata hanya ber-oh panjang.
Di sekitar sini hanya aku dan Eka yang bersekolah di SMP 666666. Eka tidak dapat tugas. Itu berarti hanya aku yang akan meminta tanda tangan dari penceramah. Tahun lalu aku beramai-ramai dengan yang lain meminta tanda tangan penceramah, sekarang harus sendiri, dengan badan sebesar dan setinggi ini. Sendirian. Minta tanda tangan. Aku hanya bisa tertunduk lemas.
-
Seusai doa bersama, aku bersiap untuk meminta tanda tangan Ustaz Tono yang tadi berceramah tentang hikmah sabar. Tadi bagus sekali penyampaian materinya, diselingi dengan cerita ringan dan tidak ada kesan menggurui. Aku senang mencatat poin-poinnya. Namun tentu saja, aku benci harus meminta tanda tangan sang Ustaz. Ingin rasanya kuminta Abang untuk melakukan hal ini, sayangnya Abang lebih suka tarawih di masjid kampusnya. Katanya biar sekalian ngasih contoh ke mahasiswanya.
Aku melangkah cepat-cepat, takut kelihatan adik kelas atau anak-anak SD. Pasalnya saat ini hanya aku yang sedang menghampiri sang Ustadz di parkiran motor, anak-anak yang lain sedang mengambil Quran yang ada di lantai dua masjid, bersiap untuk tadarus. Memalukan sekali rasanya kalau mereka sampai melihat aku yang tinggi besar ini masih mendatangi Pak Ustaz untuk minta tanda tangan.
Sekitar sepuluh langkah dari sang Ustaz, sang Ustaz sudah terlanjur melaju dengan sepeda motor. Sekejap saja hilanglah sosok ustadz berpeci hitam itu. Tepat di saat aku benar-benar merasa kecewa, ada yang menepuk bahuku.
“Habis minta tanda tangan, ya, Ndra?” Pak RT rupanya.
“Ah…uh…mm…”
“Kok anak saya nggak dikasih buku kegiatan Ramadhan,ya? Bagus itu sekolah kamu, Ndra. Walaupun libur gini masih mendidik muridnya untuk rajin menyimak ceramah agama. Kamu juga rajin sekali mau mendengarkan dan mencatat poin-poin ceramah.”
Aku hanya bisa nyengir. Jarang-jarang dipuji begitu, semoga tidak membuatku riya’.
“Besok ustaznya Bapak Tono itu juga, Ndra. Jangan bosan-bosan ya, bagus, kok cara penyampaiannya, melebihi saya yang waktu remaja dulu sering juara ceramah di kampung.” Pak RT terkekeh. Aku hanya tersenyum mendengar candaan Pak RT.
“Saya pulang dulu, ya, Ndra. Mari…” Pak RT berlalu. Ah, pokoknya besok aku akan bergegas meminta tanda tangan Pak Ustaz itu. Harus dobel, untuk ceramah hari ini dan besok. Akupun masuk kembali ke dalam masjid untuk ikut tadarus Alquran—sambil berusaha menyembunyikan buku kegiatan Ramadhan, malu dilihat yang lain.
-
Benar saja kata Pak RT, hari ini ustaz itu lagi yang mengisi ceramah. Seperti kemarin, aku semangat mencatat poin-poin penting dari ceramah beliau. Dan seperti kemarin pula, seusai doa bersama aku bergegas minta tanda tangan. Kali ini tidak peduli ada yang melihat atau tidak, pokoknya harus dapat.
Sayangnya tak kujumpai ustaz itu di parkiran masjid, namun sepeda motornya masih ada. Kucoba untuk melihat kembali ke dalam masjid. Tidak ada. Aku putuskan untuk duduk di teras masjid sambil menunggu, sekalian mencegat sang Ustaz.
Lima menit, tak ada tanda-tanda kehadiran beliau.
Lima belas menit, sepeda motor beliau masih ada di parkiran. Aku putuskan untuk menunggu sedikit lebih lama lagi.
Dek, kok tidur di sini? Sudah malam… Pulang, gih.” Seseorang menepuk pundakku. Olala, rupanya aku menunggu hingga ketiduran!
Aku hanya mengangguk saking mengantuknya. Sekilas kulirik jam tanganku walaupun mataku terasa benar-benar berat. Jam sebelas lewat limabelas! Ya ampun, Ibu dan Abang pasti akan ngomel panjang kalau aku baru pulang jam segini! Cepat-cepat aku menuju gerbang keluar masjid. Di sana sudah ada Abang dengan sepeda motornya.
“Kamu ngapain aja sih, Dek?! Tadarus juga biasanya cuma sampai jam setengah sebelas, sekarang sudah jam berapa kamu tahu?! Ibu sudah cemas menunggu, Abang sudah tidur pun dibangunkannya. Bikin repot saja kamu! Cepat naik!”
Aku melakukan perintah Abang, sudah tak ada energiku untuk menjelaskan padanya.
“ASTAGHFIRULLAH BANG!”
Sontak saja Abang mengerem sepeda motornya. Kami belum jauh dari masjid.
“Apasih, Dek?! Tiba-tiba berteriak panik begitu, bikin kaget aja!”
“Balik, Bang! Balik ke masjid! Sekarang,Bang!”
“Mau ngapain?” Abang mengernyit heran.
