Tamparan Sang Fajar




Karya: Dzatarisa Almas

Krek!
Pintu kamar tertutup. Ah, itu pasti Ayah. Beliau selalu menutup pintu kamarku ketika melihatku yang sudah terselimuti di ranjang. ‘Terselimuti’ bukan berarti aku tertidur. Aku biasa bermain ponselku di dalam selimut. Asyik mengetik balasan pesan untuk temanku di BBM.


Aku menengok ke arah jam dinding di kamarku.
Pukul 00.54
Masih jam dua belas. Pikirku tenang.
Tanganku masih mengotak-atik ponsel, walaupun memang semua temanku sudah off daritadi. Tapi aku betah main internet ke sana-kemari. Bila sudah membaca semua status-status di semua sosmedku. Aku biasanya iseng membongkar web orang lain, mencari cerpen online, atau melihat-lihat profil doi.
Tak terasa entah pukul berapa, aku mulai mengantuk. Kantung mataku tidak kuat terbuka lagi. Jadi, kupaksakan tanganku untuk meletakkan ponsel di meja sebelah ranjangku dan langsung membiarkan mataku menutup sendiri.
........
Nasi goreng buatan Ibu yang terlihat enak tiba-tiba tak kuhiraukan pagi itu. Rasanya saat itu juga aku ingin tidur lagi. Tapi kalau saja lagu rock aneh yang entah dari mana itu tidak terdengar, pasti sekarang aku tidak di ruang makan tetapi di kamar.
“Sandra, cepetan makan! Keburu imsak.” Himbau Ibu.
Aku, dengan tangan lemas mulai memasukkan sesendok nasi goreng yang seperti biasa terlihat enak. Dan ketika kukunyah, memang enak. Tapi otakku belum bangun seluruhnya, masih ada sel-selnya yang mendengkur di bawah selimutnya.
“Woy!”
Suara Mas Iyal yang super keras dan super besar itu membuatku menjatuhkan nasi dari sendoknya. Aku menatap Mas Iyal kakakku, wajah itu begitu ceria dan sepenuhnya sadar alat inderanya.
“Mas Iyal!! Bisa diem nggak?!” teriakku asal.
Ibu dan Ayah pun memarahi kami berdua karena berisik di meja makan pagi itu, “ini sahur pertama tahun ini, kalian itu jangan berkelahi terus. Terutama Mas Iyal, kasih contoh yang baik sama adiknya.” Omel Ibu.
Aku yang sepenuhnya sudah sadar, menjulurkan lidahku ke arah Mas Iyal. Mengejeknya karena Ibu mengomelinya lebih banyak dari aku.
“kamu juga, Sandra. Kamu sudah besar, jangan kayak anak kecil. Masa bangun sahur harus dinyalain lagu dulu.” Omel Ibu lagi.
Mas Iyal yang tadi kesal, sekarang kembali menghujaniku dengan sejuta gaya ejekan di wajahnya. Dia yang sudah membangunkan aku dengan paksa memakai lagu rock tidak jelas buatan kelompok band-nya.
Dan sekarang, akhirnya aku juga kena imbas.
........
Hari pertama puasa, pagi pertama ketika aku dan satu keluarga ikut shalat shubuh di masjid bersamaan. Biasanya cuma Ayah, Ibu, dan Mas Iyal yang ke masjid untuk shalat shubuh berjamaah di hari biasa. Tapi karena hari ini mulai bulan Ramadhan, mereka menyeretku ikut serta dalam shalat berjamaah itu
Dan itulah masalahku.
Aku sering sekali tidur setelah sahur di Ramadhan tahun lalu. Maka dari itu aku tidak selalu ikut shalat shubuh berjamaah di masjid. Dan aku memang tidak pernah suka bila shalat shubuh berjamaah di masjid.
Kenapa?
Dulu pernah ketika aku kelas 5, waktu zaman kebodohan dalam hidupku. Aku ikut shalat shubuh berjamaah di masjid pada bulan Ramadhan bersama teman-teman sepermainanku. Pada waktu itu hari minggu, dan kami berencana untuk berjalan pagi bersama.
Setelah shalat shubuh, kami baru akan beranjak keluar masjid. Namun karena banyaknya jama’ah yang ada di sana, kami pun tidak bisa keluar. Sampai waktu wirid usai, kami hanya bermain kode-kodean di sana.
Tetapi masalah tidak selesai pada waktu itu juga. Ternyata ketika imam selesai membaca al-fatihah. Ustad Farid berdiri, dan berjalan menuju mimbar masjid. Dan, di sanalah peristiwa menyebalkan yang paling aku tidak suka bila berjamaah shalat shubuh di masjid. C-e-r-a-m-a-h. Ce-ra-mah.
“Sandra, ayo cepetan!” Ibu berteriak dari luar rumah ketika aku baru saja mengusap wajahku dengan handuk.
“Iya, bu. Sabar.. Ini lagi otewe.” Balasku berteriak.
