SEPOTONG CERITA DI BULAN PUASA



Karya:  Mika Sari


Sore ini aku hanya menghabiskan waktu untuk menonton televisi sambil memegang handphone biasa lah scroll timeline di twitter berkali-kali. Rasanya malas beranjak keluar rumah. Cuaca juga lagi tidak bersahabat. Di televesi banyak berita yang menayangkan sidang isbat kapan jatuhnya awal ramadhan. Padahal aku menanti acara televisi yang bisa membikin jenuh ini meski tidak sepenuhnya hilang setidaknya bisa berkurang.



Bulan ramadhan,akan ada banyak agenda dibanding hari libur semester ataupun hari libur biasanya. Bayangkan saja hari pertama puasa aku sudah diajak ngabuburit sekalian buka bersama teman-teman SMA. Sebenarnya aku kesulitan mendapatkan izin keluar rumah dari mama. Apalagi kalau pulangnya sampai malam.Tapi saat berangkat aku tidak memberitahu mama kalau pulang agak malam. Wajar saja jika mama meng-iya-kan nya.

Hari pertama puasa rasanya tidak terlalu lemas. aku lebih bersemangat ngabuburit bareng teman-temanku sambil nunggu adzan magrib untuk berbuka. Baru saja beduk, handphone ku berbunyi. Satu pesan diterima. Isi pesan ternyata dari mama. Aku disuruh pulang, rasanya nggak enak sama teman-teman kalau pulang duluan, aku tahu mama bersikap begitu karena dia khawatir denganku. Namun, ku biarkan saja pesan itu tanpa ku balas. “ sorry mom” ucapku dalam hati. Benar saja,ketika sampai di rumah kupingku rasanya panas sekali mendengarkan omelan mama. Hal semacam ini memang tak jarang terjadi. Aku hanya perlu diam agar suasana tidak semakin memanas. Nantinya mama akan berhenti ngomel-ngomel sendiri.

Di rumah hampir tiap hari kena omelan. Apalagi saat sahur. Entah mengapa aku yang paling sulit untuk bangun. Alarm sudah dipasang, saat sahur aku akan terbangun mendengar alarm berbunyi, tapi tak lama akan  ketiduran lagi. Itu mengapa suasana  rumah tak pernah sepi dari omelan mama.

Bulan ramadhan sangatlah manis. Banyak perbedaan dibanding bulan-bulan yang lain. Kemarin aku pergi ke supermarket. Biasanya lagu-lagu yang di putar adalah lagu barat. Namun, saat bulan ramadhan yang ramai terdengar adalah lagu religi. Sambil menikmati alunan lagu religi, aku mencari-cari keperluan untuk sahur dan berbuka puasa nanti. Air putih terlihat menawan dalam botol kemasan,karena saat puasa memang air putih pun terasa berharga. Apalagi sirup melon yang berwarna hijau, seperti daun kelapa yang melambai-lambai.

Bulan ramadhan juga identik dengan petasan. Main petasan bagi anak kecil sudah mendarah daging tiap ramadhan tiba. Bayangkan saja, pulang tarawih pasti ada saja anak-anak yang kurang kerjaan. Ketika lewat malah dikagetin sama bunyi petasan. Habis pulang tarawih aku pun bergegas masuk kamar karena mata sudah tak berkompromi. Dalam kamar yang tidak begitu luas. Aku berbaring sambil menatap jendala yang ku biarkan tirainya terbuka. Begitu banyak bintang. Kerlap kerlip membentuk berbagai rasi yang indah. Baru saja ingin berpejam,petasan lagi- lagi terdengar diluar rumah . “Ya ampun itu anak ngajakin main battle petasan kali” keluhku dalam hati.
Sekeras-kerasnya petasan berbunyi, tak menjadi penghalang besar bagiku untuk tidur. Cukup mendengarkan beberapa lagu yang menjadi penghantar tidur maka dengan sendirnya kedua mataku akan berpejam. Namun tidaklah lupa sebelum tidur harus berdoa. Karena sebaik-baik tidur adalah tidak lupa untuk berdoa agar terhindar dari gangguan setan serta mimpi buruk.

Setelah satu minggu diawal bulan ramadhan,perkuliahan diliburkan. Namun, minggu kedua kembali ke kampus seperti biasa. aku yang biasanya bangun kesiangan kesulitan saat mendapati jadwal masuk pagi. Apalagi jarak tempuh ke kampus lumayan jauh dan menghabiskan waktu kurang lebih satu jam di perjalanan. Beruntungnya kondisi cuaca cukup bagus saat aku kekampus, kadang berawan kadang panas namun tidak terlalu menyengat.Di kampus ada begitu banyak pembicaraan seputar program akhir tahun. Dari tadi hanya aku yang menutup mulut rapat-rapat tanpa bicara banyak. Teman ku mengira aku sedang badmood ataupun sedang ada masalah. Ketika mereka bertanya begini lah jawabku “jangan terlalu sering ngomong nanti haus loh ” mereka yang mendengar hanya tertawa.

Sore hari saat aku pulang dari kampus, ada banyak hidangan takjil di pinggir jalan yang kulewati. “Harus bisa menahan nafsu nih” ucapku dalam hati. Bagiku, saat berpuasa akan ada banyak makanan yang harus dibeli. Namun, setelah berbuka tiba, makanan tak habis dan terbuang percuma. Itu kan namanya mubazir. Tak baik. Jika aku harus membeli itupun hanya es campur ataupun es kelapa muda untuk berbuka puasa nanti. Tak perlu membeli banyak karena di rumah mama juga akan menghidangkan banyak makanan.
Sampai di rumah aku langsung berbaring manja diatas kasur,rasanya cukup melelahkan. ini puasa perdana saat aku harus menjalani program akhir tahun dengan jadwal kuliah tambahan. Hal seperti ini tak bisa dikeluhkan, kenyataanya hanya perlu dijalani.

Komentar

  1. Min knpa menggunakan mama ga pakai mamah kah terus program akhir tahun apa program alih tahun sekian

    BalasHapus
    Balasan
    1. pakai kata mama biar sesuai sama bahasa indonesia yg baik dan benar. kalo program akhir tahun alhamdulillah ya eby,bukan alih tahun hihi. terimakasih sudah mengunjungi blog ini dan berkenan membaca ceritanya yaaa

      Hapus
  2. Terimakasih sudah berkunjung dan berkenan membaca ceritanya 😊

    BalasHapus
  3. Penuh makna, saya suka ceritanya (y)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasi sudah berkunjung dan berkenan membaca ceritanya yaaaa :)

      Hapus

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!