“Sholat tarawih Ah!, kali aja ketemu jodoh.”




Karya:  Mila Rhmatunnisa

Bulan ramadhan adalah bulan yang penuh berkah bagi setiap umat muslim. Karena apa? Karena bulan ini hanya datang sekali setiap tahun. Bulan yang ditunggu-tunggu bagi orang beriman untuk memaksimalkan ibadahnya. Karena pada bulan ini Allah melipatgandakan pahala orang-orang yang beribadah. 



Begitu juga dengan sholat sunnah tarawih yang hadir pada bulan ramadhan. Sholat tarawih memang adalah sholat sunnah yang apabila di kerjakan akan mendapat pahala, dan apabila ditinggalakan juga tidak berdosa. Tapi kata ummi kalau datang bulan ramadhan rasanya ada yang kurang kalau kita tidak menjalankan sholat tarawih. Apalagi dimasjid kita juga bisa menambah teman, dan mempererat tali silatuhrahmi antar tetangga. Juga, sebagai bonus mungkin di sana aku juga akan bertemu dengan jodohku. Semoga saja.
Kalian pasti berpikir aku adalah wanita yang ngebelet ingin menikah kan? Sampai-sampai tujuanku datang ke masjid bukannya untuk ibadah melainkan untuk cari jodoh. Ketahuilah aku memang ingin menikah. Karena di umurku yang tidak muda lagi yakni 25 tahun. Bukankah memang seharusnya aku menikah?. Aku sudah memantaskan diri sejauh ini. Tapi apa? jodohpun tak kunjung datang. Namaku Adinda, seeorang wanita biasa yang sangat menyukai novel. Lahir dari keluarga sederhana, dengan orang tua yang masih lengkap dan mempunyai kakak perempuan seorang guru di Madrasah Tsanawiyah. Aku memang tidak secantiknya. Tapi, orang bilang wajahku lebih manis daripadanya dan lebih imut sedikit.
Di dalam novelku dikatakan. Calon suami yang baik itu adalah laki-laki yang pandai mengaji, sholeh, berbakti sama orang tua, bertanggung jawab, dan juga menerima kita apa adanya. Mulai dari itu aku berpikir untuk mencari lelaki yang memiliki semuanya. Satu point lagi, lelaki itu juga harus tampan. Aku tahu tampan itu relatif, tapi apakah kita tidak boleh berharap mendapat bonus itu dari Allah? hehe.
Setiap malam aku selalu semangat untuk menjalankan ibadah sholat tarawih bersama dengan sahabatku Isma. Dia wanita yang benar-benar istiqomah. Sampai sekarangpun, dia tidak pernah tergoda dengan hubungan haram yaitu “Pacaran”. Karena menurut isma pacaran itu tidak ada gunanya. Hanya menguntungkan bagi pihak laki-laki saja, tidak dengan pihak perempuan. Aku sependapat dengan isma. Kami memiliki persamaan dalam hal pemikiran mengenai Agama. Isma adalah sahabat terbaikku dan insyallah akan menjadi sahabatku nanti  di akhirat. Sampai saat ini pemikiran kami masih sama. Bahkan datang ke masjid hanya untuk mencari jodoh. Kami tidak tahu apakah niat kami ini benar atau tidak. Yang jelas kami sangat yakin akan tekad ini.
“Kak, Dinda pergi ya “ Aku mencium tangan kakakku Ratih dan berjalan keluar rumah. Diluar isma sudah berdiri menungguku. Aku dan isma memang selalu bergantian menyamper tarawih. Isma tersenyum saat aku membuka pintu. Tiba-tiba terdengar suara kak Ratih dari dalam rumah yang membuatku menghentikan langkah.

