Sore yang Rusuh


Karya:  Fatimah azzahra


Sejujurnya, sewaktu aku berniat membeli martabak Pak Gong untuk takjil nanti, aku berpikir  bahwa aku harus melakukannya dengan tergesa-gesa. Aku hanya perlu mengeluarkan sepeda butut yang terparkir tepat di halaman rumah secepat embusan angin dan mengayuh pedalnya dengan kecepatan 80 km/jam, jika memang hal itu memungkinkan. Lalu, aku akan mengantre untuk membeli martabak  dan buru-buru pulang ketika transaksi berakhir. Kukira aku akan menghabiskan waktu untuk misi ini tidak lebih dari 15 menit, tetapi ternyata dugaanku salah.


Aku tidak menyangka bahwa pada pertengahan ramadhan ini ada perempuan sebaya denganku yang nyangkut di SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi) dekat kompleks kami. Tentu saja hal itu membuat kerusuhan dan insting gilaku mengatakan bahwa aku harus ikut campur tangan. Penduduk kompleks berbondong-bondong mengepung SUTET tersebut sambil menengadah ke atas, melihat apakah perempuan itu baik-baik saja. Aku, yang awalnya berniat untuk sesegera mungkin membeli martabak, tiba-tiba jadi penasaran dengan kelanjutan nasib perempuan itu di atas SUTET. Akhirnya, aku memarkirkan sepedaku di bawah pohon akasia terdekat dan mendesak orang-orang agar aku dapat melihat jelas apa yang sebenarnya terjadi.
“AKU TIDAK INGIN HIDUP DI DUNIA INI LAGI!” teriak gadis itu, sontak seluruh penduduk kaget.
Ternyata insiden ini jauh lebih seru dari dugaanku. Perempuan itu sengaja memanjat SUTET untuk bunuh diri, dia benar-benar melakukannya dengan sengaja. Penduduk pun semakin rusuh. Mereka meminta gadis itu untuk turun saja, kamu masih muda, hidup tidak sesuram itu bila dijalani dengan sabar, dan kata-kata mutiara lain pun mereka lontarkan. Aku hanya tertawa geli. Tentu saja emosi remaja 18 tahun belum terkontrol dengan baik, tapi seriously? Ini drama sekali. Kutebak dia ingin mengakhirkan hidupnya hanya karena diputusin pacar, atau orang tuanya tidak membelikan apa yang dia inginkan, dan hal-hal sepele lainnya.
KUKATAKAN PADA PARA ORANG TUA UNTUK JANGAN TERUS MENGEKANG ANAK-ANAK KALIAN SEPERTI APA YANG DILAKUKAN ORANG TUAKU. AKU HANYA INGIN MEMBERI PIDATO TERAKHIRKU PADA KALIAN SEMUA!”
Suasana mulai menegang. Kulihat ada bapak-bapak yang mencoba memanjat SUTET itu, tetapi tindakannya dicegah banyak orang karena mereka pikir itu terlalu berbahaya. Kemudian, ada ibu-ibu berdaster mengayunkan sapu lidi di udara sembari menakuti gadis itu agar jangan sesekali melakukan tindakan bodoh.
“TOLONG TELEPON ORANG-ORANG YANG BEKERJA DI MEDIA MASSA UNTUK SEGERA MELIPUTKU, KALAU TIDAK, AKU AKAN SEGERA MENGAMBIL TINDAKAN”
Seketika orang-orang mengeluarkan ponsel mereka dari saku dan melakukan apa yang gadis itu minta. Lalu, kulihat gadis itu tersenyum senang karena merasa tindakannya dihargai. Kurasa dia hanya mencari sensasi.
 “AKU BENAR-BENAR MUAK DENGAN KEHIDUPANKU!!!!!!!”
Penduduk pun segera meliput gadis itu. Mereka memotretnya, merekam kejadiannya, dan ada beberapa yang sibuk mengetik sesuatu. Gadis itu pun kembali berpidato. Ia mengatakan bahwa pemerintah lebih baik memikirkan orang-orang miskin seperti dirinya, dan para orang tua sebaiknya lebih bersikap netral kepada semua anak-anaknya.
Kejadian ini terjadi begitu saja. Kami tidak mengetahui dari mana gadis itu berasal, dimana orang tuanya saat ini, dan apa yang sebenarnya gadis itu inginkan. Mungkin karena kejadian ini terjadi begitu saja, kejadian ini pun juga berakhir begitu saja karena tidak lama kemudian adzan maghrib berkumandang.
ALLAHUAKBAR...ALLAHUAKBAR....
Tiba-tiba saja semua orang berubah lebih panik dari sebelumnya, terlebih para ibu-ibu. Akhirnya, satu per satu para penduduk pun bubar. Mereka berlari tergesa-gesa untuk berbuka puasa dan tiba-tiba melupakan insiden ini.
Ah, masa bodolah dengan gadis bodoh di atas SUTET, aku tidak peduli lagi apakah dia akan berakhir menggenaskan atau tidak. Aku juga masih punya misi dari orang tuaku untuk membeli martabak Pak Gong, lalu berbuka puasa dengan damai di rumah.
Aku pun menuju tempat sepedaku diparkirkan, gadis itu berteriak memanggil-manggil semua orang namun sekarang semua orang sibuk dengan kepentingannya masing-masing untuk berbuka puasa.

Komentar

share!