SESEDERHANA SECANGKIR KOPI




Karya:  Lia Fissa

Langkah kaki itu semakin cepat, menapaki jalan setapak di bawah penerangan bulan. Tubuhnya yang tinggi besar membuatnya harus menunduk saat melewati gerbang bangunan yang ia tuju. Saat ia mulai masuk pintu, matanya memandang sekeliling. Baru awal bulan, namun suasananya sangat ramai sekali. Ia harus menempati ruang yang mana? Tanpa pikir panjang, ia merebahkan kain tebal berukiran masjid di pojok ruangan paling belakang. Ia mulai sholat, menyesuaikan rekaat yang sudah hilang.
Riana menguap berkali-kali saat khotib menyampaikan ceramahnya. Sungguh, khutbah itu lebih membosankan daripada celotehan dosennya. Rasa kantuk yang menderanya tidak bisa ditahannya, berkali-kali kepala Riana hampir tersungkur menahan kantuk. 


Syukurlah, selesai juga tarawih pertama di bulan Ramadhan ini. Ingin sekali Riana merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya yang tebal. Ia benar-benar tidak sabar menuju rumah. Baru saja ia akan mempercepat langkah kakinya, seseorang dari belakang menarik pergelangannya. Siapa itu? Hanya pertanyaan itu yang melintas cepat dalam kepalanya. Riana menoleh ke belakang.
“Astaga, Hilma!!” pekik Riana. “Kau membuatku kaget!”
Gadis yang lebih tua dua tahun darinya itu hanya meringis mendengar umpatannya. Sepertinya ia memang sudah kebal dengan jeritan khas Riana. Raut mukanya tetap biasa saja meski suara Riana tadi begitu lantang di telinganya.
“Baiklah, maafkan aku. Kau kan memang tahu kegemaranku,” Hilma terkekeh, namun Riana malah semakin jengkel. “Mengapa kau tadi bisa terlambat?”
“Terlambat?” Riana membenarkan letak mukenanya yang sudah dilipat. “Terlambat apa?” tanyanya balik.
Hilma mendengus pelan. “Terlambat tarawih,” ucapnya.
“Ooh,” kata Riana, membuat bulatan pada bibirnya. “Aku tadi mengurus penelitianku. Seharian aku sibuk sekali di kampus. Kau tahu Hil, aku lelah sekali hari ini.” Sayangnya Hilma tak akan melihat wajahnya yang pucat di keadaan gelap seperti ini.
Hilma berdehem pelan, Riana bisa mendengarnya. “Kau tidak bisa menunda urusanmu itu? Bukankah bulan Ramadhan ini baru saja datang? Kau lihat, kau malah menyambutnya dengan keterlambatanmu.”
Riana terjaga dari pandangannya yang kosong. Hah? Bagaimana? Apa yang Hilma tadi ucapkan? “Apa?” tanyanya lagi, ia tadi melamun.
“Ini kan tarawih pertama, sebaiknya kau tidak terlambat.”
“Paling tidak kan bisa ditoleransi keterlambatanku, aku bisa mengganti rekaat yang hilang tadi.” Jawabnya singkat.
“Oh, begitu. Jadi apakah dosenmu mampu menoleransi keterlambatanmu saat ujian?”
Riana cukup kaget menerima pertanyaan dari Hilma. “Tentu saja tidak, itu pertanyaan yang tidak perlu ku jawab.”
“Lalu kau pikir Tuhan akan selalu menoleransi setiap keterlambatanmu dalam sembahyang?”
“Hilma, apa yang kau ucapkan? Aku semakin bingung.” desahnya. “Aku ingin segera pulang, Hil. Aku mengantuk sekali, aku harus pergi lebih dulu.” Riana meninggalkan Hilma dalam jejak-jejak pertanyaan yang memburunya. Pertanyaan-pertanyaan yang sungguh ia bingung bagaimana harus menjawabnya. Lama-lama ia bosan dengan temannya itu. Baiklah, tak perlu dipikirkan. Ia hanya ingin segera pulang dan beristirahat.