 “Dek jangan lupa belikan Roti untuk kakak ya. Kamu paham kan dek maksud kakak?”.Aku berteriak dari luar menyahutinya “Iya kak!” setelah itu aku menarik tangan isma untuk pergi. Setiba kami di masjid. Aku langsung terkesima dengan banyaknya orang yang datang. Masya Allah, banyak sekali yang datang. Aku dan isma sempat bingung harus bagaimana, tidak ada satupun orang yang kami kenal. Kebanyakan yang datang adalah dari kampung sebelah. “Din kita pulang aja ya, kayaknya gak kebagian tempat deh” Isma menyenggol lenganku pelan.
 “Jangan ma, kita kan udah dateng. Sayang kan kalau pulang. Kali aja ada yang tiba-tiba sakit perut terus pulang gitu.”isma terkikik geli mendengar celotehku.
Sepuluh menit berlalu aku dan Isma tetap berdiri di tempat kami semula. Tidak ada yang berubah. Mulai ada rasa jenuh dan juga pasrah dalam diriku. Mungkin benar kata isma, sebaiknya kami pulang saja. Walau ada perasaan kesal, tapi mau bagaimana lagi toh aku dan Isma tidak bisa menyalahkan siapapun. Salah sendiri kami telat datang. “Yaudah deh kita pulang aja ma” isma mengangguk dan mengikutiku berjalan keluar masjid. Lalu, tiba-tiba ada seorang pemuda yang menghampiriku dan Isma. Pemuda itu setengah berlari karena dia datang dari ujung bagian dalam masjid .
”Mba, mba tunggu” ujarnya yang semakin mendekat. Aku dan isma beradu pandang. Detik berikutnya pemuda ini sudah berada di depanku. Ia tersenyum dan membungkuk. Masya Allah indahnya senyuman itu. untuk sementara waktu aku seperti terhipnotis olehnya. Aku tidak bisa melihat apapun melainkan senyuman dan juga kemeja koko putih yang ia kenakan. Wajahnya bersih, tampan dan juga sejuk di pandang mata.
“Mba. Maaf mba” sapanya lembut. Entahlah apa yang membuatku seperti ini, sampai-sampai bicara pun susah. Aku hanya berdiri mematung di depannya. Tanpa berkedip sekalipun memandang wajahnya. Apa aku jatuh cinta pada pandangan pertama?
“ Din. Dinda!”isma menggoyang-goyangkan tubuhku pelan. Aku bisa mendengar teriakan Isma yang memanggil namaku. Tapi, mengapa aku sama sekali tidak bergeming. Terlalu indah, wajah laki-laki ini ya Allah.
“Isma malaikat Ma, ganteng banget di depan aku.”Isma tertawa dengan keras membuatku tersentak dan sadar apa yang kukatakan, pemuda itu ternyum diiringi tawa.Tanpa sadar aku malah mengatakan hal bodoh. Aku terus menunduk dan sesakali melihat Isma yang tidak ada hentinya tertawa. Anak ini sahabatnya tengah malu, dia malah tertawa. Awas saja nanti. “Ma” aku menyenggol lengannya, barulah ia berhenti tertawa.
“Maaf saya ingin menawarkan tempat untuk kalian di samping masjid di belakang pembatas masih ada tempat kosong. Mari saya antar .” Mendengar itu rasanya aku tidak mau sholat dan ingin pulang saja. Ingin membenamkan mukaku ke bantal di kamar. Benar-benar memalukan.”Ayo din” Isma menarik tanganku mengikuti pemuda itu, ia mengedipkan satu matanya dan tertawa. Isma mengejekku lagi.
Sepanjang perjalanan pulang. Isma tidak berhenti mengejekku. Ia selalu memperagakan bagaimana mukaku tadi saat bertatapan dengan pemuda itu. Aku hanya diam dan tak mengubrisnya. Kalau dipikir-pikir lagi Ternyata semua maksudku datang ke masjid untuk mencari jodoh di kabulkan oleh Allah. Buktinya apa? Aku bertemu dengan seorang pemuda yang datang tiba-tiba membantuku. Mungkinkah ia jodohku? Pucuk dicinta ulam pun tiba. Seperti kata pepatah. Aku tersenyum dan tertawa sambil memeluk isma.” Ma, aku ketemu jodohku Ma. Aku yakin”. Lalu aku berjalan bernyanyi –nyanyi riang sepanjang perjalanan pulang. Isma terus memperingatiku untuk tidak berisik nanti tetangga bisa marah. Tapi, aku tidak peduli hal itu, yang penting sekarang aku sudah menemukan jodohku. Si pemuda masjid yang tampan itu. Yes!.
