Surat untuk Adinda




Karya:  Aziizatul Khusniyah


Situasi bulan Ramadan dan kemenangan menjadi hakiki. Ramadan disebut kebanyakan orang sebagai bulan kemenangan yang ditandai dengan limpahan rahmat, kata ibu ku dulu sewaktu kecil. Lamunan itu membuyarkan ku ketika ada ibu.
*


Pagi itu, menjelang subuh ibu membangunkanku untuk sholat subuh. Seperti biasa, ibu selalu membangunkan semua anak laki-lakinya untuk sholat dan tadarus Al-Qur’an. Bahkan, ibu selalu mengingatkan untuk mandi dan siap-siap sekolah sebelum mobil jemputan datang. Mobil jemputan yang ditungu-tunggu pun datang. Sejuknya udara pagi di bulan Ramadan mengusap lembut kulitku. “Hati-hati nak !” Ibu ku berkata keras lantaran kami bertiga laki-laki semua berlari menuju mobil. Tapi seperti kucing yang melihat ikan, kami berlari kencang menuju mobil jemputan yang di supir oleh Tarjo.  Kami ingin cepat sampai sekolah, Bu.
Sepinya jalan raya pagi ini melesatkan kami menuju sekolah. Di sekolah sudah banyak murid yang datang. Ketika memasuki kelas, aku duduk di bangku kosong di depan. Maklum saja, ini hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang akhir semester. Aku memperhatikan seorang anak berpita ungu yang duduk termenung seorang diri. Di kelas, ia sibuk melamun dan membayangkan; akankah ia mendapatkan surat dari ayahnya? Hingga pelajaran dimulai ia masih melamun menghadap jendela.
Matanya kecoklatan. Rambutnya pirang. Ia menatap jendela yang menghadap langsung ke taman sekolah. Ia terdiam barang kali ia ada surat untuk dia Ramadan kali ini. Tapi hal yang ditunggu-tunggu itu tidak kunjung datang. Apa ayah lupa? Mungkin ayahnya lupa mengirimkan surat itu kepadanya kali ini batin ku. Hingga akhir pelajaran, kami pulang ke rumah masing-masing. Adinda begitu dia disapa, akhirnya pulang dengan lesu menuju rumahnya. Aku yang diam-diam memperhatikan dinda sedari di kelas, akhirnya memutuskan untuk mengikutinya hingga pulang ke rumah.
*
Sesampainya di depan rumahnya, dinda membuka kotak surat yang ada di depan pagar, tapi tak ada surat untuknya. Ia nyaris menangis karena matanya berkaca-kaca. Ia pun segera berlari dan berteriak… “Mbok……..Mbok……….” Ia menangis dalam diam.
“Ada apa non?”
“Ada surat untuk dinda?”
Pembantu yang memegangi sapu itu hanya melongo menatap wajah sedih Adinda, dan Mbok Darmi, merasa kaku mulutnya. Mbok Darmi tidak tahu harus menjawab apa dan bagaimana menjelaskan kepada anak kelas 5 SD ini. Mbok Darmi melihat mata Adinda berkaca-kaca. Sungguh ia tak tega dan terus menerus membohongi perasaan anak kecil ini. Adinda memasuki kamar dengan berlari. Aku yang mengumpat dibalik pagar akhirnya disuruh Mbok Darmi masuk. Aku duduk dan mendengarkan cerita Mbok Darmi tentang Ayah Adinda.
“Sekarang, setiap pulang sekolah Adinda selalu menanyakan surat dari Ayahnya di Singapur.” Kata Mbok Darmi lirih. “Saya ndak tahu harus jawab apa Mas” memang tidak gampang menjelaskan cerita seperti ini kepada Adinda yang baru setahun Ibunya meninggal. Ia masih kecil dan tak tega Mbok menceritakan kondisi Ayahnya di Singapura. Adinda sendiri merupakan anak tunggal dari Pak Agus dan Bu Agus. Selama ini kalau ditanya Adinda mengenai surat Ayahnya, “Kok Ayah belum mengirimkan surat untuk Adinda Mbok?” Mbok hanya menjawab “Mungkin Ayah sibuk non”
