Sinta, Si Gadis Malang




Karya:  Sri Haryati

Bulan Ramadhan adalah bulan yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat muslim. Bulan suci yang memberikan waktu lebih untuk menjalankan perintah-Nya. Bulan ditutupnya pintu neraka jahanam dan dibukanya pintu surga-Nya. Bulan suci menuju bulan yang fitri.
Sembari cahaya yang masih petang, suara para pekerja hening, udara sejuk mendekati dingin dan semakin dingin merasuki tulang-tulang. Suara itu pun akhirnya berkumandang.


“Sahur... Sahur...,” teriakan Pak Belas dari masjid yang tak jauh dari rumahku.
Aku pun bangun, kulihat ibu sudah menyiapkan menu sahur kali ini. Aku beranjak ke kamar mandi untuk berwudhu, kulakukan shalat tahajud sebelum menyantap makan sahur. Delapan rakaat biasa kulakukan, masih di atas sajadah coklat yang selalu setia menemani, kulantunkan doa-doa, air mata yang tak henti bercucuran akan rintihan dan ucapan syukur pada Sang Pencipta.
“Raya, sahur dulu,” kata ibu dari ruangan tengah.
Langsung kulipat rukuh dan sajadah dan sajadah tersayangku.
“Mie dan telur gorengnya enak, Bu,” kataku sambil mengunyah makanan. Ibu pun membalas dengan senyuman.
“Imsyak... Imsyak...,” teriakan Pak Belas untuk menandai akan berakhirnya waktu sahur.
Ibu membereskan piring dan gelas kotor, aku menuju kamar mandi untuk gosok gigi dan wudhu. Kuberjalan menuju tempat shalat, kupakai rukuh dan kugelar lagi sajadah. Kubuka alquran, kulantunkan bacaan ayat-ayat suci itu. Kulanjutkan dengan melaksanakan shalat subuh. Ibu menyusul melaksanakan shalat.
Cahaya mulai menampakkan auranya, kegelapan semakin sirna, ayam mulai berkokok. Aku dan ibu membersihkan rumah, mencucui lalu mandi untuk melakukan aktivitas rutin. Aku bersekolah dan ibu bekerja. Aku duduk dibangku kelas XII IPA di salah satu sekolah negeri di kota ini. Aku dan ibu naik angkutan kota (angkot) menuju tempat kami menuntut ilmu dan mencari nafkah.
Sesampai di sekolah, aku turun mendahului ibu karena tempat kerja ibu lebih jauh dari tempatku menuntut ilmu.
“Raya, kamu puasa?” tanya Mita.
“Insya Allah iya,” jawabku sambil tersenyum.
Aku dan Mita berjalan menuju kelas. Kami mengikuti pelajaran seperti biasanya. Bel istirahat berbunyi. Aku menuju mushola sekolah untuk melakukan shalat dhuha. Setelah itu bel masuk berbunyi, kebetulan guru yang mengajar pelajaran saat ini tidak masuk. Kami manfaatkan untuk bersenda gurau bersama teman-teman.
“Eh, tau tidak, Asmara masak mutus Sinta begitu saja padahal Sinta baik, setia, dan pintar. Lihat saja Asmara yanng gemuk, jelek, tidak kaya, tidak pandai pula tega memutus Sinta begitu saja,” kata Mita.
“Eh, tapi dengar-dengar Sinta sangat sedih diputus Asmara karena keperawanannya sudah direnggut oleh Asmara,” kata Septi.
Aku dan teman-teman kaget tak terhingga, perasaan penasaran semakin menjadi-jadi.
“Masuk akal juga sih, masak cowok yang tidak ada menariknya sama sekali tiap hari ditangisi,” sahut Intan.
“Ternyata Sinta sudah tidak perawan lagi,” sambungku dengan ekspresi datar.
Tak lama kemudian, Sinta anak kelas XII IPS berjalan lewat kelas kami. Secara spontan, kami berlari menuju pintu kelas. Kami amati cara berjalan Sinta yang memang semakin aneh.
Bel pulang pun berbunyi. Aku dan teman-teman langsung menuju kelas Sinta. Sampai di depan kelasnya, kami mendengar Sinta menangis. Kami pun semakin penasaran dan duduk disebelahya. Semua anak di sekolah ini yang setiap bertemu Sinta selalu memandang dengan tatapan jijik dan sadis, semakin membuat rasa penasaran tidak tertahankan.
“Sinta, kamu kenapa?” tanyaku.