Saat hendak memasuki gang rumahku. Aku merasakan seperti ada yang kurang. Tapi apa ya?. Aneh, seperti lupa membawa sesuatu. “Kenapa din? Kok berhenti?” Isma menatapku bingung
“entahlah ma , seperti ada yang kurang”. Ujarku mendekati isma,
ia mencubit pipiku “ Apa sih din yang kurang? Pemuda masjid itu hah?.” Aku menghempaskan tangan isma.
“Apaansih kamu ma, bukanlah “. Disaat ini pun dia masih saja bercanda. Menyebalkan.

“Terus apa dong? Udah ah yuk. Nanti kamu dicariin kak Ratih loh”

Aku tersentak. Benar, yang kurang adalah kak ratih. Bukan, lebih tepatnya roti untuk kak Ratih. Aku menarik tangan Isma keluar gang “Roti kak ratih Ma. Aku lupa beli”
“Roti?”
Aku tidak peduli dengan kebingungan Isma. Yang terpenting sekarang adalah membeli pesanan kak Ratih. Karena persediaan kak ratih sudah menipis di rumah. Ini sangat penting bagi seorang perempuan. Kami sampai di sebuah warung yang tak jauh dari gang rumahku. Saat tiba disana, aku dan Isma mengatur nafas kami terlebih dahulu, agar normal kembali. Mataku membulat sempurna, saat melihat penjaga warung yang keluar adalah pemuda yang kuyakini adalah jodohku tadi. Mati aku, apa yang harus aku lakukan Ya Allah. Isma menepuk bahuku, sepertinya aku sudah lama diam sampai-sampai aku melihatnya tersenyum kepadaku. “mau beli apa mba?”. Ujarnya ramah. Bibirku sangat sulit untuk di gerakan, untuk bicara pun aku yakin pasti akan terbata-bata.
“ itu.. “ tuhkan benar terbata-bata “ mau beli roti”. Isma melotot ke arahku,tanpa tahu arti sorotan mata Isma, aku cepat mengalihkan pandanganku ke arah pemuda tadi. Bibirku tersenyum saat ia keluar sambil membawa roti kasur rasa cokelat. Barulah disitu aku sadar, dengan tampang polos aku memandang ke arah Isma yang menggeleng-ngelengkan kepala sambil mengelus dada.
“Astagfirullah.. maaf maksud saya untuk perempuan. Pembalut”. Saat ia mendengar penjelasanku dia tersenyum malu dan meminta maaf. Lalu, kembali ke dalam untuk mengambil apa yang kubutuhkan. Ya Allah senyumnya manis sekali. Ciptaanmu begitu indah dilihat ya Allah. Setelah membayar aku pun ingin beranjak pergi saat tangan isma tiba-tiba menahanku.
“Maaf nama kamu siapa ya?” ujar isma yang sontak membuatku memandangnya.
“Fattah. Muhammad Fattah “ ujarnya tersenyum, dan Ya Allah. Kali ini, aku benar-benar sudah terbius dengan senyumannya, matanya yang teduh, dan wajahnya yang bercahaya benar-benar telah mengalihkan duniaku.
“Nama aku isma, dan ini sahabatku Adinda salam kenal ya Fattah” saat isma memperkenalkanku, mata kami sempat bertemu sesaat. Sebelum akhirnya aku menundukan pandanganku.  Karena aku tahu seorang muslimah harus menjaga pandagannya dari yang bukan mahramnya. Aku tidak mau sampai terjerumus dosa.

