Suara


Karya: Dafa Adi Pramudya

Saat kumandang adzan telah berkumandang
                                           
 Saat para bejana sudah terisi
                               
  Saat setitik cahaya siang melambaikan tangan

     Dengan kesal Reni menghentakan sandal jepitnya.




“Pokoknya aku harus khatam Al-Qur’an di bulan Ramadhan ini,” gerutu Reni.

Ia bersikeras untuk khatam Al-Qur’an pada bulan Ramadhan, ini adalah pertama kalinya ia sadar bahwa pahala saat bulan ramadhan sangat berlimpah untuk hambaNya.

Dengan keadaan masih memakai mukenah Reni berjalan menuju rumah.

     Sebelum sholat tarawih ia disuruh ibunya untuk membeli garam di tempat Pak Junaedi. Ia melewati jalan yang berbeda, jalan agak ramai berhiaskan rumput di sekeliling jalan dengan pohon jambu yang ditanam secara berpola mengelilinginya, menandakan keadaan alam yang masih terjaga.

“Setelah tarawih, nanti ke rumah jeni sebentar, beli es lilin, setelah itu baru pulang deh,” kata Reni, berusaha menyusun jadwalnya setelah tarawih.

     Ia terus berjalan, terus berjalan dengan memikirkan es lilin rasa teh, tanpa melihat mereka yang terus saja melihatnya, sampai ia tiba rumah tusuk sate, sebuah rumah tusuk sate yang lumayan besar tetapi sederhana dengan kayu sebagai bahan pokoknya.

“Kenapa mereka mencoba memasukinya?” kata Reni.

      Reni melihat mereka, mereka! tapi kenapa mereka terhempas? terhempas begitu cepat setelah mendengar lantunan suara, ya! sebuah suara, Reni kemudian mulai mendekat dengan arah suara.
“Suara bapak-bapak? bukan, suaranya lebih lembut lagi, itu adalah suara ibu-ibu, ya! tidak salah lagi,” kata Reni sambil mencoba  menebak.

     Suara yang berasal dari rumah yang berhiaskan pohon besar menjulang membuatnya penasaran, ia pertama kali sepenasaran ini, walaupun hanya sebuah suara.

     Setelah mengetahui ada rasa penasaran dalam hatinya, ia mendekati rumah tersebut  lalu ia melihat ibu itu membawa sebuah alat tajam yang tidak panjang tetapi cukup untuk menembus perut sang anak, Reni dapat melihat jelas dari bayangan yang dibuat oleh si ibu.

    Ia makin penasaran dengan suara tersebut, dengan sangat lirih, Reni berjalan mendekat dengan rumah tersebut, ia seperti seekor kijang yang diburu oleh singa tetapi anehnya ia malah mendekat, ibu itu terus mengeluarkan suara, suara yang Reni tak tahu itu suara apa.

“Oh, sekarang aku tau! Ibu itu sedang memarahi anaknya, apakah ibu itu menggunakan bahasa lain supaya sulit untuk dimengerti orang yang lewat,” pikir Reni.

     Ia sudah membayangkan dirinya menjadi penyelamat anak itu, memakai baju hitam-hitam yang tidak ketat dengan pistol yang digenggamnya, imajinasinya sudah meledak.

     Selangkah demi selangkah, setapak demi setapak, ia merasakan suaranya lebih lembut daripada sebelumnya, kemudian suara itu digantikan oleh suara suaminya yang berat, sekarang bapaknya yang mengganti memarahi anaknya.
“Ini bukan pembunuhan, ya Allah ini suara apa?” tebak Reni.
  
   Ia merasakan ada yang berbeda dengan hatinya, hatinya mulai merasa tenteram.

     Tiba-tiba ia melihat lintasan cahaya yang sangat cepat, sangat cepat, sehingga ia sulit membuktikan apakah ia benar-benar melihat cahaya tersebut.   
  
                                           Sinar putri malam menerpa awan
                                    Panggilan ke-5 sudah masuk pada telinga orang
                                       Warna merah sudah terlihat dari arah Rusia
   
  Ia tersadar dengan apa yang dibawanya, seplastik garam yang tadi ia beli untuk ibunya, ia terbayang wajah marah ibunya.

“Astaughfirullah, garamnya ibu!” kata Reni dengan panik
     Kemudian ia berlali dengan sedikit cepat, mengingat tubuhnya yang gempal, ia terus berlari

“Jadi kesimpulanya suara itu suara apa?” tanya Reni
     Ia bertanya-tanya pada dirinya menggunakan data yang sudah ia dapat tadi, ia berkali-kali menetapkan jawaban tapi berkali-kali juga didisangkal oleh pikiranya dengan mudah

“Ah nanti aja ah, bikin pusing aku aja,” gerutu Reni


     Waktu tarawih sudah tiba, Reni memadamkan niatnya untuk mencari tahu suara apa yang ia dengar, hari demi hari berlalu Reni biarkan suara atau bisa dibilang misteri itu melayang kata demi kata, sungguh ini Ramadahan yang mendebarkan hatinya, tetapi untungnya misteri itu tidak menghantuinya terlalu lama, sehingga ia bisa dengan khusyuk beribadah selama bulan Ramadhan, Reni hanya mencari tahu suara apa yang membuat mereka terhempas, sepintas cahaya mendatangi rumaah itu dan satu lagi, membuat hatinya menjadi tenteram, Apakah kamu tahu, itu suara apa?

Komentar

share!