Suara Indah Syafa Melantukan Ayat Suci AL-QUR’AN




Karya: Muhammad ari kusumawadi

Awal ramadhan sebentar lagi tiba. Syafa dan kawan-kawannya mulai bergembira, dengan datangnya bulan suci ramadhan. Bukan hanya Syafa saja yang bergembira bahkan mulai dari anak-anak, kalangan remaja, ibu-ibu, dan seluruh umat islam ikut berbahagia. Anak-anak yang bergembira karena bisa memainkan kembang api dan seluruh umat islam yang berbahagia karena bisa bertemu kembali dengan bulan suci kali ini.


Rabu tanggal 17 juni, acara televisi mulai menyiarkan datangnya bulan ramadhan yang jatuh pada tanggal 17 juni. Syafa yang saat itu sedang menonton acara televisi tersebut, ikut merasa senang ketika mentri agama mengumumkan bahwa ramadhan jatuh pada tanggal 17 juni.
Jam menunjukan 19.00 WITA. Suara orang mengaji dimasjid mulai terdengar, pertanda waktu isya akan segera tiba. Syafa segera pergi mengambil air wudu’ kemudian bersiap-siap pergi kemasjid. Dijalan syafa bertemu dengan kawan-kawannya.
“Hay teman-teman. Syukur ya kita bisa bertemu kembali dengan bulan suci kali ini. Kita masih diberikankan kesempatan untuk memperbaiki diri kita masing-masing”. Syafa menyapa teman-temannya dengan suara lembut.
“Iya fa Alhamdulillhah kita masih diberikan kesempatan oleh tuhan bertemu lagi dengan bulan penuh berkah ini”. Jawab Nadia sahabat Syafa sambil tersenyum. Mereka melanjutkan berjalan menuju masjid.
Setibanya di masjid, disana Syafa melihat begitu banyak jamaah yang memenuhi masjid. Sejenak Syafa merasa terharu dengan banyaknya antusias jamaah, mulai dari anak-anak hingga lansia berdatangan memenuhi masjid untuk melaksanakan ibadah shalat tarawih. Syafa tidak sanggup menahan derai air mata ketika melihat begitu banyaknya orang-orang yang masih pada tuhan, dan berbahagia dengan datangnya bulan suci tahun ini. “Maha suci engkau tuhanku yang telah memberi kami kesempatan menikmati bulan suci ini kembali”. Ujar syafa dalam hati dengan penuh rasa syukur.
Adzan mulai dikumandangkan, jamaah semakin banyak yang datang memenuhi masjid waktu itu. Syafa bertemu dengan Tari, teman yang begitu sangat membecinya. Ia dibenci karena selalu mengalahkannya (tari)­ dalam hal apapun. Syafa selalu berusaha mendekati temannya itu. Sebelum shalat tarawih dimulai. Seusai shalat isya, Syafa mendekati Tari. Namun Tari menjauhi Syafa, Tari enggan berdekatan dengan teman yang begitu sangat ia benci. Syafa terdiam dan tidak lagi mendekati Tari.
Imam mulai melaksanakan shalat tarawih. Syafa kemudian mengikuti imam dan berhenti memikirkan masalahnya dengan Tari. Syafa memulai tarawihnya dengan khusuk hingga selesai tarawih.
Seusai shalat tarawih jamaah mulai bubar dan kembali kerumahnya masing-masing, Tetapi Syafa tetap dimasjid. Syafa diajak teman-temannya agar ikut tadarrusan dimasjid. Nadia yang selalu bersamanya juga mengajak Syafa diam dimasjid ikut melantunkan ayat suci Al-qur’an. Tak lupa Tari juga ikut bersama teman-teman yang lain berdiam dimasjid.
Mereka mulai melantunkan ayat suci Al-qur’an. Satu demi satu ayat telah dibaca. Kini tiba giliran Syafa yang akan membaca. Dengan khusuk Tari memulai membaca basmalah. Semua yang mengikuti tadarrus menunduk mendengar indahnya suara Syafa. Bahkan Tari tidak sanggup menahan air matanya yang keluar saat mendengar Syafa melantunkan ayat suci. Setelah Tari selesai melantunkan ayat suci, Tari berpamitan pada teman-temannya untuk pulang lebih awal.