Malam itu adalah malam yang paling indah untukku. Karena aku bertemu dengan seseorang yang bahkan suaranya saja membuat tenang. Senyumannya yang indah di pandang mata. Ya Allah maafkanlah hambamu ini yang sudah diluar batas. Mengharapkan seseorang yang belum tentu akan menjadi jodohku.
Sejak saat itu aku tidak pernah absen ke masjid untuk melaksanakan shalat tarawih. Bukan hanya karena Fattah. Tapi, juga ingin menambah pahala di bulan Ramadhan. Meski pernah terbesit sesekali dalam hatiku rasa ingin melihat wajahnya, rasa ingin bicara dengannya. Dan meski kutahu itu rasanya tak akan mungkin. Terlebih lagi rasa rindu yang sangat sulit ku tahan. Ya Allah aku rasa aku sedang jatuh cinta.
Hari itu tidak seperti biasanya. Isma tidak bisa menemaniku sholat tarawih karena calon suaminya akan datang berkunjung. Membicarakan perihal pernikahan mereka. Isma sebentar lagi akan di lamar oleh anak teman ayahnya. Mereka memang tidak pernah bertemu, mendengar suara satu sama lain juga tidak. Tapi, takdir telah mempertemukan mereka. Aku ingin ta’aruf juga, dan mengenal lebih dalam calon suamiku kelak. Jika Isma akan menikah. Lalu, giliranku kapan?.
Setiap hari aku selalu memikirkan Fattah. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Jika memang benar aku jatuh cinta. Aku mohon ya Allah jangan seperti ini. Jangan sampai cintaku ini padanya mengalahkan kecintaanku padamu. Fattah memang suami idaman semua muslimah. Tapi aku juga tidak boleh berharap terlalu banyak padanya. Bagaimana kalau dia tidak merasakan yang sama? Bagaimana kalau dia tidak merindukanku, seperti aku merindukannya? Ya Allah lagi-lagi aku serahkan padamu sang sutradara terbaik.
Di pertengahan bulan ramadhan aku sudah jarang pergi ke masjid? Kalian tau aku merasakan sakit yang amat terdalam belakangan ini. Sakit yang sangat sulit untuk di jelaskan. Harapanku musnah, semuanya hancur. Tidak ada lagi suami tampan, pintar mengaji, sholeh dan baik. Aku ingin membuangnya jauh-jauh.Yang ada kini hanya rasa benci, yang menjalar di seluruh tubuhku. Hati memang bisa berubah-berubah. Seperti kata orang. Jangan mencintai terlalu dalam nanti kau akan membecinya. Dan itu terjadi padaku. Semua berawal pada saat pulang tarawih. Aku melihat Fattah memegang dan merangkul seorang wanita berjilbab besar. Mereka terlihat sangat mesra. Selalu bercanda sepanjang jalan pulang. Aku tidak habis pikir dengan Fattah. Pemuda itu. Pemuda yang ku anggap bisa jadi imam yang baik untukku. Ternyata, dia orang seperti itu. Seenaknya saja memegang tangan perempuan yang bukan mahramnya tanpa dosa. Apalagi merangkulnya. Masya Allah. Aku benar-benar telah terperangkap pada cinta yang salah. Ya Allah terimakasih engkau telah mengingatkanku, dan kau juga telah menunjukan padaku siapa Fattah sebenarnya.
