Sosok Putih Pemukul Kentongan




Karya:  Firdah Vebriyanti

Usai melaksanakan shalat tarawih di masjid terdekat, aku, adik chela, bunda, dan ayah bersama jamaah lainnya bergegas pulang. “hawa malam ini dingin banget ya bun.” Aku mengusap-usap lengan tangan yang mendekap badan ku. “karena udah malam kali Mik, ini kan udah jam 9 wajar kalau dingin.” Seru bunda. Di tengah-tengah perjalanan pulang, tiba-tiba chela berhenti berjalan. Anehnya chela tak berhenti memandangi suatu sudut jalan yang terdapat sedikit lampu penerangan. “dik, ada apa?” ku tanya adik sembari terus memandanginya aneh. Chela tak juga menjawab pertanyaan ku, justru dia celingak celinguk seperti sedang mencari seseorang. “kak, aku tadi ngelihat ada sesosok putih yang jalan kesana.” Chela menunjuk ke arah jalan setapak yang gelap serta penuh dengan rumput-rumput tinggi dan alang-alang dan  jarang dilewati orang. “mana? Gak ada siapa-siapa kok.” Ujar ku yang mulai sedikit merinding melihat jalan gelap itu. “ada kak, tadi aku ngelihat ya meskipun gak terlalu jelas.” seru Chela. “Chela, Mika ayo cepat.” Ajak ayah yang tak mendengar percakapan ku dengan adik karena ayah dan bunda jalan di depan kami. Percaya tak percaya aku mencermati penjelasan adik. Mana mungkin ada orang yang tinggal di sekitar jalan itu padahal jalan itu sangat sepi dan gelap, belum pernah aku menemukan rumah di jalan itu. Ku anggap itu hanya halusinasi Chela yang mungkin matanya sudah mengantuk.