Sesampainya di rumah, Riana tidak langsung tidur seperti yang ia inginkan. Entah mengapa ia sekarang hanya ingin duduk dan menyandarkan kepalanya pada bantalan sofa yang lembut. Ia rindu sekali bersantai seperti ini. Kapan terakhir kalinya ia memiliki waktu yang longgar untuk bersantai? Sudah lama sekali. Kapan ia bisa memilikinya lagi? Entahlah. Pertanyaan yang tak mampu ia jawab. Hampir tiga tahun belakangan ini ia mengejar masa depannya di bangku kuliah. Ia relakan setiap malamnya untuk mengerjakan laporan dan mempersiapkan presentasinya. Terkadang, ia bahkan hanya tidur dua jam di tengah malam untuk mengistirahatkan otaknya. Sungguh ia jemu, namun masa depannya sedang menanti dirinya. Ia harus bertahan.
Seperempat jam Riana terduduk dalam khayalannya. Kini, ia mulai berdiri dan menyeret kakinya untuk masuk ke kamar. Riana mengerjapkan matanya, ia memandang sesosok gadis di depannya dengan penuh iba. Tampak lingkaran hitam di mata gadis itu. Wajahnya yang pucat mengisyaratkan bahwa ada keletihan di sana. Riana tersenyum, gadis di depannya juga ikut tersenyum. Astaga, mengapa cermin harus selalu jujur? Perlahan ia beranjak pergi meninggalkan bayangan itu.
Banyak sekali yang mengganggu pikiran Riana hari ini. Berulang kali ia mengatur napasnya untuk melemaskan tubuhnya. Baiklah, ia akan membuat kopi saja. Kopi cukup mujarab bagi dirinya saat sedang stres. Entah mengapa, menurutnya ada hal istimewa di balik secangkir kopi. Ia sanggup begadang mengerjakan tugasnya hanya dengan ditemani kopi. Jika berbicara mengenai kopi, ia tak akan kehabisan kata.
Seduhan kopi di genggaman tangannya membuat semangatnya bangkit. Ini yang ia inginkan. Riana kembali ke kamar. Laptop di atas meja belajarnya sepertinya sudah menunggu dirinya. Riana tak akan membuatnya menunggu lebih lama lagi.
“Hemm, sepertinya presentasinya harus dimulai dari sini.” Jemari gadis Jawa itu lincah menekan keyboard dengan cepat. Beberapa kali pula, ia terlihat menyesap kopinya berulang-ulang.
Riana berhenti, ia terpekur menatap hasil pekerjaannya. Ia diam sesaat, mendengarkan sahut-sahutan suara anak kecil yang mengaji di masjid. Kedua matanya tiba-tiba saja teralih pada sebuah Al-Qur’an di rak bukunya. Ia rindu mengaji, ia juga rindu tahajud. Mungkin nanti setelah ia selesai mengerjakan tugasnya, ia bisa melakukan hal itu.
Riana kaget setengah mati saat memandangi jam yang bergelantung di dinding kamarnya. Ia terlonjak kaget hingga akan menumpahkan kopinya. Entah sudah berapa cangkir kopi yang ia habiskan untuk menemaninya menghadap monitor laptop. Mengapa jarum jam itu sudah menunjuk ke arah angka tiga. Astaga, bukankah itu tandanya sebentar lagi sahur? Ya Tuhan, cepat sekali rasanya.
“Riana?! Ayo bangun, sudah waktunya sahur!”
Itu suara ibu. Benar kan apa yang ia duga, pasti sebentar lagi ibu akan meneriakinya untuk segera sahur. Oh, bagaimana ini? Pekerjaannya belum selesai.
***
Pagi hari menjadi awal yang menyenangkan bagi setiap orang. Mereka akan bersemangat pergi ke kantor, mengasah otaknya di sekolah dan mengais uang dengan cara mereka masing-masing. Akan tetapi, sepertinya pagi ini bukanlah pagi milik Riana. Riana tampak kurang bertenaga, ia sudah seperti mayat hidup yang kurang asupan energi. Ia memang sahur, tapi sedikit. Ia memang tidur, namun tidak nyenyak. Ia tak berharap banyak pada keberuntungannya hari ini. Ia hanya berharap kuliah akan berjalan lancar. Riana pamit pada ayah dan ibunya untuk segera ke kampus. Ia memacu motornya yang sudah siap ditunggangi.
Ada yang tahu cara mengusir rasa kantuk selain secangkir kopi? Riana perlu itu. Air matanya sudah kering karena lama tidak ia pejamkan. Di wajahnya sudah banyak timbul jerawat yang kian memperjelek rupanya. Jemarinya mulai kaku karena selalu menekan keyboard berulang-ulang di sepanjang harinya. Semangat dalam hatinya masih berkobar hebat menuju abstrak masa depan. Sayang, mengapa raganya yang kini mulai rapuh dan mulai roboh? Riana lelah. Riana lelah. Ia ingin beristirahat.