Setiap hari aku hanya mengurung diri di kamar. Aku sibuk membaca buku dan sampai tidak memperhatikan makanku. Aku seperti remaja yang baru saja patah hati. Aku selalu menyalahkan diriku sendiri. Mengapa aku terlalu cepat jatuh cinta dan mengapa aku sangat yakin Fattah itu jodohku?. Gelagatku membuat kak Ratih curiga. Dia selalu mencuri waktu untuk bicara denganku. Mungkin kak Ratih pikir aku iri dengan Isma yang begitu cepatnya menikah dan dapat jodoh. Tapi bukan itu alasan utamanya aku bersikap seperti ini. Malam itu aku ceritakan semuanya sambil menangis di pangkuannya. Mulai dari awal aku datang ke masjid dan bertemu dengan Fattah. Juga, saat aku datang ke masjid dan ternyata niatku bukan untuk sholat tarawih. Melainkan untuk melihat wajahnya. Disitu aku melihat wajah kak Ratih yang kecewa.
“Dari niatmu saja sudah sangat buruk de. Masa kamu sholat karena manusia bukan karena Allah?. Kakak gak habis pikir de. Secinta-cintanya kamu pada seseorang. Ingat de, jangan pernah melebihi cintamu pada Allah. Ia yang memiliki hati manusia. Jadi, apabila kamu ingin mengambil hati pemuda itu. Maka dekati dulu sang pemilik hati yaitu Allah. Jangan memimpikan kamu bisa mendapatkan jodoh yang baik,  kalau kamunya belum baik.  Jodoh itu cerminan diri de, kalau kamunya seperti ini gimana jodohmu nanti. Ada baiknya kamu pantaskan diri dulu. Karena percayalah tulang rusuk dan pemiliknya takkan pernah tertukar, dan akan bertemu pada saatnya nanti. Insya Allah. Jadi perbaiki dirimu, dan pantaskan dirimu untuk kelak bertemu dengan jodohmu. Karena mungkin disana jodohmu juga tengah mempersiapkan diri dan memantaskan diri di hadapan-Nya. Untuk bisa membimbingmu kelak ke syurga“. Hatiku tersentak mendengar apa yang dikatakan kak Ratih. Aku tidak bisa menahan tangis. Betapa bodohnya diri ini yang mengharapkannya, betapa bodohnya diri ini yang menjadikan sholat sebagai alasan untuk bertemu dengannya, betapa buruk diri ini yang berusaha terlihat alim di depannya. Melewati hari-hariku di bulan Ramadhan yang seharusnya di sertai ibadah kepada-Nya. Tapi, malah kuiisi dengan dosa. Ampuni aku ya Rabb . Mulai saat ini, aku bertekad untuk sunguh-sungguh menjalankan ibadah tarawih. Tanpa, memperdulikan Fattah dan tidak berharap untuk bertemu dengannya.Melainkan bertemu dengan sang pemilik hati manusia yaitu Allah SWT.
Hari demi hari kulalui dengan membaca Al-Qur’an dan mendengarkan ceramah-ceramah tentang agama di Masjid. Aku ingin benar-benar berubah menjadi seorang muslimah yang taat. Sulit memang membuang perasaan ini. Tapi akan aku coba semampuku. Aku yakin seiring berjalannya waktu perasaan cintaku pada Fattah akan hilang dengan sendirinya.
Aku termenung di teras rumah sambil terus membaca Al-Qur’an. Saat tiba-tiba kak Ratih membawakan teh madu kesukaanku. Ia tersenyum layaknya seperti seorang ibu. Kak Ratih selalu seperti itu, dia orang pertama yang mengerti dan juga menyemangatiku. Aku sangat beruntung memilikinya.” Diminum dulu dek” ujarnya duduk di sampingku. Aku meraih teh madu buatannya dan meminumnya.
“Kamu inget kan, kakak pernah bilang tulang rusuk tidak akan pernah tertukar dan akan bertemu pada saatnya. Dan sekarang  tulang rusuk itu sudah bertemu dengan pemiliknya,” kak Ratih tertawa melihatku yang tiba-tiba tersedak mendengar perkataannya. Aku kaget bukan main. Tulang rusuk? Pemiliknya? Apa maksud kak Ratih aku?“. Akhirnya ade aku yang labil ini bertemu juga dengan pemiliknya ya.” ujarnya mengelus pelan kepalaku. Aku menatapnya dengan tatapan bingung. Lalu, kak Ratih memegang tanganku sepertinya dia kesal karena aku masih juga belum paham maksud ucapannya.