Sinta tak menjawab sama sekali, dia malah berlari meninggalkan kami. Rasa penasaran semakin memuncak, apa yang terjadi padanya? Apa ia marah terhadap kami?
“Lihat apa yang dia lakukan. Dia malu kalau semua orang tahu bahwa dia sudah tidak perawan lagi,” kata Septi.
Suasana hening seketika lalu kami lanjutkan berjalan menuju rumah masing-masing. HP tak hentinya berbunyi, teman-teman masih membahas masalah Sinta di group BBM. Aku yang sibuk membaca pesan-pesan dari mereka sampai tak memedulikan ibu di rumah.
“Raya, sedang asyik baca apa, Nak?” tanya ibu.
“Bu, Sinta teman sekolahku sudah tidak perawan lagi. Dia pernah tidur seranjang dengan pacarnya,” kataku.
Astaghfirullah, bukti dari itu semua apa, Nak?” tanya ibu kembali.
“Setelah diputus oleh Asmara, Sinta setiap hari menangis dan tidak mau cerita kepada siapa-siapa. Cara berjalannya juga sudah beda, Bu, seperti jalannya orang yang sudah tidak perawan lagi” jawabku.
“Bukti lainnya?”  tanya ibu untuk memastikan.
Aku pun hanya terdiam karena memang tak ada bukti lainnya lagi.
“Nak, bulan suci ini jangan kamu kotori dengan fitnah-fitnah yang dapat menyakiti hati orang lain. Kalau belum ada bukti kuatnya, kamu jangan percaya begitu saja. Apa kamu tahu perasaan Sinta ketika teman-temannya menjauhi dan membicarakannya?” nasihat ibu.
“Ibu lebih tau dari awal cerita si gadis malang itu. Sinta anak manis seumuran kamu yang sangat tangguh. Satu minggu yang lalu ketika puasa hari pertama, ibu melihat Sinta sepulang tarawih berjalan sendirian. Dia juga pamit untuk main ke rumah Septi. Dua jam kemudian, Sinta pulang lewat depan rumah kita, ibu melihat dia menangis dan ibu mendekatinya. Sinta memeluk ibu sangat erat seakan dia ingin meluapkan kesedihannya dengan almarhumah ibunya. Dia tak berbicara apa pun, hanya menangis terisak penuh dengan cerita. Dia sodorkan HP ke ibu, dia perdengarkan sebuah rekaman. Rekaman yang isinya adalah ancaman ayah Septi, laki-laki pemabuk dan penjudi di kampung kita, untuk mau melayani kebutuhan seksualnya. Sinta diancam akan dibunuh jika tidak mau memenuhi hasrat nafsunya itu, tetapi akhirnya Sinta berhasil melarikan diri dan terpeleset di jalan karena ia lari sekuat tenaga tanpa memedulikan ada kulit pisang di depannya. Kakinya sakit maka ia berjalan sedikit berbeda,” kata ibu.
Aku tak menyangka semua penjelasan ibu, aku kaget, tak percaya. Mulut terkunci rapat seakan suara tak mau lagi keluar dari mulutku.
“Sinta gadis yang baik, Nak. Sinta menceritakan kisahnya itu kepada pacarnya yang bernama Asmara, malah dia diputus oleh pacarnya itu. Sinta memendam cerita sendirian, untung dia bercerita dengan ibu. Jadi, perasaannya tidak seberat saat dia menyimpan semuanya sendirian. Walaupun memiliki bukti yang kuat, dia belum berani melaporkan niat jahat ayah temannya itu. Dia tahu jika ayahnya Septi dipenjara, hidup Septi akan seperti apa dan dengan siapa karena hanya ayah yang Septi miliki,” lanjut ibu.
“Bu, Raya jahat, Bu. Bulan suci ini sudah Raya kotori dengan fitnah yang begitu kejam. Raya akan meminta maaf dengan Sinta,” jawabku dengan linangan air mata.
“Belajarlah lebih dewasa, Nak. Gunakan akal terlebih dahulu sebelum lisan berkata. Jangan kamu kotori bulan suci ini dengan perbuatan keji. Fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Ingat, dekati dan sayangi Sinta seperti biasa dan tetap jaga rahasia ini. Biarkan Sinta dan waktu yang akan menjawabnya,” kata ibu.
Kupeluk ibu erat, air mata pun terus mengalir dari mata ini. Sinta... Sinta... maafkan aku.

Komentar

share!