Meskipun sudah kelas 5 SD, Ayahnya tidak pernah mengijinkan Adinda memeliki alat komunikasi sendiri. Karena menurut Ayahnya nanti Adinda belajarnya terganggu. Sekolahnya memang mewajibkan untuk muridnya tidak ada yang membawa hand phone.
“Aku memang tidak pernah tahu rasanya kehilangan seorang Ibu dan ditinggal kerja oleh Ayah dalam waktu yang lama” Batinku kelu.
Siang ini semakin terik hingga aku memutuskan pulang dan pamit pada Mbok Darmi.
*
Aku menyusuri ruas jalan raya seorang diri dan merenungi nasib Adinda. Memang teman sekelasku itu paling terlihat murung setiap harinya dibandingkan teman-teman yang lain. Setibanya di rumah aku menceritakan Adinda kepada Ibu dan Ayah ku. Beliau berpesan untuk menyemangati Adinda ketika di sekolah agar prestasinya tidak menurun. Orang tua Adinda dikenal betul oleh orang tua ku.
“Pak Agus dan Bu Agus itu orang yang baik di masyarakat. Meskipun keluarga kaya raya tapi tidak pernah sombong untuk sesama. Dulu ketika Ramadan tiba, ketika masih di sini mereka sering ikut pengajian ke masjid dan mengadakan kegiatan amal.” Kata Ayahku
*
Pagi hari ketika aku ke sekolah, aku masih melihat murung wajah Adinda. Karena aku tak tega melihat wajah sedihnya, aku memutuskan main ke rumahnya untuk menemaninya bermain. Namun, setelah pelajaran usai, Adinda cepat sekali keluar kelas dan berjalan pulang.
“Mbok….Adinda ada?”
“Adindanya istirahat di kamar Mas.” Kata Mbok Darmi
“Mbok…. Bilang saja kalau Pak Agus sedang sakit” kata ku
“Bagaimana kalau ia terus bertanya, sakit apa, kapan pulangnya?”
“Ya sudah, Mbok Darmi jelaskan saja pelan-pelan. Aku tidak tega melihat Adinda selalu murung kalau di kelas”
“Itulah, Mbok bingung dari mana mesti memulainya. Atau kamu saja menulis surat untuk Adinda dan pura-pura saja itu dari Ayahnya?”
“Aku tidak tega membuat kecewa Adinda Mbok tapi kalau itu sedikit membuat senyum Adinda akan ku lakukan Mbok.”
*
“Non, ini ada surat untuk non Adinda” kata Mbok Darmi
Gadis itu buru-buru berlari menuju Mbok Darmi dan mengambil surat itu dengan wajah berbinar
“Bukan…………ini bukan tulisan Ayah!”
Mbok Darmi tak berani melihat wajah anak majikannya ini. Adinda menangis memeluk Mbok Darmi.
“Dinda kangen Ayah, Mbok” kata dinda menangis
Tiba-tiba suara motor parkir di depan rumah Adinda. Suara motor yang tidak asing bagi Adinda dan Mbok Darmi. Itu motor Pak Pos yang dulu biasa mengantar surat untuknya.
“Non, ini ada surat” kata Pak pos
“Horeeeeeeeee… ini surat dari Ayah Mbok” Adinda senang tak karuan
“Benar non, ini surat dari Bapak”
“Mbok Ayah pulang lebaran nanti,”
“Iya non, Bapak pulang, non Adinda jangan menangis lagi ya”
Alhamdulillah, akhirnya kesehatan Pak Agus kembali membaik setelah kemoterapi dan menjalani berbagai pemeriksaan di Singapura. Alhamdulillah berkah Ramadan.
“Non, Ayah non pulang Semarang” kata Mbok Darmi sambil menggendong Adinda, gadis kecil anak majikannya itu kembali tersenyum.
***

Komentar

share!