Dijalan saat pulang, Syafa bertemu Tari yang tadi lebih cepat pulang. Tari memeluk hangat Syafa.
‘’Faaa….” Dengan nada lemah..
“Saya minta telah menilai salah kamu” Ujar Tari pada Syafa sambil memeluk Syafa.
“iyaaaa.. sebelum kamu minta maaf saya sudah memaafkan kamu dari dulu” jawab Syafa sambil memeluk Tari lebih erat. Tari berterimakasih pada Syafa, Tari tidak menyangka Syafa begitu baik hati. Disana mereka berjanji menjadi sahabat yang baik dan tidak lagi membandinkan diri dengan orang lain. Mereka menjalani bulan suci dengan perasaan yang damai. Mereka berdua selalu bersamaan pergi beribadah. Tidak ada lagi rasa iri hati Tari pada Syafa.
Sampai pada 10 malam terakhir, dimana orang-orang semakin memperpadat ibadahnya. Tidak lupa Syafa dengan Tari. Mereka belomba-lomba memperbanyak amal ibadahnya masing-masing. Semua teman-teman mereka terheran melihat mereka berdua yang begitu kompak menjalankan ibadah. Padahal Tari sangat membenci Syafa pada waktu itu,sekarang berubah 180 derajat.
“Faa..sekarang kok kamu akrab dengan Tari??” Tanya Nadia pada Syafa.
“iya sekarang kami sudah bersahabat, tidak ada lagi perselisihan antara kami.” Jawab Syafa.
Disisa malam-malam terakhir bulan suci ramadhan. Syafa dan Tari bersilaturrahmi pada warga sekitar kampung tempat mereka tinggal. Dijalan mereka bertemu dengan seorang kakek yang sedang kelaparan karena belum berbuka.
“Kek.. kakek sudah makan??” dengan suara halus Tari bertanya pada kakek.
“belum nak, kakek belum makan” jawab sang kakek.
Kemudian Tari dan Syafa mengeluarkan uang dari saku mereka.
“Alhamdulillah uangnya cukup buat beli makanan faa” kata Tari memberi tahu Syafa. Tari kemudian langsung pergi membelikan kakek itu nasi bungkus dan air minum.
Setelah membeli dan memberikan nasi itu pada kakek tersebut.
“nak terimakasih telah memberi kakek makanan” kata kakek pada Tari dan Syafa.
“iyaa.. kakek jangan lupa dimakan ya nasinya. Kami mau kembali kerumah dulu.” Jawab syafa. Mereka pergi meninggalkan kakek itu.
Malam terakhir bulan ramadhan. Syafa dan Tari mengikuti acara takbiran bersama dengan warga kampung yang lain.
“Duh tidak terasa ya besok kita lebaran” ucap Tari pada teman-temannya saat berkumpul pada acara takbiran itu dengan semangat.
‘’ALLOHUAKBAR ALLOHUAKBAR ALLOHUAKBAR LAILAHAILLO HUALLO HUAKBAR, ALLOHUAKBAR WALILLA HILHAM.” Suara takbir semakin bergemuruh ketika semua warga melantunkannya.
Sepulang takbiran, Nadia teman Syafa menyuruh agar yang lain siap-siap buat shalat ied besok. Esok harinya Syafa mengenakan mukena yang begitu indah. Syafa terlihat anggun bak putri raja yang akan melaksnakan pernikahan. Wajahnya tampak bercahaya seperti malaikat. Ia disanjung banyak orang. Tak lupa sahabat-sahabatnya termasuk Tari ikut memberi sanjungan pada Syafa. Setelah shalat ied dan khutbah hari raya selesai. Seperti biasa mereka bersalaman satu sama lain dan berpelukan. Seperti halnya semut yang bertemu dengan semut yang lain.

TAMAT

Komentar

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!