“Besok kamu akan dilamar sama anak teman ayah, dia pemuda yang baik, sholeh, bertanggung jawab , penyayang, juga tampan de. Itu kan idaman kamu? Selamat ya adekku sayang” ujarnya memelukku. Tidak terasa air mata mengalir di pipi membasahi kerudung kak Ratih. Aku tidak percaya Allah akan mengabulkan keinginanku secepat ini. Tapi itulah Allah. Jika dia sudah berkehendak maka semuanya bisa terjadi. Terimakasih Ya Allah
Ayahku dan calon mertuaku sudah ada di ruang tamu, di sana juga ada beberapa keluargaku dan keluarga calon suamiku. Aku tersenyum saat mendengar orang-orang berbisik “cantik ya dia”. Untuk sesaat aku bahagia dengan wajah yang telah Allah ciptakan ini meskipun menurutku aku masih kalah cantik dengan kak Ratih. Aku duduk di antara ayahku dan kak Ratih. Sesaat setelah itu calon mertuaku keluar, ternyata calon suamiku sudah tiba. Aku seperti orang yang tidak sabaran ingin melihatnya, aku picingkan mataku untuk lebih jelas melihat wajahnya dan detik itu juga dadaku sakit, perasaan senang yang awalnya menggebu-gebu ini kini berubah menjadi amarah. Aku melihat Fattah dan gadis itu berpegangan tangan memasuki rumahku..Ingin rasanya aku beranjak pergi dari tempat ini dan menangis di kamarku. Aku melihat ke arah kak Ratih dan dia hanya memegang puncak tanganku lembut. Tidak ada yang bisa kulakukan selain pasrah.
Gadis itu tersenyum padaku. Lalu ia berjalan mendekatiku dan memelukku lembut. Aku tidak mengerti maksudnya. Aku ingin menghempaskan pelukanya segera. “Mba dinda selamat ya sebentar lagi akan jadi kakak ipar Linda” aku tersentak kaget. Apa maksudnya? Kakak ipar? Aku menatap wajah Fattah yang tersenyum malu-malu ke arahkku. Jadi selama ini aku sudah salah sangka terhadapnya.Ya Allah.
 “Maaf  karena melamarmu tiba-tiba, apa kau sangat terkejut?” Tanya Fattah hati-hati, aku bisa melihat kegugupan di wajahnya.
“Tidak,hanya saja bingung dengan semua skenario-Nya, Allah begitu baik padaku. Tapi, apa alasannya kau melamarku?.Aku kira kau tidak tertarik padaku.” dia tersenyum dan menghela napas berkali-kali. Dia sangat gugup.
“Aku hanya takut terlambat melamarmu. Aku tidak mau kehilangan wanita yang mengatakan bahwa aku adalah malaikat tampan saat kami pertama kali bertemu.” Dia terkekeh membuat pipiku merona merah, aku meremas ujung gamisku. Itulah yang sering kulakukan ketika sedang gugup. Aku tidak tahu dan tidak pernah menyangka dia juga sama sepertiku. Menyimpan cinta dalam diam ini saat pertama kali kami bertemu. Tanpa adanya percakapan, tanpa adanya kebersamaan,dan hanya doa yang kami panjatkan kepada Allah. Mengadu padanya setiap malam. Dua orang yang mencintai karena Allah. Ternyata benar semua akan indah pada waktunya. “Maka, nikmat Allah manakah yang kamu dustakan?”.
Aku beruntung di pertemukan dengan Ramadhan kali ini, selain mendapat hidayah tentang pentingnya sholat tarawih dan tidak menjadikannya alasan bertemu dengan seseorang meliankan tulus untuk ibadah pada Allah . aku juga mendapatkan suami yang bisa membimbinku ke syurgaNYA.

Komentar

share!