Maaf, maaf saja nih ya. Aku berjalan di gelapnya menjelang fajar pagi ini dengan sajadah terselampir seperti ini. Mana mau aku. Malas tahu tidak. Aku di sini karena diseret ayah, ibu, dan Mas Iyal.
Mereka memaksa dan beralasan “kamukan udah baligh. Minimal di bulan Ramadhan kamu shalat shubuh di masjid. Harus dibiasakan.” Dan aku mengangguk saja waktu itu. Menyebalkan dan super aneh.
“wah, tumben satu keluarga kompak shalat shubuh jama’ah di masjid. Biasanya dik Sandra nggak ikut.” Bu Danti. Tetanggaku itu menatapku dan Ibu sambil tertawa.
Asam kecut.
Bu Danti itu sering sekali shalat shubuh di masjid. Dan sering melihat Ibu, Ayah, dan Mas Iyal shalat shubuh berjamaah di masjid tanpa aku. Bahkan Ibu sampai cerita kalau Bu danti sering bertanya : “ke mana Sandra?”. Emang siapa dia?
Di Masjid Ar-Rahman, memang banyak jama’ah yang shalat di sana. Dari bulan Muharram sampai bulan Dzulhijjah, jama’ah tetap memenuhi seluruh masjid. Bahkan ketika bulan Ramadhan, semakin bertambah jama’ahnya sampai halaman masjid terpaksa digelar tikar.
“Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Assalamu’alaikum.”
Aku tersadar ketika imam sudah mengucapkan salam. Lalu ikut mengucapkan salam, dan menoleh ke kanan dan kiri.
“Sandra!”
Aku menoleh ke belakang, mencari-cari siapa yang telah memanggil namaku tadi. Namun yang ada hanya belasan barisan jama’ah yang sibuk wiridan. Aku pun mengedarkan pandanganku ke barisan depanku. Ah, itu Ata. Teman sepermainanku. Ternyata dia yang memanggilku.
‘apa?’
Bibirku berkomat-kamit tanpa mengeluarkan suara. Aku dan teman sepermainanku sering memberi kode dengan bibir komat-kamit. Entah kalimat itu ‘apa?’ atau ‘sekarang?’ atau malah ‘nanti jam 5 kumpul di rumahku bawa uang tujuh ribu ya’.
Eh, tahu-tahu ada teman yang bawa lima ribu tapi datang pukul tujuh. Hah, telat mikir sih. Tapi terkadang memang ada temanku yang seperti itu. Keseringan temanku itu teman pendatang baru di kampung dan tidak terlalu ngerti ‘bahasa isyarat kami’.
Bibir Ata juga mulai berkomat-kamit, ‘a-yo ke-lu-ar. Ki-ta bi-ca-ra di-lu-ar.’
Aku mengangguk-angguk. Kulihat dia berdiri dan segera berlari di depan para jama’ah ketika aku berdiri. Namun tiba-tiba tanganku ditarik seseorang. Aku menoleh.
“duduk, wiridan.”
Itu Ibu. Dengan wajah khas ke-emak-an sekaligus serius, Ibu menarik tanganku untuk memaksaku duduk kembali. Duduk diam wiridan seperti itu bukan gayaku. Aku tidak selalu melakukannya. Bukan ‘tidak selalu’ lagi. Jarang sekali malah.
Aku melihat Ata yang sudah menghilang dari dalam masjid. Astaga, dia beruntung sekali. Dia sudah lepas dari suara bisikan-bisikan tasbih ibu-ibu di masjid ini, dan berbicara sepuasnya di luar bersama teman lain. Sementara aku, di sini. Masih duduk diam berpura-pura sibuk wirid, padahal tidak hafal. Hanya untuk memuaskan Ibu.
“al-fatihah.” Akhirnya.
Aku membaca Al-Fatihah dengan cepat tapi belepotan. Tak apa. Yang penting cepat pulang. Sorakan hatiku girang berteriak. Tak sabar mengeluarkan suara lega dari mulutku. Aku memikirkan akan melakukan apa nanti aku. Mungkin aku akan menonton file–m.
Tiba-tiba imam Ustad Rasyid, berdiri dan berjalan menuju mimbar masjid. Oh, no. Tidak mungkin.
Aku menoleh ke arah Ibu, “Bu, ini ada kultum?”
Ibu mengangguk, “dengarkan lho ya, Sandra.”
Tepok jidat.
Aku bisa ngantuk berat ini. Lupa bila ada kebiasaan bulan Ramadhan tahun ini setiap hari akan ada kultum pagi selepas shalat shubuh. Mana Ustad Rasyid lagi. Beliau adalah ustad paling membosankan bila ceramah, di kalangan remaja Masjid Ar-Rahman begitu rumornya.
Malangnya aku, subhanallah, walhamdulillah, walailahailallahuwallahu akbar.
Aku mendengus kecil, lalu memeluk kedua kakiku. Ibu, ayah, Mas Iyal terima kasih. Seharusnya tadi aku mengikuti kata hatiku yang berkata bahwa tidak usah berangkat shalat shubuh berjama’ah di masjid. Kenapa mulutku berkata lain?