“Pokoknya sekarang Bang! Penting,Bang!”
Dengan gesit Abang memutar balik arah dan kami kembali ke masjid. Aku segera turun dari sepeda motor dan menuju parkiran. Sepi, tak ada apa-apa. Tak ada siapapun.
Aku baru sadar—tiga puluh detik sejak aku duduk di jok sepeda motor—kalau yang tadi membangunkanku adalah Ustaz Tono.
Besok sajalah kucoba lagi.
-
Malam ketiga Ramadhan, aku sengaja datang lima belas menit sebelum azan isya berkumandang supaya bisa shalat di shaf dan posisi terdekat dengan imam—dengan Pak Ustaz lebih tepatnya. Hal itu akan terwujud kalau saja rombongan tamu dari kantor walikota tidak datang dan Pak RT memintaku untuk bergeser hingga ke ujung shaf pertama. Yah, walaupun kecewa setidaknya aku masih berada di shaf pertama.
“Eh hari ini tidak ada ceramah,lho. Katanya mau ada sosialisasi tentang pembayaran zakat oleh Pak Walikota.” Samar-samar kudengar suara seseorang yang sedang duduk tepat dibelakangku.
“Iya benar, tahun ini sosialisasi tentang zakatnya sengaja di awal Ramadhan,” timpal temannya.
Hah?
Dan ternyata benar, seusai tarawih tidak ada ceramah. Pak Walikota yang maju ke mimbar, bukan Ustaz Tono. Saat kulihat sang Ustaz beranjak dan pamit kepada Pak RT, makin hilang harapanku untuk mendapat tanda tangan beliau. Dan harapanku benar-benar hilang saat sosoknya benar-benar hilang dari pintu keluar masjid dan aku tak bisa menyusulnya karena tiba-tiba sekretaris walikota yang tadi shalat tepat di sebelahku mengajakku bicara. Abang pernah bialng tidak sopan pergi begitu saja saat diajak bicara, apalagi oleh orang yang lebih tua.
Aih, gagal lagi.
-
Hingga hari ke dua puluh bulan Ramadhan tak kunjung aku dapatkan tanda tangan dari Ustaz Tono. Ada saja hal yang tak kusangka, mulai dari Abang yang menjemput tepat saat doa bersama selesai karena Ibu tiba-tiba saja pingsan dan dibawa ke rumah sakit, tabrak lari oleh mobil di depan rumah yang membuatku tidak bisa pergi ke masjid karena banyak mobil polisi dan garis polisi yang memenuhi jalan dari rumahku menuju masjid, Pak RT yang seusai doa bersama mengajakku ngobrol panjang lebar hingga aku lupa untuk meminta tanda tangan, hingga Ustaz Tono yang tiba-tiba absen menjadi imam dan penceramah di masjid untuk waktu yang begitu lama.
“Melamun nggak bikin pinter, Dek,” ledek Abang saat aku tengah diam memikirkan bagaimana cara untuk mendapatkan tanda tangan sang Ustaz.
“Hmm..ya.” Aku tak begitu peduli dengan kata-katanya. Malam ini akan menjadi malam ke dua puluh satu Ramadhan dan tak satupun poin-poin cermah yang kucatat ditandatangani. Pokonya malam ini harus kudapatkan! Harus!
Malam ini, seusai doa bersama tadi cepat-cepat aku berlari ke parkiran dengan tujuan mencegat Ustaz Tono. Aku berada tepat di sebelah sepeda motornya ketika sebuah ambulan masuk ke gerbang masjid.
Beberapa petugas langsung menuju ke dalam masjid saat ambulan benar-benar berhenti. Tak berapa lama kemudian, mereka menggotong seseorang. Kucoba untuk sedikit mendekat, penasaran siapa yang mereka gotong. Belum sempat aku melihat wajahnya, Ata yang tadi sempat ikut menggotong menghampiriku.
“Itu Ustaz yang sering ceramah di sini,Ndra. Tadi saat bersalaman tiba-tiba saja ia jatuh pingsan. Kata Pak RT sih, beliau memang sedang sakit,” jelasnya.
Aku turut sedih dengan kabar itu. Dan makin sedih mengingat belum satupun tanda tangan beliau yang kudapatkan.
-
Pada hari ke dua puluh enam, ada kabar dari Pak RT bahwa Ustaz Tono sudah benar-benar sembuh dan akan kembali menjadi imam dan penceramah mala mini.
Sehabis berbuka puasa dan shalat maghrib, aku duduk di sofa ruang tengah sambil diam berpikir bagaimana caranya mendapatkan tanda tangan dari sang Ustaz.
Dek, makan dulu,” pinta Ibu dari dapur.
“Nanti Bu, belum lapar,” jawabku.
Adek lagi doyan melamun bu, tidak doyan makan. Ikan asin jatah Adek biar Abang aja yang habiskan!” seru Abang.
“EH,TIDAK BOLEH!” Aku melompat dari sofa dan menuju dapur. Walaupun tadi bilang belum lapar, aku tak rela kalau jatah makanku dihabiskan Abang, apalagi ikan asin adalah makanan kesukaanku.
Biarlah kuhentikan dahulu berpikir mengenai cara mendapatkan tanda tangan Pak Ustaz. Semoga setelah makan aku bisa berpikir lebih jernih.

Komentar

share!