Bruuukkkkk.....
Gelap. Tak ada yang terlihat. Tuhan menciptakan mata manusia untuk melihat segala keindahan warnanya. Dari segala macam warna yang Tuhan ciptakan, manusia hanya mampu melihat saat terang. Mengapa? Riana tak tahu. Yang jelas, ia sama seperti sebagian orang. Ia benci gelap, ia takut gelap, dan ia tak ingin dunia menjadi gelap. Namun sekarang, ia menghadapi kegelapan. Kelopak matanya bergerak tak menentu. Ia melihat beberapa cahaya menelisik masuk melalui celah-celah matanya. Semakin besar dan semakin hebat cahaya itu bersinar, seakan-akan Riana ingin mencapai titik terbesar cahaya itu untuk keluar dari kegelapan.
Riana terbangun, namun yang ia lihat hanya pijaran lampu di atasnya yang berputar-putar. Kepalanya pusing sekali, ia tak tahu ada dimana. Apakah ia masih tertidur? Tidak! Cahaya itu benar-benar nyata. Ia kembali menggerakkan kepalanya, namun itu malah semakin membuatnya pusing.  Riana takut, sungguh ia takut. Sedetik kemudian, ia berteriak. Siapa saja, tolong dirinya untuk bangun.
Mendengar ia menjerit ketakutan, bayangan sesosok tubuh mulai mendekati dirinya dan mengelus pelan kepalanya. Pandangan Riana masih kabur, namun ia masih mampu mendengar dengan jelas rintihan isak tangis orang yang menyentuhnya itu. Meski ia tahu tak ada gunanya ia menangis, namun entah mengapa air matanya mampu jatuh tanpa dipaksa. Hebatnya, perlahan matanya mulai dapat melihat setiap benda di depannya. Di sanalah ia melihat ibunya tengah menangis dan mengusap tiap helai rambutnya pelan. Matanya sembab dan memerah. Wajahnya bahkan lebih pucat dari wajahnya.
“Riana dimana, Bu?” tanya Riana. Suaranya serak, ia tak tahu sudah berapa lama ia tak minum.
“Rumah sakit. Kemarin kau kecelakaan, Riana. Mengapa konsentrasimu hilang saat memacu motormu? Kau kelelahan? Kau bisa bilang, nak.”
Riana tersedu, ia tak sanggup menjawab. Apa yang harus ia katakan? Apa ia sanggup mengatakan jika ia lelah kuliah? Tidak. Bukan itu yang membuatnya seperti ini. Melihat ibunya terus memandanginya, ia menggeleng pelan. Ia berniat mengusap air matanya, sebelum akhirnya ia merintih kesakitan.
“Auuww!! Sakit!” jeritnya.
“Jangan gerakkan tanganmu yang kiri, Nak! Ruas jemarimu patah karena menghantam dinding pagar.”
Riana terbengong mendengar ucapan ibu. Ada sesuatu yang menghantam dadanya, tiba-tiba terasa sakit sekali. Apa? Ruas jemarinya? Itu tidak mungkin! Riana tersedu dalam pelukan ibunya. Apa yang mampu ia lakukan jika jemarinya terluka? Bagaimana tugas dan presentasinya? Bagaimana kuliahnya?
“Tidak!!!!” Riana berteriak histeris.
Ada yang dapat dilakukan orang buta di depan cermin? Itu yang Riana rasakan sekarang. Seorang aktivis dan mahasiswa perlu tangan, tubuh, kaki, dan otak untuk bekerja. Bagaimana jika salah satunya hilang? Pemiliknya hanya mampu menangis. Karena jika salah satu saja dihilangkan, mustahil akan mencapai keberhasilan yang maksimal.
***
Riana sedang duduk sendirian menatap anak-anak kecil yang tengah berlarian di halaman rumahnya. Ada kerinduan mendalam jika melihat canda tawa mereka. Melihat mereka tertawa, Riana malah menangis. Terlalu banyak yang ia tangisi hingga sekarang air matanya benar-benar kering. Saat ia menangis, matanya yang akan sakit. Jemarinya yang berada di pangkuannya seakan ikut menangis bersamanya. Mungkin jari-jari itu rindu dengan tombol keyboard. Lebih dari itu, perasaannya yang paling terasa sakit karena harus menahan perihnya ujian yang ia hadapi.