Sedang nyanyak tidur, tiba-tiba terdengar suara ayah membangunkan ku dan Chela. Dengan mata masih mengantuk, ku tuntun Chela ke meja makan, mungkin dia belum biasa bangun sepagi ini. Hari pertama puasa, kulihat diatas meja terdapat makanan yang kami sekeluarga sukai yaitu semur daging buatan bunda.
Selesai sahur, kami langsung ambil air wudhu untuk melaksanakan shalat shubuh berjamaah. Ayah dan bunda sudah selesai wudhu, hanya tinggal aku dan Chela yang belum. “kak, aku wudhu bareng kak Mika aja ya.” Chela mengikuti ku berjalan. “loh kenapa?” ku hentikan jalan ku dan berbalik badan menghadap Chela. “aku takut di kamar mandi sendiri.” Ucapnya gugup. “jangan bilang karena semalem.” Gerutu ku. “ah kakak, udah ayo wudhu aja.” Chela memalingkan pembicaraan dan menarik tangan ku menuju kamar mandi.
Asik nonton tv bersama Chela di ruang tengah, bunda mengampiri ku. “kak, nanti habis shalat ashar, ikut bunda belanja buat buka puasa ya.” Seru bunda.
“terus aku di rumah sendiri gitu bun.” Ujar Chela.
“iya, kan cuma belanja di depan gak akan lama. Lagi pula kamu udah biasa kan di rumah sendiri.” Jelas bunda.
Ba’dah ashar pun tiba, aku bersama bunda bergegas menuju depan gang untuk belanja. Tak terlalu banyak bahan yang kami beli, hanya ikan, sayur, dan labu untuk di masak sebagai menu buka puasa.
Usai belanja, kami melewati depan jalan setapak itu. Terus ku pandangi sepanjang jalan setapak tersebut. “ah masa iya ada yang tinggal di sini, orang aja males lewat jalan ini karena terlalu rumbuk dengan rumput tinggi dan alang-alang, ini sih pantas jadi padang alang-alang bukan rumah. Tapi apa mungkin yang di lihat Chela itu..” gumam ku dalam hati yang tak sempat ku lanjutkan karena tiba-tiba bunda memanggilku. “Mika, ayo!” ajak bunda.
Saat aku dan bunda sampai di rumah, ternyata ayah sudah pulang kerja dan sedang bermain dengan Chela. Sesampainya di rumah, langsung aku masuk kamar, dan tiba-tiba Chela juga mengikuti ku masuk kamar. “kak, tadi kak Mika lewat jalan itu gak?” seru Chela sembari menutup pintu kamar. “he’em.” Kata ku singkat. “terus perasaan kakak gimana?” Tanya Chela penasaran. “ya..ya..gak gimana gimana, biasa aja.” Ucap ku sedikit terbatah-batah. “aku ngerasa ada sesuatu di jalan setapak itu.” ujar Chela. Aku yang tak ingin lagi mendengar cerita Chela yang ngaco itu, ku putuskan untuk ke dapur untuk membantu ibu masak menu berbuka.
Adzan maghrib pun di kumandangkan. Aku bersama keluarga mulai berbuka puasa dan di lanjutkan dengan shalat maghrib. Usai melaksanakan shalat, kami berkumpul di ruang tengah untuk nonton tv dan ngobrol bareng. “bunda udah denger belum berita mencengangkan di kampung ini?” Tanya ayah pada bunda. “berita apa?” kepo bunda pun mulai melonjak. “kata orang-orang, tadi pagi saat masuk jam-jam sahur, kentongan di pos bunyi padahal gak ada jadwal jaga dan gak ada yang bertugas membangunkan sahur.” Jelas ayah panjang lebar. “kok bisa. Tapi bunda gak denger kentongan bunyi tuh.” Seru bunda. “sama aku juga gak denger.” Kata ku ikut berbicara. “mungkin karena rumah kita jauh dari pos.” Jelas ayah. “terus yah gimana?” Tanya Chela ikut penasaran. Chela celingak celinguk memandangi keadaan luar dari arah jendela “ya orang-orang pada penasaran dengan suara itu. Rencananya bapak-bapak nanti setelah tarawih mau pasang kamera kecil gitu di sekitar pos, siapa tau nanti malam bunyi lagi kan bisa tau siapa yang membangunkan sahur pakai kentongan itu.” lanjut ayah. Aku dan Chela saling berhadap-hapadan dan saling memandangi seolah pemikiran kita sama. “berangkat yuk ke masjid.” Ajak ayah yang segera beranjak dari sofa. “yah, aku gak ikut terawih ya.” Ujar Chela. “loh kenapa?” Tanya ayah memalingkan badan ke arah Chela. “adik gak kuat angin malam yang dingin di luar yah.” Jawab ku mencari alasan. Sebenarnya aku mengetahui kenapa adik gak mau ikut, dia takut ketemu sosok putih itu lagi, dengan alasan itu ku ungkapkan agar ayah membolehkan untuk tidak ikut ke masjid. “em yah, aku gak ikut juga ya. Aku temenin adik di rumah.” Lanjut ku. “ya udah, ayah sama bunda berangkat ya. Jangan tinggalin rumah.” Pesan ayah sembari beranjak keluar rumah bersama bunda.