“Saya ingin membahas surat yang dijadikan nama masjid ini, karena saya pikir belum ada penceramah yang membahas ini.” Ucap Ustad Rasyid setelah ia membuka salam dengan do’a yang super panjang.
Ya, ya. Silahkan. Malah curcol. Pikirku kesal.
“Surat Ar-Rahman: ar-rahman, ‘allamal qur’an yang telah mengajarkan Al-Qur’an, khalaqal insan –dia menciptakan manusia, ‘allamahul bayan –mengajarnya pandai berbicara.”
Bosan, bosan. Tetapi otakku tetap aktif mendengarkan suara Ustad Rasyid. Entah kenapa, aku tidak punya ide untuk kupikirkan. Padahal biasanya banyak ide aneh. Tapi kali ini tidak ada sama sekali.
“wassama arafa’aha wawadha ‘almiizan dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan, walaatukhsirul miizan –dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu.”
Keseimbangan.
Miizan.
Baru dengar aku kata-kata Miizan. Kupikir mungkin artinya keseimbangan. Karena kudengar tadi Miizan disebutkan terakhir, dan keseimbangan juga terakhir. Baru dengar, dan baru kali ini aku memikirkan hal-hal berbau seperti itu.
“walhabbudzul ‘asfi warraihan dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya, fabiayyi aalaa irabbikumaa tukadziban –maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Dusta.
Nikmat.
Tuhan.
Aku menatap Ustad Rasyid yang telah tersenyum sekarang. Beliau berbicara tentang hal apa entah aku sudah tidak terlalu mendengarkannya lagi. Yang kupikirkan sekarang hanyalah hal tentang dusta, nikmat, Tuhan.
Aku mencoba berpikir. Namun dengan suara ceramah Ustad Rasyid yang lumayan keras membuatku kurang konsentrasi dalam berpikir tiga kata itu. Aku mencoba menyusun tiga kata yang tadi disebutkan Ustad Rasyid, namun gagal.
“Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarkatuh.”
Baru saja aku tersadar, aku menatap Ustad Rasyid yang telah turun dari mimbar masjid. Beliau berjalan sambil dikelilingi banyak jama’ah yang banyak menyergapnya dengan berbagai pertanyaan.
Sementara aku. Aku di sini baru saja berdiri dan berjalan keluar masjid dituntun Ibu bersama jama’ah wanita lain. Di luar masjid, Ata sudah tidak ada. Mungkin dia bosan menungguku, kemudian pulang.
Ibuku masih berbicara bersama jama’ah ibu-ibu lain di depan masjid. Ayahku juga tetap di dalam masjid bersama Ustad Rasyid. Dan Mas Iyal, ia bersama remaja laki-laki lainnya untuk rapat.
Lalu aku.
Aku berjalan di tengah jalan setapak untuk pulang. Matahari ternyata sudah keluar dari persembunyiannya dan menyinari jalan ini. Dalam otakku, masih ada tiga kata yang belum kuresapi dalam-dalam. Namun dalam hatiku, seperti aku sayatan ketika Ustad Rasyid berbicara tentang tiga kata tersebut tadi.
Dusta. Nikmat. Tuhan.
“Nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?”
Akhirnya kalimat itu kuingat juga. Kurasa kurang lebih kalimatnya seperti itu. Yang penting maknanya sama.
Aku menunduk, ketika aku mengingat kalimat itu. Rasanya semua tubuhku sakit. Seperti ada yang memukulku. Rasanya sakit sekali.
Oh, Tuhan. Apakah aku mendustakanmu?
........
Hal yang super terbaik dalam hidupku terjadi pada bulan Ramadhan. Ketika ce-ra-mah Ustad Rasyid selepas shalat shubuh. Ketika aku mendapat kesakitan yang luar biasa dari Allah. Sangat sakit hatiku karena kalimat itu.
‘Fabiayyi aalaa irabbikumaa tukadzibaan maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?’
Semua, Ya Allah. Nikmatmu yang kudustakan selama ini, semuanya.
Terkadang, memang hal yang terbaik dalam hidup kita adalah sesuatu yang tidak kita sukai. Padahal itu bisa membawa kebaikan dalam hidup kita.
Ar-Rahman, Terima kasih atas tamparanmu.

Komentar

  1. hehe.. makasih bapak. Masih belajar

    BalasHapus
  2. cerpen menuntun pada jalan kebaikan

    BalasHapus
  3. belajar bersyukur atas nikmat yang selama ini banyak diinkari

    BalasHapus

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!