“Assalamu’alaikum,” seorang gadis tiba-tiba saja  sudah muncul di hadapannya.
“Wa’alaikum salam,” jawab Riana. “Hilma?”
Gadis di depannya itu tersenyum. “Hai, Ri! Apa kabar?”
“Seperti yang kau lihat,” jawabnya singkat.
“Kau harus sabar, Ri. Ini ujian untukmu.”
“.... Hil?” panggilnya. “Kau tahu, Tuhan memberikan akal agar manusia bekerja keras. Aku bekerja keras agar Tuhan tahu jika aku memang sungguh-sungguh dalam mencapai ridho-Nya. Tapi..” kalimatnya terputus, ia menahan isak tangis, “Tapi, saat api semangatku berkobar, Tuhan menjatuhkanku hingga aku tak berdaya seperti ini.”
“Riana.. Kau bisa menangis karena kau memiliki hati. Kau bisa melakukan segalanya karena kau memiliki akal. Tuhan berikan hati dan akal pada manusia agar mereka bersyukur. Tiada niatan dari Illahi untuk menjatuhkanmu,” Hilma mengusap punggungku. Kini mereka berdua duduk berdampingan.
Hilma tersenyum. “Kau tahu ini bulan apa? Ramadhan. Saat kau berlari menuju kampus sibuk dengan penelitian dan presentasimu, apa kau lihat yang sedang dilakukan orang lain di masjid? Mereka memperbanyak sholat, beri’tikaf, dan mengaji. Kau iri dengan temanmu yang segera menyelesaikan studinya, tapi kenapa tak ada rasa iri sedikitpun pada mereka yang bersembahyang?”
Hilma mengerti jika saat itu Riana sedang melanjutkan tangisnya. Ia tak meminta Riana untuk diam. Biarlah deraian tangis itu hilang bersamaan dengan rasa sakitnya.
“Riana, seseorang pernah berkata padaku. Saat manusia terlalu sibuk dengan urusan duniawinya, Allah akan menegurnya. Sungguh, Ia merindukan setiap rintih tangismu kepada-Nya. Ia rindu lantunan doa yang selalu kau panjatkan di sepertiga malammu. Maka ketika datang suatu cobaan kepadamu, itulah wujud rindu-Nya kepadamu. Hanya dengan hal itu kau akan ingat dan tersadar bahwa Allah begitu menyayangimu,” Hilma memeluk Riana erat.
Benarkah begitu? Benarkah apa yang Hilma ucapkan? Seberapa jauh kaki Riana melangkah tanpa nama Allah? Seberapa banyak amalan yang sudah Riana tinggalkan karena urusan dunia? Riana terkekeh penuh sesal. Mengapa Al-Qur’an dan tahajud ia sandingkan dengan laptopnya? Bukankah seharusnya secangkir kopi adalah teman yang baik untuk menemaninya saat tadarus? Bukan malah untuk menemani laptopnya.
Manusia hanya akan menjumpai sore setelah menyapa pagi. Mungkin pagi tak harus cerah untuk mendapatkan sore yang indah. Awalan tak harus selamanya hebat untuk mendapat akhiran yang luar biasa. Yang terpenting adalah bagaimana usaha untuk menjadikan akhiran itu tak terlupakan dan selalu berkesan.
Sore ini, Riana duduk di teras seperti biasanya. Ada damai setelah Hilma berujar kemarin. Di salah satu genggamannya, secangkir kopi sudah siap untuk ia minum. Beberapa menit kemudian adzan berkumandang. Perlahan, ia menyesap kopinya. “Alhamdulillah,” ujarnya berulang kali.
Ramadhan kali ini mengajarkan Riana akan arti sebuah kesederhanaan hidup. Hidup itu sederhana, sesederhana secangkir kopi. Secangkir kopi yang selalu menemani Riana di setiap malamnya. Manusia pada hakikatnya seperti kopi. Air dan gula hanya bumbu penyedap hidupnya. Jangan hanya menyalahkan gula yang tak mampu menjadikan aroma kita sedap. Akan tetapi, berkacalah sepantas apa hidupmu akan beraroma lezat, karena ‘kau sendiri’ yang menentukan aroma itu.

Komentar

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!