“ih bunda, sampah udah penuh gini gak di buang.” Gerutu ku melihat tempat sampah di dapur yang telah penuh dengan sampah. Ku ambil tempat sampah itu dan ku buang sampah ke tempat sampah depan rumah. Usai ku buang sampah, ku palingkan badan dan tiba-tiba mata ku melihat dari jauh sosok putih berjalan dari arah jalan setapak itu. Mata ku terus memandangi sosok itu, dan tanpa ku sadari tiba-tiba sosok putih itu menolehkan wajah ke arah ku. Aku yang kaget setelah melihatnya, lari sekencang mungkin menuju dalam rumah dengan menenteng tempat sampah dapur. “kak Mika kenapa lari-lari gitu, lari itu enak pagi sehat.” Celetuk Chela. “siapa yang olahraga. Kakak duduk dulu capek. Hu hu Tau gak.” Ucap ku terengah-engah. “enggak.” Canda Chela. “ih..belum selesai ngomong. Tadi kakak lihat sosok berjubah putih jalan keluar dari jalan setapak itu.” ucap ku masih terengah-engah sembari minum segelas air. “yang bener kak?” Tanya kaget Chela. “beneran, malah tadi sosok itu nengok ke kakak, makanya kakak lari begini kayak orang di kejar anjing.” Ucap ku. “ah..berarti bener dong yang aku lihat kemarin. Artinya di kampung ini ada penghuninya dong kak.” seru Chela dengan wajah dan laku ketakutan. “ya iya lah ada penghuninya, kan kita yang menempati dan menghuni kampung ini, gimana sih.” Celetuk ku. “ih kakak bukan itu, yang aku maksud itu hantu.” Seru Chela. “kamu jangan ngomong gitu malam-malam gini, udah tau ayah sama bunda gak di rumah, kalau di datangi gimana mau? Lagian ramdhan begini mana ada hantu.” tegur ku pada Chela.
Suasana semakin mencekam dan alam semakin gelap, ayah dan bunda belum juga pulang tarawih. Dengan sigap ku tutup gorden rumah. “kak, jangan-jangan ada kaitannya juga sama cerita ayah tadi yang katanya ada bunyi kentongan membangunkan warga untuk sahur.” Lanjut Chela beranggapan. “gak tau ah. Udah gak perlu ngomongin hal yang begituan.” Ujar ku sok berani sekaligus menenangkan diri.
Tak lama, ayah dan bunda pun datang. Tiba-tiba Chela berlari memeluk ayah seakan ingin berlindung pada ayah. “adik kenapa Mik?” Tanya ayah bingung. “gak apa-apa kok ya.” Jawab ku sembari melayangkan senyum. “ke kamar yuk dik, tidur udah malam.” Ajak ku pada Chela
Tak biasanya, kali ini kami di bangunkan bunda. Ku lihat di meja makan tak ada ayah, di benak ku pun bertanya-tanya. “bun, ayah dimana?” Tanya ku pada bunda. “ayah ada urusan.” Jawabnya singkat. Ku coba untuk memaklumi dan memahami walau aku tak tahu apa yang ayah lakukan dan sedang dimana.
Sedang asik menghabiskan makanan sahur, tiba-tiba ayah datang. “gimana yah?” Tanya bunda. Aku yang tak mengetahui apa maksud bunda hanya mendengarkan penjelasan ayah. “ternyata itu semua cuma perasangka buruk orang-orang. Ternyata yang membunyikan kentongan adalah pak Mali, alasannya katanya dia khawatir orang-orang gak bisa bangun untuk sahur jadi dia bunyikan kentongan sekeras mungkin lalu kabur karena dia tidak ingin ada orang yang melihatnya. Pak Mali orang yang sudah tua yang tinggal sebatang kara di gubuk bambu dan jerami dekat jalan setapak itu.” jelas ayah. “jalan setapak..” ucap ku dan Chela berbarengan. Bunda dan ayah yang kaget mendengar perkataan sepontan kami pun sontak memandangi kami. “ada apa?” Tanya bunda bingung. “enggak. Lanjutin ceritanya yah.” Ujar ku sembari melanjutkan makan. “ya begitu lah, kasihan pak Mali, maka dari itu tadi bapak-bapak memberikan sedikit makanan untuk sahur pak Mali. Sebenarnya pak Mali orangnya baik sampai-sampai dia gak ingin merepotkan orang lain makanya dia tinggal di jalan setapak itu sendiri justru dia yang berbuat baik ke orang dengan membangunkan sahur.” Lanjut ayah. “tapi yah, aku kok jarang ketemu pak Mali itu ya.” Tanyaku heran. “pak Mali memang jarang keluar. Kalau kalian penasaran sama yang namanya pak Mali, ayah mau temuin kalian sama pak Mali.” Ujar ayah.  “boleh deh yah.” Jawab Chela dengan semangat.
Dari cerita ayah itu, kini kami tak lagi takut untuk keluar dan kami tidak lagi berpikiran aneh-aneh mengenai sosok putih itu. Intensitas kami bertemu pak Mali semakin sering karena kami sering main ke gubuknya, kami juga menganggap pak Mali sebagai kakek kami karena kakek kami telah meninggal beberapa tahun lalu.

Komentar

share!